
"wanita ini? ada apa dengannya? mengapa tidak masuk kelas? bukan kah ini masih jam belajar?", andra bertanya tanya dalam hati.
ya tadi saat keluar dari ruang kepala sekolah ia langsung ingin menuju kelas,namun saat melihat sosok wanita yang kini sedang tertunduk dan terduduk di kursi taman, akhirnya ia memutuskan menemuinya.
"hey",sapa Ferdinand.
"hm?"Larissa hanya berdehem sembari menghapus air matanya yang sempat jatuh.
"gue boleh duduk ga?",ucap Ferdinand basa basi.
"boleh kok,duduk aja",jawab Larissa masih tertunduk.
"makasih",jawab Ferdinand lalu duduk di sebelah Larissa.
"Lo kenapa?",tanya Ferdinand.
"gue gapapa",jawab Larissa yang masih menundukkan kepalanya.
"ga mungkin lo ga kenapa napa,masih aja nutupin padahal mata lo ga akan bisa bohong",ujar Ferdinand kini mengalihkan pandangannya dari wajar Larissa.
"gue bener gapapa",jawab Larissa meyakinkan sambil tersenyum pada Ferdinand.
"hey.. ayolah ga usah ragu buat cerita,siapa tau itu bisa buat lo lebih lega",ucap Ferdinand membuat Larissa terdiam.
"kenapa diam?",tanya Ferdinand yang kembali melihat ke arah Larissa.
Larissa kini menatap ke depan,dari taman terlihat ruang kelasnya yang masih ada guru yang tadi tidak memperbolehkan nya untuk masuk.
ada claudia yang juga cemas akan larissa hingga claudia berusaha fokus pada pelajaran nya,namun claudia masih terus memperhatikan Larissa dan Ferdinand.
kelas Larissa di turunkan sejak beberapa Minggu lalu,agar lebih mudah untuk mengurus administrasi dan yang lainnya.
dan sekarang kelas mereka berada di lantai 1 dan yang di lantai 2 adalah adik kelas mereka.
"gue gapapa",jawab Larissa meyakinkan kembali.
"ya udah, terserah lo aja setidaknya gue udah usaha buat jadi temen cerita lo",jawab Ferdinand.
"iya fer", jawab Larissa menundukkan kepalanya.
bukan tak butuh teman cerita hanya saja ini masalah pribadi yang harus nya memang untuk di pendam sendiri, apalagi Larissa dan Ferdinand tidak bisa di katakan dekat,mereka hanya sebatas teman yang dekat karena kegiatan yang mereka ambil yaitu osis.
"lo bener ga mau cerita?", tanya Ferdinand, kembali memastikan.
Larissa hanya mengangguk.
"terus lo ngapain di sini?",tanya Ferdinand.
"gue ga di bolehin masuk sampai pelajaran pertama dan kedua selesai",jawab Larissa menjelaskan.
"gimana maksud Lo?"
"itu tuh guru matematika ga bolehin gue masuk sampai pelajaran dia selesai"
"oh..,terus ngapain lo di sini?"tanya Ferdinand lagi.
"gue ga tau mau kemana,ya udah gue duduk di sini aja",jawab Larissa jujur.
"lo sendiri ngapain?", sambungnya dan melihat ke arah Ferdinand.
"tadi gue habis dari kantor kepala sekolah buat ngomongin mos anak kelas 1,terus pas keluar dari sana gue lihat Lo ya udah gue samperin aja",jawab Ferdinand melihat ke arah Larissa juga
"oh",jawab Larissa memalingkan wajahnya.
"Lo mau ga nemenin gue nyiapin peralatan?",tanya Ferdinand.
"ga bisa yang lain aja?",tolak Larissa halus.
"ga bisa mereka lagi belajar semua dan lo kan lagi di hukum jadi ga bisa masuk,lagian Lo kan juga bagian osis",ucap Ferdinand dan membuat Larissa kesal.
Larissa hanya diam sebagai tanda penolakan.
"udah ayo ga usah lama lam,cepat bantuin gue", perintah Ferdinand lalu berjalan meninggalkan Larissa yang masih setia duduk di kursi taman itu.
"hey!",teriak Ferdinand yang hanya terdengar oleh kedua orang itu.
"oke oke", jawab Larissa lalu berdiri dan mengikuti Ferdinand.
"dasar ketua osis menyebalkan!!!!",teriak Larissa dalam hati.
mereka berjalan menuju ruangan osis, Ferdinand jalan terlebih dahulu di ikuti oleh Larissa. hanya beberapa guru yang melihat mereka berjalan menuju ruang osis,mereka hanya berfikir bahwa Larissa akan di hukum karena terlambat dan tidak datang semalam.
