L/R

L/R
45.L



"Apa Rio baik-baik aja?"


Aku menatap Franda yang menunjukkan ekspresi khawatir. Tadi aku sengaja membiarkan Rio menghadapi Rian secara langsung, sepertinya tindakan itu sukses membuat Franda yang mengetahui image buruk Rian merasa cemas, "Tenang aja, dia jago berkelahi kok."


"Aku justru khawatir jika Rio terlibat perkelahian sampai menimbulkan masalah yang membuat pihak sekolah turun tangan."


Benar juga. Rio tidak mungkin salah dikenali sebagai aku karena seragam batik yang dipakainya. Meski wajah kami identik sekalipun, pihak sekolah pasti tetap menganggap Rio sebagai anak sekolah lain yang sedang mencari masalah dengan siswa SMA Tirta Bangsa.


Meski senang Rio datang di saat yang tepat, mendadak aku menyesal telah meninggalkannya begitu saja. Apa aku harus kembali ke tempat parkir untuk mengecek keadaan? Sangat gawat jika Rio tidak dapat mengendalikan emosinya.


Tapi sebelum sempat berpindah dari posisiku yang sedang berada di luar pagar sekolah, aku melihat sosok Rio yang berjalan mendekat. Mudah-mudahan ini pertanda baik.


Atau tidak? Berhubung motor Rio ada bersama dengan kuncinya, aku memutuskan merebut helm dari tangan Franda kemudian kabur dengan cara membawa motor Rio pergi dari SMA Tirta Bangsa agar terhindar dari omelan.


Lebih baik menunda menemui Rio. Dan untuk cara Rio pulang, ada Pak Rahmat yang sudah menungguku dan bisa mengarnya pulang memakai mobil.


Satu-satunya hal yang kukhawatirkan adalah mencari tempat kabur. Aku tidak tahu Rio pulang ke rumahku atau ke rumahnya sendiri, jadi aku harus mencari tempat lain.


Tapi harus ke mana coba? Panti asuhan Kasih Mulia juga bukan tempat kabur yang aman. Aku harus mencari tempat lain yang belum pernah kukunjungi bersama Rio.


"Benar juga, aku sudah nggak ke sana sejak mengalami koma ya?" saat ingat suatu tempat, aku tersenyum senang sambil melajukan motor yang kukendarai ke skatepark.


Tidak membawa skateboard menjadi urusan belakangan. Yang jelas sekarang aku ingin cepat sampai ke tempat main yang dulu menjadi langgananku.


"Mengecewakan," setelah sampai skatepark dan mendapati tidak ada orang di sini, aku mengeluh. Jika ada orang, ada alternatif yang bisa kupilih untuk meminjam skateboard, tapi karena tidak ada justru membuat kedatanganku sia-sia.


Kenapa aku sangat bersemangat dan buru-buru datang ke sini sih? Skatepark kan bukan tempat yang bisa langsung dituju setelah pulang dari sekolah.


"Leo."


Terkejut. Dengan reflels yang bagus aku bisa menyeimbangkan tubuhku yang sedang duduk di atas motor saat ada seseorang yang secara tiba-tiba memukul punggungku dengan kencang. Jengkel telah berada di situasi yang cukup berbahaya, aku menatap si pelaku pemukul. Leon.


Mau apa lagi dia? Apa aku harus berpura-pura menjadi Rio meski sedang memakai seragam batik SMA Tirta Bangsa?


"Ngapain lo sendirian di sini?"


Tatapanku tertuju pada skateboard berwarna hitam yang berada di tangan Leon. Tidak disangka benar-benar ada yang langsung datang ke skatepark setelah pulang dari sekolah, "Lo sendiri ngapain pukul punggung orang seenaknya?"


"Nggak usah sok jutek gitu. Gue tahu lo bukan Io karena tadi gue habis ketemu Io yang pakai seragam batik SMAN 18."


Apa dia pikir sikapku bisa berubah drastis? Meski dapat membedakan, aku tetap jengkel karena Leon sudah memukul punggungku untuk yang ke dua kalinya, "Lo sendiri ngapain di sini?"


Leon menunjuk ke arah skateboard yang dipegang tangan kanannya, "Lo punya mata kan?"


Aku memarkirkan motor kemudian menonton dari kursi yang berada di pinggir tempat skatepark yang dipakai Leon untuk mulai bermain skateboard. Dulu aku cukup sering ke sini, tapi aku belum pernah melihat Leon menjadi salah satu orang yang berlangganan main skateboard di sini.


Meski sikapnya menyebalkan dan dia -pasti- musuh Rio, tapi harus kuakui Leon cukup jago juga.


Ollie, kickflip, manual, heelflip, nollie, dan beberapa variasi trik juga bisa dilakukan.


Kemampuan kami berada di level yang sama.


"Lo orang kaya nggak bisa beli skateboard?"


"Gue punya, tapi lagi nggak bawa aja."


"Terus ngapain lo datang ke sini jika nggak membawanya?"


Karena aku mau minta pinjam pada orang yang lagi bermain. Tapi berhubung orangnya Leon, lebih baik juga menonton saja daripada harus kembali membuatku berhutang budi padanya.


"Leo?"


Kepalaku dengan cepat menengok ke belakang saat suara perempuan yang kukenal memanggil. Saat melihat yang menegur ternyata benar-benar Sinta, aku tersenyum senang, "Sinta baru pulang?"


Sinta mengangguk dengan gerakan ragu, "Leo sedang apa di sini?"


"Menghindari Rio?" jawabku yang merasa kurang yakin karena skatepark ini dekat dengan rumah Rio. Aku saja bisa sampai bertemu dengan Sinta yang baru pulang sekolah, ada kemungkinan Rio dapat menemukanku di sini kan?


