Larissa Christine

Larissa Christine
kebencian Larissa



jam menunjukkan pukul 7 malam biasanya bibi sudah menyiapkan makanan di meja makan,namun kali ini tidak ada satupun menu makanan di sana.


"ini gimana sih bibi, kok ga ada makanan sama sekali sih". cetus nyonya Harry.


"pa bentar ya biar aku panggilin bibi buat cepat siapain makan malam",ucap nyonya Harry pada suaminya.


tuan Harry mengangguk setuju dan nyonya Harry hendak pergi menemui wanita paruh baya yang merupakan asisten rumah tangga nya.


namun sayangnya Larissa memulai kembali rencana liciknya,ia tidak bisa lagi menahan semua perih yang ia rasakan dan kali ini ia akan terus bermain dalam lingkaran permainan ibu sambung nya itu.


"ehh,pa kan bibi lagi istirahat. masa bibi juga yang masak kan ada mama",ucap Larissa pada ayahnya dan membuat ibu sambungnya kembali kesal.


"iya kan pa,kenapa ga mama aja yang masak sesekali doang kan pa masa mama ga pernah masak buat kita. kenapa bibi terus yang masak kan bibi juga cape kalau terus terusan kasih lah bibi waktu buat istirahat paa",lagi dan lagi hasutan Larissa pada papanya di terima dengan baik dan tentu saja ayahnya sekarang menyuruh ibu sambung nya itu untuk memasak di dapur.


"eh iya kamu aja yang masak bibi kan lagi istirahat kamu juga ga pernah masak buat kita ya gapapa lah sekali sekali doang",suruh tuan Harry.


nyonya Harry menatap kesal pada Larissa sedangkan anak tirinya itu malah tersenyum menang, dan ia kini terpaksa ke dapur untuk memasak makan malam.


" tenang saja aku akan ikuti permainan mu",batin Larissa yang duduk di kursi meja makan dekat dengan ayahnya.


di dapur nyonya Harry benar benar bingung harus memasak apa,pasalnya sudah lama ia tidak berbaur dengan alat alat dapur.


jangankan memasak memegang sayuran pun ia sudah tidak pernah, karena bibi yang mengerjakan semua dan ia hanya ikut makan bersama yang lain.


ia memutuskan untuk memasak apa yang ia bisa saja, dan kebetulan di sana ada beberapa papan yang berisikan telur. di ambilnya beberapa dan ia mulai memasak.


entahlah, tak ada yang bisa menduga nya akan memasak apa karena jika berekspektasi terlalu tinggi itu akan membuatmu jatuh terlalu dalam.


Larissa yang memperhatikan ibu sambung nya dari kursi yang diduduki nya kembali menemukan rencana, kini ia benar benar berniat akan menjatuhkan ibunya itu.


ia benar benar muak dengan perlakuan ibu sambunganya karena jika ayahnya tak ada di rumah Larissa menjadi seperti budak nya,namun jika ada ayahnya ibu sambungnya itu seketika berubah drastis seperti malaikat tak bersayap.


"emm,pa Larissa laper banget nihh",ucap Larissa.


"tunggu sebentar,kan mama lagi masak". sahut tuan Harry.


"tapi pa Larissa udah ga bisa nahan lagi, Larissa laper mau makan",ucap Larissa.


"ya udah kamu pesen aja ntar papa yang bayar",ucap tuan Harry.


"oke pa",jawab Larissa.


"berhasil,oke gue bakal pesen makanan yang lumayan banyak",ucap Larissa dalam hati.


entahlah sepertinya Larissa akan candu pada permainan ini karena ia benar benar menyukai nya sekarang, dan benar saja ia memesan makanan kesukaan nya.


pesanan itu datangnya cukup lama hingga masakan ibu sambung nya selesai lebih dulu, namun ia tak ingin memakan makanan itu ia hanya diam melihat kedua insan yang kini makan dengan lahap.


tiba tiba..


"tingg tongg..",bunyi bel dari luar gerbang.


