L/R

L/R
27



Besok paginya Leo sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Tentu dia sangat senang karena bisa langsung pulang tanpa harus melakukan pemaksaan seperti dulu.


Meski ada sedikit rasa kecewa karena Leo tidak bisa berpamitan dengan Rizal yang masih tidur. Tapi akhirnya Leo tetap pulang dengan diantar oleh Rahmat karena tidak ingin membuat Laila semakin cemas.


Sedangkan Albert memilih tetap berada di rumah sakit. Dia merasa bertanggung jawab menanggung semua keperluan Rizal selama masih dirawat.


Setelah mengantar kepulangan Leo, Albert kembali ke ruang rawat Rizal. Ada seorang wanita yang sedang menggandeng anak kecil yang baru saja keluar dari ruang rawat.


Wanita yang sudah Albert ketahui berstatus istri Rizal tersenyum saat melihatnya, "Maaf karena sebelumnya saya belum memperkenalkan diri, saya Diana. Dan terima kasih banyak karena sudah membiayai perawatan suami saya."


Melihat Diana sampai membungkukkan tubuh untuk mengucapkan terima kasih, Albert jadi merasa kikuk, "Tidak apa-apa kok. Justru saya seharusnya meminta maaf karena suami Anda sekarang harus dirawat seperti ini setelah menolong anak saya."


Diana menatap pintu ruang rawat 402A yang tertutup, "Anda tidak perlu meminta maaf."


Leo ternyata sudah mengenal orang yang sangat baik ya? Albert semakin merasa bersalah karena hanya bisa membalas perbuatan baik Rizal dalam skala yang sangat kecil.


Padahal jika Rizal menuntut macam-macam, Albert rela memberikan apa saja. Bagaimana pun Rizal telah menyelamatkan nyawa Leo, wajar Albert sampai mau melakukan apapun.


Tapi justru Rizal sungkan menerima tawarannya. Memang Rizal menolong tanpa pamrih, tapi Albert merasa harus tetap membalas jasanya.


"Kalau begitu saya pamit pulang dulu."


"Ah, apa perlu saya panggilkan taksi?" secara spontan Albert kembali menawarkan bantuan.


Diana menggeleng perlahan, "Tidak perlu, terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu."


Albert memijit pelipisnya saat Diana sudah berjalan pergi. Ada apa dengan pasangan suami-isrti ini sih? Padahal biasanya Albert sering menghadapi orang-orang yang ingin memanfaatkan kekayaan yang ia punya, tapi kali ini malah menghadapi kebalikannya.


Ini membuat Albert ingat pada anak yang gagal diadopsi olehnya. Karena terus menolak jika ditawari membeli sesuatu, Albert harus membelinya duluan agar tidak ditolak lagi.


Apa kali ini Albert harus melakukan hal yang sama juga? Sepertinya patut dicoba. Tapi sebelum memikirkan pemaksaan macam apa yang harus dilakukan, Albert masih harus menanyakan keadaan Rizal saat ini.


Setelah mengetuk pintu, Albert masuk ke kamar rawat. Ada Rizal yang masih berbaring di atas tempat tidur, tapi tidak dalam keadaan tertidur seperti saat Leo mencoba datang ke sini saat masih pagi. Rizal sudah membuka mata dan sedang menatap ke arahnya.


Albert duduk di kursi yang berada di samping ranjang rawat, "Bagaimana keadaan Anda sekarang?"


Rizal tersenyum, "Saya sudah jauh lebih baik. Pak Albert tidak perlu datang ke sini hanya untuk melihat keadaan saya."


Ada rasa tanggung jawab yang membuat Albert bahkan ingin terus menjenguk sampai Rizal diberi izin pulang dari rumah sakit, "Saya sedang tidak ada pekerjaan di kantor kok. Dan saya juga merasa bersalah karena Pak Rizal tidak bisa bekerja karena sedang dirawat."


"Kantor saya sudah memberi izin, Pak Albert tidak perlu merasa bersalah."


"Oh ya, anak saya ingin minta maaf karena tidak bisa pamit pada Pak Rizal karena Anda tadi sedang tidur."


Rizal menggeleng perlahan, "Tak apa, yang penting dia sekarang sudah bisa kembali pulang dengan selamat. Oh ya, saya juga harus mengucapkan terima kasih juga karena anak Anda yang lain katanya mendonorkan darah ke saya ya?"


