L/R

L/R
10.R



Aku menatap panti asuhan Kasih Mulia sambil tersenyum puas. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dibanding dengan bisa pulang ke rumah sendiri.


Walau tadi harus ada drama dulu karena tidak memiliki ongkos untuk sampai ke sini, tapi dengan mendapat pekerjaan dadakan akhirnya aku bisa pulang juga.


Cukup sulit sih mencari orang yang membutuhkan bantuan lalu mau memperkerjakanku yang masih memakai baju seragam SMA, tapi karena berpura-pura habis kecopetan dan tidak punya ongkos pulang, ada pemilik toko galon yang merasa kasihan kemudian mengizinkanku bekerja.


Dan karena harus bekerja sampai toko tutup, aku baru sampai sini saat jam delapan malam. Padahal letak SMA Tirta Bangsa dan panti asuhan sama-sama berada di daerah Jakarta Timur, bahkan dua tempat itu hanya dipisahkan dengan jarak kurang dari 15 km.


Saat sadar dengan perbedaan jarak yang memisahkanku dan Leo, terasa lucu karena selama ini kami tidak pernah bertemu di suatu tempat secara kebetulan.


Oke, abaikan. Aku sudah tidak memiliki urusan dengan Leo lagi, jadi jangan dipikirkan. Yang penting sekarang aku bisa kembali ke kehidupanku sendiri. Padahal baru dua minggu tidak berada di sini, tapi aku benar-benar merindukan suasana panti.


"Aku pulang." setelah membuka pintu masuk panti, aku melihat ada Bu Indri yang kebetulan berada di ruang tamu, "Loh, Rio? Kok kamu ada di sini?"


Tanpa memedulikan wajah kebingungan Bu Indri, aku berjalan masuk, "Iya, Bu. Aku sudah menyelesaikan perjanjiannya, jadi sekarang aku bisa pulang."


Bu Indri masih terlihat bingung melihatku yang saat ini sudah berdiri di hadapannya, "Ibu pikir kamu akan diadop–"


"Aku kangen bangat sama anak-anak deh. Mereka sudah pada tidur belum ya?" aku melangkah memasuki ruangan lain. Dengan sengaja menolak mendengar kata adopsi.


Aku hanya menggantikan posisi Leo, jadi tidak mungkin diadopsi. Aku tidak boleh mengharapkan bisa diadopsi oleh keluarga itu.


"Mas Rio!"


"Mas ke mana aja selama ini? Aku kangen."


"Mas Rio kok pergi lama tidak bilang-bilang sih sama kita?"


Setelah masuk kesalah satu kamar, semua anak yang awalnya ingin tidur langsung berlarian mendekatiku.


Aku memeluk mereka satu per satu sambil terus mendengar rengekan dan protesan yang terus dilakukan. Rasanya sudah lama sekali tidak berada di suasana heboh seperti ini.


"Baiklah, bagaimana kalau Mas bacain buku dongeng untuk menjadi pengantar tidur kalian?" melihat mereka semua menyetujui ideku, aku mengambil sebuah buku cerita dan membacanya.


Setelah selesai membaca, aku menunggu dan memperhatikan sampai mereka semua memejamkan mata dan terlelap tidur.


Rasanya benar-benar berbeda ya? Dua minggu kemarin aku tidur sendirian di kamar yang sangat luas, dan kini aku harus kembali berbagi kamar dengan anak-anak panti. Kehidupanku saat menjadi Leo seperti mimpi saja.


"Apa mereka sudah tidur?"


Mataku berpaling menatap ke arah pintu, ada Bu Indri yang baru saja bertanya, "Iya."


"Ya sudah, lebih baik Rio juga tidur. Kamu pasti lelah kan?"


Aku menunduk dengan gelisah, "Apa Ibu tidak mau bertanya sesuatu padaku?"


Bu Indri adalah satu-satunya ibu panti yang tahu dan juga mengizinkanku membuat kesepakatan dengan Bu Laila dan Pak Albert. Walau tadi sempat menghindar, aku merasa tetap harus memberi penjelasan pada Bu Indri.


"Kamu pasti sudah melewati hari yang berat kan? Lebih baik Rio istirahat saja, kamu bisa bercerita pada Ibu besok."


Melihat Bu Indri yang sedang tersenyum, aku mengangguk patuh. Tubuhku memang terasa sangat lelah dan butuh istirahat, penjelasan untuk Bu Indri masih bisa ditunda dulu.


Besok aku pasti menceritakan semua hal yang sudah kulakukan selama dua minggu ini. Bagaimana sulitnya harus berpura-pura menjadi orang lain, rasanya bisa bersekolah, memiliki teman, dan juga rasa senang saat memiliki orang tua.



"Rio, ada tamu untukmu."


