L/R

L/R
40.R



Aku pernah mengatakan tidak ingin berpura-pura menjadi Leo lagi karena tidak mau sampai terjadi salah paham seperti sebelum-sebelumnya. Tapi hari ini aku justru kembali datang ke SMA Tirta Bangsa.


Jelas aku mau melakukan ini bukan untuk bersenang-senang. Yang harus kulakukan saat ini adalah memastikan Leo agar tidak mendapat masalah dengan seorang kakak kelas.


Pasti akan kubuat kakak kelas yang memiliki nama Rian itu kapok untuk mencari masalah dengan Leo. Jika belum kapok, aku tinggal memakai identitas asliku lalu datang ke SMA Tirta Bangsa dan mengancamnya secara langsung.


Ck! Mana mungkin aku membiarkan saudaraku sampai merasa tidak tenang saat berada di sekolah. Aku pasti akan melindungi Leo!


Mataku memandang ke arah buku dengan puas. Meski sejak tadi terus menggerutu dalam hati, tapi aku masih bisa mengerjakan soal latihan dari guru akuntansi tanpa mengalami hambatan apapun.


Jadi walau dalam mood yang buruk, aku masih punya konsentrasi yang bagus ya untuk mengerjakan soal hitung-hitungan begini? Padahal sudah dua bulan aku tidak berhadapan dengan pelajaran semacam ini karena jurusan yang kuambil dengan Leo berbeda.


Tapi aku tidak boleh puas bisa mengerjakan lima soal ini dengan kemungkinan jawaban yang benar semua. Leo selalu mengalami kesulitan jika mengerjakan soal hitung-hitungan, jadi harus ada soal yang mesti kuberi jawaban salah.


Merasakan lengan kiriku disenggol dengan pelan, aku menengok ke arah Daniel, "Kau bukan Leo ya?"


Bola mataku membulat terkejut. Kok tahu? Tadi kan aku sudah sengaja memasuki kelas mepet sebelum bel masuk berbunyi, bahkan aku belum bicara apa-apa sejak tadi. Tapi kenapa Daniel tahu?


"Apa sih? Memang ada orang lain yang punya wajah sepertiku? Jangan bercanda saat lagi jam pelajaran deh," walau merasa penasaran bercampur takut, aku mencoba merespon ucapan Daniel dengan tenang.


"Leo udah cerita punya kembaran yang pintar, jadi aku yakin kau bukan Leo karena bisa mengerjakan soal ini tanpa mencoba bertanya padaku seperti biasanya."


Jadi Leo sering menyusahkan Daniel? Aku kan sudah mengajarinya, apa masih kurang pengajaran yang kulakukan? Dan kenapa Leo tidak mengatakan sudah menceritakan mengenaiku pada teman-temannya? Dia sengaja ya ingin membuatku berkenalan secara langsung dengan mereka? "Tolong jangan bahas ini di kelas, aku nggak mau guru sampai mengetahuinya."


Daniel mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum senang, "Kalau begitu nanti saat istirahat kita bahas lagi ya?"


Karena sudah telanjur ketahuan, aku cuma bisa mengangguk saja. Selama yang tahu adalah teman-teman Leo, ini tidak akan menjadi masalah yang merepotkan.



"Berhubung Leo sudah cerita, aku mengaku kalau aku memang bukan dia. Aku Rio Arizki, tapi sekarang kalian tetap harus memanggilku dengan nama Leo agar nggak ada yang mengetahui ini."


Daniel, Andre, dan Fahri masih menatap dengan intens walau aku sudah memperkenalkan diri. Wajar mereka terperangah, tapi bagiku ini reaksi yang sedikit berlebihan. Seharusnya mereka baru menunjukkan ekspresi begini jika melihatku dan Leo secara bersamaan.


"Apa buktinya kalau kamu bukan Leo?"


Aku menunjuk Daniel yang duduk di sampingku, "Daniel sadar karena melihatku bisa mengerjakan soal latihan akuntansi sendiri."


Lukman mengangguk mengerti, "Jadi yang dikatakan Leo benar ya kalau kamu pintar?"


Aku tidak pintar, aku hanya rajin belajar sampai bisa mendapat nilai yang bagus saja, "Dia terlalu melebih-lebihkanku."


