Larissa Christine

Larissa Christine
terlambat masuk kelas



malam pun tiba,jam menunjukan pukul 8 malam, dan Larissa tengah berada di dalam kamarnya menyantap makanan yang ia bawa dari dapur.


"drtttt drttttt", suara getar ponsel.


"halo?"


"DARI MANA SAJA KAU INI??? DI MANA KAU SEKARANG?? APA HIDUP MU SEDANG TERANCAM SAMPAI TIDAK SEKOLAH SAMPAI TIDAK MEMBALAS BAHKAN MEMBACA PESANKU????!!!!?!",ucap Claudia di ponselnya.


saat claudia mengatakan itu Larissa langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya, takut jika nanti pendengaran rusak akibat suara dari sahabat nya itu.


"kalau ku jawab ya,apa kau percaya?"


"hah? benarkah?"


"emm",dehem Larissa pasti.


"TIDAK! KAU PASTI BERBOHONG UNTUK MENGHINDAR DARIKU KAN?? JAWAB!!!!".


"ayolah clau,gendang telingaku bisa tidak berfungsi lagi jika kau terus berteriak"


"kau pantas mendapatkannya",pekik Claudia.


"iya aku salah,tidak membaca pesan mu,tidak membalas pesan mu apalagi mengangkat telepon mu".


"baiklah kau sedikit pintar hari ini".


"sabar saa,inget cuma dia yang bisa ngerti keadaan mu"batin Larissa.


"apa isi otakmu sekarang? apa sedang mengata-ngatai ku?".


"tidak,aku sedang memuji kebaikan sahabat ku ini",rayu Larissa.


"eum,cepat katakan kemana dirimu seharian ini? dan kau katakan dirimu terancam, terancam kenapa?"


"besok ku jelaskan saat kita di kelas"


"hm,baik".


"ya sudah matikan telepon nya aku ingin tidur".


"kau ingin tidur atau ingin makan?"


"kenapa kau harus selalu menebak dengan benar??",ucap Larissa kesal.


"ayolah,kau tidak sadar selama ini aku sangat pandai??"


"baik lah,aku akan mendengarkan sebuah debu yang berada dalam tumpukan emas dan berfikir bahwa dia adalah bagian emas itu"pekik Larissa.


"apa?!!!!!"


"coba katakan sekali lagi,akan ku pukul kau besok",ancam Claudia.


"tidak tidak,aku hanya bercanda. hahaha",ucap Larissa tertawa kecil.


"ngomong ngomong,apa kau ingin tau sesuatu?",tanya Claudia.


"apa",tanya Larissa sambil mengunyah makanan nya.


"ada yang mencarimu tadi"


"bagaimana bisa,siapa yang mencariku",tanya Larissa masih mengunyah kembali makanannya.


"coba tebak",suruh claudia.


"Bu kepsek? atau wali kelas atau guru killer itu?",jawab Larissa santai.


"ayolah tebak lagi tebak lagi, bukan guru bukan"


"apa mungkin pak satpam?"


"ayolah Larissa,apa otak mu tidak berjalan saat ini?",pekik Claudia.


"heyyy,jaga omongan mu",ucap Larissa membuat claudia.


"baiklah aku akan mencoba memikirkan nya lagi"


"apa mungkin... ketua OSIS menyebalkan itu?".


"yaaaaaaaa, benar sekali",ucap claudia.


"untuk apa dia mencariku,bukan nya catatan keuangan sudah aku berikan hari itu?".


"ayolah Larissa,gunakan otak mu sedikittt saja"


"heyy,jika tidak menggunakan otak jadi selama ini aku menggunakan apa??!"


"lutut"


"baiklah aku mengaku kalah,apa yang ia katakan padamu?",ucap Larissa tak ingin ribut lagi.


"dia bilang......"


"ayolah jangan buat aku penasaran",ucap Larissa


"baiklah,kalau begitu aku akan ceritakan besok".ucap Claudia membuat Larissa jengkel.


"kau ingin sahabat baru?"


"AHAHAH,baiklah baiklah,hahaha".


"tadi dia bertanya padaku dimana kau, ya aku katakan yang sebenarnya bahwa akupun tidak mengetahui nya".


