Larissa Christine

Larissa Christine
ketua OSIS menyebalkan



"Siapa bi??" Tanya claudia pada asisten rumah tangga nya itu.


"Ini nyonya pulang non". Jawab asisten rumah tangga nya.


"Mama??" Teriak Claudia dari dalam kamar dan langsung keluar dari sana untuk memeluk ibunya itu,pasalnya sejak beberapa bulan yang lalu ia tidak bertemu dengan ibu nya karena ada urusan bisnis.


"Mama kapan sampai??". Tanya Claudia melepaskan pelukannya.


"Baru aja,tadi mama dari bandara langsung pulang mau ketemu kamu,mama kangen banget sama kamu".ucap ibu Claudia sambil memeluk putri kesayangannya itu.


"Eh ada Larissa?? Kapan dateng nya??". Tanya ibu Claudia sambil melepaskan pelukannya.


" Belum lama kok tan ,hehe". Ucap nya pada ibu Claudia.


" Ya udah kalian bicara dulu aja ya,mama mau bersih bersih dulu. Tante bersih bersih dulu ya". Ucap ibu claudia pada anaknya itu dan Larissa.


Ibu Claudia pergi menuju kamarnya untuk membersihkan badan nya, dan kedua sahabat itu kembali ke kamar untuk melanjutkan ceritanya.


Sudah beberapa jam berlalu dan sekarang menunjukan pukul 7 malam dan Larissa memutuskan untuk pulang ke rumah nya,karena ini sudah malam Larissa menelepon supir dari rumah nya untuk ke rumah Claudia.


Papa Larissa mengizinkan supir nya itu untuk pergi menjemput Larissa,karena papa nya juga khawatir jika putri nya itu pulang larut dan tak ada yang menemani.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Larissa sudah berada di kamar nya ia berbaring di atas tempat tidurnya itu, sambil sesekali memainkan poselnya itu.


Ia sudah sampai sejak beberapa jam lalu dan setelah sampai ia langsung menuju kamar untuk membersihkan diri, dan setelahnya ia mengerjakan tugas nya yang akan di kumpulkan besok.


Dan ia telah selesai mengerjakan semuanya, setelah menyelesaikan semua tugas yang di berikan guru ia memutuskan untuk berbaring terlebih dahulu.


Tiba tiba ada pesan yang muncul di layar ponselnya itu.


"Sa,besok gue ikut lo ya,soal nya besok mama gue ada urusan dan bawa mobil jadi gue ga bisa di anter. Gue nebeng Lo ya".


"iya cla".


"oke makasi".


begitu kira kira isi pesan yang tadi masuk ke ponsel Larissa, setelah selesai membalas pesan sahabat nya itu ia langsung meletakkan ponsel nya di meja dekat kasurnya.


ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memandang ke arah langit langit kamar, memperhatikan setiap sudut kamarnya dan tak lama ia akhirnya menutup mata nya dan tertidur hingga pagi tiba.


pagi pun tiba Larissa sudah selesai dengan pakaian dan buku bukunya, ia sekarang tengah duduk di kursi meja makan dan memulai sarapan nya.


ibu dan ayah nya sudah pulang sejak semalam saat ia tertidur dengan pulasnya, sampai tak menyadari keadaan sekitarnya lagi.


"kapan mama sama papa pulang??",tanya Larissa cuek yang mendapati orangtuanya sudah berada di meja makan.


"semalam waktu kamu tidur ,tadinya mama mau bangunin kamu tapi papa mu bilang jangan,ya mama ga bangunin kamu". ucap ibunya yang tengah menyiapkan makanan.


"oh", jawab nya singkat.


"ya sudah ayo makan",ajak ibunya dan merekapun memulai sarapan.


seperti biasa Larissa hanya memakan roti dan susu kesukaan nya, dan itu sudah biasa bagi orangtuanya dan tak heran jika Larissa memiliki badan yang ramping.


selang beberapa menit mereka sudah selesai sarapan dan akan berangkat sekarang.


Larissa berpamitan pada ibu nya yang masih akan tinggal di rumah,sedangkan ayah nya akan mengantar nya karena ayahnya akan pergi ke kantornya.


"ma Sasa pamit ya",ucap Larissa pada ibunya sambil menyalami tangan ibunya itu.


"iya hati hati ya",jawab ibunya.


Larissa dan ayahnya masuk ke dalam mobil lalu berpamitan, setelah itu ayahnya menancap gas sedang dan keluar dari area rumah.


banyak hal yang mereka cerita kan saat di dalam mobil,dan kini Larissa sudah turun dari mobil ayahnya.


berpamitan pada ayah nya dan langsung menuju ke dalam sekolah.begitu juga dengan ayahnya,ia langsung menancap gas menuju perusahaan nya.


