Larissa Christine

Larissa Christine
pingsan



"dari... nungguin ya",ucap ara yang memang sengaja membuat Larissa kesal.


Larissa menatap kesal Ara. "sudah tidak perlu menjawab,pergilah",ucap Larissa kesal.


"apa kau yakin? tidak kah kau penasaran dengan ku? tidak kau ingin bertanya aku darimana? dengan siapa? kemana? untuk apa?",ucap ara panjang lebar.


"tidak",jawab Larissa singkat yang kini menuju jendela kamarnya.


"hm,baiklah",jawab ara kesal dan lesu.


"itu wanita perus*k itu bukan?",gumam Larissa. "ya benar",sahut Ara yang kini tengah ada di samping Larissa yang juga melihat ke arah Hana.


"HAAAA!!",kaget Larissa. Ara terdiam sebentar lalu "HAAAA!??? APA??",teriak Ara yang juga kaget namun terlambat.


"tidak bisa kah kau beraba-aba bahwa kau ada di sini juga?",tanya Larissa kesal.


"hey, aku juga berjalan ke mari. kau saja yang tidak mendengarkan nya",ucap Ara yang kini melihat kebawah.


"benarkah?",tanya Larissa bingung. "menurut mu? kita hanya berbeda tempat berdirinya saja,aku memiliki tugas dan kau pun sama",ujar Ara.


di sisi lain. di taman tepatnya, Hana tengah heran melihat putri dari suaminya itu. "ada apa dengan anak itu? mengapa ia berbicara sendiri? apa mungkin dia gila? atau berhalusinasi?",gumam Hana.


"entahlah, terserah dia saja", ucapnya mengangkat kedua bahunya lalu kembali memperhatikan setiap bunga yang ada di taman walau hanya sekedar memperhatikan.


"hey, tadi dia memperhatikan mu",ucap Ara. "hah? siapa?",tanya Larissa bingung. "itu",ucap Ara sambil menunjuk ke arah Hana.


"dia, memperhatikan ku? untuk apa?", tanya Larissa heran . "mana ku tahu,diakan bukan ibuku",ucap Ara. "hm",dehem Larissa kesal.


"apa kau mau aku mencari tahu?",tanya Ara menawarkan kebaikan. "kalau kau mau silahkan saja",ucap Larissa.


"Hem,baiklah. tapi boleh aku minta sesuatu?",tanya ara. "maksudmu?",tanya Larissa.


"ah, sudahlah lupakan saja. aku pergi dulu",ucap Ara dan menghilang dari pandangan Larissa.


"ada saja anak itu",ucap Larissa menggelengkan kepalanya. ia pun berpikir untuk mandi dan berendam.


mulai menyalakan air dan membersihkan diri, lalu ia berendam untuk menenangkan diri.


tiba tiba, "wanita itu tak berkata apa apa,hanya bermanja pada ayahmu",ucap Ara yang entah darimana datang tiba tiba berada di sebelah Larissa.


"astaga, Ara! apa yang kau lakukan aku sangat kaget. bagaimana kalau aku terkenang serangan jantung tiba tiba?!",ucap Larissa kesal .


"jangan sekarang,aku masih membutuhkan mu",ucap Ara memohon.


"apa maksud mu?! jadi jika kau tak membutuhkan ku tak masalah jika aku ma*ti?",kesal Larissa.


"bukan,bukan itu maksud ku",ucap Ara mencoba menjelaskan.


"pergi,dan tinggalkan aku sendiri",ucap Larissa. "hm,baiklah",ucap Ara penuh penyesalan dan menghilang.


"buat kesal aku saja",gerutu Larissa. ia melanjutkan berendam setelah merasa cukup, ia pun bergegas untuk selesai dan memakai pakaiannya.


baru saja ia keluar dari kamar mandi tiba tiba, "apa yang kau lakukan selama itu?",ucap wanita itu lagi yang tak lain ibu tiri dari Larissa.


"apa kau perlu tau semua yang ku lakukan? wanita seperti mu tak pantas mengetahui apapun tentang ku",ucap Larissa berjalan menuju meja riasnya.


"terserah kau saja. oh ya hari ini ada pertemuan lagi,jika kau menggagalkannya lagi maka siap siap keluar dari rumah ini ",ancam wanita itu.


"aku tak akan ikut dengan kalian,jika kalian ingin pergi ya silahkan. aku bukan barang yang di buat untuk di perjual belikan",ucap Larissa menatap ke arah cermin.


