
hari sudah berganti, pagi pun telah tiba semua orang beraktivitas di luar rumah, termasuk ayah dan ibu sambung Larissa.
namun tidak dengan Larissa,ia masih berada di dalam gudang sejak semalam dan ia baru saja terbangun setelah mendengar suara mobil milik ayahnya yang akan bekerja.
"paaa!!!!!,papaa!!!!", teriak Larissa dari dari gudang.
"kamu denger sesuatu ga?",tanya ayah Larissa tuan Harry.
"engga tuh,udah ih masih pagi ga usah buat takut deh",jawab nyonya Harry berpura pura tak tau.
"paaa!!!!!! papaa!!!!!!",panggil Larissa lagi.
"tuh kan kaya ada yang manggil",ucap tuan Harry lagi memastikan.
"engga paa,udah udah berangkat sana",ucap ibu sambung Larissa.
"kalau dia di sini terus bisa ketahuan,harus cepet cepet pergi nih", batin nya.
"ya udah,papa hati hati yaa...",ucap hana yang berusaha untuk mempercepat kepergian suaminya.
"ya udah kalau gitu aku pergi dulu ya,jawab suaminya lalu menancap gas keluar dari rumah menuju kantor.
"seperti ada yang aneh di sini,ada apa sebenarnya??", batin nya.
setelah merasa cukup aman,hana langsung menuju ruang gudang. di mana saat ini ada anak tiri nya di sana,yang sudah berhasil ia siksa semalam.
ia masih di depan pintu dan tidak berniat membukan pintu sama sekali, sesekali ia memperhatikan keadaan sekitar untuk memastikan bahwa semuanya aman.
"gimana keadaan di dalam sana sayang? apa masih ingin memanggil ku bod*h?",tanya hana dari luar pintu.
"i-itu pas dia,aku harus berbuat seperti yang ia lakukan padaku",batin Larissa.
"heyy?? apa kau masih di sana? masih hidup atau sudah mati sejak semalam??",ucap hana dengan senang karena ia berfikir sudah mengalahkan anak tiri dari suaminya sekarang.
"tidak-tidak jangan terpancing, Larissa kau harus terlihat baik untuk bisa keluar dari sini",batin Larissa.
di dalam gudang Larissa tengah merencanakan sesuatu agar bisa keluar dari sana, dan yang ia tahu jika ia terlihat lemah di hadapan ibu sambung nya itu ia akan di keluarkan dari sini.
"heyy? apa kau sudah kabur dari sana?!!",teriak hana yang sedikit takut tapi juga senang.
"maa... mamaa..",ucap Larissa dengan suara parau sehingga ia terlihat lemah.
"mama?? AHAHAH,ibu mu sudah meninggal sasaa dia tak akan menolong mu", cetus hana tertawa lepas.
"sabar Larissa jangan terpancing emosi", batin Larissa benar benar menahan.
"maa.. maaf... tolong keluarin Larissa maa",lirih Larissa kembali berusaha.
"kau sedang merencanakan sesuatu bukan?",cetus hana dan tepat sasaran.
Larissa tak memperdulikan yang di katakan hana ia terus berkata hal yang sama dan terus berusaha keras untuk bisa keluar dari dalam ruangan penuh kegelapan itu.
"maa... tolong.. keluarin Larissa dari sini maa.., larissa minta maaff, Larissa keterlaluan...",lirihnya kembali dan ya ini berhasil sekarang pintu sudah terbuka.
"mama?", ucap Larissa pura pura terkejut dengan kedatangan ibu sambung nya.
"hm, apa kau benar benar jujur meminta maaf pada ku?", tanya hana penuh curiga.
"iya maa,maafin Larissa ya",jawab Larissa terkesan benar benar tidak berbohong.
"Hm,baiklah ayo keluar",suruh hana.
"iya ma",jawab Larissa mencoba untuk bangun dari posisi tidur.
"aku berhasil",ucap Larissa yang mulai berjalan di belakang Hana.
