L/R

L/R
21



Leo memang menyuruh Rio untuk datang ke panti asuhan Kasih Mulia, tapi mereka sama-sama tidak tahu siapa yang sudah dibawa oleh satu sama lain.


"Kenapa Franda ada di sini?" / "Kok Rio membawa Sinta?"


Rio dan Leo menyuarakan kebingungan secara bersamaan, membuat mereka harus diam beberapa detik karena ketidaksengajaan yang sudah dilakukan.


Leo menghela napas, "Aku udah mengatakan ingin mempertemukanmu dengan seseorang kan?"


Rio ikut menghela napas, "Dan seharusnya kau tahu aku baru-baru ini selalu sibuk belajar untuk ikut cerdas cermat bersama dengan Sinta."


Dan mereka berdua akhirnya menghela napas lagi, kali ini secara bersamaan. Mereka sudah membuat kesalahan pada dua perempuan ini, rasanya rumit jika harus langsung dipertemukan berempat begini.


"Baiklah, abaikan aja Leo. Lebih baik kita melakukan apa yang sudah diniatkan sejak awal," ujar Rio sambil berjalan ke arah ruang depan panti asuhan yang biasanya dipakai menerima tamu.


Meski merasa sangat bingung dengan yang sedang terjadi, Sinta tetap mengikuti kemudian duduk di sofa yang ada di depan sofa yang diduduki Rio.


Karena mereka kembali berada di posisi yang sama seperti tadi saat di kelas dengan duduk saling berhadapan yang dipisahkan oleh sebuah meja, Rio memperhatikan Sinta yang mulai mengerjakan lagi lembar soal latihan yang diberikan khusus oleh guru, "Kau salah lagi, ulangi."


"Kejamnya."


Rio melirik Leo yang sudah ikut duduk di sampingnya, "Kenapa malah mengikutin? Sana temani Franda."


Leo menengok ke belakang, di mana ada Franda yang masih disibukkan dengan anak-anak panti yang ingin bermain bersamanya, "Dia sangat populer di antara adik-adikmu, aku bahkan nggak bisa mendekatinya."


Rio sangat tahu alasan Franda tidak dapat melepaskan diri dari anak-anak panti disebabkan oleh kamera DSLR yang dibawanya. Tapi karena gadis itu sama sekali tidak terlihat risi, bahkan Franda justru terlihat menikmatinya, Rio kembali menatap Leo, "Apa Leo membawanya ke sini untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi?"


"Dia mengikutsertakan fotomu yang sedang mengajari anak-anak panti ke sebuah perlombaan fotografi. Lalu karena menang, fotonya dipajang di mading sekolah. Kalau mau marah, silakan lakukan sendiri."


Rio mendecak kesal, padahal dia sudah melarang menyebarluaskan foto itu, "Baiklah, kalau gitu silakan selesaikan masalah yang sudah kau lakukan juga. Salah paham yang dialami Sinta terasa sangat mengerikan."


Leo langsung menatap Sinta dengan bingung, "Emang apa yang kulakukan? Aku kan hanya makan mie ayam dengan Sinta di pasar malam."


Tangan kanan Rio menarik pelan kalung yang dipakai Leo sampai bandul salib berwarna putih yang awalnya tersembunyi di balik kemeja putih seragam terlihat dengan jelas, "Dia melihat ini."


"Aku juga pernah bertemu denganmu di gereja," tambah Sinta.


Leo menyingkirkan tangan Rio dari kalungnya, tapi fokus matanya terus tertuju pada Sinta karena semakin penasaran, "Gereja?"


"Gereja Santa Anna."


"Ah! Pantas rasanya aku pernah melihatmu, ternyata kita pernah bertemu di gereja ya?" Leo mengangguk mengerti karena akhirnya mengetahui alasan kenapa Sinta tidak terlihat asing baginya.


Rio menatap Leo dengan bingung, "Kau baru sadar?"


"Aku ke gereja Santa Anna saat sedang ngenap di rumah sepupu doang. Dan sejak Rio jadi saudaraku, aku jarang main ke sana lagi."