"tapi aku menganggapnya begitu,jadi tak salah bukan?",ucap Sarah tanpa memikirkan hasilnya.


amarah Larissa muncul lalu bangkit dari duduknya dan menatap tajam pada ibu sambungnya itu.


"apa? kau mau melawanku?",tanya Sarah seperti siap untuk melawan serangan dari Larissa.


dan tanpa basa basi Larissa langsung menjambak rambut ibu sambungnya itu. dengan cepat ia menariknya.


"heyyy,apa apaan kau ini???!!!",teriak Sarah sambil ingin menarik rambut Larissa tapi tidak sempat karena kepalanya di arahkan ke bawah dan tak dapat melihat ke arah Larissa.


Sarah terus berteriak berusaha lepas namun tak bisa,akhirnya ia mencoba mendorong Larissa dan terjatuh namun tak ada apa apa. kemudian Larissa bangkit dan kembali menyerang.


kini kedua wanita itu sedang beradu nasib,entah siapa yang akan menang dan kalah. namun dia antara mereka tengah berusaha memanggil suaminya untuk meminta bantuan.


"jangan pernah berharap,kau bisa lolos!!!",ucap Larissa dengan mata yang penuh dengan amarah .


"apa maksud muuu??? masssss tolonggg putri mu menyiksaku masss",teriak Sarah namun tak ada jawaban.


" kau wanita mu'ra'han tak akan ada yang mau ibu seperti muu!!!! kau tidak akan bisa mendidik ku,kau hanya menginginkan harta ayahkuuuu!!!!",teriak Larissa dengan keras membuat lawannya sedikit gemetar.


"massss!!!",teriak Sarah berusaha meminta bantuan. "lepas ku bilang lepas,kau akan menerima akibat dari ini semuaaa",ucap Sarah mengancam.


"kau lah yang akan menerima semua akibatnya",ucap Larissa melawan.


di sisi lain,di taman. seorang pria tampan berbadan tegap tengah duduk sambil meminum secangkir kopi buatan sang istri.


ia sangat terlihat begitu santai, menikmati sore yang indah dengan deruan angin dan kicauan suara burung yang akan pulang ke sangkarnya.


"indah nya sore ini",ucap nya pelan lalu menyeruput kopi nya.


"sangat sangat indah, begitu juga dengan pemandangan di atas sana",ucap Ara melihat ke arah jendela kamar Larissa.


Ara tentu saja tau apa yang sedang terjadi, dan ia lah yang sengaja menutup pandangan dan pendengaran ayah Larissa.


ia sudah tau apa yang terjadi dan langsung bertindak, memang bisa di andalkan. sangat sangat bisa di andalkan makhluk yang satu ini.


di kamar Larissa suasana semakin panas,banyak ucapan yang keluar dari mulut keduanya walau sudah tidak ada insiden jembak menjambak.


Larissa yang sudah tak tahan dengan semuanya akhir nya mengeluarkan amarah yang besar. "jika kau punya pikiran dan pantas menjadi seorang ibu,kau tak akan menjadi perusak di keluarkuuu!!!",ucap Larissa dengan keras.


"aku tidak menjadi perusak,ibumu lah yang tidak bisa melayani suaminya dengan baik dan ayahmu memilih ku untuk mengurusnya. ibu mu pun tak secantik diriku jadi wajar jika ayahmu berpaling!!",ucap Sarah terengah engah.


"kauuu!!!!!!!!",ucap Larissa kembali panas. Larissa hendak mengambil gunting kecil yang ada di dalam laci rias nya yang ia gunakan untuk memotong sesuatu.


"KAU BUKAN IBU KUUUUU, KAU TAK AKAN PERNAH BISA MENJADI IBUUU",ucap Larissa frustasi.


ia berada di depan pintu kamar yang sudah tertutup. ia menjatuhkan diri ke lantai, ia mulai lelah dengan semuanya. berharap ibunya masih hidup dan datang membantunya.


namun semua itu hanya mimpi yang tak akan pernah nyata,ia benar benar membutuhkan bahu yang dapat menjadi tempat ia bersandar.


namun tak ada satupun yang dapat mengerti keadaan nya,bahkan ayahnya sekalipun.


ia menangis dalam diam, merasa ini sudah keterlaluan. selama ini ia diam karena menghargai ayahnya namun sekarang tidak lagi,dia sudah muak.