Kegiatanku yang sedang membereskan kamar terhenti untuk menatap Bu Mega dengan bingung, "Tamu?"


"Iya, mereka menunggumu di ruang tamu. Lebih baik kamu temui mereka, tidak enak jika harus membuat menunggu lama."


Siapa yang mau menemuiku jam sembilan pagi begini? Selama ini memang sering ada orang-orang yang bertamu dengan niat ingin membuatku mengajari mereka pelajaran sekolah. Tapi mereka tidak pernah kerajinan dengan datang sepagi ini.


Dan lagi Bu Mega sampai mau repot-repot memanggilku, kemungkinan besar ini bukanlah tamu langgananku, "Siapa tamunya, Bu?"


"Seorang bapak-bapak dan anaknya."


Aku langsung berjalan mendekati Bu Mega dan menatapnya dengan antusias, "Apa Ayah yang datang? Dia mau menemuiku?"


"Bukan ayahmu yang datang."


Melihat ekspresi bersalah yang ditunjukkan Bu Mega membuat semangatku seketika menyusut. Kenapa aku masih berharap bisa menemui ayah kandungku sih? Ayah sudah bahagia dengan keluarga barunya. Aku tidak boleh berharap Ayah mau menemui dan mengajakku tinggal bersamanya.


Bu Mega mengelus punggungku dengan lembut, "Mungkin orang ini juga merupakan tamu penting untukmu, lebih baik temui dulu ya?"


Jika bukan ayah kandungku, siapa lagi yang mau bertemu denganku? Tidak ada tamu yang lebih penting dan mendadak selain Ay–


"Ah, anak yang ikut ke sini memiliki wajah yang mirip denganmu."


"Apa?" aku langsung menatap Bu Mega dengan terkejut.


Bu Mega mengangguk, "Sangat mirip sampai membuat Ibu bingung melihatnya."


Aku langsung keluar dari kamar dan berlari menuju ruang tamu. Langkahku terhenti saat melihat keberadaan dua orang yang sedang duduk di ruang tamu. Ternyata benar. Papa dan Leo.


Bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan? Aku sudah kabur tanpa meninggalkan pesan apapun, bahkan aku juga sudah membuat mereka sempat bersitegang.


Seharusnya aku tidak perlu melakukan perjanjian itu. Sejak awal mestinya aku menolak saja.


Kenapa aku mau menerimanya sih? Aku benar-benar bodoh!


"Ternyata benar-benar mirip ya?"


Aku terlonjak kaget dan langsung mundur dua langkah saat menyadari Leo sedang berdiri di hadapanku. Dia terlihat begitu serius menatap wajahku, "Pa, dia bukan saudara kembarku?"


"Untuk apa Papa menitipkan anak di panti asuhan jika masih bisa mengurusnya?"


"Tapi wajahnya mirip bangat dengan wajahku, bahkan namanya juga mirip. Rasanya terlalu aneh jika sekedar kebetulan aja."


Aku menunduk untuk menghindari tatapan Leo yang sedang memperhatikanku, "Leo tidak marah padaku?"


"Marah? Mama dan Papa sudah menjelaskan semuanya padaku kok. Lalu kamu juga meninggalkan sebuah buku catatan kan? Rasa marahku benar-benar hilang setelah membaca semua tulisanmu yang begitu detail. Terutama tulisan yang ada di halaman belakang."


Selama menjadi Leo, aku sengaja membuat semacam diary yang menjelaskan tentang semua kegiatan yang kulakukan. Aku mencatat dengan begitu rinci tanpa melupakan detail kecil apapun agar Leo bisa kembali menjalani hari-harinya dengan normal tanpa merasa kebingungan.


"Sini kalian duduk dulu, tidak enak kan mengobrol sambil berdiri seperti itu?"


"Ayo, Rio, jangan diam aja," Leo menarik tanganku untuk berjalan mendekati ruang tamu. Melihat Leo yang mengambil posisi duduk di samping Pak Albert, aku memilih duduk di sofa yang berada di hadapan mereka.


Dengan gugup aku memainkan jari-jari tanganku, "Maaf karena sudah kabur dari rumah."


Pak Albert tersenyum, "Tidak apa-apa, Papa mengerti kenapa Rio memilih kembali ke sini. Kamu sudah memikirkan untuk tidak memperburuk suasana karena kepulangan Leo yang tiba-tiba kan?"


Aku mengangguk. Karena Leo belum tahu mengenaiku, aku takut jika Leo marah berlebihan pada orang tuanya. Jadi aku memutuskan membiarkan mereka menyelesaikan masalah tanpa melibatkanku.


"Jadi aku yang salah? Kan aku hanya ingin memberi kejutan pada Mama dan Papa karena sudah sembuh."


"Dokter sempat melarangmu untuk tidak langsung pulang kan? Tapi kamu justru mengancam mau kabur kalau tidak dibiarkan pulang."


