L/R

L/R
35.L



"Aku mau menginap di sini malam ini," ucapku sambil tersenyum senang dan mengabaikan Rio yang terlihat tertegun karena kedatanganku yang sangat mendadak di jam setelah tujuh malam.


Jari telunjuk Rio mengarah ke koper besar yang kubawa, "Boleh aja sih, tapi apa perlu bawa pakaian sebanyak itu?"


Kedua netraku mengarah ke koper yang ukurannya tidak wajar dibawa untuk menginap selama semalam. Wajar Rio heran, koper ini lebih cocok digunakan untuk kabur dari rumah, "Semua yang ada di dalam sini adalah pakaianmu yang masih berada di lemari, aku sengaja membawakannya karena Rio pasti nggak mau mengambil sendiri."


"Aku emang nggak mau."


"Tapi aku sudah susah payah memasukkan semua pakaianmu ke koper kemudian membawanya ke sini loh."


Rio menghela napas kemudian mengambil alih koper dari tanganku, "Baik, akan kuterima. Ya udah, ayo masuk."


Saran dari Mama benar-benar tepat, Rio tidak mungkin menolak jika aku sampai direpotkan. Dengan perasaan senang, aku berjalan memasuki rumah mengikuti Rio. Tidak ada siapa pun di sini, "Ayah dan Bunda ke mana?"


"Ayah sudah tidur di kamar, dan Bunda katanya ada keperluan penting yang membuatnya harus pulang malam."


Ayah memang perlu istirahat yang cukup setelah keluar dari rumah sakit, kemarin saja Bunda sampai menyuruh untuk beristirahat total, jadi kemungkinan besar Ayah menurut.


Tapi kalau begini rumah Rio tidak ada bedanya dengan rumahku ya? Aku memperhatikan Rio yang sudah membuka koper di kamar, "Rio nggak kesepian?"


Rio berpaling untuk menatapku dengan ekspresi bingung, "Sekarang udah ada Leo kan di sini? Dan apa nggak apa-apa kamu menginap malam Minggu begini? Besok harus ke gereja kan?"


Papa ada dinas di luar kota dan Mama harus mengurus butik yang sudah diliburkan karena aku sempat dirawat di rumah sakit, rasanya sepi jika berada di rumah sendirian, "Aku udah bawa Alkitab dan bisa pinjam motormu buat ke gereja. Boleh kan?"


"Itu kan motormu, nggak perlu pakai izin segala deh."


Aku tersenyum kemudian membantu Rio mengeluarkan isi koper, "Ngomong-ngomong, aku masih penasaran. Rio serius mau dijodohkan dengan anak kapolres Jaktim?"


"Iya, dia sudah baik karena secara nggak langsung sudah mengawasiku, jadi nggak ada alasan untuk menolak."


Ada dong, kamu kan tidak mengenal anaknya. Kenapa bisa menerima tanpa terlihat kecewa sih? "Kok bisa Rio mengenal polisi yang punya jabatan tinggi dan dijodohkan dengan anaknya?"


Rio menghela napas, "Aku kan pernah berurusan dengan kepolisian karena salah tangkap, dan Pak kapolres ini terlalu percaya padaku. Ah, dan kamu juga bisa mengaku dipercaya olehnya jika sampai terlibat masalah. Kalau Pak Surya sampai salah mengenalimu, kamu justru aman."


Liciknya... masa harus menyalahgunakan jabatan orang lain sih? Tapi jika sudah berada di kondisi terdesak, tidak salah mencobanya, "Lalu kalau dia tahu aku bukan kamu gimana? Bukannya malah jadi masalah?"


"Dia tetap mau menolong selama bukan kamu yang memulai masalah duluan."


Tuduhannya mengesalkan sekali. Memang dia pikir aku mau mencari-cari masalah? "Jangan mengatakan seolah aku sering membuat masalah deh."



Jam delapan kurang sepuluh menit aku berangkat ke gereja Santa Anna memakai motor Rio. Sebelum berangkat, aku sudah meyakinkan padanya tidak akan membiarkan orang lain sampai salah mengenaliku.


