Larissa Christine

Larissa Christine
momen langka



"dasar nyebelin, dia yang di kasih kenapa gue yang harus repot repot buat bawa ini coba",celoteh Larissa memegangi beberapa kantong plastik yang berisikan buah tangan para siswi. "kalau aja gue tadi ga nyamperin dia,ga akan begini nih gue",ucap nya lagi terus dan terus mengamuk karena barang barang itu.


bertepatan dengan kelas mereka bersebelahan akhirnya Larissa memutuskan untuk mengantarkan semua barang itu ke kelas Ferdinand. "gue bakal antar semua ini ke kelas dia",batinnya tersenyum menang.


"loh? sa, ngapain bawa barang sebanyak itu? mau piknik Lo?",cetus Claudia sambil tertawa. "mau gue pukul Lo!?",ucap Larissa yang sedikit panas. "eh,maaf maaf",jawab claudia sambil terus tertawa.


"Lo mau kemana?",tanya Claudia lagi. "Lo dia aja",ucap Larissa yang terus berjalan melewati pintu kelasnya menuju kelas sebelah yang adalah kelas Ferdinand." wah ada yang ga beres nih",ucap Claudia berbicara dengan diri sendiri.


Claudia mengikuti Larissa menuju kelas Ferdinand.


"FERDINAND!!!!",teriak Larissa dari depan pintu kelas IPA 1. "perang di mulai",gumam claudia sambil tersenyum kecil.


"FERDINAND!!!",teriak Larissa lagi. "apaan sih lo, berisik tau ga",ucap seorang wanita yang juga berada di kelas yang sama dengan Ferdinand. "gue ga punya urusan sama lo",ucap Larissa lalu memanggil nama Ferdinand lagi.


"FERDINAND GA ADA DI KELAS,GA USAH BERISIK LO",ucap wanita itu lagi. "GA USAH NYOLOT DONG,EMANG GA BISA TINGGAL BILANG GA ADA DOANG,GA USAH PAKE TERIAK TERIAK DONG LO", balas Larissa. "wih seru nih,batin Claudia. "eh engga engga,bisa mampus kalau Larissa di bully sama si malaikat pencabut nyawa itu", sambung nya.


"ayo sa,ntar aja kalau lo ada urusan sama osis",ajak claudia. "dengerin temen Lo tuh,kaya ga ada kerjaan aja,caper lo?",cetus angel.


ingin sekali rasanya Larissa membalas perkataan angel,tapi apa daya dia harus sabar karena sudah banyak masalah yang ia timbulkan. belum lagi angel ada sangkut paut nya dengan pemilik sekolah, kalau dia berontak bisa di keluarkan dari sekolah.


Larissa diam,dia menatap kesal wajah angel yang tanpa dosa itu. dan sekarang kedua sahabatnya pun ikut datang dan berdiri di sampingan. "gue males berurusan sama lo",ucap Larissa lalu hendak pergi meninggalkan angel.


"Lo nyari gue?",tanya Ferdinand yang tiba tiba muncul di hadapannya. Larissa hanya diam dan menatap sebentar lalu "punya Lo" ucapnya memberikan kantong plastik yang tadi di berikan Ferdinand padanya.


Larissa meninggalkan Ferdinand yang tengah memegang kantongan itu, hendak bertanya namun tak sempat karena Larissa langsung masuk ke dalam kelas.


Claudia mengedipkan mata dan menunjuk nunjuk Larissa dan menggerakkan bibirnya untuk mengatakan bahwa Larissa sedang tidak baik baik saja tanpa mengeluarkan suara.


Ferdinand mengangguk paham. ia pun membawa kantongan yang di berikan Larissa padanya ke dalam kelas.


sebenarnya Ferdinand tidak sedingin itu. ia sangat hangat jika berada di kelasnya namun jika sudah melewati pintu kelas,ia akan berubah menjadi osis menyebalkan seperti yang di katakan Larissa.


"buat kalian",ucap Ferdinand meletakkan kantongan yang ia bawa. "wihhh,kalau begini terus seneng nih kita",ucap salah satu teman sekelas nya.