"krekkk", pintu terbuka.
"ayo masuk",ajak Ferdinand namun nadanya lebih memerintah Larissa.
tanpa berkata apapun Larissa hanya mengikuti instruksi dari ketua osis itu, ia bergegas masuk mengikutinya.
"klek",bunyi lampu di hidupkan.
"duduk", suruh Ferdinand pada Larissa,dan larissa hanya menurut saja.
ada banyak kursi di ruangan itu,dan ada 1 meja besar yang ada di sana untuk para osis yang akan berdiskusi di ruangan itu.
"lo buat tata acara mos nya",suruh Ferdinand.
"fer,gue itu bendahara bukan sekertaris osis",ucap Larissa menolak.
"ya terus kenapa? emang nya salah?", tanya Ferdinand tanpa rasa bersalah.
"ferr,sekali lagi gue bilang ya gue itu bendahara bukan sekertaris,Lo paham ga sih??",ujar Larissa kembali.
"ya udah sekarang lo sekertaris gue",jawab Ferdinand memperhatikan catatan yang sudah ia buat.
"hah?", Larissa kaget dengan keputusan itu.
"lo asisten gue,bukan sekertaris osis",ucap Ferdinand lagi yang membuat Larissa kembali terkejut.
"Lo gila ya?",ucap Larissa.
Ferdinand hanya menatap Larissa,dan kini mata mereka saling bertemu dan terjadi lah kontak mata.
"deg" suara detak jantung.
"fiks lo emang gila",jawab Larissa lalu berdiri dan hendak membuka pintu untuk keluar dari ruangan itu.
Ferdinand menahan pergelangan tangan Larissa membuat Larissa bertukar posisi,dan kini ia tepat berada di dekapan Ferdinand karena tadi Ferdinand terlalu keras menarik nya.
terjadilah kembali tatapan itu, detak jantung Larissa kini semakin tidak normal ia terlalu cepat bekerja. sampai akhirnya Larissa sadar dan melepaskan diri dari Ferdinand.
laki laki yang tegap itu hanya menatap wajah memerah milik Larissa,ia diam tak ingin Larissa merasa semakin malu.
sedangkan perempuan yang hanya setinggi dada milik Ferdinand itu tertunduk,ia merasa ini aneh karena tak pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya.
bahkan mereka jarang sekali berbicara, bertemu pun hanya untuk membuat masalah. tak heran jika Larissa gugup saat ini.
"jangan pergi,gue ga akan nyuruh lo gue cuma ga mau sendiri di sini,gue butuh temen",ucap Ferdinand pada Larissa yang masih gugup.
"hm",jawab Larissa pertanda ia akan berada di sana setidaknya sampai pelajaran matematika selesai.
mereka kembali duduk, Larissa hanya diam tertunduk sedangkan Ferdinand ia kini tengah fokus dengan catatan nya.
ia sedang mempersiapkan semua nya sekarang itu sebabnya tak memperdulikan siapa yang ada di hadapannya,yang ia tau ia hanya butuh teman dan tidak ingin sendirian.
Larissa kini menetralkan detak jantung nya dan tak lama setelah nya ia kembali seperti semula, ia mencoba untuk bertanya pada Ferdinand agak tidak terlihat sesuatu telah terjadi padanya tadi.
"lo ngerjain apa sih?",tanya Larissa basa basi.
"gue lagi nulis kegiatan apa aja yang bakal di buat pas mos nanti",jawab Ferdinand.
Larissa mengangguk.
"gue boleh bantu?",tanya Larissa menyodorkan diri.
"lo mau?",tanya Ferdinand melihat Larissa karena bingung dan larissa langsung menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
"ya udah lo duduk di situ aja nemenin gue",jawab Ferdinand.
"kan gue mau bantu"
"ya udah di situ aja,gue cuma butuh lo nemenin gue", jawab Ferdinand kembali fokus pada catatan nya.
Larissa mengerti dan kini dia hanya diam duduk di kursi nya,dan memperhatikan laki laki yang sudah dari dulu ia suka.
ada benarnya juga kalau cinta pertama itu susah di lupakan,karena kini Larissa juga tengah mengalami nya.
ia sudah memendam perasaan sejak masuk SMA di sekolahnya itu, apalagi saat ia bertemu dengan pria itu dan sangat kebetulan mereka ternyata adalah tetangga walau masih cukup jauh jaraknya.
"laki laki ini.. dia yang pertama kali mendapatkannya dan akan tetap dia",batin Larissa sambil menatap ke arah Ferdinand yang tepat berada di hadapannya.