Sinta memperhatikan Leo dengan seksama, meneliti dari atas ke bawah untuk disamakan dengan Rio yang duduk di sampingnya, "Jadi yang kutemui bukan Rio ya?"


Leo menunjukkan ekspresi bersalah, "Maaf sudah membuatmu bingung karena agama kami berdua berbeda."


"Nggak kok, aku yang salah karena langsung mengambil kesimpulan tanpa tahu kalian berdua punya wajah yang mirip."


Leo menggeleng, "Aku yang salah karena sempat mengaku menjadi Rio. Jika aku langsung mengatakan kamu salah mengenaliku, pasti nggak terjadi salah paham seperti ini."


Rio menghela napas, "Nggak kusangka perbedaan yang dibuat agar Mama, Papa, dan orang-orang di panti bisa membedakan kita jutru malah berujung membuat seseorang salah paham."


Untuk orang-orang yang sudah mengetahui agama Rio dan Leo berbeda, kalung salib yang dipakai Leo menjadi pembeda yang paling mudah terlihat. Tapi bagi yang tidak tahu kemiripan wajah yang mereka punya, ini justru bisa menjadi bumerang yang menyebabkan masalah seperti saat ini.


"Aku akan membiasakan diri pakai kacamata, nggak usah berkomentar."


"Ya udah, sekarang Sinta berhenti memperhatikan kami dan kembali kerjaan soal ini. Lalu Leo, sana tolong Franda. Dia bisa lelah jika terus menghadapi anak-anak."


Leo mendorong bahu Rio dengan jengkel sebelum berdiri untuk membawa Franda pergi dari anak-anak panti yang masih mengelilinginya.


"Ngomong-ngomong, abaikan nomor sepuluh. Aku bahkan nggak yakin sudah memberi jawaban yang benar," ujar Rio saat melihat Sinta mau mengerjakan soal nomor sepuluh.


Sinta membaca soal itu dengan seksama, "Soal yang mengharuskan memasukkan banyak rumus begini terkadang punya semacam jebakan ya?"


Karena Rio juga tidak yakin dengan soal nomor sepuluh, Sinta beralih mengerjakan soal lainnya. Sedangkan Rio masih fokus dengan satu-satunya soal yang belum dia dikerjakan untuk lebih teliti lagi mencari kesalahan yang mungkin sudah dibuat.


"Aku udah bawa pacarmu nih sesuai permintaan."


Pandangan Rio berpaling dari kertas yang dipegangnya ke arah Leo yang duduk di samping Sinta, dan matanya kembali berpaling ke Franda yang terlihat ragu saat mau duduk di sampingnya, "Aku hanya sekali aja bertemu dengan Franda di panti. Aku nggak melakukan kesalahan ekstrim sepertimu, Leo."


Leo memicikkan matanya dengan tidak terima, "Aku emang berharap bisa bertengkar denganmu karena masalah sepele, tapi aku sangat nggak mengharapkan kita sampai memperdebatkan perbedaan agama yang ada."


Akan terlalu sensitif jika sampai harus melibatkan agama, tapi ini perbedaan nyata yang mereka miliki yang sudah menyebabkan seseorang salah paham.


Rio menghela napas untuk mengurangi rasa jengkelnya, "Oke, maaf. Nanti malam aku akan memasakkan sesuatu untukmu, tanganku jadi gatal ingin memegang pisau."


"Aku sangat senang Rio mau memasak untukku, tapi hentikan kebiasaan menyeramkan dengan melampiaskan rasa kesalmu pakai pisau deh!"


Sampai detik ini Rio belum bisa menghilangkan kebiasaan saat mau melampiaskan rasa kesalnya. Hanya saja kali ini dia tidak pergi ke pasar untuk mencari pekerjaan sampingkan, Rio mencari alternatif lain dengan memotong sesuatu di dapur.


Meski Leo suka dengan hasil masakan yang dibuat oleh Rio, tapi sungguh mengerikan melihat sosok kembarannya saat sedang memotong bahan masakan. Pisau yang dipegang Rio seolah-olah bisa terlempar kapan saja ke arah Leo.


"Ah, stop. Kau salah menghitung."


