L/R

L/R
16.L



"Kenapa sih ngeliatin mulu? Rio nggak suka aku minta diajarkan belajar?" merasa risi dengan tatapan Rio yang terus mengarah padaku, aku balik menatap dengan heran.


Rio menggeleng, "Aku udah sering ngajarin orang lain kok."


Aku mengernyit tidak mengerti, jika bukan karena tidak suka, lalu kenapa? "Ah, apa Rio penasaran dengan hasil pemeriksaan dokter yang tadi dilakukan? Mata kanan-kiriku minus satu."


"Tunggu dulu, jika matamu minus kok nggak pakai kacamata? Seharusnya Leo sudah membelinya kan?"


Memang sudah, tapi ada insiden yang membuatku tidak ingin memakai kacamata setiap saat, "Udah beli dan juga udah coba dipakai. Tapi saat mau turun tangga, aku kesandung dan hampir terjatuh karena nggak bisa membedakan tinggi rendahnya jalan. Jadi aku memutuskan untuk memakainya kalau sedang membaca aja."


"Lalu kenapa sekarang nggak dipakai?"


Kan jarakku yang sedang duduk dan buku yang berada di atas tempat tidur tidak terlalu jauh, untuk apa memakai kacamata jika semua tulisan di buku bisa terbaca dengan sangat jelas? "Kan cuma baca buku doang. Kalau jaraknya dekat begini, aku masih bisa membacanya tanpa perlu pakai kacamata."


Rio mengangguk mengerti, tapi melihat ekspresinya belum juga berubah, aku tahu masih ada hal yang ingin dibicarakan, "Kenapa menunjukkan ekspresi bersalah begitu sih? Bicara aja deh kalau ada masalah. Rio tadi bertemu dengan ayahmu?"


Rio menggeleng dengan cepat, "Ini bukan mengenai ayah. Tadi aku bertemu dengan teman sekelasmu dan dia salah mengenaliku."


Oh jadi begitu, Rio merasa bersalah karena membiarkan orang lain salah mengenalinya ya? "Wajah kita kan mirip, wajar ada yang salah kenal. Lagian nggak sampai menyebabkan masalah kan?"


"Aku hanya sedikit mengobrol dengannya aja kok."


Rio sudah berhasil berperan menjadi diriku selama dua minggu, pasti dia bisa mengatasi hal semacam ini dengan mudah. Tapi sepertinya Rio masih belum terbuka denganku ya?


Kami memang belum terlalu saling mengenal sampai bisa bercanda dan berbagi rahasia bersama. Tapi aku ingin cepat-cepat menjalani hubungan seperti saudara pada umumnya. Apalagi Rio masih memiliki ayah, waktuku untuk bersamanya kemungkinan sangatlah terbatas.


Sebelum menyesal, aku ingin berusaha agar semakin dekat dengan Rio. Bahkan aku sampai minta diajari belajar seperti ini meski jurusan sekolah yang kami ambil berbeda. Tapi sepertinya usahaku masih kurang ya? "Oh ya, apa besok setelah pulang sekolah Rio ada waktu?"


"Besok aku harus berada di sekolah sampai sore. Karena disuruh ikut lomba cerdas cermat antar sekolah, aku harus menambah jam belajarku."


Jadi Rio sibuk untuk beberapa hari ke depan ya? Dia sudah seperti seorang jenius sejati, tapi aku mengerti jika dia masih membutuhkan belajar saat harus ikut cerdas cermat.


Tunggu, kenapa dia bisa ikut lomba cerdas cermat padahal baru beberapa hari sejak menjadi murid SMA? Apa tidak ada kakak kelas yang menjadi perwakilan sekolah?


"Kenapa Leo menanyakan jadwalku?"


Aku menghela napas dengan kecewa dan mencoba menghilangkan pemikiran aneh tadi, "Aku cuma ingin ngajak Rio jalan-jalan aja kok. Kalau begitu besok aku main ke panti asuhan Kasih Mulia aja deh."