"sa?"panggil Claudia saat menyadari bahwa Larissa sudah sampai di sekolah.


"eum?",dehem Larissa pada sahabatnya itu.


"Lo mau tau sesuatu ga??",tanya Claudia.


"mau,emang apa??", sahut Larissa lalu menghadap ke arah claudia yang sudah ada di sampingnya meninggalkan bangku nya.


"gue di ajak jalan sama Rico,sa",ucap claudia menghadap kan wajahnya ke depan.


"Lo serius??",tanya Larissa kaget dengan pernyataan itu.


"iya",jawab claudia lalu melihat ke arah Larissa.


"cla??",panggil Larissa dan claudia menatapnya.


"Lo serius??", sambungan nya dan claudia membalas dengan anggukan kecil.


"asik makan makan",gumam Larissa sambil tersenyum menjahili sahabat nya.


"yeee,masih juga di ajak jalan masa iya udah makan makan aja", omel claudia.


"Lo denger??",tanya Larissa pura pura bingung.


"ya gue denger lah,kan lo ngomong pas banget di samping gue". omel claudia sambil menatap sinis larissa.


"maaf,tapi gue dukung Lo,kapan kalian bakal jalan",tanya larissa yang tiba tiba penasaran.


"nanti sore,setelah pulang sekolah",jawab claudia.


"what!!",teriak Larissa kaget yang membuat claudia harus menutup mulut Larissa.


Larissa menepuk nepuk tangan claudia yang masih menutup mulutnya.


"rasain",ucap claudia mengejek larissa yang sudah kehabisan nafas,pasalnya tadi Larissa kaget dan malah bernafas melalui mulut bukan nya hidungnya.


"jahat banget Lo", Larissa menggerutu.


"ya salah Lo sendiri ngapain teriak",ucap Larissa.


"kan gue cuma bilang itu doang,ga bocorin kalau-, mpfff". Claudia kembalu menutup mulut Larissa yang hampir saja keceplosan tentang hal yang baru saja mereka bahas.


"bisa diem ga sih,heran gue sama lo", ucap claudia kesal sembari menurunkan tangannya agar Larissa kembali berbicara.


"Lo jahat banget sumpah,kalau Lo mau nyari sahabat lain bilang aja jangan bunuh gue perlahan cla". ucap Larissa yang mengatur nafasnya agar kembali normal.


"Lo lebih ngeselin,pokok nya gue ngasih tau itu aja selebihnya ntar aja,gue takut Lo keceplosan lagi". ucap Claudia lalu kembali ke meja nya.


Larissa memanyunkan bibirnya tanda ia kesal karena tidak di beritahu, akhirnya ia kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


"Ferdinand??",gumam nya pelan saat melihat sosok pria yang sudah lama ada dalam hatinya. kini pria itu tengah berjalan melewati ruang kelas Larissa.


Larissa memperhatikan sosok itu hingga sosok itu masuk ke dalam kelasnya, kini Ferdinand sudah masuk ke dalam ruangan nya dan tidak lagi terlihat.


"andai saja kau juga membalas perasaanku",batin Larissa.


...----------------...


pelajaran sudah di mulai sejak beberapa menit lalu,kini semua murid sedang melakukan pembelajaran di dalam kelas.


Larissa mengikuti pembelajaran hari ini dengan penuh semangat, sudah di pastikan karena pagi ini ia sudah di suguhkan pria tampan yang juga osis di sekolahnya.


siapa sih yang tidak mengenal pria itu, guru guru saja mengakui ketampanan nya. sangat menyenangkan memang jika bisa jadi wanita dari pria itu,namun bagi Larissa itu hanyalah mimpi yang tak akan kunjung terpenuhi.


sahabatnya memang selalu mendukung nya namun tetap saja jika pria yang ia kejar tidak merespon untuk apa ia mengejarnya,namun aneh nya Larissa tidak menyerah bahkan sampai saat ini ia masih saja mengejar pria itu.


ia hanya diam diam memperhatikan nya tak berniat untuk mengganggu kehidupan nya,jadi Larissa masih dalam posisi aman karena tidak mengganggu ketenangan Ferdinand.


bukan hal yang mudah bagi Larissa untuk mendekati Ferdinand,ia harus masuk ke dalam organisasi yang sama dengan Ferdinand agar bisa dekat dengan pria itu.