"tenanglah hana,kau menang hari ini tapi tidak besok dan seterusnya kau takkan pernah berhasil lagi.
tiba-tiba ibu sambung Larissa membalikkan badannya menghadap kebelakang,yang masih ada Larissa di sana sedang membuntutinya.
"kauu,jangan berani bilang pada siapapun termasuk papa mu,kau paham?",ucap hana pada anak tirinya itu.
"iya", jawab Larissa malas.
"berjanjilah di depan ku,cepat",suruh hana.
"baiklah,aku berjanji tak akan mengatakan apapun dan pada siapapun tentang ini",ucap Larissa benar benar muak.
"kalau bukan karena gue mau pergi, gue ga akan nurut sama orang ini", batinnya.
Hana diam sejenak lalu memalingkan wajahnya lalu kembali berjalan menuju rumah, hana sengaja mengajak Larissa lewat dari belakang agar tak ada yang tau ataupun mencurigai mereka.
"tunggu sebentar mengapa aku tidak tau jalan ini?? dia yang masih beberapa tahun di sini bahkan mengetahui jalan ini?? sedangkan aku yang bahkan lahir di sini saja tidak mengetahui apapun,ada apa ini?? apa papa merahasiakan jalan ini??"batin Larissa memperhatikan setiap sudut ruangan dan jalan yang mereka lewati hingga ke dapur.
"jadi jalan ini terhubung dengan dapur",ucap Larissa saat melewati dapur lalu menaiki tangga yang ternyata menuju balkon.
namun saat melewati salah satu balkon yang ternyata bersatu dengan yang lainnya ia merasa bulu kaki dan tangan nya seketika berdiri ia merinding melewatinya,dan saat melewati salah satu ruangan yang tidak pernah ia perhatikan ia kembali merinding.
"ruangan itu??" batinnya mulai bertanya tanya.
" sejauh ini tidak ada yang mencurigakan tapi aku yakin ada sesuatu di sana , di dalam ruangan itu ruangan terkunci yang selama ini benar benar tak pernah ku perhatikan",batin Larissa.
ruangan itu adalah salah satu gudang,dulunya itu kamar seorang anak perempuan dari penghuni sebelumnya.
rumah yang saat ini di tinggalin oleh keluarga Harry adalah rumah yang pernah di huni oleh sebuah keluarga kecil yang terdiri dari ayah,ibu dan sepasang anak yang pertama laki laki dan kedua perempuan.
mereka hidup bahagia sampai satu hari terjadi sesuatu yang membuat mereka pindah, kejadian itu terjadi tepat di hari ulangtahun anak perempuan mereka.
hari itu tepat pukul 12 malam anak perempuan mereka itu tengah berada di dekat jendela,ia berdiri di sana dengan tersenyum.
wajahnya berseri-seri di sana melihat sesuatu yang mungkin tidak pernah ia lihat, begitu tenang sampai akhirnya ia mengikuti sesuatu itu dan terjun bebas dari jendela kamarnya.
penjaga rumah dan seisinya pun kaget mendengar sesuatu yang jatuh begitu keras hingga mereka keluar dan mendapati putri kesayangannya sudah tidak bernyawa.
anak itu meninggal tanpa luka di luar tubuh,namun di dalam kemungkinan ada luka besar hingga ia meninggal di tempat.
tragis,itulah kata yang dapat di ucapkan saat mendengar cerita tentang nya. dan sejak kejadian itu ibunya terpukul begitu juga dengan yang lainnya,mereka merasa bersalah karena sebelum kematian putri nya itu mereka sempat memarahi putrinya itu.
dan pada akhirnya keluarga itu keluar dari sana dan menjual rumah itu, dengan pesan bahwa kamar yang di tempati oleh putri nya dulu tidak boleh di buka sama sekali.
dan keluarga Harry lah yang membeli rumah itu dan menempati nya,mereka pun melakukan amanat itu hingga sekarang.
karena rumah itu tidak banyak di renovasi jadi kamar itu tidak pernah di buka, sudah seumur dengan Larissa dan tidak ada apa apa yang terjadi karena mereka tidak melanggar pesan dari pemilik sebelumnya.