"lalu??",tanya Larissa minum dan menyudahi makan malamnya.


"lalu....... dia bilang besok kau akan di hukum".


"APA?!!".


"UNTUK APA BERTANYA PADAMU TENTANGKU JIKA HANYA UNTUK MENGATAKAN BAHWA AKU AKAN DI HUKUM BESOK?!!!!", Larissa kesal dan marah di telpon,karena kamarnya kedap suara jadi tak akan terdengar keluar kalau pun terdengar itu hanya seperti suara nyamuk yang sedang mencari makanan.


"AHAHAH,aku bercanda aku ,hahaha. cukup cukup aku tidak ingin tertawa lagi",pinta Claudia.


"kau....? apa kau berbohong?" tanya Larissa.


"tidak tidak aku tidak berbohong,dia memang mengatakan itu tapi sebelum mengatakan itu dia juga bilang kalau besok ada rapat osis jadi kau tak boleh terlambat",ucap Claudia jujur.


"hmm, sudah ku duga dia tak akan berbicara pada orang lain jika bukan karena osis dan hukuman. baik lah aku paham sekarang",ucap Larissa di telepon.


"seperti nya ada yang tersulut emosi malam ini",cetus Claudia.


"sudah, awas kau akan aku pukul besok",ancam Larissa.


"lakukan saja,kalau kau berani", ucap Claudia bukannya takut malah menantang.


"hmm,kau memang tak ada tandingannya. sudah sudah aku ingin tidur", ucap Larissa.


"baiklah,ingat kau akan di hukum besok",bisik Claudia di ponselnya lalu tertawa dan mematikan panggilan sebelum Larissa mulai meneriakinya lagi.


"dasar penakut",ucap Larissa melihat ponselnya yang sudah tidak ada lagi panggilan telepon.


"sudah lah aku ingin tidur",ucap Larissa lalu membersihkan mejanya dan mengantar semua peralatan makanan nya tadi ke dapur.


namun saat di dapur ia bertemu lagi dengan wanita yang harus ia sebut mama.


"ayolah ini sudah malam bisakah aku sehari saja tidak melihat wajahnya??",ucap Larissa dalam hati.


"mau kemana kau?",tanya wanita itu.


"mau ke kamar lah",jawab Larissa cuek sambil berjalan keluar dari dapur.


ibu sambung nya itu menarik tangan Larissa.


"ingat janji mu", bisik nya.


"yayaya,akan ku ingat",jawab Larissa lalu melepaskan genggaman tangan ibu sambung nya itu dan langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


"wanita perusak",batinnya saat memasuki kamarnya.


...****************...


pagi pun tiba, Larissa sudah siap dan ingin berangkat bersama ayahnya. namun Hana merusak semuanya, ia malah menyuruh tuan Harry mengantarnya dan membiarkan Larissa untuk pergi menggunakan ojol.


"pa, Larissa kan selalu di rahasiakan keberadaan nya biar ga ada yang bisa ganggu dia. jadi biar dia pergi sendiri pa, papa antar mama aja ke butik",ucap hana.


"iya juga ya,ya sudah kamu pergi sendiri ya sayang atau kamu minta bibi buat anter kamu",ucap tuan Harry.


"iya pa",jawab Larissa tersenyum kecut.


"akan aku balas kau nanti", batin nya.


mobil keluar dari gerbang berjalan keluar dari lingkungan rumah, sedangkan Larissa ia pun keluar dari gerbang namun dengan berjalan kaki.


"sudah jam segini,dan aku harus menunggu lagi??",keluh Larissa menunggu datangnya ojol(ojek online).


"ayolah,lama banget sih",gerutu Larissa melihat keberadaan ojol itu di layar ponselnya.


terdengar suara klakson,dan itu adalah pesanan nya. ia langsung naik ke motor itu,dan mengatakan pada supirnya untuk lebih cepat karena ia akan terlambat.


"pak boleh lebih cepat",pinta Larissa.


"maaf non,bapak memang begini kalau bawa penumpang"ucap tukang ojek itu.


"tapi pak saya sudah telat",ujar Larissa yang kini benar benar panik.


"sabar ya non, sebentar lagi juga sampai",jawab bapak itu.


