
Bisa menjadi murid di sekolah mewah yang biaya per-semesternya mencapai angka belasan juta mungkin merupakan keinginan banyak orang. Apalagi sekolahnya begitu terkenal dan membuat siapa pun langsung tahu kalau ini merupakan sekolah elite hanya dengan menyebutkan namanya saja.
Apa aku termasuk salah satu orang yang beranggapan demikian? Dibanding harus merasa senang, aku justru sedang merasa bingung.
Aku belum pernah masuk ke sekolah elite mana pun, sekedar iseng mencari di internet pun tidak pernah. Jadi tidak aneh jika aku harus celingukan saat sudah memasuki gedung SMA Tirta Bangsa.
Arsitektur bangunannya mungkin kurang lebih terlihat sama dengan sekolah lain, tapi tembok yang dicat berwarna coklat pastel dan lantai marmer dengan warna putih memberikan kesan mewah serta elegan secara bersamaan.
Ini benar-benar gedung sekolah kan? Aku tidak tersasar dan tak sengaja masuk ke tempat lain kan? Rasanya sungguh aneh melihat desain untuk lorongnya saja terkesan berlebihan begini.
Memang siswa-siswi lain yang juga baru berdatangan memakai baju seragam anak SMA biasa, kemeja putih dan bawahan abu-abu, tapi aku tetap merasa minder melihat mereka.
Padahal aku juga menggunakan seragam serupa, bahkan beberapa barang yang kupakai memiliki merek yang sama seperti yang mereka pakai. Ini seharusnya cukup membuatku terlihat pantas bersekolah di sini, tapi di sisi lain aku justru merasa sedang berada di tempat yang salah.
Urghh... ayolah! Kalau tidak bisa mengatasi hal paling mendasar tentang perbedaan gaya hidup, aku pasti akan gagal menjadi Leo.
Aku harus fokus! Jangan sampai terbawa perasaan lalu mengacaukan semuanya.
Setelah berada di depan ruang kelas X - IPS 1, langkahku terhenti.
Kegiatan sekolah sebenarnya sudah berjalan sejak dua minggu yang lalu, tapi ini menjadi hari pertamaku masuk sekolah.
Aku mengelus sejenak dadaku untuk menenangkan diri dan mempersiapkan mental, setelah merasa yakin barulah melangkah memasuki kelas.
"Oh, Leo sudah masuk lagi."
"Kemarin sakit apa sih sampai seminggu nggak masuk?"
"Kalau sudah masuk berarti sudah sehat ya sekarang?"
Aku tertegun karena beberapa siswa yang sudah berada di kelas secara bergantian mengajukan pertanyaan saat melihatku. Leo ternyata begitu populer ya? Baru juga masuk, tapi sudah sangat menarik perhatian dan disambut dengan cukup bersahabat seperti ini.
"Hei, setidaknya biarkan Leo duduk dulu, kasihan tuh dia jadi kebingungan."
"Iya, benar, wajahnya sampai kelihatan pucat karena langsung ditanya-tanya."
Mataku mengerjap dengan bingung. Apa ekspresi wajahku bisa terbaca dengan jelas? Terasa cukup canggung sih saat harus dikerumuni beberapa orang seperti ini, tapi aku sudah mencoba bersikap setenang mungkin.
Mencoba untuk semakin merilekskan pikiran agar tidak dicurigai, aku memutuskan untuk duduk di kursi yang merupakan tempat duduk Leo sebelum menjawab rentetan pertanyaan yang sudah diajukan. Tepatnya aku duduk di deret ke dua di pojok kiri kelas, ada satu bangku yang memisahkan untuk tidak langsung berada di hadapan meja guru.
Setelah duduk, aku pun mulai bicara senarutal mungkin, "Aku mengalami kecelakaan lalu lintas di hari Senin, tapi nggak ada luka yang serius kok. Karena masih sedikit merasa syok, orang tuaku meminta izin pada sekolah selama lima hari."