"sekalipun nanti ada yang mendekati ku,aku akan tetap memilih nya", batinnya lagi.
Ferdinand menyadari Larissa sedang mempersiapkan dirinya dan langsung mengangkat kepalanya.
"ngapain lo ngeliatin gue? suka lo sama gue?", cetus Ferdinand.
"dih,pede amat lo",bantah Larissa.
"udah deh ngaku aja Lo",ujar Ferdinand kembali.
"pede banget sih lo,tau dari mana lo hah?"
"dari tadi Lo ngeliatin gue,jadi udah pasti Lo suka sama gue",ucap Ferdinand yakin.
"cihh,mending gue balik deh ke kelas. pelajaran udah ganti juga,bye",ucap Larissa beranjak dari kursinya dan berlari menuju pintu dan keluar dari ruangan itu.
"jangan lupa nanti rapat waktu jam pulang",teriak Ferdinand pada larissa yang sudah berlari menuju ke toilet sekolah.
"dasar,Lo pikir gue ga tau lo merhatiin gue?",ucap Ferdinand bernada pelan.
"Larissa, ceroboh banget sihhhh",ucapnya mengutuki dirinya sendiri.
"bod*h bod*h bod*h",ucap nya lagi.
"udah ya Lo ga boleh lagi bersikap kaya gitu,udah cukup sa. tadi lo ketangkep basah sama dia".
"udah cukup udah",ucapnya menenangkan diri.
...****************...
"baik anak anak sampai di sini dulu ya pelajaran kita", ucap guru matematika yang akan meninggalkan kelas.
"iya bu",semua murid menjawab dengan serentak.
guru itu keluar dan berjalan menuju ruang guru,tanpa sengaja berpapasan dengan Larissa yang berjalan menuju kelasnya.
"minta catatan pada teman mu yang lain,jangan sampai mengulanginya lagi",ucap guru itu pada Larissa.
"iya bu",jawab Larissa menundukkan kepalanya.
guru itu pun pergi meninggalkan Larissa, Larissa pun berjalan menuju kelasnya. dan secara tiba tiba kejadian tak di inginkan terjadi.
"duh bendahara osis udah di bolehin masuk nih",ucap seorang murid perempuan yang terkenal julid di kelas itu.
hanya perempuan itu yang berani berurusan dengan Larissa, karena dia terlalu iri pada Larissa. yang lain hanya diam mendengarkan murid perempuan itu.
Larissa tak menanggapi nya,ia langsung menuju meja nya dan duduk di sana. tanpa ia sadari ada tulisan yang tertulis di sana menggunakan spidol.
"TURUNKAN DIA DARI OSIS DIA TIDAK BERGUNA",isi dari tulisan itu.
untung saja meja mereka tidak terbuat dari kayu jadi tulisan itu bisa di hapus, ia menghapus nya dan menahan emosinya.
"lihat dia menghapusnya!!",teriak perempuan itu lagi.
"AHAHAH,Lo emang ga guna sa udah deh lepasin jabatan lo itu", sambung nya.
"hey ayolah, menyerah saja".ucap nya kembali lalu menuju meja Larissa.
"lo ga pantes, harusnya gue yang nerima jabatan di osis itu".
Larissa diam ia menahan semuanya. amarah,tangisan ia menahan semuanya.
"hey bod*h apa lo tuli!!!??".
"plakkk",satu tamparan mendarat di pipi perempuan itu.
"LO!!!!!",teriak perempuan itu.
Larissa menatap nya penuh emosi, tapi ia tetap mengendalikan amarahnya karena tak ingin ada masalah lagi.
"kenapa?", tanya larissa santai.
"kurang ajar ya lo!!!!", teriak wanita itu pada larissa.
"Lo pantes dapetin itu",ucap Larissa.
"Lo!!!!",teriak wanita itu dan hendak membalas perbuatan Larissa namun guru datang dengan tiba tiba.
"ada apa ini??",ucap guru itu.
"ga ada bu,ini elsa lagi nanyain catatan kemarin takut ada yang salah sama catatan nya",ucap Larissa agar guru itu tidak curiga.
"iya kan Elsa?",ucap Larissa pada Elsa yang kini harus berpura pura juga.
Elsa hanya tersenyum dan kembali ke mejanya,kini keadaan membaik dan claudia datang dari luar.
ia baru saja kembali dari ruangan administrasi jadi ia tidak melihat kejadian yang tadi terjadi.
setelah di izinkan mengikuti pelajaran Claudia-pun langsung menuju meja nya.