"ia sebentar",sahut Larissa berlari terburu buru.


saat sampai di depan ia langsung membuka gerbang dan mendapati kurir yang mengantarkan pesanannya sudah di depan menunggu kedatangan nya.


untuk bayarannya sudah di potong dari saldo milik papanya sehingga Larissa hanya mengambil makanannya, ada beberapa bungkusan di sana dia mengambil 3 bungkus dari kurir dan menyisakan 1 pada kurir itu.


"pak itu buat bapak aja ya,makasi udah nganterin",ucap Larissa hendak pergi.


"bawa saja, itu kan pesanan kamu",jawab pria paruh baya itu.


"gapapa pak,anggap aja ini hadiah buat bapak karena udah bantuin saya buat bawa makanan nya saja. bapak kan juga udah nunggu lama pas mesan ya udah ini buat bapak aja", jawab Larissa menolak plastik berisi makanan yang tadi di kembalikan oleh kurir.


"kalau begitu makasi ya nakk, lancar rezeki nya",ucap pria paruh baya itu dengan lembut.


"iya pak sama sama,kalau begitu saya masuk dulu ya pak, sekali lagi terimakasih",jawab Larissa lalu meninggalkan kurir itu di depan gerbang.


Larissa menutup pintu gerbang dan berlari menuju pintu utama, namun ia mengurungkan niatnya untuk langsung masuk ke rumah.


ia berjalan menuju tempat di mana biasa supirnya berada, ia memberikan satu bungkus makanan yang ia punya untuk supirnya itu.


"pak,ini buat bapak",ucap Larissa sembari memberikan bungkusan berisi makanan itu.


"makasi non",jawab supirnya sambil menerima pemberian Larissa.


Larissa tersenyum manis lalu memutuskan untuk kembali ke dalam rumah, ia berjalan melewati ruang keluarga dan sampai lah dia di ruang makan.


di letakkan nya 2 bungkus makanan itu lalu berjalan menuju dapur mengambil piring tempat makanannya.


setelah kembali ia pun hendak duduk namun teringat ada 1 orang lagi yang harus di berikan nya makanan itu dan ia kembali berdiri, saat hendak menuju tempat yang akan di tuju ia di panggil oleh ayahnya.


"mau di bawa kemana bungkusan yang itu?",tanya tuan Harry.


"ini??",tanya Larissa mengangkat bungkus makanan itu.


"iya",jawab tuan Harry.


"oh ini buat bibi, kan bibi lagi istirahat jadi Larissa pesen juga buat bibi", jawabnya lalu berjalan menuju kamar asisten rumah tangga nya.


"baik sekali putri ku itu sampai memikirkan orang lain",ucapnya tak sadar.


"anak senakal itu di banggain??", batin nyonya Harry.


"liat aja ya Larissa, kamu bakal dapat balasan untuk perbuatan mu hari ini", batinnya lagi.


sepasang suami istri itu kembali melahap makanannya dan tidak menunggu kedatangan Larissa untuk kembali ke ruang makan dan ikut makan bersama.


di kamar bibi Larissa tengah memberikan bungkusan makanan itu pada wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini.


"bi,ini buat bibi di makan ya bi", ucap Larissa memberikan bungkusan itu.


"terimakasih non",jawab wanita paruh baya itu sambil menundukkan kepalanya.


"iya bi sama sama,anggap aja ini hadiah buat bibi karena udah bantuin Larissa. makasi ya biii atas bantuannya", ucap larissa lalu berdiri dan meninggalkan kamar.


"lihatlah nyonya keadaan nya sekarang,mengapa nyonya harus pergi secepat itu nyonya,lihat lah pengganti nyonya tidak bisa mengerti bagaimana putri nyonya saat ini", ucap wanita paruh baya itu.


