
"Kau sekarang sudah menjadi cowok yang sangat populer, Leo. Perbuatan baikmu benar-benar membuahkan hasil."
Gerakan tanganku yang ingin memakan nasi goreng seketika terhenti saat mendengar ucapan Andre, "Perbuatan baik?"
Jari telunjuk Andre bergerak seolah ingin menunjuk semua orang yang saat ini sedang berada di kantin sekolah, "Karena apa yang kamu lakukan kemarin, sekarang banyak cewek yang tergila-gila padamu. Kau senang?"
Tidak. Setelah tahu alasanku bisa menarik perhatian adalah karena sudah membantu bapak petugas yang kemarin, aku sama sekali tidak senang. Niatku ingin menolong kan bukan karena ingin dikagumi oleh kaum hawa.
"Oh ya, kudengar Dewi juga menyukaimu ya? Hati-hati dengan pacarnya loh, dia mudah marah dan kabarnya nggak ragu untuk melabrak orang yang sudah membuatnya kesal."
Hee... di sekolah orang kaya ada juga yang memiliki sifat seperti berandalan ya? Aku mengangguk mengerti sambil melanjutkan kegiatan makanku yang sempat terhenti, "Aku akan berhati-hati."
"Tapi kenapa nggak sejak awal kamu memamerkan perbuatan baik jika ingin populer? Aku lihat disalah satu foto di Instagram, kamu pernah memberi sumbangan ke panti asuhan. Seharusnya kamu post foto itu, jangan cuma kena tag doang."
Leo memang memiliki jiwa sosial. Aku bisa mengetahui hal ini karena sudah melihat galeri ponsel Leo yang berisi beberapa kegiatan sosial yang pernah dilakukannya. Jika ingin pamer, seharusnya bisa dilakukan dengan sangat mudah. Tapi Leo tidak melakukan hal itu.
Mungkin dia juga sama sepertiku yang tidak suka memamerkan hal baik yang sudah dilakukan, "Perbuatan baik dilakukan nggak untuk dipamerkan, jadi aku nggak mau melakukannya."
"Aku nggak tahu Leo bisa sangat baik seperti ini."
Jika tak melihat galeri ponselnya, aku juga tidak mengetahui sisi baik yang tersembunyi ini. Ah, tapi sekarang secara tidak langsung aku malah mengungkapkan sifat baik Leo. Dia mungkin marah ya?
♔
Tadi pagi aku sempat berpikir bisa sedikit merasa lega jika berada di sekolah dibanding harus berada rumah. Tapi sekarang aku harus meralatnya.
"Lo berani bangat deketin pacar gue! Jangan sok tebar pesona deh sama dia! Dia tuh milik gue."
Kenapa sekarang aku harus berada di situasi seperti ini sih? Pak Rahmat -nama sopir Leo- sudah menunggu di luar pagar sekolah, tapi sekarang aku malah dihalangi dan dilabrak begini.
"Lo tahu siapa gue kan?"
Apa dia sebegitu populernya sampai seluruh murid sekolah mengenalnya? Aku tidak punya informasi tentang orang ini, tapi dari ucapannya bisa langsung kuketahui dia merupakan pacar Dewi.
Hmm... sepertinya kakak kelas ya? Aku paham jika dia bisa bersikap sok berkuasa dan berani melakukan hal seperti ini di lorong sekolah yang sedang ramai. Akan sangat mencolok ya jika aku sampai lupa peranku sebagai Leo? Daripada menunjukkan sikap perlawanan dan bisa menyulut emosinya, aku memilih untuk menunduk, menunjukkan gestur seolah sedang merasa takut.
"Jika nggak mau cari ribut sama gue, lo harus menjauh dari Dewi."
"Baik."
"Jawab yang bener!" aku tersentak kaget saat kerah seragamku tertarik dengan keras dan membuatku harus menatap wajah kesal sang kakak kelas, "Aku tidak akan mendekatinya."
Sebuah seringai puas tergambar di wajah itu, tangannya pun langsung melepas kerah seragamku. Tapi yang berikutnya dia lakukan justru mengacak-acak puncak kepalaku dengan kasar seperti sengaja ingin menjambak rambutku, "Bagus, lo jangan sok berani lagi mendekati pacar kakak kelas."
Dia yang mendekat sendiri!
Jika tidak mau Dewi sampai melirik laki-laki lain, seharusnya jagain dia selama dua puluh empat jam non stop! Sudah tahu punya pacar yang lenjeh, lebih protektif lagi dong menjaganya!
"Kenapa lo natap gue begitu? Mau nantangin?"
Wajahku berpaling menatap ke arah lain. Batas kesabaranku habis sampai tidak sengaja memberikan tatapan menantang padanya.