...****************...
mereka pun sampai di balkon bagian depan yang terdapat gerbang kecil untuk memisahkan balkon depan dan samping, gerbang kecil itu sengaja di buat agar tak ada yang melewati nya.
mereka berada di lantai 2 dan masuk ke dalam rumah, Larissa masih berada di belakang hana agar ia tetap terlihat menuruti perintah Hana.
"pergi lah aku tak lagi membutuhkan mu",ucap hana pada larissa yang sejak tadi berada di belakang nya.
"iya",jawab Larissa malas lalu hendak pergi namun tangannya di tarik oleh hana.
"apaa?",tanya Larissa malas.
"ingat janji mu",ucap hana lalu melepaskan genggaman nya.
"pergilah", sambungnya saat mendapat kan anggukkan dari yang berjanji.
Larissa berjalan menuju kamarnya,membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar. ia pun menghempaskan tubuhnya di kasurnya,namun mengingat ia belum mandi sejak tadi ia langsung bangun dan lari menuju kamar mandi.
"uhh,enaknya",ucap larissa yang tengah merasakan hangatnya air mandinya.
"akhirnya aku mandi juga", sambung nya.
kurang dari 15 menit Larissa sudah selesai dan sudah keluar dari kamar mandi dan sudah memakai baju tidur,langsung berjalan menuju tempat riasnya.
ia mengeringkan dan menata rambutnya juga memoles wajah nya dengan sedikit riasan.
jam menunjukkan pukul 10 ia baru ingat ia belum makan sama sekali sejak semalam bahkan ia kehilangan telepon genggam nya.
"krukk krukk",suara perut Larissa kelaparan.
"kalau ga salakan gue di tarik paksa waktu makanan,nah iya berarti tinggal di dapur tuh udah lah sekalian makan aja",ucapnya bergegas keluar dari kamar.
di dapur ada bibi sendiri yang sedang mempersiapkan makan siang, Larissa langsung berlari menuju dapur dan ia langsung melihat ke arah meja di mana ia meletakkan ponselnya.
"kok ga ada,di mana sihh", gerutu Larissa yang tidak melihat keberadaan ponsel nya.
bibi yang melihat Larissa yang sedang kebingungan langsung menanyakan apa yang tengah Larissa lakukan.
"non??",panggil bibi mengagetkan Larissa.
"eh,haduh bibi sasa kaget tauu", ucap Larissa yang terkejut dengan panggilan asisten rumah tangga nya itu.
"hehe,maaf non",jawab bibi pelan.
"gapapa bi",ucap Larissa kembali mencari hingga ke kolong meja.
"non lagi nyari apa non??",tanya wanita paruh baya itu.
"ini loh bi, semalem hpnya sasa di tinggal di sini nih di atas sini",ucap Larissa menunjuk nujuk keberadaan ponsel nya saat ia tinggalkan.
"oh hpnya non sasa ada sama bibi,ini non",ucap wanita paruh baya itu sambil memberikan ponsel Larissa yang tadi berada di kantong nya.
"duhh, syukur deh bi",ucap Larissa.
"tapi kok ada sama bibi sih?", sambungnya.
"tadi waktu bersih bersih bibi ga sengaja liat dan bibi inget kalau itu hpnya non sasa jadi bibi simpen rencananya mau di kasih waktu antar makanan ke kamar",jelas wanita paruh baya itu.
"ohhh,kalau gitu makasi ya bi",ucap Larissa yang kini sudah sedikit tenang karena ponselnya sudah terlihat kembali.
"non",panggil wanita paruh baya itu.
"saya boleh tanya sesuatu??", sambungnya.
"boleh bi,ada apa",jawab Larissa.
