
Saat SMP, aku mendapat image nerd yang langsung direvisi menjadi fake nerd. Revisi dilakukan dengan alasan masuk akal, aku yang terlihat suka berkutat membaca buku dan cuma tahu belajar ternyata dapat berkelahi untuk melindungi diri sendiri.
Jadi meski harus kembali mendapat perubahan pandangan dari siswa-siswi SMAN 18, aku masih bisa begitu santai berdiri di hadapan seseorang yang memakai seragam batik SMA Raseda.
Tidak sembarang orang dapat melakukan ini. Apalagi yang dihadapi sudah mendapat reputasi buruk karena menjadi pemimpin tawuran.
Sebenarnya ini bisa menjadi masalah serius jika guru sampai memanggilku ke ruang BK, tapi aku tidak punya pilihan selain menyuruh Leon datang ke sekolahku. Masalah akan semakin panjang jika aku yang mendatangi SMA Raseda karena sebagian muridnya adalah orang-orang yang pernah terlibat perkelahian denganku.
"Kenapa ngeliatinnya gitu? Mau ngerokok juga?"
Dengan jengkel aku memelototi puntung rokok yang berada di tangan Leon. Kenapa dia merokok tanpa peduli tempat sih? "Lo mau ngajak berantem ya?"
"Bukannya lo yang mau ngajak berantem dengan nyuruh gue dateng ke sekolah lo?"
Jika hanya ingin menantang berkelahi, aku pasti mendatangi SMA Raseda tanpa memikirkan masalah yang dapat terjadi. Tapi karena tidak ada niat bertengkar, aku sengaja menyuruhnya mendatangi SMAN 18, "Gue nggak nantangin sekolah lo tawuran kok."
"Kalau nggak ada lo, sekolah ini cuma diisi orang-orang cupu doang, nggak ada asyiknya dijadikan lawan tawuran."
Iya sih, tapi itu hal yang sangat disyukuri karena aku tidak perlu menghabiskan masa SMA-ku dengan aksi kekerasan di sekolah, "Gue denger lo nolong orang yang punya wajah mirip dengan gue. Bukannya lo dendam bangat sama gue? Kok justru nggak ambil kesempatan itu untuk memberi pelajaran ke dia?"
Leon tertawa keras sampai membuat beberapa orang memperhatikan kami karena terkejut, "Kembaran lo yang sekolah di Tirta Bangsa? Niatnya juga gue mau balas dendam. Tapi dia justru menghibur gue karena udah menunjukkan wajah pucat ketakutan yang nggak pernah terlihat di wajah lo."
Leo... aku mengerti jika dia takut, tapi kenapa terdengar menyebalkan karena secara tidak langsung sudah membuat Leon melihat wajahku yang ketakutan? "Jadi itu alasan lo menolongnya?"
Leon menunjukkan pose peace memakai tangan kirinya, "Lo hutang budi sama gue."
"Seneng lo ya?" tanyaku yang tidak dapat menahan intonasi kekesalanku.
"Bangat. Ah, tapi gue juga sedikit hutang budi ke dia sih, jadi gue nggak bakal gangguin dia lagi kok. Ngomong-ngomong, siapa sih namanya?"
Mataku menyipit dengan curiga, "Kalau gue kasih tahu nama dia, lo nggak nyari gara-gara ke dia lagi. Deal?"
Leon membuang puntung rokok yang sudah habis ke tanah kemudian menginjaknya, "Dia jauh lebih seru dibandingkan lo, gue nggak bakal melakukan apa yang pernah gue lakukan sama lo ke dia."
Hmm... selain mengajari Leon belajar, tidak ada hal bagus lain yang pernah kami lakukan bersama. Ini perjanjian yang terdengar sangat menguntungkan Leo, "Namanya Leo Alvarez."
"Dia punya nama yang mirip kayak gue?"
Harus ya dibahas? "Leo udah mengatakan hal yang sama saat gue kasih tahu nama lo."
Leon mengangkat bahunya seolah tidak peduli, "Itu doang yang mau lo omongin? Dan kenapa kita dari tadi menarik perhatian sih?"
Saat ini ada seorang nerd yang sedang bicara dengan pentolan SMA Raseda, wajar interaksi kami sangat mencolok. Tapi aku tidak terlalu memedulikan perubahan image-ku, "Kalau lo sampai berani nyentuh Leo, gue bakal menghajar lo. Ngerti?"
