
"emang kenapa sih? ya udah bantuin aja sana",ucap pak indra.
mereka terus beradu argument di sana, sedangkan Larissa sudah hampir kehabisan tenaga untuk berlari. terik nya matahari menambah beban nya untuk menjalankan hukuman.
"sa,tahan sa", batin Larissa terus berlari.
"2 lagi sa, tinggal 2 doang semangat", batinnya lagi.
Larissa terus berlari mengelilingi lapangan sekolah yang cukup luas itu, dan ia sudah melewati putaran ke 8 hanya tinggal 2 kali putaran lagi.
ia hanya bisa menyemangati diri nya sendiri, dan berdoa semoga tak terjadi apa apa padanya.
"pak?? ini ga berlebihan?",tanya Ferdinand pada guru killer itu.
"itu sudah jadi ketentuan awal jadi ya memang harus seperti itu", jawab pak Indra singkat.
"dasar ga punya hati", batin Ferdinand mengatai gurunya sendiri.
Larissa terus memutari lapangan dan ini adalah putaran terakhir,mata nya sedikit kabur akibat terik nya matahari tapi ia tetap berlari.
"satu putaran lagi",pikirnya.
"Lo gapapa?",tanya seorang pria yang tiba tiba ikut berlari di sebelah nya.
"Lo??? ngapain di sini??",tanya Larissa yang kaget akan keberadaan pria itu.
"gue mau ikut lari bareng Lo",jawab pria itu mengikut di samping Larissa.
"tumben banget? kenapa nih? mau nyuruh gue nulis apalagi?",tanya Larissa yang kini menghadap ke depan.
"kalau tau respon ini yang gue dapet gue ga bakal mau lari kaya gini", batin Ferdinand.
"lo ga bisa apa mikir yang baik gitu tentang gue??"tanya Ferdinand.
"ga bisa ferrr,Lo tuh terlalu banyak hawa negatif nya", cetus Larissa.
"kurang ajar lo ya,untung gue lagi baik hari ini jadi ga akan marah marah sama lo",jawab Ferdinand santai.
"serah lo deh",jawab Larissa malas.
mereka pun sampai di hadapan guru killer yang tidak punya hati itu, Larissa langsung menanyakan apakah hukum nya sudah selesai atau belum.
dan guru itu mengatakan sudah selesai dan pak indra langsung kembali ke kantor untuk merapikan peralatan nya.
Larissa dan yang lain pun ikut meninggalkan lapangan,mereka kini menuju ruang osis dimana akan di adakan rapat untuk kegiatan mos nanti.
"kita tinggal bentar ya",ucap sekretaris dan wakil sekretaris osis.
kini tinggal Larissa dan Ferdinand yang berada di sana, mereka berjalan menuju ruang osis yang beda tak jauh dari tempat mereka sekarang berdiri.
mereka hanya terdiam seperti biasanya seolah lupa akan kejadian beberapa menit yang lalu,tak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka untuk memulai percakapan atau memecahkan keheningan.
"krekkk",bunyi pintu terbuka.
mereka sudah masuk ke dalam ruangan dan sudah banyak anggota osis yang lain di sana, Larissa tampak lesu akibat hukuman yang ia jalani tadi.
banyak pasang mata yang kini tertuju pada Larissa dan Ferdinand, entah apa maksud tatapan mereka. mungkin ingin mencari sesuatu tentang apa yang telah terjadi.
"duduk",pinta ferdinand pada larissa.
Larissa mengangguk paham,ia pun duduk di sebelah Ferdinand. bagaimana tidak,ia kan memang memiliki tanggung jawab lebih di organisasi ini jadi mau tak mau dia harus tetap berada di dekat Ferdinand.
"selamat siang semua", ucap Ferdinand memulai pertemuan.
"siang..",jawab yang lain serentak.
"kalian udah tau kan kenapa kalian ada di sini?", tanya Ferdinand basa basi.
mereka semua mengangguk dan mengatakan bahwa mereka sudah tau.
"ka-
"krekkk", suara pintu terbuka.
