L/R

L/R
2.R



Tidak pernah terbayang sebelumnya olehku jika suatu saat bisa dijemput dari sekolah menggunakan sebuah mobil mewah. Apalagi pintu mobilnya bisa bergeser untuk terbuka secara otomatis tanpa perlu menarik atau memegang gagang pintunya. Yang seperti ini sih seharusnya baru bisa dilakukan pada orang yang punya jabatan tinggi, bukan kepadaku!


Aku tidak mengerti tentang merek dan juga jenis mobil, tapi mobil Toyota ini pasti berharga mahal karena punya desain mewah luar-dalam, joknya juga punya bahan kulit yang membuatku nyaman saat duduk di atasnya. Sejak awal beli, mobilnya sudah begini atau telah dimodifikasi sampai bisa seperti ini ya?


Tapi rasa bingung serta gugupku selama berada di mobil tidak ada apa-apanya setelah sampai di sebuah rumah. Rumah mewah yang sulit kugambarkan hanya dengan kata-kata.


Ini bukan pertama kalinya aku mendatangi rumah Leo, tapi pilar-pilar putih dan juga jendela besar yang ada masih membuatku merasa takjub melihatnya. Apalagi saat sudah memasuki rumah, mataku rasanya tidak bisa berhenti mengagumi barang-barang yang terlihat elegan dan tertata dengan begitu rapi.


Apa aku benar-benar boleh tinggal di sini?


"Ah, Leo sudah pulang ya?"


Pandanganku yang semula sibuk memperhatikan interior ruang tamu beralih menatap seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan mendekat. Beliau adalah orang tua Leo.


"Mama," saat mencoba memanggil, suaraku justru tercekat karena tidak terbiasa melakukan panggilan ini.


"Hari ini Mama sengaja pulang lebih cepat agar bisa makan siang bersamamu."


Saat tangan lembutnya mengelus kepalaku, aku justru memalingkan pandangan ke arah lain. Ada rasa bersalah karena aku yang bukan anaknya justru mendapat perhatian seperti ini.


"Ya sudah, ayo kita ke ruang makan, kamu harus ceritakan bagaimana sekolahmu hari ini."


Aku mengangguk pelan lalu mengikuti langkah Mama yang berjalan menuju ruang makan.


Setelah duduk berhadapan, aku tidak bisa menahan rasa gugupku karena sangat tidak terbiasa berada di suasana seperti ini, "Tadi teman-teman sekelas menyambutku dan juga merasa senang karena aku sudah masuk sekolah lagi."


"Benarkah? Apa ada hal lain lagi yang terjadi?"


Aku terdiam sejenak untuk mengingat hal spesial yang bisa diceritakan lagi, "Ah, tadi aku mendapatkan nilai paling bagus saat diadakan ulangan dadakan."


Bukan ekspresi senang seperti dugaanku yang menjadi respon Mama, Mama justru terlihat tercengang. Kepalaku langsung tertunduk karena merasa bersalah, "Maaf."


"Kenapa justru minta maaf? Yang kamu lakukan bukan hal yang salah kok, Mama tidak marah."


Dengan takut-takut aku menatap wajah Mama yang kali ini terlihat seperti sedang menahan tawa.


Memang yang kulakukan bukanlah hal yang salah, tapi aku tahu ini nantinya bisa menjadi beban untuk Leo.


Entah seperti apa nilai-nilai pelajaran yang normalnya biasa Leo peroleh, tapi aku tetaplah harus menahan diri. Aku harus ingat kalau sekarang sedang hidup sebagai Leo. Aku tidak dituntut mendapatkan nilai sempurna untuk mempertahankan beasiswa yang kudapatkan.


"Oh ya, bagaimana kalau lain kali kita makan di luar? Kita bisa mendatangi restoran yang kamu suka, mau?"


"Eh? Makan berdua dengan Mama? Apa boleh?"


"Kenapa tidak? Mama kan ingin menghabiskan waktu bersama dengan anak Mama. Lain kali kita harus jalan-jalan bersama saat Mama sedang tidak sibuk ya?"


Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan rasa bersalah. Meski bisa memanggil dengan sebutan 'Mama', Beliau bukanlah orang tuaku. Aku sama sekali tidak pantas mendapat kasih sayang darinya.


Ternyata beban yang paling berat ketika berpura-pura menjadi Leo bukanlah saat sedang berada di sekolah, melainkan saat sudah berada di rumah. Aku pasti menyakiti perasaan orang-orang yang menyayangi Leo dengan kebohongan ini.


Tapi aku tidak dapat kabur dari situasi ini, aku harus bisa menutupi ketidakadaan Leo di sini, "Iya, lain kali aku mau jalan-jalan dengan Mama."


Melihat senyum bahagia terukir di wajah wanita yang duduk di hadapanku, aku pun berkomitmen untuk tidak mengeluh dan terus melanjutkan ini sampai saat peranku sebagai pengganti Leo selesai.



Datang ke sekolah merupakan saat yang membuatku bisa sedikit bernapas lega. Berada di rumah terasa seperti sedang diawasi. Padahal tidak. Leo punya kamar sendiri yang membuatku seharusnya bisa bebas tanpa harus menghadapi orang tuanya selama seharian penuh.