"boleh tau non sasa dari semalam kemana karena bibi ga lihat non ada di kamar dan kenapa baliknya baru jam segini?".
"oh itu bi, Larissa ketiduran di.. itu bi, di... di balkon iya di balkon,hehe",jawab Larissa gugup.
"non sasa yakin?"
"yakin bi", jawab Larissa semakin gugup.
"yaudah Larissa ke kamar ya bi", Larissa langsung lari menaiki tangga menuju kamarnya.
"dia berbohong?? ada apa sebenarnya?",batin wanita paruh baya itu.
"ku harap dia baik baik saja", batinnya.
"drrrtttt drrrrrtttt",bunyi getaran ponsel.
"halo nyonya?"
"bagaimana??"
"dia baik baik saja, hanya saja sepertinya hari ini dia sedang berbohong"
"berbohong apa masalahnya?"
"akupun tidak tau nyonya,nanti jika saya sudah mendapatkan informasi saya akan memberikan informasi itu pada nyony"
"baik kalau begitu jaga dia di sana,jangan sampai ia melakukan hal yang membuatnya meninggalkan dunia"
"baik nyonya"
"bagaimana dengan nyonya??"
"aku baik baik saja di sini,bibi tolong jaga dia ya bibi juga jaga diri baik baik"
"baik nyonya
"kalau begitu saya matikan telepon nya"
"baik nyonya"
"tutt tutt tutt",suara telpon yang di matikan sepihak.
"terimakasih Tuhan,engkau memberikan dia kesempatan walau orang lain tidak menyadarinya".
...****************...
"krukkk krukkk",bunyi perut kelaparan.
"duhh lapar banget lagi",batin Larissa.
Larissa yang tengah berada di kamar kini tengah menahan rasa lapar,ia mengurungkan niatnya saat pernyataan itu terlontar dari asisten rumah tangga nya.
ia langsung berlari ke kamar dan memutuskan untuk tidur,namun rasa laparnya terlalu mengganggu dan membuatnya tidak bisa tidur.
"tok..tok..tokk", suara ketukan pintu dari luar kamar.
"iya siapa??",jawab Larissa berjalan menuju pintu.
"non,ini bibi mau anter makanan",ucap wanita paruh baya yang sedang membawa nampan berisi wadah yang terdapat makanan di setiap wadahnya.
"iya bi sebentar",sahut Larissa dari balik pintu.
Larissa membuka pintu yang tadi ia kunci dari dalam agar tak ada yang masuk ke dalam kamarnya, ia membuka pintu dan mendapati wanita paruh baya yang sudah merawat nya sejak kecil kini tengah membawa makanan untuknya.
"ini non",ucap wanita paruh baya itu sembari memberikan makanan yang ia bawa.
"iya bi,makasi",jawab Larissa menerima nampan makanan itu.
"di makan ya non,jangan sampai sakit",ucapnya setelah memberikan makanan.
"iya bi, makasih",jawab Larissa tersenyum.
"ya udah bibi,balik lagi ke dapur ya",ucap nya.
"iya bi, makasih sekali lagi",jawab Larissa dan di balas dengan senyum dari bibi yang merawat nya dari ia masih kecil.
setelah itu Larissa membawa nampan itu ke atas meja,lalu kembali ke pintu untuk menutupnya.
ia pun meletakkan setiap wadah yang berisikan makanan di atas mejanya untuk ia santap, makanan itu langsung ia santap dengan nikmat nya.
jam juga sudah menunjukkan pukul 11.30 tidak bisa di katakan makan pagi lagi,jadi ini adalah makan siang untuk Larissa.
Larissa tidak masuk hari ini karena ulah ibu sambunganya itu, sudah di pastikan juga ia di nyatakan tidak hadir dan tidak mengikuti pelajaran hari ini.
ia sudah pasrah dengan hukuman yang akan ia jalani besok, apapun itu ia harus terima karena memang kenyataannya ia sedang berada di rumah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.