
kini Larissa sudah berada di gerbang sekolah tepatnya sudah di luar sekolah,ia tengah menunggu jemputan nya yang tak juga datang.
ia juga berniat untuk memberikan laporan yang sudah ia janjikan pada Ferdinand saat jam istirahat pertama, namun sampai saat ini ia tidak melihat keberadaan Ferdinand.
Claudia sudah terlebih dahulu di jemput. tadinya Claudia mengajak Larissa untuk ikut dengannya namun Larissa menolak ia takut jika saat ia pergi dengan Claudia, jemputan nya malah sampai dan malah menunggu nya di sana.
tiba tiba saja terdengar suara motor,dan berhenti tepat di hadapan Larissa. dan ya itu Ferdinand, ketua osis menyebalkan kata Larissa.
"ngapain lo?",tanya Larissa heran akan kedatangan Ferdinand.
"Lo bukannya mau ngasih laporan ya??",jawab Ferdinand membuat Larissa memberikan laporan keuangan osis pada Ferdinand.
"oh iya maaf, ini laporannya". jawab Larissa sembari memberikan laporan yang ia pegang sejak tadi.
"bentar gue cek dulu,siapa tau aja Lo ninggalin beberapa tanggal". sindir Ferdinand.
"ya udah tinggal di cek aja",balas Larissa kesal.
"iya ini kan lagi di cek", ucap Ferdinand.
"kalau bukan karena kewajiban,gue udah ga mau ketemu sama Lo". batin Larissa.
"udah belum?? gue mau balik nih", ucap nya pada Ferdinand yang masih melihat laporan itu,padahal laporan itu hanya lah buku tulis dan yang harus nya ia periksa hanya 2 lembar tapi ia seperti memeriksa 10 buku tebal.
"udah", jawab Ferdinand.
"Lo pulang naik apa??", sambung nya sambil memasukkan buku laporan itu ke dalam tas miliknya.
"gue nunggu jemputan", jawab Larissa singkat.
"oh ya udah kalau gitu",jawab Ferdinand menyalakan motornya.
"gue di luan ya", ucap Ferdinand lalu pergi.
"kaga ada peka nya banget ya ampun",batin Larissa.
tiba tiba Ferdinand kembali lagi,entah untuk apa ia menemui Larissa yang berdiri jauh di belakangnya.
"Lo mau ikut??",tanya Ferdinand.
"boleh?",tanya Larissa kembali.
"eum,ayo naik",ucap Ferdinand.
baru saja Larissa hendak menaiki motor nya, Ferdinand sudah melaju dengan cepat meninggalkan Larissa terdiam.
"wahh,kurang ajar". kini Larissa benar benar kesal dengan perlakuan itu.
"awas aja Lo bakal kena sama gue besok", batinnya mengancam Ferdinand.
sekitar 5 menit dari kejadian itu akhirnya jemputan Larissa datang, ia memasang wajah datar akibat kesal dengan perlakuan Ferdinand.
dan siapapun yang mengajaknya berbicara pasti akan ia marahi.entahlah, tapi itu benar benar kejadian tak terduga hari ini.
...----------------...
jam menunjukkan pukul 5 sore.
"waktunya mandii",teriak Larissa memenuhi kamarnya.
sudah 15 menit Larissa berada di dalam kamar mandi, dan ia belum berniat untuk keluar dari sana.
"kenapa mandi harus sesegar ini kan gue jadi ga mau keluar", gumamnya.
"Larissa!!",panggil ibu Larissa dengan sedikit keras agar Larissa mendengar nya.
"iya maa??", sahut Larissa dari dalam kamar mandi.
"ayo cepat,kamu lama banget,ntar di tinggal loh". teriak mama Larissa.
"mau kemana emangnya ma??",sahut Larissa kembali.
"nanti mama kasih tau,kamu siap siap aja". jawab mama Larissa.
"iya ma",sahut Larissa.
Larissa langsung dengan cepat menyelesaikan mandi nya, ia langsung menuju lemari untuk mencari pakaian yang cocok.
setelah menemukan pakaian yang ia rasa cocok,ia pun langsung memakai nya tak lupa dengan riasan simpel andalannya juga sepatunya yang amat simpel.
kini ia tengah berjalan menuju ruang bawah,dan saat ini ia tengah mengenakan dress coklat yang begitu indah di padukan dengan sepatu putih andalan nya saat ia tengah terburu buru.
dan satu lagi ia juga tak akan lupa dengan kalung kesayangan nya, entah sejak kapan ia memiliki kalung itu ia pun tak tau. tapi ia sangat menyukai kalung itu dan kemana pun ia pergi,ia akan membawa kalung itu.