"eh fer, tadi Larissa dari kelas sebelah nyariin Lo tuh",ucap salah satu dari gerombolan lelaki di kelas yang tengah mengacak acak plastik bungkusan.


"terus?",tanya Ferdinand. "ya itu tuh, si angel debat sama dia",jawab yang lain. "hah?",ucap Ferdinand tak mengerti dan tak percaya.


"iya,mereka debat tadi. si angel nyolot juga sih,tapi emang si Larissa juga berisik tadi",ucap pria itu kembali.


"terus gimana?",tanya Ferdinand. " si Larissa itu diem aja ngeliatin si angel,terus pergi deh", sahut lelaki lain.


"Lo lagi deket sama dia ya ferrr",cetus seorang yang lain. "engga", jawab Ferdinand dingin. "Halah,banyak bohong lo", ucap pria itu lagi.


"udahlah, bentar lagi bel. harusnya belajar ga kepoin orang",ucap Ferdinand.


dan benar saja tak lama setelah itu bel pun berbunyi, semua murid masuk ke dalam kelas begitu juga dengan para gitu. aktivitas belajar mengajar pun di mulai.


...****************...


jam pelajaran selesai.


murid murid sudah berhamburan dari kelas mereka namun masih ada juga yang masih di dalam kelas.


"sa,Lo kenapa sih dari tadi murung mulu. ke kantin ga mau,makan juga ga mau. mau lo apasih?", cetus Claudia.


"gada",jawab Larissa singkat.


"gue ga yakin, lo tadi pagi seneng banget pas datang. tapi setelah...", Claudia tak melanjutkan perkataanya. ia melihat Ferdinand yang berada di ambang pintu sedang berdiri memperhatikannya dan larissa.


"sa ,Lo buat kesalahan apa", bisik Claudia. "gada",jawab Larissa singkat.


"Lo yakin kan?",tanya Claudia memastikan kembali. " iyaaaa claudiaaaa",jawab Larissa kesal.


"terus dia ngapain ke sini?", tanya claudia yang membuat Larissa melihat ke arahnya dan melihat ke mana arah mata Claudia menatap.


Larissa melihat keberadaan Ferdinand di sana, sedang berdiri dan menatap mereka. Larissa memberhentikan aktivitas nya yang tadi tengah menyusun buku buku dan alat tulis miliknya ke dalam tas.


"ada apa?",tanya Larissa singkat. "ga ada cuma mau liat Lo doang",jawab Ferdinand biasa saja.


mendengar jawaban itu Larissa kembali merapikan bukunya. "ayo cla",ajak Larissa setelah selesai dengan barang barangnya.


saat di depan pintu tangan Larissa di tahan dan membuat si empunya kesakitan. "apaansih, lepasin ga",ucap Larissa memberontak sambil memukul mukul tangan Ferdinand.


"ikut gue", ucap Ferdinand menarik tangan Larissa . "apaansih Lo, cla tolong gue",ucap Larissa.


"Lo ga usah ikut campur, pulang sana ntar gue anter dia balik",ucap Ferdinand pada Claudia. namun Larissa mengatakan untuk tidak meninggalkan nya bersama Ferdinand.


"pergi atau besok kau akan mendapatkan hukuman",ucap Ferdinand mengancam Claudia.


dan Claudia akhirnya meninggalkan Larissa bersama ferdinand. "sa maaf ya gue yakin Lo baik baik aja",batin Claudia.


"apaan sih fer,Lo nyuruh dia balik terus gue gimana",ucap Larissa memberontak.


"ya terserah lo",ucap Ferdinand masih memegang tangan Larissa.


pupus sudah harapan Larissa. "gue pikir Lo beneran mau balik bareng gue",batin Larissa.


"udah ayo",ucap Ferdinand menarik-narik Larissa. "bisa sabar ga sih!!",ucap Larissa menaikan nada suaranya.


"Lo bentak gue?",tanya Ferdinand.