"Leo!"


"Eh, iya, apa?" karena terlalu larut dengan apa yang sedang dipikirkan, aku terkejut saat tiba-tiba ada yang memanggil.


Saat ini di sampingku ada seorang perempuan yang sedang menunjukkan senyum cerah. Dari followers Instagram Leo, aku mengetahui siapa nama perempuan ini walau bukan merupakan teman sekelas Leo, "Dewi."


Senyum bahagia semakin tergambar jelas di wajah Dewi, "Kamu udah tahu tentangku? Kita kan belum pernah kenalan."


Jadi Leo belum mengenal Dewi? Aku sepertinya terlalu berhati-hati saat mencari segala macam informasi mengenai Leo di dunia maya ya? "Kamu follow Instagramku kan? Aku tahu dari sana."


"Oh... kupikir Leo tertarik padaku sampai mengetahui namaku, ternyata karena Instagram ya?"


Salah satu alisku terangkat dengan heran, perempuan ini ternyata percaya diri sekali ya?


Memang sih harus kuakui dia cantik, dan lagi aku juga tahu Leo merupakan tipe cowok yang mudah dekat dengan lawan jenis. Terbukti dari Instagram milik Leo yang berisi cukup banyak fotonya yang sedang bersama dengan perempuan yang berbeda-beda.


Kalau aku justru tipe yang tidak mau dekat dengan perempuan merepotkan yang menomor satukan penampilan. Jujur ini sedikit membingungkan karena aku tidak tahu cara yang dipakai Leo untuk menghadapi perempuan seperti Dewi, "Ada apa memanggilku?"


Dewi menarik lengan tangan kananku untuk bisa dipeluk, "Aku suka sama kamu."


"Apa?" aku menatap Dewi dengan pandangan tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba mengatakan suka? Kan dia sendiri yang mengatakan seharusnya kami belumlah saling mengenal.


"Aku sama sekali nggak sadar ternyata ada cowok ganteng kayak Leo di sekolah. Sekarang aku sangat tertarik padamu dan ingin jadi pacarmu."


Pernyataan cinta mendadak ini sungguh mengejutkan sampai membuatku sempat terpaku, tapi sudah pasti aku harus memberikan penolakan. Mustahil memulai sebuah hubungan percintaan tanpa persetujuan dari Leo, "Aku–"


Jari telunjuk Dewi menempel di depan bibirku dan langsung menghentikan penolakan yang ingin kukatakan, "Jangan dijawab dulu. Sekarang aku masih punya pacar. Setelah putus dengan dia, Leo baru boleh memberi jawabannya."


Jika sudah memiliki pacar, lalu untuk apa kamu mengatakan suka? Tidak kusangka ada cewek egois semacam ini juga di kehidupan Leo.


"Untuk sekarang aku hanya ingin menandai Leo agar nggak diincar cewek lain. Jadi tunggu saat aku udah putus ya! Aku pasti akan menjadi pacarmu."


Apa-apaan sih cewek ini? Aku sudah lelah menghadapi tipe yang suka berbuat seenaknya seperti ini, tapi kenapa sekarang justru muncul cewek yang memiliki sifat yang sangatlah mirip?


Dan apa maksudnya ditandai coba? Dewi bahkan langsung berjalan pergi setelah mengatakan kalimat yang membuatku jengkel begini.


"Oh, kau diincar Dewi? Hebat juga."


Aku menengok ke belakang di mana ada Daniel yang sepertinya melihat apa yang sudah terjadi, "Hebat apanya?"


Daniel bersiul pelan, "Tentu aja hebat, dia kan dapat julukan cewek most wanted sejak MOS karena cantik, bahkan banyak kakak kelas yang mengincarnya. Kau hebat karena berhasil menarik perhatiannya."


Kapan aku melakukan hal yang bisa menarik perhatian? "Dia benar-benar aneh. Padahal mengaku udah punya pacar, tapi tadi malah mengatakan suka padaku."


"Kau nggak tahu tujuan Dewi?"


Diam. Sejenak aku melupakan peranku sebagai Leo, cowok yang bahkan hanya dengan status teman mau melakukan kencan dan dipamerkan di Instagram. Seharusnya tipe cowok seperti ini bisa dengan mudah mengerti maksud tersembunyi dari segala macam tindakan yang diberikan perempuan.


Karena tidak ingin membuat Daniel curiga, aku memilih memberikan tanggapan yang sudah pasti, "Dia egois."


Daniel mengangguk setuju, "Dia sengaja mengatakan suka agar cewek-cewek yang lain nggak mendekatimu. Benar-benar egois."


Oh, jadi ini maksud ditandai ya? Dewi mengatakan suka di lorong sekolah agar menarik perhatian. Dia tidak ingin ada siswi lain yang mencoba mendekatiku. Sungguh protektif ya? Mudah-mudahan saja aku tidak keseringan berurusan dengannya, ini begitu menguji kesabaran.


♚♕ ➡ ♕♚