"maaf kita telat",ucap kedua orang yang tak lain adalah sekretaris dan wakilnya.
"duduk",pinta ferdinand.
setelah merasa semuanya sudah tenang Ferdinand melanjutkan pembicaraan nya.
"saya lanjutkan",ucap Ferdinand.
"kalian tau ini sudah minggu ketiga sejak tahun ajaran baru, dan setidaknya kalian pasti sudah kenal dengan beberapa adik kelas bukan??",ucap Ferdinand.
"jadi sebenarnya ini sudah terlalu terlambat,tapi karena memang setiap tahunnya pasti ada kegiatan seperti ini jadi kita harus melakukan nya. karena lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali",lanjutnya.
"jadi seperti tahun yang lalu saat saya masih menjadi wakil ketua osis,kita juga mengadakan pengenalan lingkungan atau lebih sering di kenal MOS. jadi tahun ini kita akan mengadakan nya juga dan saya harap kita semua bisa satu hati menjalankan tugas masing masing",ucap Ferdinand.
"kalian paham?",tanya Ferdinand.
"paham..",jawab osis yang lain.
"oke kalau gitu saya mau jelasin kegiatan apa aja yang bakal ada di pengenalan lingkungan nanti,kalau ada yang mau di catat juga gapapa karena ini saya baca ya bukan di tulis di papan".
"pertama, kegiatan mos akan dilaksanakan pada Senin tanggal 6 Agustus tepatnya Senin yang akan datang. kedua, kegiatan ini akan dilaksanakan 3 hari lama nya dari tanggal 6 Agustus sampai 9 Agustus",ucap Ferdinand.
"sudah??",tanya Ferdinand dan mereka menganggukkan kepalanya.
"saya lanjutkan kalau begitu",ucapnya.
...****************...
jam menunjukkan pukul 1 siang dan rapat sudah selesai, sebagian anggota osis juga sudah pulang hanya tinggal bagian bagian ini saja di ruangan itu sekarang.
berhubung ketua mos dan osis tidak dapat di satukan akhir nya Ferdinand memutuskan untuk memilih wakil nya menjadi ketua mos agar lebih mudah mengatur semuanya.
yang lain setuju dengan keputusan itu dan mereka juga tampak lega karena tak ingin memiliki beban lebih banyak.
Ferdinand juga sudah memberitahu tugas mereka masing masing sehingga di hari Senin nanti lebih mudah untuk menyampaikan informasi tentang kegiatan mos ini pada murid baru.
"Larissa",panggil Ferdinand mengagetkan Larissa.
"hah? iya?",ucap Larissa kaget.
"ga usah kaget juga kali", ucap Ferdinand tertawa kecil.
"ya gimana ga kaget lo tuh yang kurang kerjaan ngagetin gue",ucap Larissa menenangkan diri.
"kenapa sih emang?",tanya Larissa.
"gue mau hari Senin lo yang bakal jelasin ke mereka tentang mos", ucap Larissa.
"hah? maksud Lo gue yang jelasin ke mereka ? wah Lo gila sih fer",ucap Larissa kesal.
"gue ga gila Larissa, gue cuma ngasih lo kesempatan biar bisa ngenalin diri lo ke orang orang", jawab Ferdinand tanpa beban.
"orang orang udah tau gue fer, mereka udah kenal gue sejak tadi pagi",ucap Larissa mengingat kejadian tadi pagi sebelum masuk ke kelas.
"ga usah banyak alasan bisa ga sih?", cetus Ferdinand membuat Larissa diam karena sekarang nada yang di keluarkan Ferdinand benar benar dingin.
"iya bisa",jawab Larissa setelah beberapa saat terdiam.
"yang lain udah paham tugas nya kan?",tanya Ferdinand basa basi pada yang lain yang masih berada di ruangan itu.
"udah kok fer",jawab mereka serentak.
"ya udah kalau gitu kalian bisa balik",ucap Ferdinand tanda bahwa diskusi sudah selesai.