"Apa kecelakaannya separah itu sampai syok segala?"
"Kecelakaan mobil atau motor emangnya?"
Saat minggu awal masuk masa SMA, bukan aku yang sudah mereka kenal, melainkan Leo. Sepertinya dia sudah bersosialisasi, tapi tak kusangka beberapa teman sekelasnya bisa menunjukkan rasa cemas secara terang-terangan begini, "Ada mobil lain yang sopirnya mengantuk dan menabrak taksi yang kutumpangi, jadi terjadi tabrakan yang cukup menyakitkan."
"Wah... berarti beruntung ya karena nggak mendapat luka lecet sedikit pun?"
Dengan refleks aku menggerakkan tubuh ke belakang saat salah satu dari mereka mencoba menatap dari dekat, "Iya, aku emang beruntung. Tapi Andre, jauhkan wajahmu."
Yang kupanggil Andre tertawa dan kembali mebuat jarak lagi, "Habis Leo sampai nggak masuk selama seminggu, kupikir kau sedang sakit parah."
Sebenarnya aku tidak sakit apa-apa, ini hanyalah alasan yang sengaja dibuat untuk bisa mendukungku, "Kalau dibilang sakit sih, kepalaku mendapat benturan yang cukup keras saat kecelakaan. Kuharap ingatanku baik-baik saja."
"Jangan seperti sinetron yang pakai Amnesia segala deh."
"Karena kamu masih bisa datang ke sekolah dan ngobrol dengan kami begini, berarti keadaanmu sudah baik-baik aja dong."
Aku mencoba memberikan senyum ramah mendengar tanggapan-tanggapan itu. Jika dianggap mengalami gangguan ingatan, mereka tidak curiga jika sifatku berbeda dengan Leo. Ini cara paling aman yang kupilih agar tidak dicurigai.
Dan aku bisa bernapas lega saat bel masuk berbunyi yang menandakan pelajaran pertama akan dimulai, dengan begini tidak ada sesi tanya jawab lagi untuk sementara waktu.
Tak lama setelah bel berbunyi, seorang guru perempuan memasuki ruang kelas, "Hari ini kita akan melakukan ulangan."
Ucapan yang cukup mengejutkan itu sempat mendapat protes dari banyak murid di kelas, tapi guru matematika ini mengabaikan penolakan dan tetap membagikan kertas soal ulangan.
Memang sih di setiap sekolah ulangan dadakan cukup sering terjadi, tapi kali ini menjadi sedikit berbeda untukku.
Aku sempat mendapat kesulitan saat mau menulis nama di kertas ulangan.
Dari semua soal hitung-hitungan yang ada, kolam untuk mengisi nama adalah bagian yang paling sulit diisi. Aku nyaris menulis nama sendiri.
Nama Leo memiliki kemiripan dengan namaku. Dari nama depan yang sama-sama memiliki tiga huruf, sampai nama belakang yang juga terdengar mirip.
Kok bisa ya? Sudah wajahnya sama, nama pun ikutan mirip lagi. Aku ternyata sangat cocok menjadi saudara kembar Leo ya?
Dengan cepat aku menepis pikiran liar itu. Kemiripan yang ada di antara kami hanyalah sebuah kebetulan semata, fakta tetap membuktikan aku dan Leo bukanlah saudara.
Lebih baik abaikan keanehan ini dan fokus dengan apa yang ada di depan mata.
Setelah selesai mengerjakan ulangan kemudian mengumpulkannya, guru langsung membagikan hasilnya setelah melakukan pemeriksaan dengan cukup cepat.
Aku tersenyum puas menatap angka 100 yang dapat kuperoleh. Terima kasih pada deretan buku yang sudah dibeli Leo dan kemampuan belajarku yang cepat, berkat dua hal itu aku bisa mendapatkan nilai sempurna.
"Kok nilainya bisa bagus begitu sih?"
"Tentu aja. Kau kan udah nggak masuk sekolah selama seminggu, masa malah dapat nilai sempurna sih?"
