
Bisa bertukar identitas dengan Rio di sekolah adalah hal yang menarik, tapi kami melakukannya bukan untuk bersenang-senang. Kami baru mau bertukar identitas jika ada masalah yang datang dan tidak bisa diselesaikan sendiri.
Beruntungnya aku sudah sedikit membantu permasalahan Rio, dan Rio juga sepertinya sudah menyelesaikan masalahku, jadi kami bisa datang ke sekolah masing-masing hari ini tanpa harus bertukar identitas lagi.
"Oh ya, yang kemarin datang ke sekolah benar-benar kembaranmu?"
"Gimana?" aku yang sedang asyik bermain game di ponsel langsung berpaling menatap Andre yang duduk di hadapanku dengan bingung.
Apa tadi dia baru menanyakan tentang Rio yang menggantikanku di sekolah?
"Leo mengatakan punya kembaran kan? Jadi kemarin dia menggantikanmu selama di sekolah?"
Ternyata aku tidak salah dengar, Andre memang mengetahui tentang Rio yang kemarin menggantikanku. Tapi kenapa bisa? Mustahil Rio mau membongkar identitasnya dengan mudah, "Kok tahu?"
"Dia lebih pintar darimu, jadi sangat jelas terlihat bedanya saat sudah menghadapi pelajaran yang sulit," jawab Daniel yang duduk di sampingku sambil menyeringai.
Seringai menyebalkan yang sedang meledek karena tahu aku tidaklah sepintar Rio. Ck, menyebalkan, "Jangan membandingkan kami deh, dia jenius tahu."
Andre bersiul kagum, "Pasti berat ya punya saudara angkat seperti itu?"
Berhubung kepintaran Rio digunakan untuk mengajariku belajar, aku tidak merasakan beban berat apapun. Justru menyenangkan karena mendapat guru les pribadi.
Dan berkat ajaran dari Rio juga, keabsenanku selama dua minggu saat mengalami koma bisa cepat dikejar dengan rutin mengajariku belajar nyaris setiap hari. Sungguh beruntung karena mendadak memiliki saudara sepertinya.
"Dia juga sangat perhatian loh. Dia bahkan sampai menyuruh kami melapor jika sesuatu terjadi padamu."
Hanya saja sikap protektifnya sungguh membuat kesal. Aku kemarin memang menyuruhnya mengurus Rian, tapi tidak perlu sampai membuat teman-temanku tahu kan? "Jangan laporkan apapun padanya. Cukup menjengkelkan tahu punya kembaran yang mudah khawatir seperti Rio."
"Hm... jika diperhatikan dan disuruh mencari perbedaan, Rio sepertinya lebih menunjukkan aura misterius ya?"
Kenapa malah mengganti topik pembicaraan dengan membahas perbedaanku dan Rio? Tapi penilaian Andre memang benar sih, Rio itu sangatttt misterius, "Meski memiliki sifat dasar seperti itu, Rio punya rasa peduli yang tinggi pada orang lain loh. Selama nggak sedang marah, Rio punya kadar kebaikan yang berlebihan."
"Apa yang terjadi jika dia sampai marah?"
Sepertinya Daniel tidak mengabaikan ucapanku sedikit pun ya? Dia terlalu fokus dengan ucapanku mengenai 'selama tidak marah'. Tapi aku memang sengaja mengatakan agar mereka tahu, "Dia menunjukkan sikap nerd seolah cuma tahu tentang belajar doang, tapi sebenarnya dia badboy yang bisa berkelahi dan menang melawan geng berandalan."
Seolah ingin meyakinkan ucapanku, dengan sengaja aku menunjukkan ekspresi mengancam yang pernah kulihat dari wajah Rio, "Lalu dia nggak melakukan hal yang membuatku ikutan mendapat julukan badboy kan? Aku kurang suka terkenal dengan image seperti itu."
"Dia nggak melakukan apa-apa."
Aku menyentuh pipi kananku, memastikan sudah memberikan ekspresi mengancam yang tepat atau masih kurang, "Yakin? Dia kemarin kan menggantikanku karena ingin menghadapi Rian yang udah berani menyuruh orang untuk menghajarku."
Andre menggeleng, "Rian terlihat takut tanpa membuat Rio melakukan apapun. Dan tolong berhenti menunjukkan ekspresi seperti itu."
Ekspresi wajahku langsung terganti dengan raut kebingungan. Rian takut hanya dengan melihat wajahku saja? Kenapa?
"Aku juga nggak ngerti kenapa, tapi Rian sudah dulu menunjukkan ekspresi takut melihat wajahmu dan membuat Rio juga bingung karenanya," lanjut Daniel sambil mengangkat kedua bahunya.
Hm... jika diingat kembali, Rian memang sudah kena pukul oleh Leon sih. Bahkan saat ada polisi yang memergoki aksi kekerasan itu, Rian yang justru disalahkan hanya karena aku yang terlibat disangka sebagai Rio dan ucapanku lebih dipercaya.
