Larissa Christine

Larissa Christine
dasar pelit!!!!



"makasih udah nganterin gue",ucap Larissa tersenyum. "makasih juga buat ini",ucap Larissa mengangkat tangan kanan nya yang memegang sekantung plastik berisikan obat untuk kakinya yang di berikan oleh Ferdinand.


"santai aja",jawab Ferdinand. "ya udah gue balik dulu ya", sambung nya lalu menyalakan motor dan meninggalkan Larissa di depan pagar rumahnya.


"dia baik tapi jutek banget,pen mukul bawaan nya",ucap Larissa kesal.


ia pun berjalan menuju pagar dengan kaki yang masih sedikit sakit. ia menekan tombol yang ada di luar untuk memberitahu ada dia di luar.


penjaga rumah pun membukakan pintu dan melihat Larissa yang memegangi lututnya. "non kenapa??",tanya penjaga itu.


"gapapa pak,tadi di sekolah ada musibah kecil",ucap Larissa tertawa. "ya udah Larissa masuk ya pak",ucap nya lalu berjalan dengan langkah yang sangat pelan.


karena sedikit takut dengan kondisi Larissa penjaga itu berinisiatif untuk membantu Larissa setidaknya agar lebih cepat sampai ke dalam rumah. "mau bapak bantu non?",tanya penjaga itu.


"ga usah pak, Larissa bisa kok",tolak Larissa tak ingin merepotkan.


"gapapa non, biar non lebih cepat sampai",ucap penjaga itu lagi.


"gapapa pak, Larissa bisa kok",ucap Larissa. "bapak kerja aja ya", sambung nya.


penjaga itu menurut dan akhirnya kembali ke pos nya walau masih khawatir dengan Larissa anak dari bosnya itu.


tak berapa lama akhirnya Larissa sampai dan tidak melihat keberadaan ibu sambungnya di rumah,ia pun sedikit tenang karena tidak akan ada yang mengganggu ketenangan nya hari ini.


"dia ga ada? syukur deh",ucapnya pelan. ia pun berjalan menuju tangga untuk naik ke atas dan ingin beristirahat di kamarnya.


pelan pelan ia menaiki tangga dan ia merasa seperti ada yang membantunya tapi sosok itu tidak terlihat. ia tidak memperdulikan hal itu ia terus menaiki tangga dan sampai lah ia di lantai 2,ia langsung membuka kamarnya dan masuk ke dalam tak lupa ia mengucinya dari dalam.


"huhh",ia seperti sedang benar benar lelah dan langsung duduk di atas kasurnya.


"aww", lirihnya saat berusaha untuk duduk. "pelan pelan pelan",ucapnya sambil berusaha duduk."akhirnya", ucapnya saat ia berhasil.


sebenarnya tidak luka besar tapi sedikit sakit jika harus duduk seperti biasa karena lutut nya seperti pegal dan susah untuk di gerakkan.


tiba tiba ponsel Larissa berbunyi.


"hallo?",ucap Larissa.


"hallo, gue butuh catatan keuangan yang hari itu lo kasih gue lupa simpen dimana",ucap seseorang dari panggilan telepon itu.


"iya,besok gue kasih",jawab Larissa lalu mengakhiri panggilan telepon itu. "dasar osis nyebelin aru juga Lo baik sama gue udah begitu aja", ucapnya.


"apa Lo baik sama gue karena ini?",ucap Larissa bertanya tanya dalam hati. "ya udah lah mau gimana lagi",ucapnya lalu memutuskan untuk mandi dan melakukan aktifitas lain.


...****************...


jam menunjukkan pukul 11 malam, dan larissa tengah berada di meja belajar nya. ia sudah selesai dengan tugas besok yang belum selesai hanya pekerjaan yang di berikan oleh Ferdinand tadi siang saat setelah Larissa di antar pulang.


"tanggal 10 ada pengeluaran buat biaya pembelian tanda pengenal osis sebesar 250ribu, seminggu kemudian ada pengeluaran juga untuk biaya pembelian buku dan alat tulis untuk keperluan osis, tanggal 20..."


"drrrrrtt drrrrt",suara getaran ponsel Larissa ia sengaja membuat mode diam pada ponselnya agar tidak ada yang mengganggu.


"iya hallo?",jawab Larissa saat setelah ia mengangkat telepon nya.


"gue mau,besok catatan tentang diskusi tadi udah selesai ya",ucap seseorang yang di sebut osis menyebalkan oleh Larissa.


"loh kok gue?",tanya Larissa heran. "kan gue udah bilang lo itu asisten gue",ucap Ferdinand tanpa ragu.