Rio yang mengantarku dari luar rumah hanya melambaikan tangannya dan mengatakan agar aku hati-hati saat mengendarai motor. Dia sepertinya sudah begitu percaya padaku sampai sangat yakin tidak ada orang yang sampai salah paham dan menganggap Rio pindah agama.


Aku juga tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi. Jadi setelah berada di gereja, aku fokus beribadah tanpa mau repot-repot mempedulikan orang yang duduk di samping kanan atau kiriku.


Gereja Santa Anna terbilang dekat dari rumah Rio, ada kemungkinan tetangganya yang beragama Kristen beribadah di sini. Aku mencoba sebisa mungkin untuk tidak mencolok dan bersikap tenang selama berada di gereja.


Dan setelah semua kegiatan selesai, aku merenggangkan kedua tanganku. Sudah lama aku tidak pergi ke gereja sendirian. Entah aku harus merasa senang karena bisa sangat fokus beribadah, atau justru sedih karena tidak ada orang yang bisa kuajak pergi.


Pandanganku tertuju ke arah lantunan suara piano yang beberapa menit tadi terus terdengar. Di pojok ruangan tempat piano berada, seorang perempuan sedang duduk sambil menggerakkan jemarinya di setiap tuts sampai menghasilkan musik yang indah.


Senyum manis yang tergambar di wajah mungil itu pernah membuat mataku terkunci untuk terus menatapnya. Dan kali ini hal yang sama terulang kembali. Fokus mataku tidak dapat pindah untuk terus melihat Sinta Aulia yang sedang bermain piano.


Jika diingat, dulu aku juga pernah melihatnya yang sedang memainkan piano di gereja ini. Kenapa aku sempat lupa dengannya saat pertama kali berpura-pura menjadi Rio ya?


Sekarang aku merasa sangat senang Papa dan Mama tidak berada di rumah sampai aku memutuskan datang ke gereja Santa Anna. Rasanya jadi ingin menginap di rumah Rio setiap malam Minggu agar bisa datang ke gereja ini lagi.


Tunggu dulu, apa yang kupikirkan sih? Niat datang ke gereja kan untuk beribadah, bukan untuk bertemu dan memperhatikan Sinta.


Sudahlah, lebih baik pulang saja. Aku bisa berpikir yang aneh-aneh lagi jika terlalu lama duduk termenung sendirian begini.


"Leo."


Saat sudah berjalan dan berada di tempat parkir gereja, aku menengok untuk melihat siapa yang memanggil, ada Sinta yang sedang berjalan di belakangku.


Tadi saat aku bersiap-siap mau pulang sudah tidak terdengar permainan piano Sinta, tapi aku tidak sadar ternyata sedang diikuti olehnya, "Sinta mau pulang juga ya?"


Sinta mengangguk, "Leo sendirian aja?"


"Orang tuaku sudah pulang duluan. Oh ya, maaf karena aku nggak sempat jenguk saat kamu dirawat di rumah sakit."


Rio sudah mengatakan alasan kenapa Sinta gagal menjengukku, dan aku pun tidak terlalu berharap dijenguk karena hanya dirawat semalam saja, "Nggak masalah kok, lagian aku hanya dirawat selama satu malam. Itu juga atas keegoisan Mama dan Papa karena terlalu mengkhawatirkanku meski dokter mengatakan aku nggak perlu rawat inap segala."


"Lalu gimana keadaan Leo sekarang?" tanya Sinta yang matanya terlihat sedang memperhatikanku dari atas ke bawah.


Mau seteliti apapun Sinta melihat, dia tidak akan menemukan luka yang berada di tubuhku saat ini, "Hanya luka lecet aja kok, jumlahnya juga nggak terlalu banyak dan nggak bisa dilihat jika aku memakai pakaian lengkap begini."


"Syukurlah."


Kedua sudut bibirku tertarik ke atas, tidak menyangka sampai mendapat rasa khawatir dari Sinta, "Apa Sinta mau pulang bareng?"


Melihat Sinta yang memberi anggukan sebagai jawaban, senyumku semakin merekah senang.