Apa karena tindakan yang dilakukannya sudah merugikan diri sendiri, Rian kapok sampai merasa takut padaku ya? Masuk akal juga sih.
"Jadi apa yang terjadi?" tanya Andre yang sepertinya sadar aku sedang mengolah informasi yang diberikannya.
"Rian dipukul oleh orang bayarannya dan disalahkan polisi karena ketahuan berniat membuatku babak belur."
Alasan yang kuucapkan memang terdengar masuk akal. Tapi mengingat penyebab Rian membenciku, seharusnya dia belum jera terus mencari masalah sampai Dewi bosan mendekatiku.
Apa ada semacam alasan baru yang membuat Rian tiba-tiba berubah menjadi begitu takut saat melihatku? Kok perubahan sikapnya membuat penasaran begini sih? Apa aku harus bertanya langsung padanya?
"Leo, jika kau terus-terusan menunjukkan ekspresi yang seperti ingin mengancam begitu, semua orang yang saat ini berada di kantin bisa memberikan image badboy tanpa kau harus melakukan apa-apa loh."
Aku menatap Daniel dengan heran. Jadi aku benar-benar bisa meniru salah satu ekspresi wajah Rio ya? "Aku bisa melakukannya?"
"Melakukan apa?"
"Ekspresi mengancam," jawabku yang tidak dapat menahan rasa penasaran karena sekarang tidak ada cermin yang dapat dipakai untuk menatap wajah sendiri.
Daniel mengangguk, "Cukup untuk membuatku merasa ngeri saat melihatnya."
"Ya, sampai memberikan efek nggak nyaman juga," tambah Andre untuk menyetujui ucapan Daniel.
"Bagus, ternyata aku bisa juga meniru ekspresi Rio," ucapku yang cukup senang karena memiliki kesempatan menghadapi Rian dengan cara berpura-pura menjadi Rio.
"Apa?"
Aku mengacungkan ibu jari tangan kananku untuk meyakinkan Andre tidak salah dengar, "Aku sedang meniru ekspresi Rio. Dan aku baru tahu jika aku bisa melakukannya juga. Puas bangat rasanya karena para berandalan yang suka mencari masalah dengan Rio memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mengetahui identitas asliku."
♔
Hanya teman-teman dekatku, Rio, anak buah Leon, dan gengnya Rian saja yang tahu mengenai aksi bullying dengan melibatkan anak sekolah lain yang nyaris terjadi dua hari yang lalu. Selebihnya tidak ada murid SMA Tirta Bangsa lain tahu akan hal itu.
Memang sih adegan yang sangat berbahaya itu tidak banyak diketahui oleh orang lain, tapi jika melihatku dan Rian berdiri saling berhadapan di tempat parkir saat sekolah usai, tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi murid-murid yang berniat ingin pulang dari sekolah.
Aku tak peduli dengan perhatian mereka karena terlalu penasaran kenapa Rian terlihat begitu risi padaku, "Ada yang ingin gue tanyakan."
Rian berdecak kesal sambil menunjukkan gestur tidak nyaman, "Apa yang mau lo tanyain? Cepetan deh, gue mau pulang."
Aku melipat kedua lenganku sambil menunjukkan ekspresi marah Rio. Sungguh menyenangkan karena bisa balik membuat Rian merasa risi, "Kenapa lo terlihat nggak nyaman ngomong sama gue? Apa Leon, orang suruhan lo itu memberi ancaman lagi?"
Kedua netra Rian langsung tertuju padaku karena emosinya tersulut, "Lo pikir gue takut? Nggak bakal. Khayalan lo jangan ketinggian deh!"
"Masa? Jika nggak merasa takut, lalu kenapa lo sejak tadi terus menunjukkan gestur nggak nyaman?"
Rian berdecak kesal, "Lo ingin tahu kenapa sikap gue kelihatan berubah?"
Untuk apa aku repot-repot bicara dan menarik perhatian begini jika tidak ingin tahu alasannya? Kenapa dia menanyakan pertanyaan retoris sih?
"Sebelumnya lo pernah bilang mengenai lo yang dipercaya kapolres Jaktim kan? Karena nggak terima udah disalahkan, gue pun sampai datang ke sana dan nggak sengaja ketemu Pak kapolresnya. Dan tahu apa yang dia bilang? Lo calon menantunya dan juga merupakan intern pribadinya."
Personal intern. Berat bangat tanggung jawabmu, Rio. Padahal mengakunya hanya mendapat sedikit kepercayaan oleh kapolres, tapi yang menjabat sebagai kapolres justru menganggap sebagai personal intern.
Luar biasa. Aku merasakan beratnya tanggung jawab karena Rian bicara seolah-olah aku yang berada di posisi Rio. Apa lebih baik aku langsung mengaku agar tidak menimbulkan salah paham yang semakin parah ya?
Lebih mudah dianggap memiliki backup kembaran yang bisa melindungiku kapan pun dibanding dianggap sebagai orang kepercayaan kapolres kan?
♚♕ ➡ ♕♚