"tapi gue ga catat apapun feeerrr",ucap Larissa. "gue ga peduli,yang gue mau besok catatan nya udah ada di tangan gue beserta catatan keuangan yang tadi gue minta",ucap Ferdinand.


Larissa mematikan panggilan itu secara sepihak dia kesal karena perbuatan Ferdinand. ia kesal tapi ia tetep mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Ferdinand tadi.


ia harus menunda waktu tidurnya untuk mengingat kembali apa yang di bahas saat diskusi tadi siang,pasalnya ia tidak konsen ia memang memperhatikan tapi sedikit pun tidak ada yang tinggal dalam otak nya saat itu.


...****************...


"pagi pa.. ma..",sapa Larissa yang baru saja turun dari lantai 2 di mana kamar nya berada. "pagi sayang ",balas ibu sambung nya itu."wanita perusak ini lagi",keluhnya dalam hati namun tetap memperlihatkan senyumannya.


"pagi anak papaaa",sahut ayahnya mencium kening Larissa. Larissa hanya tersenyum mendapatkan perlakuan yang sudah lama tidak di dapatkannya.


"papa pergi di luan ya,papa buru buru ada kerjaan yang belum selesai",ucap ayah nya setelah kecupan di kening Larissa.


"kok gitu sih pa, aku mau ikut sama papa",ucap Larissa yang masih berdiri di samping kursi yang sudah ia tarik untuk ia duduki. "sayang papa ada kerjaan,besok deh berangkat nya sama papa", ucap ayahnya lalu berpamitan.


ayahnya keluar,begitu juga dengan ibunya yang ikut keluar untuk melihat kepergian ayahnya bekerja. tapi ia memutuskan untuk duduk di kursi yang tadi sempat ia tarik, akhirnya ia memulai serapannya.


tak lama sudah tak terdengar lagi suara mobil ayahnya,mungkin sudah jauh dari rumah dan ibunya kembali masuk ke dalam rumah.


"cepat,nanti telat",ucap ibu sambung nya itu. "harus ku apakan wanita ini",pikirnya.


"jangan ucapkan apapun tentang kejadian itu pada papa mu",ucap ibu sambung Larissa. Larissa tidak menjawab ia terus berjalan dan keluar dari rumah.


ia pun kembali berjalan menuju gerbang rumah nya, terlihat penjaga sudah bersedia membukakan pintu gerbang.


pintu terbuka, Larissa langsung pamit untuk pergi pada penjaga itu. di rumah mereka hanya ada 2 mobil yang satu untuk ayahnya dan yang satu untuk ibu sambung nya.


"pak Larissa pergi ya",pamit nya pada penjaga itu. setelahnya pintu gerbang pun di tutup, Larissa sudah berada di depan rumahnya.


jam menunjukkan pukul 7 pagi,"masih ada waktu",pikirnya. ia pun berjalan menelusuri jalanan di komplek ia tinggal.


tiba tiba terdengar suara klakson dari arah belakang. "tit.. tit...",bunyi klakson motor. Larissa kaget tapi ia langsung melihat ke arah belakang dan ternyata yang berada di atas motor itu adalah si osis menyebalkan.


motor milik Ferdinand berhenti tepat di depan Larissa." ayo naik", ajak Ferdinand. "ga usah gue bisa sendiri toh masih banyak waktu",ucap Larissa yang kemudian memutuskan untuk kembali berjalan.


"lo yakin?!",tanya Ferdinand kembali dengan nada sedikit keras. Larissa hanya mengangguk dan terus berjalan, karena perilaku nya itu Ferdinand memutuskan untuk pergi lebih dulu.


ia langsung melajukan motornya,dengan cepat ia sudah menghilang di pertigaan. Larissa tidak terkejut dengan itu karena memang Ferdinand selalu seperti itu.


Larissa pun berjalan kembali dan yang ada dalam benaknya ada lah dia kesal karena sikap Ferdinand yang tiba tiba menambah pekerjaan pada Larissa.


namun tanpa di sadari ternyata Ferdinand kembali. "udah ayo,ga ada yang bakal antar lo, ikut gue aja",ajak Ferdinand kembali.


ya memang benar tidak ada yang akan mengantarkan Larissa ke sekolahnya,tapi tidak bisa di bicarakan kalau itu dia.


"ya udah gue ikut deh,anggap aja buat upah gue ngerjain semua yang lo suruh semalam", ucap amel". "terserah Lo",jawab ferdinand sambil memberikan helm pada Larissa.


motor pun melaju melewati jalanan dengan kecepatan sedang. "kaki lo udah gimana", tanya Ferdinand. "hah?",jawab Larissa yang tidak mendengar suara Ferdinand.