"Jadi lo lagi menghindari Io? Pengecut lo."


"Apa Leo baik-baik saja?"


Aku memberikan senyum terbaikku saat bertatapan dengan Sinta, "Tenang aja, Rio jauh lebih menakutkan dibanding cowok yang saat ini sedang bermain skateboard."


Melihat ekspresi Sinta yang bertambah cemas bersamaan dengan mendengar suara sesuatu yang mendekat, bisa kutebak sebentar lagi Leon berada di dekatku untuk mengajukan protes.


"Jaga omongan lo! Lo nggak tahu gue siapa?" secara paksa Leon menarik kerah seragamku agar melihat wajah marahnya.


Dan seperti kataku tadi, wajah marah Rio memang jauh lebih membuatku takut dibanding dengan ekspresi yang sedang ditunjukkan Leon, "Lo pentolan SMA Reseda?"


Leon melepaskan cengkramannya dari seragamku, "Jika tahu lebih baik lo hati-hati deh."


Kalau tadi tidak melihat ekspresi marah Rio, pasti aku bisa merasa takut pada Leon dengan mudah. Tapi karena mengetahui kemarahan Rio jauh lebih menakutkan, aku jadi tidak tahu harus menunjukkan ekspresi seperti apa sekarang.


Level kekuasaan Rio terasa semakin tinggi, apalagi setelah tadi mendengar ucapan Rian, "Ngomong-ngomong, apa lo tahu jika Rio intern polisi?"


"Apa lo lagi ngancam gue?"


"Gue serius nanya karena baru mendengarnya hari ini."


Leon mengangkat kedua bahunya, "Maybe, ada banyak gosip tentang Io yang nggak pernah jelas kebenarannya. Terus cewek ini siapa? Pacar lo?"


Mataku melirik Sinta yang berdiri di luar skatepark. Jujur aku ingin memberikan jawaban 'iya' karena perempuan ini sudah mengusik pikiranku sejak aku tahu dia menyukai Rio. Tapi aku harus memilih jawaban 'tidak' karena kami belum menjalani hubungan pacaran.


"Berhubung gue lagi baik, nih gue pinjamin. Sana tunjukin sisi keren lo ke pacar lo."


"Tunggu, dia bukan pacarku," sangkalku yang heran karena Leon mendorong skateboardnya mendekati kakiku.


Leon menarik tangan kananku sekuat tenaga sampai secara paksa membuat tubuhku berada dalam posisi berdiri, "Udah sana main. Gue nggak mau membuat cewek nerd terpesona dan jatuh cinta sama gue."


Dia pikir Sinta bisa jatuh cinta hanya dengan melihatnya bermain skateboard? Pede bangat. Tapi karena ide bagus Leon yang menyuruh menunjukkan sisiku yang belum pernah dilihat Sinta, aku pun memutuskan menurut dan mulai bermain skateboard sambil melakukan trik yang sudah kukuasai.


Tanpa sadar aku tertawa pelan karena ternyata kakiku sudah baik-baik saja setelah berhasil menyelesaikan beberapa trik tanpa hambatan. Kupikir aku belum bisa bersenang-senang dengan melakukan olahraga yang kusuka karena pernah mengalami kecelakaan dua kali, tapi dugaanku salah ya?


Setelah lima menit puas melakukan semua trik yang kubisa, aku mendekati dua orang penonton yang terlihat serius memperhatikan, "Gue lebih jago loh, Leon."


Dapat kulihat dengan jelas raut kesal di wajah Leon, "Cuma kayak gitu doang sih gue juga bisa. Nggak usah pamer deh."


Aku tertawa kemudian melihat ekspresi yang sedang ditunjukkan oleh Sinta, "Bagaimana? Apa aku terlihat jago untukmu?"


Sinta mengangguk berkali-kali, "Leo keren."


Keren ya? Apa pujian ini cukup membuatnya terpesona? Sinta kan menyukai Rio yang pintar dan cuma tahu belajar saja, aku tidak yakin bisa memikat Sinta hanya dengan menunjukkan aksiku yang sedang bermain skateboard.


"Abaikan gue, dan sana langsung cium dia."


Lupa dengan keberadaan Leon, aku menatap wajahnya dengan jengkel, "Apa sih? Jangan asal ngomong deh."


Leon mengerutkan dahinya, "Lo suka dengannya kan? Kelihatan bangat tahu."


Jangan terlalu peka deh! Rio saja tidak sadar. Aku sama sekali tidak senang kalau yang menyadari perasaanku justru adalah orang menyebalkan sepertimu tahu!


"A- aku pulang duluan ya?"


"Huh?" dengan bingung aku melihat Sinta yang sudah melesat pergi dan terlihat begitu terburu-buru berjalan menjauh. Dia kenapa?


Karena tidak terima sudah membuat Sinta pergi, tanpa ragu aku memberikan deathglare pada Leon yang masih terlihat santai, "Lo diam aja deh jika nggak tahu masalah gue."


"Gue cuma mau bantu."


Memang sudah membantu dengan membuat Sinta memujiku keren, tapi berakhir dengan Sinta yang kabur. Apa itu yang dinamakan membantu?! "Dia suka pada Rio. Omongan lo tadi pasti mengganggunya."


"Hee~ jadi di dunia ini ada cewek yang nggak matre ya?" mendengar nada menyebalkan yang dipakai Leon saat memberi komentar, aku menahan tanganku agar tidak memukul kepalanya, "Jangan asal kasih komentar deh."


♚♕ ➡ ♕♚