Tenanglah... jangan sampai tersulut emosi. Aku Leo, jangan mencari masalah saat sedang menjadi orang lain.
"Ya udah, sekarang lo bisa pergi. Tapi awas aja kalau lo masih deketin Dewi, gue nggak bakal kasih ampun lagi!"
Karena sudah disuruh pergi, aku langsung melangkah dengan cepat agar bisa keluar dari sekolah. Terlalu lama di situasi seperti ini bisa-bisa membuatku lepas kendali.
Aku tidak boleh membuat orang tua Leo cemas jika sampai membuat masalah di sekolah. Tidak boleh ada luka yang disebabkan perkelahian, tidak boleh juga ada panggilan dari pihak sekolah karena sebuah pertengkaran.
Tapi tanganku rasanya gatal sekali ingin melampiaskan rasa kesal ini, "Apa aku boleh mampir ke pasar dulu sebentar?"
Setelah masuk mobil, Pak Rahmat terlihat bingung mendengar permintaanku, "Saya disuruh mengantar Anda langsung pulang ke rumah."
"Kalau begitu tolong antar aku agar bisa cepat sampai di rumah."
"Apa terjadi sesuatu, Den? Ekspresi wajah Anda terlihat berbeda."
Kedua tanganku menutupi ekspresi marah yang saat ini pasti tergambar jelas di wajahku, "Aku hanya ingin cepat-cepat berada di rumah aja."
♔
Untuk tidak membuat image Leo dianggap buruk, aku mencoba menahan diri agar tidak lepas kendali. Tadi di sekolah bisa dikatakan cukup berhasil, tapi aku masih ingin melampiaskan amarahku.
Jadi setelah sampai rumah, aku langsung menuju dapur dan mengabaikan larangan Bibi Erni yang tidak memperbolehkanku menggantikan pekerjaannya.
Tapi karena tanganku sangat gatal ingin melakukan sesuatu, aku pun mengambil sebuah pisau lalu memotong semua bahan makanan yang sudah disiapkan oleh Bi Erni dengan sangat gesit.
"Hati-hati, Den. Nanti tangan Anda terluka."
"Sudah biasa?"
Gerakan tanganku terhenti sesaat karena ingat yang biasa melakukan hal ini adalah aku, bukan Leo. Sifat asliku muncul lagi ya? "Iya, sudah sangat biasa. Bahkan yang kupotong bisa lebih berbahaya dari ini."
Kalau saat ini sedang tidak berpura-pura menjadi Leo, aku pasti akan pergi ke pasar untuk mencari pekerjaan sampingan.
Pekerjaan yang dilakukan tentu saja memotong. Entah memotong daging kambing, sapi, ataupun ayam. Yang jelas rasa kesalku baru hilang setelah selesai melakukan kerja sambilan semacam itu.
Bahkan aku sampai dijuluki psikopat pasar karena ekspresi kesal yang kutunjukkan saat sedang memotong katanya sangatlah menyeramkan. Tapi ini sudah menjadi kebiasaan yang pasti dilakukan untuk melampiaskan kemarahanku.
"Tapi Den Leo harus hati-hati, Nona Laila bisa marah pada saya kalau Anda sampai terluka."
Mama memang mudah merasa khawatir. Wajar sih sampai berlebihan, Leo kan anak semata wayang, pasti disayang bangat lah.
Leo yang berasal dari keluarga kaya kemungkinan besar tidak mungkin menginjakkan kaki di dapur untuk memasak. Sedangkan aku, kantor polisi pun pernah dimasuki hanya karena sebuah kesalahpahaman.
Lingkungan hidupku jauh sekali perbedaannya dengan Leo. Aku hidup dengan segala macam sisi negatif kota Jakarta. Terutama premanisme. Dari yang sekedar memalak, main judi, sampai pesta narkoba juga ada.
Entah kenapa mendadak aku kangen dengan suasana tempat tinggalku. Saat menjadi Leo, hidupku terlalu damai. Kakak kelas yang tadi memakiku bahkan tak sebanding dengan orang-orang yang suka mencari masalah denganku.
"Den, apa saya boleh mengetahui nama asli Anda? Jika tidak ada Tuan dan Nona, saya ingin membuat Anda nyaman dengan memanggil nama asli Anda."
Aku tersenyum sambil menggeleng perlahan, "Tidak perlu, Bi. Aku di sini untuk menjadi Leo, jadi aku tidak mau namaku dipanggil di rumah ini. Bibi tahu aku bukan Leo saja sudah membuatku senang. Setidaknya sesekali aku bisa menjadi diri sendiri."
"Tapi–"
Pandanganku beralih untuk menatap wajah Bi Erni yang menunjukkan guratan kecewa, "Aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Leo, tapi aku ingin Pak Albert dan Bu Laila merasa nyaman dengan kehadiranku di sini."