Iya juga ya. Kan ada jeda waktu seminggu antara terakhir kali Leo masuk sekolah dan aku yang sekarang menggantikannya, pasti aneh bisa mengikuti rangkaian pelajaran tanpa hambatan yang berarti. Aku menyesal sudah mengerjakan ulangan dengan serius.
Lebih baik aku membuat alasan yang terdengar masuk akal agar tidak dicurigai, "Selama nggak masuk sekolah aku iseng membaca buku, dan ternyata yang kupelajari justru jadi materi ulangan ini."
Bukannya terlihat mengerti, Daniel justru menaikkan salah satu alisnya dengan heran, "Apa setelah mengalami kecelakaan kau mendadak jadi pintar? Aku nggak bisa membayangkan seorang Leo mau repot-repot membaca buku."
Ughh... apa Leo tipe orang yang malas belajar? Walau sudah mencoba melakukan penyelidikan dahulu, tapi aku sangat tidak tahu mengenai sifat yang dimiliki Leo.
Leo merupakan orang asing yang belum kukenal. Seharusnya sejak awal aku mengaku mengalami Amnesia saja, kenapa aku begitu naif dengan menganggap semua bisa berjalan lancar sih?
"Mestinya kau santai-santai di rumah saat nggak masuk sekolah. Masa udah enak-enak diizinkan libur malah belajar sih?"
Ah... itu hal normal yang dilakukan anak seumurku saat bolos sekolah ya? Aku menghela napas dengan lega. Ternyata aku tidak melakukan kesalahan besar, ini hanyalah hal sepele yang luput dari pikiranku.
Kan Leo hanyalah anak SMA biasa, kenapa aku malah menyamankannya denganku sih? Padahal jelas-jelas kami berbeda.
♔
Jam istirahat menjadi momen yang sangat menakutkan untukku. Karena saat ini aku harus menghadapi rintangan yang paling berat, yaitu mengobrol bersama teman.
Ini benar-benar cobaan.
"Jadi gimana, Leo? Kamu setuju kan kalau kita merayakan kesembuhanmu? Kita bisa bikin acara kumpul-kumpul di cafe."
Aku sungguh bersyukur karena topik obrolan yang terjadi bukan bersifat personal mengenai Leo, tapi tetap saja ada batas yang tidak bisa kulewati karena ini adalah hidup Leo. Dia yang berhak bersenang-senang bersama temannya, bukan malah aku, "Kemungkinan aku belum diizinkan untuk pergi-pergi keluar. Pulang pergi ke sekolah aja masih dijemput agar aku tetap dalam pengawasan."
"Bukannya kamu selalu diantar jemput sejak masuk sekolah ya?"
Benar juga ya. Dalam informasi yang sudah kutahu, Leo belum bisa mengendarai mobil sendiri, jika mau pergi ke mana pun masih harus diantar jemput oleh sopir pribadi, "Tapi kali ini sopirku harus memberi laporan setiap kali aku mau pergi."
"Bagaimana kalau kumpulnya di rumahmu aja?"
Saran dari Fahri sangat masuk akal, tapi datang ke rumah justru bisa memunculkan masalah lain, "Maaf, tapi untuk sementara waktu aku nggak boleh mengajak teman main ke rumah."
Melihat raut kecewa yang tergambar jelas di wajah Fahri dan Andre membuatku harus mengkoreksi jawaban agar tidak terdengar seperti sebuah penolakan mutlak, "Lain kali kita bisa merayakannya kok, aku juga akan mentraktir kalian."
"Kalau begitu kami tunggu ajakannya."
"Jangan cuma janji-janji doang loh, Leo."
Aku tersenyum sambil mengangguk. Suatu saat Leo pasti akan melakukan semacam perayaan seperti yang mereka minta, aku yang hanya orang asing ini hanya bisa menjaga agar hubungan pertemanan yang sudah dibuat bisa terus berjalan dengan baik.
