Larissa Christine

Larissa Christine
itu aku



"makasih ya", ucap Larissa saat sampai tepat di depan rumahnya. "hm", Ferdinand hanya mengeluarkan suara itu mengartikan iya.


"halo bapak,saya tadi bilang makasihhhh. apa bapak tidak bisa menjawab?",ucap Larissa kesal pada Ferdinand yang tengah bersiap siap untuk melaju kembali.


Ferdinand hanya menatap Larissa. "Lo tadi kenapa?", ucap Ferdinand tanpa mendengarkan perkataan Larissa tadi.


"hey", ucap Larissa kesal. " tadi gue kan bilang maka-.."


belum sempat Larissa mengatakan yang ingin dia ucapkan, Ferdinand sudah mendahului ucapannya. " gue tanya Lo kenapa tadi?",potong Ferdinand.


"hiss, gue gapapa", ucap Larissa kesal. "oh ya udah kalau gapapa gue balik ya",ucap Ferdinand menyalakan motornya.


Ferdinand pergi tanpa izin dari Larissa. Larissa hanya diam menatap nya, tanpa sadar tersenyum.


baru beberapa detik ia akhirnya sadar dengan helm yang tak ia kembalikan. " ferdiii helm nyaaa!!!",teriak Larissa namun sayang Ferdinand terlalu cepat mengendarai motornya dan tidak mendengar suara Larissa.


"ya udah lah,gue bilang entar aja", ucap Larissa pada dirinya. ia pun memutuskan masuk ke dalam rumah. memencet bel yang berada di dinding pagar.


"baik tapi dingin bener",gumam Larissa.


gerbang terbuka. ia di sambut oleh ibu sambung nya. "wanita sialan ini lagi", batinnya sambil memutar bola matanya.


"lama banget dari mana aja kamu?",ucap wanita itu. "dari sekolah",jawab Larissa singkat. tak ingin memperpanjang pembicaraan ia langsung menerobos masuk.


"heyyy, saya belum siapa ngomong sama kamu ya!", bentak wanita itu menarik rambut Larissa.


"aww", ringis Larissa kesakitan. "apaan sih, baru juga balik udah ada aja masalah",ucap Larissa kesal pada ibu sambung nya itu.


" kamu yang mulai, kalau tadi ga pergi tiba tiba kan ga akan ada masalah",ucap wanita itu melepaskan genggaman nya dari rambut Larissa


"udah lah, aku mau masuk",ucap Larissa beranjak namun wanita itu kembali menarik rambut Larissa.


"aww",ucap Larissa kembali meringis kesakitan. "cobaan apalagi sih?", batinnya.


ia memberontak tapi tetap tidak bisa lepas. "aku mau masuk, jangan ganggu!!!",ucap Larissa dengan nada yang sedikit di tinggi kan.


"wah wah wahh,berani kamu sama saya",ucap Hana pada Larissa. "kamu pikir saya takut?",ucap Hana kembali menarik rambut Larissa.


"awww",kini bukan Larissa yang kesakitan melainkan Hana. seperti ada yang menyubit kecil tangannya. ia akhirnya melepaskan tangannya dari rambut Larissa,tanpa berpikir panjang Larissa berlari menuju kamarnya meninggalkan wanita itu .


"heyyy pergi kemana kauuu??!",ucap Hana kesakitan. "menjauh dari wanita perusak seperti mu!!!",teriak Larissa.


"hahahah,ternyata menyenangkan. tenang saja kamu akan aku jaga setelah ini,dan akan tetap menjaga mu",batin tak kasat mata.


Larissa menghela nafas lega. ia meletakkan tubuh nya di atas kasur setelah mengunci pintu kamarnya.


Larissa sampai di kamarnya dan melepaskan helmnya. juga meletakkan nya di atas meja belajarnya,begitu juga dengan tasnya.


"akhirnya bisa lolos. tapi mengapa dia tiba tiba merasakan sakit? ada apa? lalu di mana bibi dan yang lain? ", ucap Larissa pada diri nya sendiri.


"ohh,wanita tua dan penjaga rumah mu?".


"iya", jawab Larissa tak sadar.


"mereka sedang pergi,aku dengar mereka sedang berbelanja bulanan".


"ohh.., HAH??",ucap Larissa saat sadar tak ada orang selain dia di kamarnya. ia langsung duduk di atas kasur nya dekat dengan kepala kasur.


"si-siapa yang berbicara tadi?",ucapnya panik.


"itu aku".


"HAAAAAAAAA",teriak Larissa ketakutan.


"sssstttt, tenang lahh. sebentar", ucap sosok yang tadi menghilang.


"si-siapa kamu?",ucap Larissa ketakutan memegangi bantal dan selimut nya.


"taraaaa",ucap sosok itu lagi. ia kembali namun tidak dengan bentuk yang sama dengan yang tadi.


"si-siapa kamuuu? mengapa tiba tiba datang dan menghilang???! dan wajahmu??",panik Larissa.


"tenang lah,aku akan jelas kan. tapi berjanji untuk tenang", ucap sosok itu.


"ba-baik,ka-katakan sekarang",ucap Larissa masih dengan kepanikan dan ketakutan nya.