"itu kaki Lo udah gimana? masih sakit ga"tanya ferdinand kembali. "hah?",ucap Larissa lagi karena benar benar tidak mendengar dengan jelas pertanyaan ferdinand.


akhirnya mereka diam selama perjalanan, dan beberapa menit kemudian merekapun sampai di depan gerbang sekolah. seperti biasa Ferdinand akan menurunkan Larissa di depan gerbang dan menyuruhnya untuk berjalan kaki menuju kelas.


"turun", ucap Ferdinand.


"ga mau,itu tinggal masuk luruuuuusss nah sebelum ke parkiran baru turunin gue",ucap Larissa."gue bilang turun",ucap Ferdinand lagi dan Larissa akhirnya turun.


"dasar pelit!!",maki Larissa setelah turun namun Ferdinand tidak mendengar karena sudah melaju dengan cepat. "sudah lah tak ada gunanya ",ucapnya kembali lalu berjalan menuju kelas.


saat berjalan menuju kelas Larissa tidak sengaja melihat ke arah parkiran motor dan melihat banyak murid perempuan yang tengah mengerubuni Ferdinand. "ohhh,gue paham sekarang. kenapa ga bilang aja sih kan gue bisa ngerti",ucap Larissa yang sebenarnya juga kesal karena perempuan perempuan itu. ia berjalan menaiki tangga menuju kelas.


"ka Ferdi ini ada roti sama susu buat kakak aku bawain dari rumah lohh". "kak ini ada buah aku bawain spesial buat kakak". kak ini ada bingkisan dari mama aku buat kakak katanya suruh kasih ke kakak". kira kira seperti itu lah suara para gadis yang tengah mengerubuni Ferdinand.


sebenarnya ferdi risih tapi mau bagaimana lagi memang seperti itulah keadaannya setiap pagi dan jam istirahat, berbeda dengan jam pulang Ferdinand akan masuk ke ruang osis karena hanya osis yang boleh masuk ke sana jadi dia aman.


ia melangkahkan kakinya menjauh dari sana tapi para gadis itu tetap mengikuti nya, sampai akhir nya ia menerima buah tangan yang mereka berikan padanya agar mereka cepat cepat menjauh.


"gue terima pemberian kalian tapi tolong jangan ganggu gue",ucap Ferdinand yang sudah putus asa dan akhirnya menerima semua pemberian para gadis yang sangat menyukainya.


semua buah tangan itu di masukkan dalam beberapa kantung plastik dan ada juga yang di pegang oleh nya seperti beberapa buah yang di bawakan oleh salah satu dari mereka.


"eumm,enak juga",ucap Larissa yang tiba tiba datang dan mengambil salah satu buah yang di pegang oleh Ferdinand.


tentu saja hal itu membuat si pemilik marah. "heh siapa lo,itu gue kasih buat kak ferdi kenapa Lo yang makan",ucap salah satu wanita yang berada di depan mereka.


"Lo kasih ke Ferdi kan?",tanya Larissa pada wanita itu. "iya",jawab wanita itu. "ini buahnya punya ferdi dong kan udah di kasih ke dia, dan ferr kalau gue ambil lo marah sama gue?",tanya Larissa pada Ferdinand dan Ferdinand pun menggelengkan kepalanya. "nah berarti ga salah kan gue",ucap Larissa begitu gampang.


"udah udah sana kalian,udah mau bel mending masuk ke kelas",ucap Larissa. "tunggu,Lo itu yang di hukum kemarin kan? yang ga dateng sehari itu",ucap wanita tadi dan Larissa diam karena benar.


"kan bener gue, ngapain lo di sini berani banget malah sok sok-an lagi ngusir kita kita", ucapnya lagi. "gue udah terima makanan dari kalian dan tolong pergi sekarang",ucap Ferdinand mengusir para gadis itu dan mereka pun pergi.


Larissa terlihat terdiam di tempat sembari menunduk kan kepalanya dan menjatuhkan buah yang sempat ia makan. "lo gapapa?",tanya Ferdinand dingin tampak seperti tidak khawatir. "gue di luan ya",ucap Larissa meninggalkan Ferdinand.


namun belum sempat ia pergi Ferdinand menarik tangannya. "bawa",perintah Ferdinand. "Lo gila ya?!!",ucap Larissa memaki Ferdinand namun tidak di hiraukan oleh Ferdinand.


.


.


.


.


.


.


.