Rio memang langsung mengajukan diri saat mendengar dokter yang mengatakan rumah sakit sedang kekurangan stok golongan darah B. Albert yang golongan darahnya berbeda langsung menghela napas lega karena Rizal dapat tertolong dengan cepat.


Hanya saja masih ada yang membuat Albert merasa penasaran, dia benar-benar bingung kenapa Rizal terlalu perhatian pada Leo. Kan aneh bisa menyayangi anak orang lain. Ah, tunggu, Albert juga mengalami hal yang sama. Dia sayang pada Rio walau tahu Rio bukanlah anak kandungnya.


Karena langsung mengerti dengan yang dirasakan Rizal, Albert tersenyum, "Benar, tapi saya yang seharusnya banyak mengucapkan terima kasih karena sudah sangat baik dan juga menyayangi anak saya."


"Anda beruntung bisa memiliki anak seperti Rio."


"Iya, saya memang sangat beru–" Albert menghentikan ucapannya saat menyadari ada sesuatu yang salah, "Rio?"


Rizal mengangguk, "Rio pasti sudah menjadi anak yang baik kan? Saya senang setelah tahu Anda yang telah mengadopsinya."


Bagaimana Rizal tahu tentang Albert yang mengadopsi Rio -meski gagal-? Dokter yang mau mengambil darah Rio untuk didonorkan hanya menanyakan identitas saja tanpa tahu jika Rio bukan anak kandung Albert.


Dan lagi yang Rizal kenal adalah Leo, lalu Leo juga tidak mungkin menyamar atau mengakui Rio sebagai saudara angkat. Leo sangat keras kepala mengakui Rio sebagai saudara kembar.


Apa ada semacam kesalahpahaman yang terjadi? Albert mencoba mendeskripsikan kejadian sesuai yang diketahuinya, "Yang mendonorkan darah pada Anda memang Rio, anak angkat saya. Dan saya mempunyai anak kandung bernama Leo, dia yang telah Anda selamatkan."


Albert menghela napas, ternyata wajah kembar kedua anaknya telah menyebabkan kesalahpahaman, "Rio dan Leo mempunyai wajah yang sangat mirip seperti saudara kembar. Sepertinya Pak Rizal telah salah mengenali Leo sebagai Rio."


"Mirip?"


Albert mengeluarkan ponsel dari saku celana untuk menunjukkan sebuah foto. Foto Leo dan Rio yang sedang duduk bersama. Leo sedang berpose piece sambil tersenyum cerah, sedangkan Rio menunjukkan gestur kaku dengan senyum gugup.


Rizal dengan gerakan cepat mengambil posisi duduk di atas ranjang rawat sambil mengambil alih ponsel dari tangan Albert untuk bisa melihat foto dengan lebih jelas, "Bagaimana bisa? Kenapa mereka bisa sangat mirip?"


"Aku juga terkejut saat pertama kali melihat Rio. Aku sama sekali tidak menyangka ada anak lain yang begitu mirip dengan anakku."


"Jadi yang kukenal selama ini dan yang sudah kuselamatkan adalah anak kandung Anda?"


Albert mengangguk, "Namanya Leo."


Jari tangan Rizal men-zoom foto ke arah anak yang menatap kamera dengan senyum gugup. Jika yang sedang tersenyum cerah bukanlah anaknya, maka yang ini adalah anak yang benar-benar ingin ia temui, "Syukurlah karena Rio tidak terluka."


Mendengar ucapan itu membuat Albert semakin bingung. Kenapa Rizal mendadak bersyukur mengenai keselamatan Rio? Tapi dibanding harus menanyakan ini, Albert memutuskan untuk mempertanyakan sesuatu yang lebih membuatnya penasaran, "Kenapa Anda mengetahui tentang Rio? Apa Leo menceritakannya?"


Rizal mengembalikan ponsel Albert sambil tersenyum simpul, "Saya tahu karena saya adalah ayah kandung Rio."


Albert menjatuhkan ponsel yang baru saja berada di tangannya karena syok. Rizal adalah ayah kandung Rio? Bagaimana bisa? Saat berniat mengadopsi, dia sudah diberitahu Rio masih memiliki orang tua, bahkan dia pun sudah memegang salinan akta lahir Rio beserta sebuah kartu keluarga, tapi Albert belum sempat mengecek nama orang tua yang tertera di dua dokumen penting itu. Dia benar-benar tidak menyangka bisa dipertemukan dengan ayah kandung Rio dengan cara seperti ini.