"hey, ayolah. kau bahkan tidak tenang sama sekali",ucap sosok itu jengkel. "tenang,tenang, tenang", ucap sosok itu dan berhasil membuat Larissa sedikit tenang.


"sekarang jelaskan siapa kau!!",ucap Larissa masih panik namun tidak seperti tadi.


"begini, aku adalah orang pertama yang tinggal di sini dan kau hanya pendatang. keluarga ku dan aku ada pemilik rumah ini sebelum kau dan keluarga mu".


"sebelum nya perkenalkan aku Ara. sebenarnya aku lupa siapa nama ku tapi aku menyukai nama Ara jadi panggil saja aku Ara", ucap sosok itu dan Larissa mengangguk paham.


"seperti yang banyak orang tau rumah ini sempat di tinggali oleh 1 keluarga yang memiliki sepasang anak. yang dimana salah satunya ada yang meninggal karena suatu kejadian".


"mak-maksud mu, kau adalah??",ucap Larissa tanpa kembali berucap.


"ya,benar. aku lah anak perempuan itu.",ucap sosok itu.


"lalu? sebenarnya apa yang terjadi? mengapa kau pergi meninggalkan semuanya?",tanya Larissa.


"ceritanya panjang tapi akan ku persingkat",ucap Ara. Larissa hanya mengangguk.


" sebenarnya saat itu adalah hari yang benar benar ku tunggu, aku begitu mengharapkan banyak hal saat itu. namun entah mengapa aku bisa menghayal di luar jendela ada tempat yang ku hayalkan".


"karena terlalu percaya bahwa itu benar aku pun melangkah keluar,ya keluar dari batas. sampai akhirnya jatuh ke tanah".


"sebenarnya tak ada luka yang terlalu, namun ada sesuatu yang tajam langsung mengenai otak dan jantungku secara bersamaan. aku pikir itu sesuatu yang sengaja di buat di sana".


"dan beginilah aku sekarang, hanya bisa berjalan jalan di rumah ini. bahkan aku sering memperhatikan mu, hihi",ucap Ara tertawa usil.


"maksud mu?",tanya Larissa bingung. "yaa,aku sering mengikuti mu. bahkan saat kau mandi",ucap Ara tanpa rasa bersalah.


"HAH!???",ucap Larissa terkejut. " ssssuuuttt,diam lah jangan sampai mereka mendengar mu",ucap Ara dan Larissa mengangguk paham.


"tapi kenapaaa? mengapa kau ikuti aku?",tanya Larissa dengan suara kecil namun terdengar sedang sangat sangat kesal.


"eum, entah lah. aku hanya bosan",ucap Ara tanpa beban. "lain kali jangan ikuti aku apalagi saat aku mandi", ucap Larissa kesal.


"hm,baiklah",ucap Ara. "tunggu,apa kau yang tadi mengganggu mama ku?",tanya Larissa.


"dia bukan mama mu,dia mama tirimu",ucap Ara. "hey,ayolah aku hanya sedang bersikap seolah dia ibuku",ucap Larissa.


"hmm baiklah. tapi kau benar,aku yang tadi sengaja mengganggunya. aku kesal saat kau selalu di ganggu olehnya",ucap Ara.


"pantas saja dia langsung kesakitan",ucap Larissa. "tunggu, apa yang lain bisa melihat mu?", sambung nya.


"mungkin iya dan mungkin tidak",ucap Ara membuat Larissa kesal. "heyy,aku serius",ucap Larissa.


"untuk mereka yang bisa melihat ya tentu saja bisa,tapi jika tidak ya tidak akan",ucap Ara. "tapi... aku kan tidak memiliki anugrah seperti itu",ucap Larissa bingung.


"ya aku maafkan, tapi jangan perlihatkan wajahmu yang lain. aku sedikit tidak nyaman",ucap Larissa.


"tidak nyaman atau kau takut??",goda Ara.


"hey",ucap Larissa menyipitkan matanya.


"ahahha",Ara tertawa puas.


"eum,apa aku bisa melihat yang lain selain dirimu?",tanya Larissa. " bisa iya dan bisa juga tidak",ucap ara membuat Larissa merasa jengkel.


"araaa",ucap Larissa kesal. "hehe,baiklah baiklah. kau bisa melihat yang lain tapi aku akan menutup mata mu jika itu terlalu berbahaya untuk di lihat",ucap Ara meyakinkan Larissa.


"baik kalau begitu",ucap Larissa paham.


"sekarang aku yang bertanya",ucap Ara pada Larissa. "tanyakan saja",jawab Larissa.


"sampai kapan kau akan berada di sana dan memeluk semua bantal dan juga selimut mu?",tanya Ara jengkel.


"ah?", Larissa memperhatikan dirinya. ya memang benar ia masih berada di sana dengan kondisi yang di sebutkan oleh Ara tadi.


"hehe", Larissa tertawa . "haha hehe haha hehe",ucap Ara kesal.


Larissa pun mulai memperbaiki kasurnya yang sudah ia berantakan tadi. "kau tidak bisakah membantuku?",tanya Larissa.