Bibi Erni ikut tersenyum sepertiku, "Anda memang baik. Jika Den Leo sudah kembali ke rumah, kalian pasti bisa menjadi teman baik."
Teman baik ya? Aku juga mengharapkan hal yang sama, tapi aku juga tahu ini tidak mungkin bisa terjadi dengan mudah, "Oh ya, jika lain kali Bibi kesulitan untuk memotong daging, jangan ragu meminta bantuanku ya? Aku tahu berbagai macam teknik memotong loh."
"Kalau tidak ada Tuan dan Nona, saya pasti akan minta bantuan Anda agar bisa mendengar kisah hidup Anda seperti ini."
Aku tidak dapat menahan tawaku, "Hidupku penuh dengan hal negatif loh. Bibi pasti merasa khawatir karena Leo sekarang digantikan olehku."
"Tapi Anda terlihat seperti anak baik-baik kok. Saya bahkan yakin beberapa sisi baik Anda tidak dimiliki oleh Den Leo."
Rasanya ada terlalu banyak orang yang berekspetasi tinggi padaku, padahal hidupku dipenuhi oleh banyak unsur negatif, "Tolong jangan terlalu melebih-lebihkanku. Aku bahkan pernah berurusan dengan polisi gara-gara narkoba."
Dengan canggung aku menggaruk pipiku menggunakan tangan kiri saat ingat kejadian setengah tahun lalu, "Salahku juga sih karena tidak langsung pergi meski tahu ada pesta narkoba, polisi jadi ikut menangkapku. Tapi karena aku tidak memakai dan para pecandu itu justru menuduhku melapor pada polisi, aku pun dibebaskan. Bahkan saat itu polisi sampai meminta kerja samaku untuk melapor jika ada pesta narkoba lagi."
"Lingkungan hidup Anda sepertinya sangat berat ya?"
Memang, makanya aku tidak ingin dianggap baik karena beberapa sifat yang kumiliki sudah terpengaruh dengan daerah tempat tinggal yang selama ini membesarkanku.
Terkadang aku merasa sangat iri pada Leo yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang dari orang-orang di dekatnya.
"Leo, sedang apa kamu di dapur?"
Secara refleks aku langsung melepaskan pisau yang dipegang tangan kananku lalu menatap ke arah Mama yang entah sejak kapan sudah berada di dapur, "A- aku hanya ingin menanyakan apa yang dimasak Bibi Siti untuk makan malam. Kenapa Mama sudah pulang? Bukannya Mama bilang baru pulang malam hari?"
"Awalnya Mama berniat pulang ke rumah jam tujuh malam, tapi karena dokter melarang, jadi Mama memilih untuk langsung pulang."
Dokter? Dengan cemas aku berjalan mendekat, "Apa Mama sedang sakit?"
Mama menggeleng sambil memberikan senyum lembut, "Tidak, tadi Mama hanya ingin berkunjung saja kok."
Benar juga, Mama pasti ingin bersama dengannya selama yang dibisa. Mana mungkin aku bisa mengobati rasa cemas dan rindunya, "Apa keadaa–"
"Bagaimana kalau Leo sekarang menemani Mama mengobrol saja?"
Karena tanganku langsung ditarik, aku pun mengikuti langkah Mama menuju ruang tamu. Setelah duduk berdampingan, dengan halus Mama mengelus kepalaku, "Kamu sepertinya jauh lebih terbuka dengan Bibi Erni ya? Mama kan juga ingin mendengarmu bercerita."
"Maaf," aku hanya bisa menunduk karena merasa bersalah.
"Kamu selalu saja menahan diri setelah tinggal di sini. Kamu boleh tetap menjadi Rio kok walau sedang bersama dengan Mama."
Dengan terkejut aku menatap wanita yang sedang duduk di samping kananku. Ini pertama kalinya nama asliku disebut setelah tinggal di sini.
Seolah mengabaikan ekspresi terkejut yang aku tunjukkan, Mama memelukku dengan penuh kasih sayang, "Rio juga harus menganggapku sebagai orang tuamu sendiri ya? Tidak adil jika Rio hanya memikul beban Leo saja. Kamu boleh beristirahat dan menjadi diri sendiri saat merasa lelah. Mama tidak ingin membebanimu dengan terus-menerus menjadi Leo."
Tanpa bisa ditahan, air mata mulai menetes membasahi pipiku. Ini pertama kalinya aku sebagai Rio dipeluk dengan penuh kasih sayang oleh seorang ibu.
Terasa hangat dan menenangkan. Membuatku mengerti bagaimana rasanya memiliki orang tua yang begitu menyayangiku.
♚♕ ➡ ♕♚