"Pak Albert, ponsel Anda jatuh," Rizal panik melihat ponsel belasan juta milik Albert menghantam lantai rumah sakit dengan cukup keras. Tapi karena posisinya saat ini sedang duduk di atas tempat tidur, Rizal tidak bisa membantu mengambilkannya.


Albert sama sekali tidak peduli pada ponsel itu, dia lebih peduli dengan anak yang sudah sangat disayanginya, "Anda benar-benar orang tua kandung Rio?"


Rizal yang sedang menunduk menatap ponsel beralih untuk menatap Albert lagi, "Ah, mungkin terlalu mengejutkan ya tiba-tiba mengaku sebagai ayah kandung Rio? Anda pasti tidak langsung percaya."


Memang terlalu mengejutkan, ingin Albert pulang ke rumah saat ini juga lalu membaca nama orang tua yang berada di akta kelahiran Rio untuk membuktikan kebenarannya.


Rizal dan Rio memang memiliki beberapa kemiripan sih. Seperti cara mereka tersenyum, dan juga sifat yang tidak mau merepotkan orang lain. Tapi tetap saja Albert ingin bukti yang pasti.


Dalam kondisi seperti ini memang tidak mungkin Rizal berbohong. Jika sejak awal ada niat menipu Albert, pasti lebih mudah melibatkan Leo saja. Malah terasa merepotkan jika yang dilibatkan adalah anak yang belum Rizal kenal.


"Bagaimana kalau saya menceritakan tentang Rio yang bisa sampai dititipkan di panti asuhan Kasih Mulia? Anda bisa langsung bertanya pada pihak panti jika merasa ragu."


Albert sudah diceritakan hal ini oleh pihak panti, lalu bukti bisa dilihat dengan melihat akta kelahiran Rio. Dan karena terlalu merasa penasaran, Albert memilih membuktikan ucapan Rizal dengan membiarkannya menceritakan masa lalu Rio.


Setelah mengambil ponsel yang jatuh, Albert mendengarkan dengan seksama semua yang diceritakan oleh Rizal. Dan semuanya sangatlah sama seperti yang sudah diceritakan oleh pihak panti. Tidak ada yang berbeda. Justru Albert sekarang mendapatkan penjelasan yang jauh lebih rinci.


Jika yang bercerita merupakan orang yang mengalami sendiri, terasa sekali emosi yang diberikan bahkan sampai detail-detail terkecilnya.


Rizal mengakhiri ceritanya dengan sebuah senyum sedih, "Saya senang karena Rio sudah mendapatkan orang tua yang jauh lebih baik dari saya. Terima kasih karena sudah mengadopsinya."


"Ah, saya tidak mengadopsi Rio kok. Saya hanya mengambil tanggung jawab untuk membesarkannya sampai Rio memiliki pekerjaan sendiri."


Rizal mengerutkan dahi dengan bingung, "Anda tidak mengadopsinya?"


Albert mengangguk sambil menunjukkan ekspresi yang tak kalah sedih dari yang sudah Rizal tunjukkan, "Karena agama saya berbeda dengan Rio, saya tidak bisa mengadopsi secara legal. Tapi karena saya dan istri saya sudah begitu sayang padanya, kami mencari cara lain untuk membesarkan Rio."


Rizal tidak mengatakan apa-apa setelah mendengar ucapan itu, sedangkan Albert juga tidak tahu harus bicara apa lagi. Suasana di ruang rawat seketika berubah menjadi canggung.


Karena suasana terus sunyi dan menciptakan ketegangan yang sangat tidak diperlukan, Albert memutuskan kembali bicara, "Apa Anda ingin bertemu dengan Rio?"


Rizal yang sedang menunduk langsung menatap Albert, ada ekspresi bahagia yang tergambar jelas di wajahnya, "Apa boleh?"


Tentu saja boleh. Rizal adalah orang tua kandung Rio, Albert tidak berhak memberi larangan apapun. Tapi Albert tahu konsekuensi yang ditanggungnya jika dua orang itu dipertemukan. Dia pasti akan kehilangan Rio.


Laila pasti sangat sedih jika mengetahui hal ini, tapi Rio berhak menemui orang tua kandungnya. Albert mencoba menenangkan diri sejenak sebelum akhirnya menghubungi Rio untuk datang ke rumah sakit.


...♚♕ ➡ ♕♚...