"ya udah kalau gitu balik di luan ya fer",ucap yang lain bergantian.
hanya beberapa saat saja tinggal Ferdinand dan Larissa yang tersisa, Larissa tak sadar karena dia melamun dan memikirkan apa yang akan terjadi jika nanti dia lah yang berada di hadapan adik kelasnya.
sungguh tak di bayangkan oleh dirinya bahwa dia akan di beri tanggungjawab yang sebenarnya buat orang lain itu mudah tapi baginya itu sangat sangat sulit.
mengharuskan diri nya sendiri menjadi bahan pembicaraan setelah itu, dia tidak bisa membayangkan nasib nya nanti.
tapi bagaimanapun Ferdinand sudah memberikan nya tanggungjawab jadi ia harus melaksanakan nya dengan baik.
"Larissa Lo ga balik?",tanya Ferdinand.
"Larissa?", panggil nya lagi karena Larissa belum sadar dari lamunannya.
"Larissa!!!?", panggil nya sedikit keras.
"ah iya? maaf gue ga denger tadi",jawab Larissa linglung.
"lo ga mau balik?",tanya Ferdinand membuat Larissa sadar dan memperhatikan setiap sudut ruangan bahwa tak ada lagi orang di sana selain dia dan Ferdinand.
"eh gue mau balik kok",jawab Larissa bangun dari duduknya.
"tuk", terdengar suara yang berasal dari benturan lutut Larissa dengan kaki meja.
"aww",ringis Larissa.
"Lo gapapa?",tanya Ferdinand spontan.
"hah?",jawab Larissa kaget.
"Lo gapapa?",tanya Ferdinand lagi.
"engga gue gapapa",jawab Larissa langsung berjalan menuju pintu untuk keluar dengan memegang lututnya yang tadi sempat terbentur.
"mau pulang bareng?",tanya Ferdinand.
"ya udah gue temenin ya",ucap Ferdinand menyodorkan diri sambil berusaha meraih tangan Larissa.
"ah ga usah,gue bisa sendiri kok",tolak Larissa karena tidak pernah ia melihat seorang Ferdinand begitu baik padanya.
"gapapa,kan hari Senin lo bakal ada tugas yang cukup berat jadi gue harus bantu Lo",ucap Ferdinand membuat Larissa kesal.
"hmm,gue pikir Lo tulus bantuin gue ternyata karena hmm",ucap Larissa menyindir.
mereka berjalan menuju kelas Larissa yang sudah tidak lagi ada orang di sana, dan yang tersisa hanya tas Larissa.
"ni orang tumben banget dah,ada angin apa nih?", batin Larissa.
"masa iya dia bantuin gue cuma karena tugas yang dia suruh?", batinnya lagi.
"ah entahlah biar aja, setidaknya gue bisa rasain gimana rasanya di topang sama ketua osis nyebelin ini", batinnya.
"Lo ngomongin gue ya?",ceplos Ferdinand.
"dih pede bener Lo", bantah Larissa.
"soalnya panas banget nih telinga gue",ucap Ferdinand.
"perasaan Lo aja kali",jawab Larissa lagi untuk menutupi kebenaran nya.
merekapun sampai di depan kelas.
"gue ambil tas dulu ya,Lo tunggu di sini aja",ucap Larissa meminta agar Ferdinand hanya berada di depan pintu saja.
"ya udah cepetan ambil tas lo",ucap Ferdinand.
"iya iya",ucap Larissa tanpa bantahan.
"udah belumm",tanya Ferdinand dari luar kelas.
"sabar dong,baru juga masuk ke kelas",ucap larissa.
"makanya cepetan",ucap Ferdinand.
"iya iya",ucap Larissa yang mulai berjalan keluar.
"udah?",tanya Ferdinand pada Larissa yang sudah berada di depan pintu.
"menurut mu?", tanya Larissa.
"kayanya sih udah",ucap Ferdinand.
"serah dehh",ucap Larissa lalu hendak berjalan namun kaki nya masih sedikit berdenyut karena benturannya sedikit keras.
"awww",ringis Larissa.
"makanya,kalau ga bisa ga usah bandel dehh gengsi banget minta tolong ke gue",ucap Ferdinand yang masih berdiri dengan santai di dekat Larissa.