awalnya ia hanya iseng untuk ikut dalam organisasi sekolahnya itu dan ia malah di terima, dan sudah di tetapkan sebagai bendahara osis dan betapa bahagianya dia saat mengetahui itu.


percakapan sederhana namun menyenangkan itu sangat di kenang oleh Larissa,saat pertama kali Ferdinand mulai menyapanya walau hanya untuk menanyakan pengeluaran osis di bulan itu.


berlebihan itu lah yang pantas di ucapkan jika melihat Larissa yang terlalu menyukai Ferdinand,tapi mau bagaimana lagi sudah seperti itulah jalan cerita hidup seorang Larissa.


melewati banyak jalan yang sangat terjal,menanjak,masuk ke dalam jurang dalam,dan ia harus tetap tegar. terkadang juga ia tenggelam dalam air mata yang tak bisa di bendung olehnya.


terlahir dari keluarga berada bukan lah hal yang selalu menyenangkan,memang benar itu menyenangkan namun terkadang cibiran orang lain padanya lah yang membuat ia merasa sakit.


kembali pada larissa yang kini tengah mempersiapkan segala peralatan belajarnya karena sebentar lagi guru akan masuk.


namun tiba tiba...


"kasih gue laporan pengeluaran dan pemasukan bulan yang lalu,dan gue mau itu selesai sebelum jam istirahat". ucap Ferdinand lalu pergi.


belum sempat Larissa menjawab Ferdinand sudah pergi dan membuatnya berdecak kesal.


"kalau bukan karena tanggungjawab gue ga akan mau di suruh suruh sama lo",gumam Larissa pelan.


ia mempunyai beberapa menit untuk menulis laporan yang di suruh oleh Ferdinand,walau ia kesal ia tak akan meninggalkan pekerjaan nya itu.


Larissa mulai membuat laporan nya yang sebenarnya sudah membuat ia kesal namun tak mungkin ia melanggar perintah Ferdinand yang merupakan ketua osis.


ia bisa di keluarkan kapan saja saat Ferdinand menyuruhnya untuk turun dadi jabatannya sebagai bendahara,itu sebabnya ia mengikuti saja.


"ciee ada yang ngobrol berdua nih",goda Claudia dari belakang yang sudah melihat kejadian itu dari awal.


"apasih cla,udah ya ga usah nambahin kekesalan gue hari ini". jawab Larissa datar.


Claudia hanya cengengesan di belakang sambil memperhatikan apa yang Larissa lakukan.


tak lama guru pun masuk, Larissa langsung menyingkirkan pekerjaan tadi lalu fokus untuk pelajaran selanjutnya.


...----------------...


jam istirahat tiba,bel sudah berbunyi sejak tadi namun Larissa belum selesai dengan laporannya karena ia tadi lebih fokus pada pelajaran.


ia memutuskan untuk mengerjakan laporan itu dan membuat ia tertinggal sendiri di dalam kelas.


Claudia mengajak nya untuk ke kantin terlebih dahulu namun ia menolak,takut jika nanti Ferdinand tiba tiba menghampiri nya lalu meminta laporan padahal laporan itu belum juga selesai.


"pengen ngeluh tapi gue sendiri yang mau jadi osis, siapapun tolong gue". ucap nya pelan agar tak ada yang mendengar.


namun ia salah sangka ada seseorang yang sedaritadi memperhatikan nya, sudah sejak tadi pria itu di dekat jendela kursi belakang Larissa.


"nih,buat Lo". ucap seseorang yang tak lain adalah Ferdinand.


"ha?",sontak Larissa bingung dengan perlakuan Ferdinand,bukan nya tadi laki laki itu marah pada nya saat mengatakan ingin laporan keuangan.


"ini,gue cape,ambil ntar gue kasih ke orang ini minuman". ucap Ferdinand yang masih mengulurkan tangannya yang ada minuman.


"oh iya,makasi",ucap Larissa canggung.


"ada setan kah yang merasuki nya??", tanya Larissa dalam hati. "mengapa dia jadi sebaik ini??", pertanyaan itu kembali lagi di ucapkan dalam hatinya.


"udah sampai mana laporan nya??",tanya Ferdinand memecahkan keheningan, ia pun masih berdiri di samping meja Larissa.


"oh ini,masih di tanggal 20 bulan lalu,tinggal dikit kok,bentar aja gue selesaiin,jangan marah sama gue,bentar ya", jelas Larissa sambil memohon.


"udah, istirahat sebentar,gue takut ntar pas pulang Lo jadi gemetar karena kecapean nulis",ledek Ferdinand sambil menahan senyum.