"tidak,aku hanya bertugas menemanimu", ucap Ara berjalan kesana kemari.


"dasar huntu",gumam Larissa. "aku mendengarnyaaaa",ucap Ara yang tengah memperhatikan foto foto yang ada di kamar Larissa. "iya maaf",ucap Larissa.


"apa ini kau?",tanya Ara melihat satu foto yang terdapat Larissa, ayah dan ibu kandungnya. "menurut mu? apa itu terlihat seperti orang lain?", ucap Larissa.


"memang terlihat seperti bukan kau",ceplos Ara. "HEYYY"teriak Larissa kesal. "ma-maksudku kau sangat cantik sekarang sangat berbeda dengan foto ini. di sini kau terlihat sangat imut",ucap Ara sedikit takut.


"sudahlah, terserah kau saja",ucap Larissa. "duduk",suruh Larissa pada Ara. "aku?", tanya Ara.


"menurut mu ? apa ada orang lain di sini?",tanya Larissa kesal. "eumm, seperti nya tidak",ucap Ara.


Larissa menghela nafas kasar. "duduk lahhh!",perintahnya dan Ara langsung duduk di sampingnya.


"dengar kan aku",ucap laris memandang ke depan. " kau memang hidup berdampingan dengan ku tapi jangan pernah ganggu urusan ku, aku pun tak akan mengganggumu",ucap Larissa. "apa kau paham", sambungnya dan Ara mengangguk paham.


"jangan pernah ikuti aku jika tidak aku setujui",ucap Larissa lagi dan Ara mengangguk lagi.


"satu lagi,jangan ganggu mama. walau dia membenciku dia tetap ibuku",ucap Larissa. Ara mengangguk paham.


"tidak bisakah kau menjawab?",ucap Larissa jengkel. "baiklah,aku akan menurutinya",ucap Ara.


"apa sudah selesai? aku ingin pergi sebentar",tanya Ara. "pergilah,nanti jika ada yang mau aku sampai kan baru aku ingin melihat mu", ucap Larissa.


"baik kalau begitu", ucap Ara ingin menghilang dari sana. "eh tunggu",cegah Larissa.


"apa?", tanya Ara bingung. "jika aku ingin melihat mu dan membutuhkan mu,aku harus bagaimana?",tanya Larissa.


"eumm, panggil saja namaku dan jentikkan jarimu", ucap Ara. "oh baiklah",ucap Larissa.


"pergilah, seperti nya aku muak dengan mu",ucap Larissa mengusir Ara. "nanti jika kau butuh aku tak akan datang",ancam Ara kemudian menghilang.


"ga asik,ngancem doang tau nya",ucap Larissa bergumam sendiri. "tidak terlalu menyeramkan namun mengagetkan",gumamnya.


Larissa bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju meja belajar nya. ia duduk dan memegang helm yang di lupakan oleh Ferdinand.


"ah iya,hp dimana hp", ucap nya dan bangkit kembali ke kasur saat melihat keberadaan telepon genggam nya di atas kasur.


Larissa mengotak atik ponselnya. ia mencari kontak Ferdinand dan langsung menghubungi nya.


"hallo?",ucap Larissa saat telepon sudah terhubung.


"iya ada apa?",jawab ferdinand dingin.


"helm Lo ketinggalan",ucap Larissa.


"besok bawa, gue tunggu di depan rumah Lo",ucap Ferdinand.


"ta-tapikan-"


belum sempat Larissa mengatakan yang ingin dia ucapkan, ferdinand sudah mengakhiri panggilan secara sepihak.


"huh, ngeselin",ucap Larissa pada layar ponselnya. "ya sudahlah terserah nya saja.


"tunggu? dia bilang nunggu di depan gerbang? besokkkk?!!",ucap Larissa senang.


"wahaha",dia tertawa bahagia lalu kembali ke kasurnya berguling guling di atasnya.


"ga nyangka banget,huaaaaa", ucapnya penuh bahagia.


"oh oke oke,tarik nafas buang tarik nafas buang", ucapnya.


"wahahah,ga bisaaa gue ga bisa tenang", ucapnya.


ia menutup wajahnya dengan bantal sehingga suaranya tidak terdengar dengan jelas.


"ada apa dengannya?",batin Ara . "aku akan menganggu nya,wahahahha", ucapnya tersenyum penuh dengan kejahilan.


Ara mencolek tubuh Larissa dan menghilang. "heh apanih?", ucap Larissa kaget.


"ga usah ngerjain deh,siapa sih?",bentak Larissa. "oh pasti Ara kan?",ucap larissa kesal.


"hey, tidak bisa kah kau pura pura tidak tau",ucap Ara yang tiba tiba muncul.


"tidak",ucap Larissa kesal.


"oh aku tau, aku bawakan yang lain saja", ucap Ara. "heyyy,ini bukan tempat penampungan seperti mu",ucap Larissa kesal.


"baiklah baiklah", ucap Ara.


"dari mana saja kau?", tanya Larissa mengalihkan.


"dari... nungguin ya",ucap Ara membuat Larissa kesal.


"sudah tidak perlu menjawab",ucap Larissa kesal.


.


.


.


.


.