Aku tidak berhak merusak apa yang sudah Leo bangun. Yang bisa kulakukan hanyalah menjaganya, membuat semua berjalan lancar sampai saat di mana Leo akan menggantikan posisiku.
"Ah, maaf, ada yang harus kulakukan. Aku pergi dulu," saat melihat sesuatu yang berada di luar ruang kantin, aku buru-buru pamit pergi meninggalkan Andre dan Fahri begitu saja.
Setelah berada di pinggir lapangan sekolah, aku langsung melakukan hal yang tadi sangat menggangguku. Membantu seorang laki-laki yang terlihat berusia lima puluh tahunan yang kesulitan membawa sebuah kardus.
"Kubantu ya, Pak?" dengan gesit aku mengambil alih kardus dari tangannya.
Tapi karena pertolongan yang kulakukan sepertinya terlalu tiba-tiba, Bapak ini terkejut karena beban berat di tangannya menghilang, "Tidak perlu, Den. Ini pekerjaan saya."
Walau merupakan pekerjaannya, tapi tidak ada yang salah dengan menerima bantuan dari orang lain kan? Dan kenapa aku yang jauh lebih muda justru mendapat perlakuan yang lebih sopan? "Saya tetap ingin membantu Bapak."
Karena tidak berniat sedikit pun melepaskan kardus yang sudah kuangkat, ekspresi wajah bapak pekerja ini semakin terlihat panik, "Ini berat, Den, tidak perlu memaksakan diri."
Beban yang berada di tanganku saat ini terasa agak sedikit berat sih, tapi kalau yang membawanya adalah Bapak ini pasti terasa jauh lebih berat lagi, "Tidak terlalu berat kok, Pak. Jadi saya harus bawa ini ke mana?"
Bapak petugas menghela napas seperti sudah menyerah membujukku, "Ke ruang guru. Biar saya antar Anda ke sana."
Tidak terlalu jauh dari sini ya? Tadi saat mau menuju kelas, aku sudah melewati ruang guru sebelum naik ke lantai dua. Aku sangat yakin bisa sampai sana tanpa harus tersasar.
Tapi bapak petugas ini tetap mengikutiku sampai kami berada di ruang guru. Beliau mungkin ingin memastikan pekerjaannya benar-benar telah selesai dilakukan dengan bantuan dariku.
"Terima kasih banyak Den karena sudah membantu. Saya benar-benar mengucapkan terima kasih."
Melihat bapak petugas berterima kasih sampai membungkukkan tubuhnya setelah kardus sudah kuletakkan disalah satu pojok ruangan, aku panik, "Tolong jangan sampai membungkuk begini hanya untuk berterima kasih, Pak. Saya lebih muda dari Bapak, jadi tak perlu sungkan."
"Tapi saya benar-benar harus mengucapkan terima kasih karena sudah dibantu."
"Sudah seharusnya saya yang masih muda membantu orang yang lebih tua. Tolong jangan terlalu berlebihan hanya karena bantuan kecil dari saya."
"Ini pertama kalinya ada yang mau menolong dan juga membantu seperti ini. Dan lagi saya hanya pesuruh, Den, seharusnya saya yang membantu Anda."
Apa pemilihan kata pesuruh tidak terlalu kasar? Meski aku tidak tahu pekerjaan Bapak ini secara spesifik, tapi memilih kata pesuruh tentu terlalu merendahkan, "Justru aneh kalau saya yang meminta Bapak mengangkat kardus seperti tadi."
"Tapi biasanya saya yang disuruh oleh murid-murid di sini."
Jadi ada siswa yang berani menyuruh-nyuruh seorang bapak tua? Apa dia tidak punya hati? Mungkin ini adalah sekolah orang kaya, tapi setidaknya mereka harus peka pada keadaan orang lain dong!
Aku menghela napas dengan lelah. Walau harus membiasakan diri berada di lingkungan kehidupan Leo, tapi sepertinya sifat asliku tidak bisa dihilangkan jika sudah menghadapi situasi seperti ini.
♚♕ ➡ ♕♚