"tapi ini nanggung",jawab Larissa datar karena ledekan Ferdinand.


"udah,minum dulu tuh gue udah beliin Lo masa ga di minum, laporan nya besok atau lusa juga boleh". ucap Ferdinand yang membuat Larissa termenung kesal.


"besok?? lusa?? tadi Lo bilang??"tanya Larissa penuh kekesalan.


"gue cuma mau liat Lo nurut atau engga,dan ternyata Lo nurut banget ya sama gue",ucap Ferdinand yang membuat Larissa kesal.


"dih,pede bener lo jadi laki??",ejek Larissa.


"ya emang benerkan,liat nih Lo aja sampe bela belain buat ngerjain ni laporan supaya tuntas hari ini", ucap Ferdinand sembari menunjuk nunjuk kertas laporan yang di kerjakan Larissa.


"ck, menyebalkan",decak Larissa meletakkan pulpennya,lalu membuka minuman yang di berikan Ferdinand tadi.


"susah??", tanya Ferdinand membuat Larissa melihat nya karena memang ia sedang kesusahan membuka minuman itu.


"iya,tolong bukain dong",ucap Larissa dengan nada datar.


"gue ga mau,Lo bilang dulu kaya gini. Ferdinand Lo ganteng banget tolong bukain minuman Lo dong",ucap Ferdinand dan ikut membuat ekspresi saat mengatakan nya.


Larissa hampir saja tertawa namun ia menahannya, laki laki itu ternyata suka bercanda namun juga menyebalkan.


"Ferdinand Lo ganteng banget sih tolong bukain minuman gue dong",ucap Larissa mengikuti logat yang tadi Ferdinand contohkan.


"gue tau gue ganteng ga usah di puji puji,ahahah".jawab Ferdinand di ikuti dengan tawa yang membuat Larissa kini kesal padanya.


hahh


Larissa menghela nafas kasar. Ferdinand yang menyadari itu langsung meminta botol minuman yang belum terbuka dari tangan Larissa.


namun, Larissa menolak ia berusaha membuka sendiri minuman itu. karena itu minuman dingin jadi sedikit susah untuk membukanya.


Larissa pun mengambil sapu tangan yang selalu ia bawa,di gunakan nya sapu tangan itu untuk membuka botol minuman.


krekkkk


minuman terbuka, Larissa langsung meminumnya namun tetap terlihat kesal.


"muka tuh jangan di tekut,jelek begitu ya makin ga karuan lah",sindir Ferdinand.


"suka suka gue,muka muka gue juga kenapa Lo yang sewot", gumam Larissa pelan namun Ferdinand masih bisa mendengar nya.


"gue cuma ngasih tau doang,kalau Lo ga perduli ya udah", sahut Ferdinand lalu hendak pergi meninggalkan ruangan.


saat Ferdinand hampir keluar dari kelas Larissa memanggil nya dan mengatakan sesuatu.


"makasi buat minuman nya, untuk laporannya pulang sekolah gue kasih sama lo",ucap Larissa dengan nada datar. Ferdinand hanya mengangguk lalu pergi.


"mengesalkan,bukan nya bilang iya sama sama,ini malah diam sangat menyebalkan. siapa sih yang milih dia jadi ketua OSIS ha??!!". Larissa menggerutu di dalam kelas sambil sesekali meminum minuman nya.


"dasar ketua osis menyebalkan!!!", teriak nya namun suaranya tidak ia keluarkan ia hanya mengekspresikan kemarahan melalui mulut nya.


"masa iya sih gue jelek??", gerutu Larissa kembali.


dengan tiba tiba Claudia datang menghampiri nya,lalu Larissa menanyakan yang sedaritadi ia pertanyakan.


"cla,gue jelek ya??", cetus Larissa.


"siapa yang bilang Lo jelek??", tanya Claudia yang kaget mendengar pertanyaan itu.


"jawab dulu,gue jelek ya??",tanya Larissa kembali.


"ya engga lah,Lo cantik banget sa, gila tuh yang bilang Lo jelek",jawab claudia yang membuat Larissa sedikit lega. "emang siapa yang bilang Lo jelek??",sambung claudia.


"ha?? bukan siapa siapa",jawab Larissa menutupi kebenarannya.


"eumm,curiga gue sama Lo",kini Claudia menyipitkan matanya tanda bahwa ia curiga.


"apasih cla,udah ah gue mau lanjutin laporan dulu",ucap Larissa mengalihkan pembicaraan.


.


.


.


.


.


.


.