"menurut Lo,tadi gue nangis?",cetus Larissa kesal. "udah lah ayo",ucap Ferdinand.


"mau kemana sih?",tanya Larissa bingung. "ikut aja",ucap Ferdinand.


mereka berjalan ke arah ruangan osis. "ruangan osis?",batin Larissa dan sudah menduga yang tidak tidak.


"masuk",ucap Ferdinand melepaskan tangan Larissa. "iya,bawel banget",ucap Larissa kesal.


pintu dia buka olehnya dan ternyata sangat ramai orang di dalam dan semuanya merupakan anggota osis.


"huh,syukurlah aku pikir akan terjadi apa",ucap Larissa tanpa sadar. "apa?",tanya Ferdinand bingung.


"engga engga", ucap Larissa lalu masuk ke dalam ruangan.


"lama banget sih".


"kita ga punya banyak waktu tau ga".


"cuma bisa mikirin diri sendiri doang",ucap para siswa yang juga berada di sana.


"kenapa?",tanya Larissa tak merasa ada yang salah pada dirinya. "DUDUK",ucap para osis serentak membuat Larissa kaget dan seketika jantungnya berdetak lebih cepat.


"i-iya", jawabnya singkat.


Larissa hanya diam dan menundukkan kepalanya, ia tak sanggup untuk melihat ke depan ia tiba tiba merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"kita mulai rapat nya",ucap Ferdinand setelah duduk di sebelah Larissa. "Lo gapapa?",tanya Ferdinand pelan. Larissa hanya menaikkan jempol kanannya menandakan dia baik.


"momen langka", batinnya saat mendengar Ferdinand memperhatikan nya.


Larissa tidak fokus dengan pembahasan, ia terlalu fokus dengan detak jantungnya dan kepalanya yang mulai pusing. entah mengapa namun detak jantung nya terlalu cepat sehingga kepala ikut berdenyut dengan hebat.


keputusan sudah di ambil,dan Larissa berada di tim 3 bersama dengan yang lain. dan entah mengapa angel ada di tengah tengah mereka, mengikuti rapat dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan mos ini.


"angel",panggil ferdinand. "iya?",jawab angel senang. "berdiri di tempat mu sekarang", suruh Ferdinand.


"untuk apa?",tanya Angel. "berdiri saja dulu,lakukan apa yang aku katakan",ucap Ferdinand dan angel pun berdiri.


"sudah", ucap angel. "minta maaf pada Larissa",ucap Ferdinand. Larissa kaget dan mengangkat kepalanya melihat ke arah Ferdinand yang berada di sebelah kanannya.


"hah? soal apa?",tanya angel. "minta maaf saja bahkan walau tanpa kesalahan", ucap Ferdinand.


Larissa semakin kebingungan. ia menatap wajah Ferdinand seakan mencari jawaban tapi ia tidak menemukan apapun.


"apaan? gue? minta maaf ke dia?",ucap angel kesal.


"apa sesulit itu?",tanya Ferdinand.


"tidak",jawab angel. "hanya saja..."sambung nya tanpa melanjutkan perkataanya.


"hanya saya dirimu terlalu egois dan tidak merasa dirimu bersalah pada siapapun? bahkan jika seseorang mati karena mu,kau tak akan merasa bersalah",ucap Ferdinand kesal.


"bu-bukan,bukan itu. ah, baiklah. Larissa gue minta maaf",ucap angel tidak ikhlas.


Larissa mengalihkan pandangannya ke arah angel yang tengah berdiri di hadapannya. Larissa mengangguk menandakan ia menerima permintaan maaf itu.


tapi sebenarnya ia masih belum mengerti maksud dari perlakuan ferdinand barusan. ingin sekali ia bertanya namun tiba tiba kepalanya berdenyut hebat,dan ia menundukkan kepalanya.


saat ia menundukkan kepalanya. "tess",suara tetesan darah segar mengalir dari hidungnya. "da-darah?",batinnya. "ku mohon jangan sekarang", ucapnya.


darah itu jatuh di atas roknya, ia menutupi hidungnya. "gue izin ke toilet bentar", ucapnya lalu berlari keluar dari ruangan.