"non?",panggil bibi. "iya bi?",sahut Larissa.


"non gapapa?",tanya bibi. "gapapa bi, Larissa baik baik aja kok. bibi tenang aja",ucap Larissa berusaha menormalkan suaranya.


"bibi boleh masuk?",ucap bibi. "boleh bi",sahut Larissa.


pintu terbuka dan bibi langsung terdiam melihat kondisi kamar yang sudah berantakan.


"non ? non kenapa??",tanya bibi panik. "Larissa gapapa bi",ucap Larissa mencoba berbohong.


tanpa basa basi bibi langsung berjongkok dan memeluk tubuh mungil milik Larissa. "Larissa gapapa bi,bibi tenang aja",ucap Larissa.


"non? kalau non mau cerita boleh non non boleh cerita ke bibi",ucap bibi namun Larissa hanya diam dengan tatapan kosong.


tiba tiba bibi merasa bahunya lebih berat,bibi langsung mengangkat tubuh Larissa dari bahunya, melepaskan pelukannya. dan ia mendapati Larissa yang sudah tidak sadarkan diri.


"non? non? bangun non? ",ucap bibi sambil menepuk pipi Larissa berharap ia masih sadar.


"non? bangun non? non? non gapapa kan? non bangun..",ucap bibi berulangkali namun tak di sahut oleh Larissa.


...****************...


pagi pun tiba,semalam saat Larissa pingsan bibi langsung memanggil tuannya. Larissa sempat di bawa kerumah sakit karena mereka semua panik.


Sarah ? tidak. dia senang karena Larissa begitu,dia berpikir akan lebih mudah mendapatkan harta suaminya jika anak itu tidak ada.


karena dari awal pernikahan ini,ia hanya menginginkan harta. itu juga salah satu penyebab dari seringnya Larissa di jodohkan.


dokter bilang Larissa butuh istirahat setidaknya 2 sampai 3 hari kedepan,karena jantungnya sedikit lemah. jantungnya terlalu banyak memompa dan sudah kewalahan, itu sebabnya ia pingsan.


Larissa sudah berada di rumah sejak pagi tadi, ia mendapatkan izin untuk istirahat. dan selama itu pihak sekolah sudah menerima permintaan itu.


perjodohan semalam? tentu saja di batalkan. Sarah kesal karena melewatkan kesempatan tapi ia senang anak itu terbaring lemah karenanya.


Larissa terbaring di kasurnya,ia sedang istirahat. ia menatap langit langit kamar, berpikir banyak hal.


dan Ara tiba tiba muncul.


"asa", panggil ara. Larissa hanya menatap ke arah ara,ia tak menjawab panggilan itu.


"maafin ara",ucap Ara memelas layaknya anak kecil. Larissa tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya.


ia tak ingin membahas nya lagi, takut jika akan terjadi sesuatu kembali sehingga memilih untuk tak membahas masalah itu lagi.


"kemari lah,duduk di sampingku",ajak Larissa dan Ara langsung datang dan duduk di kasur sebelah Larissa.


"apa kau yang menutup semuanya?", tanya Larissa. ara mengangguk dengan semangat.


"terimakasih",ucap Larissa penuh arti. "sama sama",ucap Ara penuh bahagia di senyumnya.


"jadi,kau mau apa?",tanya Larissa. "aku?",ucap Ara bingung.


"ya,bukankah kau masih membutuhkan ku? aku akan membantumu sebagai imbalan kau juga telah membantu ku",ucap Larissa.


"eum, ada yang ingin aku tau dan ingin kau mencaritahu nya. tapi masalahnya kau pun sedang sakit,mana bisa membantu",ucap Ara.


"kau pikir aku akan sakit selama nya?! hah?!",kesal Larissa.


"bu-bukan itu maksudku",ucap Ara terbata.


"yasudah jika tidak",ucap Larissa kesal dan menutup matanya.


"maaf jika aku selalu membuatmu kesal, aku hanya ingin kau mencaritahu keberadaan keluarga ku",ucap Ara lalu pergi meninggalkan Larissa.


Larissa membuka matanya saat merasa Ara sudah tak lagi berada di sekitarnya. "keluarga?",batin Larissa.


"apa itu yang membuat nya masih betah berada di sini?",batin Larissa. "baiklah aku akan membantumu Ara",batinnya lalu menutup mata dan tertidur.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.