"bila saja waktu itu saya tidak mengizinkan nyonya untuk pergi, mungkin saat ini nona Larissa masih memiliki kasih sayang yang lengkap".


nyonya tau, saat ini putrimu itu masih lah putri kecil dia masih membutuhkan mu,cepatlah kembali ke sini untuk mengembalikan keceriaan nya yang hilang".


"tutt.. tutt.. tutt..",panggilan terputus.


"ku harap dirimu segera kembali nyonya,aku tidak menyukai nyonya yang sekarang",ucap wanita paruh baya itu pada ponselnya.


di seberang sana ada seorang wanita yang tengah merencanakan sesuatu untuk kembali, namun ia masih bingung dengan hatinya apa keputusan nya untuk kembali bisa merubah semuanya atau malah merusak takdir yang sudah di tentukan sejak lama.


kembali pada larissa yang kini duduk di ruang makan dan memakan makanan yang tadi ia pesan, kedua orangtuanya lebih tepatnya ayah dan ibu sambungnya sudah tidak lagi berada di sana mereka sudah pergi ke kamar untuk beristirahat.


Larissa memakan makanan nya dengan lahap dan entah mengapa ia benar benar bahagia hari ini, entah apa alasannya kebahagiaan nya ia pun tak mengerti.


ia terus melahap makanan itu hingga habis dan ia merasakan betapa penuh perut kecil nya itu saat ini, terlalu lelah untuk melangkah ia memutuskan untuk duduk beristirahat sebentar di sana.


"lain kali aku akan seperti ini lagi untuk mengambil uang papa,karena kalau tidak wanita jahat itu akan terus menghabiskan uang papa hanya untuk kebutuhan pribadinya",ucap Larissa pelan.


"tidak akan,kau tidak akan bisa mengambil uang itu lagi",ucap seorang wanita dari belakang.


"kauuu merasa bahwa dirimu wanita jahat??, baiklah kalau begitu kau benar ahahha", ucap Larissa saat melihat keberadaan ibu sambung nya di sana.


nyonya Harry menarik keras tangan Larissa menuju luar rumah, dengan sangat keras ia membanting tubuh Larissa ke dinding samping rumah tepat nya di dekat taman.


Larissa terjatuh akibat benturan keras itu,tubuh nya terkulai lemah di atas tanah dan tanpa perlawanan pasalnya bukan hanya tubuhnya yang terkena dinding tapi kepalanya juga terbentur.


ia masih bisa melihat sosok wanita jahat itu di hadapan nya namun ia tak bisa berkata apa apa,karena sakit yang sudah lama tidak ia rasakan kini kembali lagi.


"lihat lah dirimu sekarang apa masih mau berbuat hal yang sama seperti tadi??",ucap wanita jahat yang ada di dalam keluarga Harry.


"kalau kau mengulangi nya aku akan melakukan lebih dari ini, bahkan kau akan kehilangan seluruh ingatanmu".


"dasar bod*h, kau pikir ancaman mu itu akan bisa membuatku takut??",jawab Larissa.


"kauuuu!!!!", ucap nyonya Harry yang emosi nya semakin memuncak.


nyonya Harry mengangkat tubuh Larissa lalu menariknya kedalam gudang, ia menguncinya di dalam gudang lalu kembali ke kamar.


saat akan di masukkan ke dalam gudang Larissa melakukan perlawanan namun karena pandangan nya yang sudah kabur ia tak bisa benar benar menghindar dan ia akhirnya harus terkunci di gudang itu.


"dasar bod*h?? kau lah yang bod*h,ahahah". batin wanita jahat itu.


ibu sambung nya itu kini kembali ke kamar dengan wajah yang sangat senang karena ia berhasil menyingkirkan pengganggu rumah tangga nya.


"darimana??",tanya tuan Harry menyadari kehadiran istrinya yang cukup lama di luar pasalnya tadi izinnya hanya ke toilet saja.