"ada apa ini?",batin Ferdinand.


"lah gimana sih,tadi angel di suruh minta maaf sedangkan dia main pergi aja ga adil banget".


"gimana sih ini?".


"masa main pergi gitu aja", cibiran para siswa itu.


"diam!!",teriak Ferdinand membuat yang lain pun terdiam. "tidak bisakah kalian tenang",ucap Ferdinand lagi.


tak ada yang berani menjawab, semuanya benar benar diam. "angel,duduk",suruh nya pada angel.


"kalau kalian seperti itu lagi,saya tidak akan segan segan melaporkan pada guru", ucap Ferdinand.


"apaan sih,jangan sekarang dong",ucap Larissa yang berada di toilet sekolah.


ia membersihkan darah yang terus mengalir melalui hidungnya. sesekali ia akan menghadapkan wajahnya ke atas, agar bisa menunda tetesan yang lain.


"ayolah,jangan membuatku semakin lama di sini",ucapnya lagi. "jangan semua dong yang sakit, satu satu gituu",ucapnya menyemangati diri.


semuanya terasa sakit karena di mulai dari detak jantung yang tidak normal karena terkejut, lalu beralih pada kepala yang tiba tiba berdenyut hebat,dan sampailah pada darah yang keluar dari hidungnya.


5 menit dia berada di sana sambil terus membersihkan,dan akhirnya bisa selesai. ia pun keluar lalu kembali menuju ruangan itu.


"krekkk",pintu terbuka.


"akhirnya",ucap seorang yang ada di dalam. "diam!" bentak Ferdinand.


"Larissa,duduk", ucap Ferdinand. "yasudah karena dia juga sudah kembali,mari kita akhiri diskusi hari ini. semoga apa yang sudah di jelaskan dapat kalian mengerti",ucap Ferdinand.


"ya sudah silahkan", ucap Ferdinand.


semuanya nya mulai tergesa gesa keluar dari sana. "lo kenapa?", tanya Ferdinand pada Larissa. "gapapa", ucap Larissa yang sudah berani mengangkat kepalanya.


"ya udah balik ", ucap Ferdinand dan Larissa mengangguk. Larissa bangkit dari duduk nya dan hendak keluar.


angel tiba tiba menghampiri Ferdinand. "fer,anterin gue pulang ya. soal papa gue ga jemput",ucap angel.


"ya suruh supir Lo aja",ucap jawab Ferdinand bangkit dari duduknya.


"tapi fer.."


"gue pulang bareng Larissa", ucapnya menarik tangan Larissa sebelum angel melanjutkan ucapannya.


"kalau gitu kita di luan", ucap Ferdinand menarik Larissa. Larissa yang kebingungan hanya diam. "terserah mu saja", batinnya.


mereka berjalan ke arah parkiran. "gue beneran ikut pulang bareng Lo, atau Lo bilang itu biar terhindar dari angel?",tanya Larissa membuka suara.


"kalau Lo mau ya ayo,kalau engga juga gue ga rugi",ucap Ferdinand menaiki motornya. Larissa terdiam lalu berjalan menuju gerbang meninggalkan Ferdinand yang masih di sana.


Larissa keluar dari gerbang menunggu jemputan nya datang. "naik",suruh Ferdinand.


Larissa termenung. "hey?",panggil Ferdinand. "hah? iya?",tanya Larissa tersadar. "naik",suruh Ferdinand dan Larissa pun naik ke atas motor ferdinand.


Ferdinand menjalankan motornya melewati jalanan yang cukup sepi dan panas karena terik matahari.


tiba tiba ferdinand sadar bahwa ia tidak memberikan helm pada Larissa. iapun berhenti di bahu jalan.


"pake ini",ucapnya memberikan helm pada Larissa. Larissa menerimanya dan memakainya. setelah selesai mereka kembali melaju.


.


.


.


.


.


.


.