Larissa terdiam,ia teringat bahwa yang ia tumpangi sekarang itu orangtua. jadi tidak pantas jika terlalu mendesak.


"sudah lah,ini juga salah ku terlalu lama",batinnya.


5 menit setelah perdebatan itu akhirnya mereka sampai di depan gerbang sekolah, Larissa langsung turun dan memberikan ongkosnya.


"dekk,ini kelebihan ongkos nyaa",teriak bapak ojol.


"gapapa pak, makasih ya udah anter saya",ucap Larissa dari jauh karena sudah masuk ke dalam lingkungan sekolah.


bapak itu mengangguk paham.


"seperti nya dia anak yang baik",batin bapak ojol itu masih melihat Larissa yang berlari dengan cepat dan bergegas pergi.


kembali pada larissa yang kini berusaha bersembunyi di balik teman temannya yang sudah berbaris di lapangan, namun karena guru killer yang selalu di takuti murid sudah mendapatkan nya ia pun pasrah di tarik keluar dari barisan.


"kamu di sini,jangan coba coba hilang dari barisan mu ini",ucap guru killer itu menunjuk nunjuk Larissa untuk berada di barisan berbeda dengan murid yang tidak bermasalah.


Larissa hanya mengangguk dan memikirkan hukuman apa yang akan ia dapatkan.


"pagi anak anak....",sapa kepala sekolah.


"pagi buu......",jawab semua murid serentak tak terkecuali dengan Larissa.


"ibu ga punya banyak yang mau di sampaikan,ibu cuma mau kalian lebih disiplin dan lebih rajin lagi. hari ini ibu bakal langsung membacakan nama nama yang tidak hadir semalam. buat nama yang saya panggil maju ke depan,paham semua??".


"paham bu...."


"yang pertama ananda dari kelas 10 IPA 1, andika putra dari kelas 11 ips 2,...... "


kepala sekolah itu terus memanggil nama murid yang tidak hadir dan mereka langsung di suruh berdiri di barisan depan.


"selanjutnya Larissa Christine dari kelas 12 IPA 1 "


panggilan itu tertuju pada Larissa,dan ia akhirnya ikut maju dengan yang lainnya. dua kali kesalahan dan ada 2 kali hukuman.


" itu semua nama nama yang tidak hadir, mereka semua sudah di sini. bisa kalian lihat?? jangan tiru teman dan kakak kelas kalian ini", ucap guru itu menyadari ada kakak kelas dan sekaligus osis berdiri bersama 5 murid yang lain.


"baik bu.....",jawab murid serentak.


"sudah cukup, sebelum kita memasuki ruangan marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan kita masing masing,berdoa di mulai".


semua menundukkan kepala, tak lama kepala sekolah pun mengatakan bahwa doa sudah selesai. dan murid yang tidak bermasalah di bubarkan dan memasuki kelas.


"kamu Larissa kan? bendahara osis? "tanya guru killer pada Larissa.


"iya pak",jawab Larissa sedikit takut.


"kamu ga punya kedisiplinan? apa yang harus di contoh dari kamu? ini kakak osis yang selalu di banggakan itu, apa ini bapak lihat dia malah melakukan 2 kesalahan dalam 1 waktu".


"maaf pak,saya kurang disiplin hari ini"


"apa alasan kamu semalam ga masuk,dan alasan kamu hari ini terlambat?"


"saya sakit pak",ucap Larissa menunduk takut jika guru killer itu mengetahui bahwa ia berbohong.


"kamu berbohong?",tanya guru itu ragu.


"enggak pak,saya benar",ujar nya meyakinkan.


"kalau begitu saya akan tanya pada ayahmu",ancam nya.


"jangan pak",ucap Larissa memegang tangan guru killer itu.


"plakkkkk",satu tamparan mengenai pipi kiri Larissa dan semua yang ada di sana kaget.


"siapa kamu berani berani nya sentuh saya ha?!!!!!",bentar guru killer itu.


"ma-maaf pak,saya cuma takut bapak bilang ke papa saya", jawab Larissa menahan perih di pipinya,namun ia hanya menunduk menyamarkan memar di pipi nya.


"kamu 10 kali putaran lapangan,nanti jam pulang sekolah!!!!", bentak guru killer itu.