Aku sweatdrop mendengar ucapan Pak Albert. Pantas saja aku sering gagal menjadi Leo di depan orang tuanya, ternyata sifat Leo sungguh unik begini ya?


"Aku kan ingin cepat pulang, jadi aku minta dokter melakukan pemeriksaan dengan cepat."


Pak Albert menghela napas sambil memegang kepalanya, "Padahal dua minggu kemarin Papa memiliki anak yang begitu penurut, tidak bisakah Leo sedikit mencontoh Rio?"


"Aku kan belum mengenal Rio, Pa. Bagaimana aku bisa mencontohnya coba?"


"Anu, kenapa Pak Albert datang ke sini?" merasa harus melerai perdebatan ayah-anak ini, aku menanyakan hal yang membuatku penasaran sejak awal.


Pak Albert kembali menatap ke arahku, "Ada hal serius yang ingin kubicarakan denganmu."


Secara refleks aku membenarkan posisi dudukku, apa ini pembicaraan yang sangat penting?


"Aku ingin Rio menjadi saudaraku."


"Apa?" tapi sebelum Pak Albert kembali bicara, ucapan Leo sudah dulu membuatku keheranan.


"Aku meminta pada Mama dan Papa untuk mengadopsimu. Apa Rio mau?"


Di... adopsi? Aku tidak salah dengar kan? Leo benar-benar mengatakan kata adopsi kan? Aku beralih menatap Pak Albert karena terlalu merasa bingung.


Pak Albert mengangguk untuk menjawab rasa terkejutku, "Sebenarnya sejak awal aku dan Laila berniat mengadopsimu jika Leo setuju. Tapi kemarin Leo justru mengatakan duluan ingin menjadikanmu sebagai saudaranya."


"Sejak awal sudah berniat mengadopsiku?" tanyaku dengan nada tidak percaya. Tentu saja aku terkejut karena baru mengetahui hal ini. Kan perjanjian awalnya hanya ingin membiayai sekolah, tidak untuk mengadopsiku.


"Dari dulu Leo sangat ingin memiliki saudara. Tapi walau suka mendatangi panti asuhan, tidak ada satu pun anak yang pernah dipilih olehnya. Jadi saat kami menemukanmu, kami merasa Rio adalah sosok yang cocok untuk menjadi saudara Leo."


Leo tersenyum saat tatapanku mengarah padanya, "Iya, dibanding dengan memiliki adik, aku jauh lebih merasa senang kalau bisa memiliki saudara kembar."


Selama dua minggu terakhir aku sangat senang karena bisa merasakan memiliki orang tua, pasti semakin seru jika mendapat seorang saudara juga. Tapi kalau sampai harus diadopsi...


"Maaf, tapi aku harus menolaknya."


Aku memiliki ayah kandung yang masih hidup. Ayah bahkan dulu masih sempat membiayai sekolah seolah ingin mencegahku agar tidak pergi dari panti asuhan. Dan aku juga tahu jika Ayah hanya menitipkanku, tidak meninggalkanku di panti. Karena itu aku merasa masih sangat terikat untuk tetap berada di sini.


"Ini ke dua kalinya Rio menolak diadopsi ya? Kamu benar-benar tidak berubah. Tapi kali ini aku tahu cara membujukmu agar mau menerimanya."


"Ke dua kali?" aku dan Leo langsung saling menatap saat secara kebetulan kami menanyakan hal yang sama.


"Dua minggu yang lalu bukanlah pertama kali Papa bertemu dengan Rio, tapi abaikan dulu masa lalunya, sekarang kita masih harus membicarakan tentang adopsi."


Mau berapa kali pun mencoba membujuk, aku tetap sulit menerima untuk diadopsi. Panti asuhan Kasih Mulia sudah menjadi rumahku sendiri. Aku belum siap meninggalkan tempat ini.


"Karena sudah dibesarkan di sini selama lima belas tahun, pasti Rio sulit kan meninggalkan panti? Meski sudah diadopsi, kamu masih boleh datang atau menginap di sini kok. Rio bebas melakukan apapun yang diinginkan, kami tidak akan mengekangmu."


Aku menatap Pak Albert dengan pandangan terkejut karena apa yang sedang kupikirkan seolah bisa terbaca olehnya.


Pak Albert tersenyum melihat reaksi yang kutunjukkan, "Jadi bagaimana? Apa Rio mau kembali memanggilku dengan sebutan 'Papa'?"


Pandanganku berpaling menatap Leo yang terlihat begitu antusias menunggu jawaban yang kuberikan. Jika Leo juga sudah setuju dan memperbolehkannya, aku sangat ingin memiliki keluarga lagi tanpa harus menunggu yang tak pasti, "Aku mau."


♚♕ ➡ ♕♚