Teguran yang mendadak dilakukan oleh Rio membuat tiga orang yang sedang bersamanya terlonjak kaget. Terutama yang mendapat teguran, wajah Sinta pucat pasi, "Ma- maaf."


Leo sweatdrop. Padahal Rio sangat sabar dan memberi tahu kesalahan yang sudah dilakukan dengan cara menegur secara halus saat sedang mengajarinya. Tapi Sinta sekarang mendapatkan perlakukan yang seratus persen berbeda.


Rio pernah mengatakan tidak menyukai Sinta karena bisa menyaingi nilai-nilainya, tapi kalau begini Leo jadi merasa kasihan pada gadis ini. Mana tadi pakai acara menegur dengan intonasi suara mengancam lagi. Leo saja merasa takut, apalagi Sinta.


"Oh ya, maaf sudah membuatmu salah paham karena aku mengaku sebagai Leo."


Franda yang sedang memperhatikan apa yang sedang dikerjakan oleh Sinta langsung berpaling menatap wajah Rio, "Nggak apa-apa kok, Leo sudah menjelaskannya padaku."


Walau sudah minta maaf, tapi ekspresi tidak suka yang sekarang tergambar di wajah Rio, "Tapi aku udah melarang menyebarkan fotoku kan? Lalu kenapa kamu justru mengikutsertakannya di perlombaan fotografi?"


Mata Franda melirik ke arah lain dengan gugup, "Hasilnya bagus."


Rio mengambil alih kamera dari tangan Franda untuk melihat hasil bidikan yang sudah dilakukan, "Jika mau melakukannya, jadikan aja Leo modelnya."


"Aku juga menolak memamerkan apa yang kulakukan di panti," tolak Leo dengan tegas.


"Jika mengabaikan tentang fotoku, hasil fotomu bagus-bagus sih. Aku nggak pernah memfoto anak-anak panti yang menunjukkan ekspresi sesenang ini."


Mendapat pujian dari Rio langsung membuat Franda tersenyum senang, "Jika Rio mau, aku bisa memberikan hasil fotonya."


"Kalau begitu tolong kirimkan hasilnya ke WhatApp Leo aja."


"Kenapa dikirim ke Leo? Aku bahkan nggak tahu nomor ponselnya."


Leo menghela napas saat Rio menatapnya dengan pandangan bingung, "Aku nggak dekat dengan Franda. Bahkan kami baru bisa pergi bersama karena dia sudah salah mengenalimu."


Yang Rio tahu, Leo cukup mendapat perhatian lebih dari semua teman-teman sekelasnya. Dia pikir minimal Leo tahu nomor telepon semua penghuni kelas, tapi ternyata dugaan ini terbukti salah, "Aku akan langsung memberitahu nomor ponselku."


Franda dengan cepat mengeluarkan ponsel miliknya untuk menyimpan nomor ponsel yang Rio sebutkan.


Leo melirik Sinta yang duduk di sampingnya. Kenapa Rio terang-terangan mendekati perempuan lain di hadapan perempuan yang menyukainya sih? Sinta pasti diam-diam sedang sakit hati melihat Rio mengobrol akrab dengan Franda.


Leo sedikit menggeser posisi duduknya agar semakin dekat dengan Sinta, "Maaf ya, Rio orangnya nggak peka."


Sinta menatap Leo dengan pandangan terkejut. Tapi Leo justru tersenyum, "Jika Sinta diam aja, Rio nggak mungkin tahu perasaanmu loh."


"Urghhh," Sinta menunduk dengan wajah yang bersemu merah. Dia tidak menyangka Leo menyadari kalau saat ini dia sedang merasa cemburu melihat kedekatan Rio dengan Franda.


Walau Rio sempat mengobrol dengan Franda, tapi dia tidak melupakan tugasnya untuk mengajari Sinta. Saat melihat Sinta lagi-lagi melakukan kesalahan, Rio tidak mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari soal yang sedang dikerjakan.


Leo menggeleng dengan heran melihat Rio yang masih tidak sadar telah menciptakan suasana yang begitu canggung untuk dua orang perempuan yang berada di sini.