"Terus kenapa kalian bertukar? Kalian berdua ingin bersenang-senang?"


Tanpa menjawab pertanyaan Andre, aku memperhatikan suasana kantin. Di mana Rian sekarang? Kalau tidak bisa bertemu dengannya, percuma aku menggantikan Leo hari ini.


"Rio?"


"Jangan panggil nama asliku. Dan tunggu sebentar, aku lagi cari orang."


"Oh, jadi lagi ngincer cewek ya? Siapa orangnya?"


Ck, yang kucari itu cowok! Kenapa malah salah paham begini sih? Sambil mencoba untuk bersabar menghadapi rasa penasaran tiga orang ini, pandanganku terus menyusuri kantin dengan teliti.


Ah, itu dia! Rian dan gengnya baru saja masuk kantin bersama-sama. Aku mengernyit saat Rian menunjukkan gestur ketakutan saat tatapan kami bertemu.


Dia kenapa? Perasaan aku tidak memberi tatapan mengancam deh, kok dia kelihatan ketakutan begitu? Menurut cerita Leo, seharusnya dia masih ingin balas dendam kan?


Melihat Rian dan gengnya kembali keluar dari kantin, aku berpaling menatap tiga orang yang sedari tadi bersamaku, "Apa aku sedang menunjukkan ekspresi mengancam atau sejenisnya?"


"Hah? Kau sedari tadi menunjukkan ekspresi antusias. Emang ada apa sih?"


Jika sedang tidak menunjukkan ekspresi mengancam, lalu kenapa Rian bisa terlihat takut ya? "Kemarin Leo terlibat masalah sama kakak kelas, tapi orang itu justru menunjukkan gestur ketakutan sekarang. Aku nggak ngerti."


Kenapa Lukman masih mempertanyakannya? Kan hanya ada satu kakak kelas saja yang mencari masalah dengan Leo, "Rian."


"Kalau tentang Rian sih kemarin aku melihatnya menyeret Leo ke gang sempit, karena terlalu bingung bagaimana harus membantu, aku memilih untuk memanggil polisi. Yang kulihat sih dia yang disalahkan oleh polisi. Jadi mungkin dia sudah kapok."


Oh... jadi Andre secara tak langsung sudah menolong Leo ya? Dan jika polisi sudah terlibat, bisa dipastikan Leo disangka sebagai aku dan ucapannya dipercaya dengan mudah.


Tapi apa yang seperti itu dapat membuat Rian kapok? Ibunya kan polisi. Rasanya aneh jika dia sampai ketakutan hanya dengan melihat wajah Leo.


Aktivitas berpikirku terhenti saat menyadari kalau sedang diperhatikan oleh Franda yang duduk di meja kantin tidak jauh dariku. Apa dia sadar aku bukan Leo? Aku tersenyum sesaat pada Franda sebelum kembali fokus dengan masalah Rian, "Selama dia nggak gangguin Leo lagi, aku bisa tenang sih."


"Kalian sudah seperti saudara kembar sungguhan ya? Karena merasa khawatir sampai mau bertukar identitas begini."


Leo memang adik yang harus dijaga, wajar aku perhatian padanya, "Apa kalian bisa menghubungiku jika Leo sampai mendapat masalah lagi? Dia terlalu santai, aku nggak tenang membiarkannya sendirian."


Daniel, Andre, dan Lukman mengangguk kompak, "Jika ingin kami mengawasi Leo, berarti kamu juga harus mau berteman dengan kami. Dan jangan lupa juga untuk memberikan nomor ponselmu agar kami bisa melapor."


Teman ya? Karena dibesarkan di lingkungan yang cukup keras, aku selalu kesulitan untuk memasukkan orang lain dalam daftar teman. Tapi karena mereka adalah teman Leo, sepertinya tidak masalah selama mereka masih bisa menerima sifatku.


Untuk sekarang aku memilih untuk mengangguk dan memberikan nomor ponselku. Lain kali akan kusuruh Leo untuk mengajak mereka main ke rumah Ayah biar lebih tahu tentangku sebelum memutuskan ingin menjadi teman.