"Kalau habis isya, sekitar jam setengah delapanan aku bisa kok, tapi jika Mama dan Papa memberi izin kita pergi malam loh."


Mataku berbinar senang menatap Rio yang duduk di hadapanku, "Jika perginya dengan Rio, Mama memperbolehkannya kok. Jadi besok kita bisa quality time berdua?"


Melihat Rio mengangguk setuju, aku langsung tersenyum senang. Akhirnya dia mau juga berinisiatif mengajak duluan! "Ah, tapi pulang sekolah aku tetap mau main ke panti. Aku juga mau dekat dengan adik-adikmu."



Biasanya sepulang sekolah aku langsung pulang dan makan masakan buatan Bibi Erni, tapi sekarang aku diperbolehkan mendatangi food court yang memiliki banyak stand makanan.


Semua berkat Rio yang pernah mengajak datang ke sini, sekarang aku jadi bisa mencoba berbagai macam jenis makanan. Karena Rio yang memberikan rekomendasi, aku pun diberi izin makan sendirian begini.


Walau saat jam makan siang tempat ini banyak dikunjungi oleh anak seumuranku dan juga pekerja kantoran, tapi tempatnya cukup besar karena ada banyak stand yang menjual makanan dengan jenis berbeda.


Sedikit bingung sih saat harus memilih, tapi akhirnya aku memilih makanan yang sama seperti saat Rio mengajak ke sini. Terkadang aku memang baru merasa puas jika sudah mencobanya dua kali.


"Boleh aku ikut duduk di sini?"


Saat sedang menunggu pesanan, aku menatap ke arah laki-laki paruh baya yang berdiri di hadapanku, pasti sudah tidak ada tempat duduk yang tersisa selain meja yang kutempati ya? "Iya, silakan."


Setalah Paman ini duduk di hadapanku, aku mengernyit saat merasakan senyum yang sedang ditunjukkan olehnya terasa tidak asing lagi. Kok senyum ini mirip seperti senyum orang yang sudah kukenal ya? Tapi siapa?


"Apa kamu sering makan di sini?"


"Eh, tidak. Ini baru yang ke dua kalinya kok," karena tiba-tiba diajak bicara, tanpa sadar aku justru menjawab dengan nada suara gugup.


"Apa kamu bisa merekomendasikan makanan yang menurutmu paling enak?"


Saat mata sang Paman kembali menatapku, ada perasaan dejavu yang kembali membuat heran.


"Nak? Ada apa?"


"Ma- maaf," dengan panik aku beralih menatap stand-stand yang berjualan, "bagaimana kalau ayam penyet, soto ayam, atau sate? Dari yang kulihat tiga makanan itu yang paling sering dipesan oleh pengunjung di sini."


"Lalu di antara tiga makanan itu, mana yang paling kau suka?"


Tanganku menunjuk ke arah salah satu stand dengan semangat, "Kemarin aku makan ayam penyet, rasanya enak bangattt.... Aku bahkan sekarang sudah memesannya lagi."


"Kalau begitu aku juga mau memesan makanan yang sama."


Dengan gerakan cepat aku kembali menatap dengan heran saat mendengar keputusan sang Paman, "Apa tidak apa-apa? Paman belum tentu suka dengan apa yang kusukai loh."


Sebuah senyum ramah kembali tergambar di wajahnya, "Tidak masalah kok. Paman justru senang karena sekarang punya teman makan seperti ini. Rasanya seperti sedang makan dengan anak sendiri."


Ah, aku mengerti. Perasaan dejavu yang sempat kurasakan terjadi karena aku ingat dengan Papa. Kami mungkin tidak pernah makan berdua di food court, tapi sorot mata lembut Paman ini mengingatkanku pada Papa.