Rasanya ada semacam kepuasan karena bisa membonceng Sinta lagi memakai motor.


Setelah menempuh perjalanan kurang dari lima menit dari gereja, akhirnya kami sampai di depan rumah Sinta. Tapi ada pemandangan yang sedikit mengganggu penglihatanku. Ada beberapa orang yang sedang memperhatikanku dari depan warung rumah Rio.


"Itu pacar lo, Io?"


Kenapa mereka salah mengenaliku? Apa Rio sedang tidak berada di rumah sekarang? Dan kenapa juga mereka berada di sini?


"Cantik juga. Kenalin lah ke kita."


Ck! Mereka ini teman Rio atau justru musuhnya sih? Aku tidak pernah mengerti bagaimana hubungan Rio dengan anak-anak geng di sini. Tapi yang jelas Rio selalu menunjukkan reaksi kesal pada mereka semua, "Masuk aja, Sin."


Sinta yang masih berdiri di depan rumahnya menatapku dengan khawatir, "Apa nggak apa-apa?"


Aku sudah biasa dianggap sebagai Rio, dan justru malah aman jika orang-orang berpenampilan seperti siswa badboy yang salah mengenaliku, "Nggak apa-apa kok, jadi masuk aja."


"Baiklah, kalau begitu makasih karena sudah diantar pulang."


Setelah memastikan Sinta masuk ke rumah dengan aman, aku baru mengarahkan motor ke rumah Rio. Dan saat motor sudah terparkir, aku menatap kumpulan orang-orang yang dengan santainya nongkrong di rumah orang lain, "Kenapa kalian ada di sini?"


"Kami nggak mau nyari masalah kok."


"Iya, bener. Kami udah denger lo sekarang tinggal di sini dan kami ingin minta diajarin belajar."


Aku mengangguk paham. Rio mau mengajari siapa saja tanpa pandang bulu ya? "Mau diajarin apa emangnya?"


"Kami kan tahun ini UN, jadi mau minta diajarin biar bisa lulus."


Rio kan baru kelas satu SMA, kenapa minta diajarkan UN padanya? Apa Rio sebegitu jeniusnya sampai bisa mengajari pelajaran yang seharusnya belum diajarkan oleh guru? "Nggak bisa apa belajar sendiri aja?"


"Yaelah, dulu lo juga ngajarin kita. Jangan pelit deh."


"Kami nggak bakal nyari masalah sampai hasil UN keluar deh, jadi ajarin ya?"


"Minta aja sendiri pada Rio. Aku bukan Rio," dengan cuek aku melewati mereka semua dan melangkah memasuki rumah. Untuk urusan belajar aku tidak dapat berpura-pura menjadi Rio.


Di ruang tamu ada Ines yang seperti sedang mencoret-coret sesuatu di kertas, aku berjalan mendekat dan melihat yang dilakukan oleh Ines adalah menggambar, "Mas Rio tidak ada di rumah ya?"


Perhatian gadis kecil ini tertuju padaku seperti sedang meneliti sebelum memberi jawaban, "Kak Leo ya? Mas tadi membantu Bunda mengantar gas."


Selain kebutuhan sembako, di warung juga terlihat menjual tabung gas ukuran tiga kilogram.


Rio pasti ingin membantu ya? Dan kenapa Ines memakai panggilan yang berbeda untukku dan Rio? Apa ini cara yang dia pakai saat membedakan kami?


"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI RUMAH GUE!?"


Seketika aku menengok ke arah pintu saat mendengar suara membentak yang dilakukan oleh Rio.


Rio pasti emosi melihat orang-orang yang berkumpul di depan rumahnya, aku mengerti sih. Tapi ada anak perempuan yang masih kecil di sini, kenapa dia justru bicara dengan gaya bahasa yang kasar dan mulai memberi umpatan sih? "Ines mau diajarkan sesuatu oleh Kak Leo?"


"Mau. Ines mau diajari oleh Kak Leo."


Lebih baik alihkan perhatian Ines dengan mengajarinya sesuatu saja dibanding dia harus mendengar Rio yang sedang marah-marah di luar rumah.


...♚♕ ➡ ♕♚...