"maa",panggil Larissa.
semua orang yang berada di bawah menoleh ke arahnya dan menyuruhnya untuk lebih cepat karena mereka sudah terlalu mengulur waktu.
"cepat sa,jangan kelamaan",ucap ibunya.
Larissa pun bergerak cepat menuruni tangga dan mengikuti kemana arah yang lain pergi. ia bertanya pada ibunya tapi tak ada jawaban akan tujuan mereka.
di perjalanan Larissa hanya diam menatap luar jendela dan sesekali menatap ponsel genggam nya.
saat ia tengah asik memandangi indah nya langit malam dari jendela mobil,tiba tiba ponsel nya berbunyi dan ternyata itu pesan dari nomor tak di kenal. ia pun membuka pesan itu dan di dapatinya pesan yang sangat membuat nya kesal.
"hai calon istri",pesan tadi nomor tak di kenal.
begitu Larissa membacanya ia langsung kesal dan hendak marah,tapi ia berfikir lagi karena ada orangtuanya. di balasnya pesan itu dengan penuh kekesalan.
"siapa kau? berani beraninya kau mengatakan hal tak pantas itu",balas Larissa.
"ini aku calon suami mu",balas seseorang melalui pesan singkat.
"apa maksud mu?? siapa dirimu??!! ", balas Larissa.
"aku calon suami mu,dan kita akan bertemu nanti itu sebabnya cepat lah kemari. orangtuamu dan orangtuaku akan membicarakan tentang pertunangan kita dan setelah kau lulus maka kita akan menikah", balas pria itu membuat Larissa geram.
Larissa hanya membaca pesan itu ia tak berniat membalasnya, ia langsung menutup ponselnya lalu kembali menatap luar jendela.
"kau tak akan bisa menghindari perjodohan ini,calon istri ku",batin seorang pria.
perjalan berlangsung cukup lama sekitar 15 menit sudah perjalanan mereka dan kini jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, orangtua Larissa sedang merasa khawatir takut bila nanti orang yang mereka temui akan marah.
perjalanan itu berlangsung sekitar 20 menit dan mereka akhirnya sampai di tempat tujuan, dan tempat itu adalah sebuah rumah makan mewah di pusat kota.
"ma kita ngapain ke sini??",tanya Larissa bingung.
"ada yang mau kita temui",ucap ibunya singkat lalu masuk ke dalam restoran itu.
"apa ini?? apa akan ada sesuatu yang terjadi??", batin Larissa.
di dalam restoran itu sudah ada keluarga yang menunggu kedatangan keluarga mereka, dan saat memasuki restoran itu para pelayan langsung mengantarkan mereka ke satu ruangan khusus.
ruangan itu sudah di pesan oleh orang yang akan mereka temui,namun sampai sekarang Larissa tidak tau siapa orang yang akan mereka temui.
"selamat datang tuan,apakah tuan dan yang lain akan menemui tuan William?". tanya seorang pelayan restoran.
"iyaa",jawab tuan Harry yang merupakan ayah dari Larissa.
"kalau begitu mari ikuti saya, saya akan menunjukkan ruangan nya".ucap pelayan wanita itu lalu mengantarkan keluarga tuan Harry ke ruangan tuan William.
semua mengikuti arahan dari pelayan itu dan sampailah mereka di depan salah satu ruangan khusus untuk pertemuan keluarga.
"silahkan masuk tuan", ucap pelayan itu sembari membukakan pintu.
keluarga tuan Harry pun masuk ke dalam ruangan itu dan mendapati keluarga tuan William di sana, dan mereka langsung di sapa oleh anggota keluarga tuan William.
"heyy,udah datang??",sapa tuan William saat menyadari keberadaan tuan Harry.
tuan Harry melihat ke arah nya lalu tersenyum.
"ayo duduk",sambung tuan William.
mereka pun duduk di kursi yang sudah di sediakan dengan posisi Larissa yang dekat dengan ibu juga ayahnya.
di dalam ruangan sudah terdapat 2 keluarga yang akan membahas perjodohan anak anak mereka,dan sudah terdapat hidangan juga di sana dan mereka memutuskan untuk menyantap makanan itu sekaligus membicarakan tentang perjodohan anak mereka.