"gue ga butuh",ucap Larissa kemudian kembali berjalan tapi tetap sama,kaki nya masih terasa sakit.
"aww",rintih Larissa kembali.
"udah sini gue bantu",tawar Ferdinand.
"ga usah,gue bisa kok", ucap Larissa kembali berusaha dan ia bisa walau harus menahan sakit.
"bisa kan",ucap Larissa.
"udah ayo cepetan",lanjutnya.
"Lo yakin?",tanya Ferdinand mulai ragu.
"iya,gue yakin. udah ayo cepat",ujar Larissa.
mereka pun berjalan beriringan,walau masih terasa sakit Larissa tetap berusaha menutupi nya.
"Lo yakin? ga mau gue pegangin?",tanya Ferdinand.
"apasih,ga usah sok khawatir deh. ini bukan Ferdinand yang gue kenal",ucap Larissa.
"serah lo kalau gitu",ucap Ferdinand meninggalkan Larissa yang masih kesulitan berjalan.
"dasar osis nyebelin",ucap Larissa berbisik.
"Lo ngatain gue?",tanya Ferdinand berbalik.
"eh,engga",ucap Larissa menghindar.
"yaudah cepetan jalan",perintah Ferdinand.
"iya iyaa",ujar Larissa.
tak lama mereka sampai di tempat parkir, Ferdinand langsung mengambil motor nya dan mengarahkan untuk pulang.
"naik",ujar Ferdinand.
"gu-gue bingung",ucap Larissa.
"kenapa? kaki Lo? ga usah manja cepet naik",ucap Ferdinand.
"iya iya",ucap Larissa.
Larissa berusaha naik ke atas motor,untung nya dia memakai rok panjang dan tidak ketat jadi lebih mudah untuknya mengatur posisi duduk.
"aww",ringis nya lagi tapi ia berusaha suaranya tidak terdengar.
"Lo gapapa?",tanya Ferdinand kembali dengan nada dingin miliknya.
"gue gapapa", jawab Larissa.
"udah?",tanya Ferdinand.
"udah kok",ucap Larissa setelah merasa ia sudah nyaman dengan posisi duduknya.
"nih pake",ucap Ferdinand menyodorkan helm yang tadinya ia yang memakai.
"hah? bukannya itu buat lo?",ujar Larissa.
"gue bilang pake ya pake",ucap Ferdinand.
"iya iya",jawab Larissa sembari mengambil helm itu dari tangan Ferdinand.
ia memakai nya,namun saat ingin mengucinya ia tak tau caranya akhir nya ia hanya memasangkan nya saja, setidaknya ada helm di kepalanya.
"udah",ucap Larissa setelah selesai memakai helm.
Ferdinand mulai melajukan motornya keluar dari gerbang sekolah, melewati jalanan yang masih terbilang ramai karena ini masih jam makan siang.
Ferdinand membawa motor nya ke arah apotek, mereka berhenti di depan apotek.
"Loh ngapain ke sini?",tanya Larissa bingung.
"diem di sini,ga usah banyak tingkah",ucap Ferdinand turun dari motornya dan berjalan menuju apotek.
kurang dari 5 menit akhir nya Ferdinand keluar dari sana,dan membawa sekantung plastik yang entah apa isinya.
"buat Lo,lain kali hati hati",ucap Ferdinand memberikan bungkusan itu lalu kembali naik ke atas motor nya.
"ini apa?",tanya Larissa.
"Lo punya mata kan?",ujar Ferdinand.
"iya iyaa",jawab Larissa.
"jutek banget sih",ucap nya dengan nada yang hampir tak terdengar.
"buat kaki gue ya?",tanya Larissa setelah melihat isinya.
"hm", hanya itu yang keluar dari mulut Ferdinand.
"makasihh",ucap Larissa tersenyum.
Ferdinand tak menjawab ucapan terimakasih itu,tapi saat melihat Larissa dari kaca motornya ia tersenyum tipis.
motor-pun kembali melaju.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.