"udah balik?",bisik Claudia dari belakang dan Larissa mengangguk.
pembelajaran kembali di lakukan, hingga tiba saatnya waktu istirahat. murid murid berhamburan keluar kelas,begitu juga dengan Claudia yang ingin keluar menuju kantin.
namun karena Larissa tak ikut dengannya akhirnya ia pun berada di dalam kelas untuk menemani sahabatnya itu.
"Lo kenapa sa?",tanya Claudia memecahkan keheningan.
"gue gapapa clau,gue cuma males ke kantin",jawab Larissa masih merapikan bukunya.
"lo yakin?",tanya Claudia lagi.
"em", Larissa menganggukkan kepalanya.
"terus kenapa semalem lo ga dateng?",tanya claudia.
"gue di kunci sama ibu tiri gue itu",ucap Larissa lemah.
"hah!? maksudnya?",ucap Claudia kaget dan membuat murid lain yang ada di dalam kelas ikut kaget.
"suttttt", Larissa berusaha membuat claudia untuk tidak membesar kan suara nya.
Claudia tersenyum.
"lo serius?",tanya claudia memastikan dan larissa kembali mengangguk.
"terus papa Lo ga tau?", tanya claudia pada Larissa, namun kini Larissa menggeleng kan kepalanya tanda bahwa ayahnya tidak mengetahui itu.
"clau,Lo kan tau sesibuk apa dia.. jadi ga mungkin lah", ucap Larissa.
"cctv?"tanya claudia.
"clau, gue aja ga di lihat padahal langsung apalagi cctv", jawab Larissa.
"sabar ya sa,Lo pasti kuat",ucap claudia menyemangati Larissa.
"iya clau,makasih ya lo udah jadi sahabat terbaik gue dan akan tetap begitu",ucap Larissa dan tersenyum pada sahabatnya itu.
...****************...
jam menunjukkan jam menunjukkan pukul 12 siang, murid murid yang tadi akan di hukum langsung menuju lapangan karena sudah di panggil.
Larissa dengan malas keluar dari kelas dan harus ikut dengan rombongan orang orang tidak disiplin itu lagi, dan kini ada beberapa anggota osis yang mendampingi untuk berjaga jaga siapa tau ada yang akan pingsan karena terik nya matahari.
"semua sudah di sini??",tanya guru killer itu.
"sudah pak Indra...", jawab semuanya.
"ya sudah mulai dari yang paling sedikit hukuman nya,atau mau sekalian semua?",tanya pak Indra.
"semua aja pak",teriak mereka menjawab pertanyaan dari pak Indra.
"ya sudah,kalian lari 5 kali keliling lapangan dan untuk Larissa kamu 10 kali keliling lapangan",ucap guru itu.
"iya pak",jawab Larissa.
"ya sudah ayo lari cepat cepat cepat",ucap pak indra.
semua murid berlari mengelilingi lapangan,dan beberapa guru menyaksikannya. ada ketua osis, wakilnya,dan sekertaris osis juga di sana menyaksikan hukum yang sedang berlangsung itu.
sedangkan guru yang lain masih mengajar dan murid yang lain juga masih ikut dalam pembelajaran di kelas.
matahari begitu terik karena ini tepat tengah hari, semua akan terasa panas di kepala juga sepatu mereka karena harus berlari terus tanpa berhenti.
putaran pertama masih biasa saja begitu juga kedua dan ketiga karena masih tidak terlalu terasa, tapi setelahnya semua seakan begitu lelah dan benar benar ingin berhenti.
karena mereka juga dapat ancaman dari sang guru killer itu, tapi semuanya akhirnya selesai namun tidak dengan Larissa ia harus berlari 5 putaran lagi agar selesai dengan hukumannya.
"panas,panas,ini panas banget", batin Larissa sambil tetap berlari.
putaran ke enam sudah ia lakukan.
"jangan Larissa jangan sekarang, please"batinnya terus menerus.
"kenapa ini? kenapa dia terlihat lemas? atau hanya perasaan ku saja?", batin Ferdinand.
"pak itu Larissa emang harus 10 putaran?",tanya Ferdinand pada guru itu.
"iya,emang kenapa? mau gantiin dia?",tanya guru killer itu.
"kalau boleh gapapa sih pak, saya cuma takut dia pingsan soalnya ini panas banget pak",ujar Ferdinand pada guru itu.
Larissa terus berlari dan sudah putaran ke 8.
"biarin aja,biar dia lebih disiplin mulai sekarang",jawab pak Indra.
"tapi pak ini kelewatan",ucap Ferdinand yang sekarang malah khawatir karena Larissa mulai melambat.
"emang kenapa sih? bantuin deh sana",saran guru killer itu.
.
.
.
.
.
.
.
.