"yang lain 5 kali putaran juga nanti saat pulang sekolah", sambung nya.


"sekarang masuk ke kelas!!!!"perintah guru killer itu.


mereka semua bubar dari sana begitu juga dengan Larissa,ia berbalik badan dan memegang pipinya yang masih terasa perih akibat tamparan yang ia dapatkan.


memang benar dia salah,tapi cara itu tidak baik apalagi Larissa adalah seorang perempuan. tapi mau bagaimana pun ia tetap bersalah,mengadu-pun tak akan berguna.


ia berjalan menuju kelas, dan izin untuk masuk dan ikut belajar. namun guru yang sedang mengajar itu tidak mengizinkan nya untuk masuk,dan ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke toilet sekolah.


sebenernya Larissa bukan perempuan lemah,hanya saja entah mengapa hari ini ia sangat rapuh. tamparan dan perkataan tadi seolah menjadi luka yang sangat menusuk, hingga ia meneteskan air matanya.


di usah nya air bening yang hampir jatuh ke pipinya itu, ia berjalan lebih cepat agar tidak terlihat siapapun. bukan mempercepat ia malah memperlama sampai di toilet karena menabrak seseorang yang jika di ukur dengannya Larissa hanya sebahu pria itu.


"brukk",bunyi dari kedua orang yang bertabrakan.


"aww",ringis Larissa.


"ngapain lo? ga belajar?",tanya pria itu.


"gue ga di kasih masuk",jawab Larissa saat mengetahui bahwa Ferdinand lah yang ia tabrak.


"kenapa ga boleh?",tanya Ferdinand.


"gue ga tau",jawab Larissa terus menunduk.


"ntar pala lo jatuh kalau nunduk mulu",ujar Ferdinand membuat kesal Larissa.


"biarin aja, malah gue pengen banget ngelepasin kepala gue dari tempatnya",ucap Larissa membuat Ferdinand kaget.


"Lo kenapa? tumben banget bisa ga maki maki gue",tanya Ferdinand heran.


"gue gapapa,gue mau ke toilet dulu",ucap Larissa meninggalkan Ferdinand yang masih berdiri di sana melihat nya.


"gue tau kok lo kenapa,tapi kalau sama guru yang satu itu gue ga bisa apa apa sa", batin Ferdinand.


"gue harap lo ga sampai hilang kendali ya cuma karena guru itu",batinnya.


Ferdinand pun pergi meninggalkan tempat itu,ia berjalan menuju ruang kantor untuk bertemu dengan kepala sekolah karena ada yang ingin di bicarakan.


"tok tok tok",bunyi ketukan pintu yang di buat oleh Ferdinand.


"permisi bu,saya boleh masuk??",tanya Ferdinand sopan.


"masuk lah, silahkan duduk",sahut kepala sekolah mempersilahkan Ferdinand.


"makasih bu", jawab Ferdinand.


"ada apa ke sini fer?,tanya kepala sekolah itu.


"begini bu,kan ini sudah minggu ketiga sejak masuk setelah liburan kenaikan kelas. jadi bu kan belum ada pengenalan lingkungan untuk adik kelas bu,jadi saya ke sini buat minta izin kalau kami dari osis mau membuat acara mos.


"begitu..,ya udah lakuin aja. selagi kalian tidak terlalu keras menekan mereka itu tidak masalah", jawab kepala sekolah.


"itu pasti bu,jadi ibu setuju??",tanya Ferdinand memastikan.


"iya saya setuju".


"makasih ya bu,kalau begitu saya permisi dulu. nanti kalau saya perlu bimbingan dan arahan dari ibu saya bakal datang ke sini lagi",ujar Ferdinand lalu permisi untuk pamit.


Ferdinand pun keluar dari ruangan itu,dan berjalan kembali ke kelasnya. untuk murid yang lain sudah biasa dengan kesibukan Ferdinand,jadi tidak heran jika ia mondar mandir di beberapa jam pelajaran karena tugasnya.


tapi untuk murid baru mereka pasti akan heran dengan Ferdinand,tapi juga kagum dengan ketampanan nya. siapa sih yang tidak menyukai paras tampan dari Ferdinand belum lagi saat dia tersenyum ia akan terlihat begitu tampan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.