"Larissa,kamu mau kan jadi menantu saya dan tentunya jadi istri anak saya". tanya tuan William.
Larissa tersedak,dan langsung mengambil air minum yang sudah di sediakan oleh pelayan di dekatnya.
ia menatap ke arah orangtuanya dengan niat untuk mendapatkan maksud dari pertanyaan tuan William, namun sayang nya satu kata pun tidak keluar dari mulut orangtuanya yang ada hanya anggukan sebagai tanda agar Larissa menjawab pertanyaan itu.
"emm,maaf om saya masih sekolah dan belum berfikir jauh ke sana". ucap nya lalu memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
"iya,memang bukan sekarang tapi nanti setelah kamu lulus sekolah". jawab tuan William membuat Larissa kembali tersedak.
"ini anak saya nama nya Albert",ucap tuan William sambil memukul bahu putra nya dengan pelan.
"saya ingin kamu menjadi pendamping hidupnya,ya menjadi istrinya". sambung tuan William.
Larissa diam,ia kini bingung harus berbuat apa. tidak ada jalan lain selain menanyakan orangtuanya langsung.
"ma?", panggil Larissa.
ibunya hanya menatap lalu kembali makan, dengan sigap Larissa langsung menanyakan sesuatu yang sudah ia tanyakan sedari tadi tapi tak kunjung terjawab.
"mama jodohin aku sama anak om William?",tanya Larissa.
"iya,mama mau kamu jadi istri nya Albert,mau kan??". jawab ibunya.
"Larissa ga mau ma,mama ga mikirin perasaan Larissa?? mama ga pernah bilang apapun dan langsung nyuruh aku nikah sama dia??". cetus Larissa.
"iyaa,mama tau kamu penurut jadi kamu ga mungkin nolak kan?". jawab nyonya Herry.
"ma?? aku masih muda bahkan lulus sekolah aja belum,dan mama nyuruh aku nikah?". tanya Larissa dengan perasaan campur aduk.
"ya kan,tunggu lulus sekolah". jawab nyonya Herry.
"ma??"
"kamu harus nurut kata mama, Larissa kamu itu sakit sakitan ga bakal ada yang mau sama kamu, kamu beruntung anak nya tuan William mau nikahin kamu. kamu ga pernah mikirin ya perasaan orang lain selalu perasaan kamu sendiri yang kamu pikirin.
"deg"
kini Larissa menahan rasa kesal dalam hati,entah apa yang sedang ia rasakan. marah,kesal,kecewa dan rasa benci yang kini muncul untuk kedua orangtuanya.
bukan hanya tentang perjodohan ini,tapi ini tentang kalimat yang keluar dari mulut ibunya sendiri. apakah pantas seorang ibu mengatakan kelemahan seorang anak di hadapan orang lain??
tidak,itu lah jawabannya. namun apa yang ibunya lakukan saat ini malah sebaliknya dan itu benar benar menyakitkan hati Larissa.
"karena aku penyakitan? iya? karena itu?". jawab Larissa dengan mata berkaca-kaca.
"aku ga mau di jodohin sama siapapun dan dengan alasan apapun, dan aku ga terima perjodohan ini". ucap Larissa lalu berdiri menunjuk pintu keluar ruangan.
"Larissa, Larissa kembali Larissa". panggilan dari ibu nya sendiri pun tak ia hiraukan lagi.
kini Larissa sudah berada di luar restoran,tanpa tau kemana tujuannya sekarang. tapi sekarang ia harus bergegas pergi meninggalkan tempat makan itu.
ia lari dengan sekuat tenaga meninggalkan restoran tanpa sepengetahuan supir yang tengah di dalam mobil.
kini ia sudah berada di jalanan besar,berjalan tanpa arah tujuan dengan suasana dinginnya malam dan perut yang kelaparan.
"gue mau kemana coba?",batin Larissa.
"malah gue ga tau lagi daerah ini",gumamnya.
ia terus berjalan mengikuti kemana arah kendaraan yang juga melintas, dengan tenaga yang mulai luntur dan dinginnya malam.
"apa aku emang ga pantas buat orang lain? apa aku ga berguna ya? apa aku terlalu jadi beban buat mereka karena penyakit ini? apa aku ga pantas buat hidup?". gumamnya.
ia spontan memukul dadanya karena kesal pada orang lain namun dirinya sendirilah tumbal untuknya.
"aww, sakit". rintih nya memegang dadanya yang ia pukul tadi.
"Lo sih bego banget,udah tau bakal sakit tapi tetep aja di pukul". ucap seorang pria dari arah belakang.