Papa selalu sibuk bekerja, rasanya sudah cukup lama aku tidak makan sambil mengobrol santai berdua dengan Papa seperti ini. Kapan kami bisa melakukan makan bersama di luar lagi ya? "Paman mengingatkanku pada Papa."


Saat sadar sudah menyuarakan pikiranku dan melihat ekspresi sang Paman yang terkejut, aku langsung panik, "Ma- maaf jika tidak sopan. Aku tadi kepikiran ingin makan bersama dengan Papa, jadi tanpa sadar mengatakan hal tadi."


"Tidak apa-apa. Pasti lebih menyenangkan kan bisa makan bersama dengan orang tua? Kamu juga sudah Paman anggap seperti anak sendiri kok."


Melihat ekspresi lembut yang ditunjukkan wajahnya, entah kenapa aku justru merasa iri. Anak Paman ini pasti bahagia mempunyai orang tua yang begitu pengertian ya? Aku juga ingin Papa jauh lebih memedulikanku dibandingkan pekerjaan.


Aku tahu Papa sibuk bekerja untuk diriku juga, tapi setidaknya aku ingin lebih sering makan bersama dengan Papa.


Ah, tapi walau sudah makan bersama, Papa pasti lebih memperhatikan ponsel dan tidak benar-benar fokus menghabiskan waktu bersama keluarga. Sangat berbeda dengan Mama yang masih mengajakku bicara saat kami makan bersama.


Aku menghela napas dengan pasrah. Padahal sejak dulu aku sudah mengerti dengan kesibukan Papa, tapi kenapa sekarang justru punya pikiran kekanakan begini sih?


"Terima kasih sudah menemani Paman makan siang ya."


Seolah sudah melupakan waktu karena terlalu banyak melamun, aku dengan bingung menatap ke arah sang Paman yang ternyata sudah selesai makan lebih cepat dariku, "Makasih juga karena sudah menemaniku. Oh ya, apa aku boleh mengetahui nama Paman?"


"Rizal."


"Paman Rizal ya? Salam kenal Paman, aku bernama–" aku langsung berhenti bicara saat mendengar suara ponsel yang kuletakkan di atas meja, ada panggilan dari Rio, "maaf, aku angkat telepon dulu ya?"


Melihat Paman Rizal mengangguk, aku membalikkan tubuh untuk mengangkat panggilan, "Ada apa?"


"Kau sudah di panti?"


"Belum, aku masih makan di food court dekat sekolahmu. Emang kenapa?"


"Sepertinya aku baru bisa pulang sekolah sekitar jam lima sore deh. Leo pulang aja duluan, Mama bisa mencemaskanmu."


Aku mengerutkan dahi dengan bingung, "Kita nggak jadi jalan?"


"Setelah isya aku akan menjemputmu dari panti."


Kita kan tinggal di satu rumah yang sama, kenapa malah melakukan janjian aneh begini sih? Aku menghela napas dengan pasrah, "Ya udah, kalau begitu kutunggu di rumah. Sampai jumpa."


Setelah mematikan sambungan telepon, aku menatap layar ponsel dengan pandangan heran. Sikap Rio terlalu membingungkan untuk bisa dimengerti ya?


"Ah, maaf Pa–" saat kembali membalikkan tubuh, Paman Rizal sudah tidak ada bersamaku.


Bukannya tadi aku belum selesai berkenalan? Kenapa aku langsung ditinggal seperti ini? Apa Paman Rizal sedang terburu-buru sampai pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu?


Yah, sudahlah. Setidaknya aku bisa melakukan makan siang dengan perasaan puas. Meski tadi kami tidak banyak mengobrol, tapi aku tetap merasa senang.


Lain kali aku harus melarang Papa untuk tidak menggunakan ponsel saat berada di meja makan. Jika bisa lepas dari kesibukan pekerjaan, kegiatan makan pasti terasa jauh lebih menyenangkan dibanding saat makan bersama Paman Rizal.


♚♕ ➡ ♕♚