"itu tadi lama banget pas di toilet,jadi gitu dehh",ucap nyonya Harry berbohong.


tak ambil pusing tuan Harry mempercayai perkataan istrinya itu,lalu kembali menutup matanya dan tertidur.


sebenernya tuan Harry tak ingin menikah dengan wanita jahat itu,tapi apa daya saat itu ia di fitnah dan akhirnya ia memutuskan untuk menikahi wanita busuk itu.


kalau saja waktu bisa di ulang Harry akan tetap memilih untuk hidup bersama dengan istri nya dulu, yaitu nyonya rissa.


andai saja saat itu wanita jahat itu tidak bertemu dengan tuan Harry mungkin sampai saat ini keluarga mereka akan tetap utuh.


namun saat Hana datang semuanya berubah, dari perlakuan tuan Harry terhadap istrinya hingga waktu yang hilang untuk anaknya.


Hana,dia lah wanita jahat itu benar benar buruk untuk menjadi seorang ibu. bagaimana bisa ia mengurung anak dari suaminya di dalam gudang yang gelap itu.


mungkin suatu saat nanti ia akan mendapatkan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan sekarang,jika bukan dia bisa saja itu keturunan nya.


di dalam gudang, Larissa benar benar bingung harus apa tak ada cahaya yang benar benar terang di sana. hanya ada lampu kecil yang sudah hampir putus.


ia mencoba untuk keluar namun tidak ada hasilnya,semuanya nihil. berbagai cara ia lakukan untuk membuka paksa pintu itu namun tak bisa juga.


"handphone,iya handphone"


"dimana dimana",serunya mengingat tadi ia membawa ponselnya namun ternyata ia meninggalkan nya di atas meja makan.


"ck, sial kenapa gue harus ninggalin tu handphone sih",


"AAAAAA",teriaknya frustasi.


"Lo tenang aja hana,gue ga akan tinggal diam lagi. udah cukup ya lo buat mama gue pergi untuk selamanya dan udah cukup semua kata kata manis lo,gue larissa yang ga akan Lo temui lagi sisi baiknya". batin Larissa.


dia benar benar muak dengan semuanya, selama ini ia hanya diam menutupi kemunafikan ibu sambungnya itu. terlalu lama ia terdiam sampai tak sadar bahwa itu sambungnya itu sudah keterlaluan padanya.


saat pertama kali bertemu Larissa masih berusia sangat muda,dan ia masih duduk di bangku menengah pertama. itu sebabnya ia tetap masih belum mengerti,karena Larissa tidak perduli akan lingkungan nya.


hingga saat setelah pernikahan ayahnya dan ibu sambungnya itu, kebahagiaan yang di berikan padanya dengan cepat musnah, dan di gantikan dengan penderitaan.


ibu sambung nya benar benar membuat nya seperti bud*k tak jarang ibunya juga sering membohongi ayahnya untuk mendapatkan uang.


seperti beberapa bulan lalu saat Larissa masih mempercayai ibu sambungnya itu, Larissa pernah di suruh berbohong demi ibu sambung nya yang membutuhkan uang.


Larissa di hasut oleh ibu sambungnya untuk meminta uang yang cukup besar dengan alasan tak logis, namun ayahnya tetap memberikan uang itu padanya dan dengan cepat ibunya mengambil uang itu dari tangan Larissa tanpa sepengetahuan ayahnya.


tapi sejak perjodohan yang tidak di ketahui oleh Larissa,ia akhirnya sadar bahwa selama ini dirinya hanyalah penghasil uang bagi ibu sambung nya.


dan sejak saat itu ia benar benar membenci ibu sambungnya, ia merubah pola pikirnya yang dulu selalu baik tentang ibunya menjadi sangat sangat buruk.


dan semakin hari ibu sambung nya itu semakin menjadi,lihat lah sekarang dengan berani ia mengurung Larissa di dalam gudang.


dan saat ini itu sudah jadi alasan terbesar Larissa untuk membenci apapun tentang ibu sambungnya,ia berharap wanita itu di ceraikan oleh ayahnya agar semuanya kembali normal walau harus tanpa ibu.


.


.


.


.


.


^^^.^^^