Larissa spontan melihat ke arah belakang dan di dapatinya sosok pria yang sangat ia cinta di sana.
"Lo?? sejak kapan Lo di sini? Lo ngikutin gue ya?". goda Larissa.
"gila Lo! ngapain gue ngikutin Lo ga penting banget buat gue". cetus Ferdinand.
ya yang bersama Larissa saat ini adalah Ferdinand,si OSIS menyebalkan dengan ucapan yang tidak di filter.
"masa sihh?? terus Lo ngapain coba di sini??". goda Larissa.
"ya iya lah, ngapain gue ngikutin Lo,lagian Lo ga ada juga gue ga peduli". cetus Ferdinand.
"deg" ,detak jantung Larissa kembali berdetak cepat setelah mendengar kalimat itu.
"gue tuh kebetulan lewat doang", sambung Ferdinand.
Larissa hanya tersenyum dan mengangguk paham, kini detak jantung nya tak lagi beraturan.
"tolong jangan sekarang",batin Larissa menutup matanya.
ia menduga bahwa ia akan merasakan sakit lagi sekarang,karena jantung nya bekerja terlalu ekstra saat ini.
belum lagi luka yang tadi sembuh kini malah bertambah,dan luka kali berasal dari orang yang ia cintai selama ini.
"Lo kenapa nutup mata??",cetus Ferdinand menyadarkan Larissa.
"ah gue gapapa", ucapnya dengan spontan.
"ga usah nambahin masalah okey", batinnya.
"Lo mau ke mana,malam malam begini malah make dress doang lagi". ucap Ferdinand menyadari pakaian yang di kenakan Larissa.
"gu- gue, eh itu gue mau pulang hehe". ucap Larissa gugup.
"gue balik dulu ya", ucapnya lalu berbalik dan berjalan kembali.
"gue harus jawab apa coba,masa iya gue bilang gue nolak perjodohan kan ga bener kalau begini". gumam Larissa.
"udah ayo gue anterin aja,mau ga?? sekalian gue juga mau balik". tawar Ferdinand yang tengah mengikuti Larissa dengan motor kesayangan nya.
"ah ga usah,gu- gue bisa balik sendiri kok". tolak Larissa.
"Lo yakin? Lo mau ntar di panggil panggil sama om om di sini??", goda Ferdinand membuat Larissa seketika berhenti dan langsung menghampiri Ferdinand yang menghentikan motornya.
"ehh,gue ikut Lo aja hehe". jawab Larissa langsung mendekati Ferdinand.
"ahahah,takut kan Lo. nih pake helm dulu". ucap Ferdinand sembari memberi helm untuk Larissa.
"makasi",jawab Larissa.
"ayo naik",ucap Ferdinand.
"tapi gue pake dress",jawab Larissa sambil melihat baju yang ia pakai.
"pakai ini biar Lo ga kedinginan", ucap Ferdinand sambil memberikan jaketnya yang sudah ia lepaskan.
"makasi",ucap Larissa tersenyum lalu naik ke atas motor Ferdinand.
Ferdinand melakukan motornya dengan kecepatan tinggi membuat Larissa yang ada di belakangnya sedikit takut, namun Ferdinand tidak menghiraukan nya hingga akhirnya Larissa memukul pundak Ferdinand pelan.
"pelan fer,gue takut". ucap Larissa sembari memukul pundak Ferdinand.
"AAA!!!", teriak Larissa.
bukannya menurunkan kecepatan nya Ferdinand malah semakin mempercepat laju motonya,membuat Larissa seketika kaget dan langsung memeluk Ferdinand dari arah belakang.
"Lo kurang ajar banget tau ga sih",omel Larissa setelah turun dari motor Ferdinand.
"di awal juga gue udah nyuruh Lo buat pegangan kan,kenapa ga di pegang??". jawab Ferdinand yang malah kembali bertanya.
"yaa,tapi ga gitu". cetus Larissa.
"udah udah sana masuk udah malem nih",ucap Ferdinand memotong jawaban Larissa.
"iya iya",jawab Larissa kesal .
"makasi udah nganterin gue", sambung nya.
"siapa yang nganterin lo,kita searah ya kenapa ga sekalian aja". jawab Ferdinand membuat Larissa kesal.
"serah lo deh,pokok nya makasih,gue mau masuk dulu". jawab Larissa lalu meninggalkan Ferdinand.
.
.
.
.
.
.
.