Ah ya, Leo juga menyuruhku untuk menemui Franda ya? Nanti deh kulakukan saat sudah pulang sekolah. Terlalu mencolok jika sekarang aku langsung mendekatinya.


Jadi setelah bel pulang berbunyi, aku mengajak Franda ke lorong sekolah yang tidak banyak dilewati siswa agar bisa bicara tanpa menarik perhatian, "Leo mengatakan aku harus menemuimu, memang ada apa?"


Franda menunduk sambil menunjukkan gestur gugup, "Sebenarnya aku nggak menyangka akan bertemu dengan Rio seperti ini, tapi memang ada yang ingin kubicarakan denganmu."


Aku disuruh menemui Franda tidak untuk mendengarnya mengatakan suka padaku kan?


"Rio orang yang dipercaya oleh kapolers Jakarta Timur kan? Dan kamu juga dijodohkan dengan anaknya? Leo sudah menceritakannya, dan Surya Aditama adalah Papaku."


"Apa?" aku menatap Franda dengan pandangan tidak percaya. Dia baru saja mengatakan Pak Surya adalah orang tuanya kan?


Franda mengangguk, "Aku perempuan yang mau dijodohkan denganmu."


Jadi ini maksud dari urusan yang dikatakan oleh Leo? Aku mengerti sekarang. Tapi sulit dipercaya kalau perempuan yang dijodohkan denganku ternyata sudah dulu aku kenal, "Hidupku aneh bangat sih? Sulit untuk percaya kalau anak Pak Surya ternyata adalah Franda."


"Aku juga terkejut. Kupikir orang yang dipercaya oleh Papa adalah teman sekantornya."


Tanganku mengacak rambut dengan kesal. Kan aku mendapatkan kepercayaan karena sebuah insiden yang sungguh aneh, apa Pak Surya sudah menceritakannya pada Franda? "Dia pasti menceritakan segala macam sifat baikku aja ya?"


Franda kembali mengangguk, "Setelah tahu orang yang adalah Rio, aku mengerti Papa nggak berlebihan."


Pasti sangat berlebihan. Aku menghela napas, ini memusingkan, "Terserahlah, yang penting sekarang aku sudah tahu siapa yang akan dijodohkan denganku. Ada bagusnya juga sih karena kita sudah saling mengenal."


"Jadi Rio mau jadi pacarku?"


Pacar? Aku mengerutkan dahi dengan bingung melihat wajah antusias Franda yang sedang menatapku, "Aku nggak mau pacaran dengan siapa pun sekarang. Apa Pak Surya nggak mengatakan kita dijodohkan untuk menikah?"


Melihat wajah Franda yang semakin merona malu, aku kembali menghela napas, "Nggak sekarang, tapi nanti. Jika Franda menyukaiku, maka tunggulah aku sampai menjadi laki-laki yang pantas datang ke rumahmu untuk melamarmu."


Kedua netra Franda berpaling ke arah lain, menghindar dari tatapanku yang sedang tertuju padanya, "Ta- tapi apa nggak lebih baik kalau kita mencoba untuk pacaran dulu? Kan aneh jika tiba-tiba harus langsung menikah."


Memang aneh, tapi sepertinya kamu tidak mencoba untuk menolak setelah tahu laki-laki yang akan dijodohkan denganmu adalah aku kan? "Jika hanya berteman, aku mau. Tapi jika untuk pacaran, harus kutolak dengan sangat tegas. Aku nggak pantas menjadi pacarmu. Bahkan aku sekarang bisa berada di sini karena sedang menggantikan Leo."


Pak Surya mungkin menyuruh untuk bertunangan, tapi aku sadar diri jika tidak cocok menjalin hubungan lebih dari teman dengan Franda. Kami terlalu berbeda. Aku tidak ingin mempermalukannya. Lebih baik kami tetap seperti ini sekarang.


Tidak tega melihat ekspresi kecewa yang sedang ditunjukkan Franda, aku mengelus puncak kepalanya dengan hati-hati, "Maaf. Tapi jika kamu masih bisa terus menyukaiku, aku janji di masa depan nanti akan menemuimu lalu mengajakmu menikah."


...♚♕ ➡ ♕♚...