Dengan jengkel Leon menepis tanganku yang sedang menunjuknya, "Nggak usah protektif deh, lagian dia bukan cewek yang nggak bisa memberi perlawanan."
Bukan hanya perempuan saja yang harus dilindungi kan? Tidak ada yang salah dengan ingin melindungi saudara. Apalagi saudaranya semacam Leo yang kemungkinan besar tidak dapat memberi perlawanan sesuai dengan harapan Leon, "Dia orang baik yang udah mau terima gue sebagai saudaranya. Gue pasti melindunginya."
"Hmm... orang baik ya? Dia juga anak orang kaya. Tipe yang gampang diporotin dong?"
Leon kembali menepis tanganku sampai menyingkir darinya, "Lo kali yang kerjanya cuma morotin dia doang."
"Gue nggak pernah minta apapun sama dia. Ah, dan untuk jawaban lo yang penasaran kenapa kita menarik perhatian, mereka menganggap gue sebagai cowok nerd. Pasti aneh karena sekarang gue justru sedang beradu mulut dengan anak sekolah Raseda."
Tawa puas kembali Leon lakukan, "Lo pantes dapat julukan itu."
Tanpa peduli dengan ucapan Leon, aku mengangkat bahu kemudian memasukkan kedua tanganku di kantung celana, "Dibanding dapat julukan badboy kayak lo, gue juga lebih senang dikatai cowok kutu buku."
Kedua netra Leon tertuju ke para siswa yang berlalu-lalang di dekat kami, aku pun ikut melihat ke arah yang sama karena cukup merasa penasaran, "Mereka ***** bangat kalau sampai berani bully lo."
Tidak akan. Apalagi setelah pertemuanku dengan Leon. Yang ada malah setelah ini aku justru ditakuti, "Ya udahlah, ada hal lain yang ingin gue lakukan."
"Jika sampai ketemu lagi, gue pasti kasih perhitungan ke lo karena udah membuang-buang waktu gue."
Dengan cuek aku berbalik pergi sambil melambaikan tangan kanan untuk membalas ucapan Leon. Sejak dulu kami memang selalu begini. Tidak jelas sedang berteman atau justru malah bermusuhan dengan saling melempar tantangan.
♔
Hari ini aku mendapat tugas egois dari Pak Surya yang menyuruh menjemput Franda di sekolah. Tapi ternyata ada hal mencolok lain yang menungguku di SMA Tirta Bangsa.
"Ramai-ramai apa itu?" tanyaku yang tidak bisa mengabaikan situasi tempat parkir sekolah yang sepertinya sedang terjadi kericuhan sampai banyak murid sedang berkerumun di sana.
"Kurasa Rio harus ke sana sekarang. Leo sedang bersama dengan Kak Rian."
Syok, fokus mataku langsung tertuju pada Franda yang berdiri di dekatku, "Apa?"
Franda mengangguk, "Mereka nggak bertengkar, tapi aku menyarankan Rio untuk ikut campur."
Aku melepas helm yang kupakai dan menyerahkannya pada Franda, "Tolong tunggu sebentar."
Setelah melihat anggukan dari Franda, dengan cepat aku menuju ke arah pusat keramaian tempat parkir. Seperti yang tadi diberitahu Franda, benar-benar ada Leo yang sedang berdiri berhadap-hadapan dengan Rian.
Setelah tadi urusan Leon sudah sedikit kuatasi, kenapa Rian malah mencari masalah lagi dengan Leo sih? Padahal kemarin aku sudah yakin Leo aman selama di sekolah, tapi ternyata Rian masih punya keberanian ya? "Apa yang sedang kalian lakukan?"
Pertanyaan yang kuajukan langsung memindahkan pusat perhatian padaku. Meski aku hanya ingin menarik fokus perhatian Leo dan Rian saja, tapi karena menjadi satu-satunya orang yang memakai seragam batik berbeda, semua perhatian siswa-siswi yang berada di tempat parkir tertuju padaku.
Leo menyunggingkan senyum sambil berjalan mendekat, "Kebetulan sekali. Aku sedang dalam posisi rumit karena disalahpahami sebagai Rio Arizki yang merupakan seorang personal intern kapolres Jaktim."
Personal intern? Sejak kapan aku bekerja sambilan di kepolisian? Tapi aku tetap berjalan mendekati Rian untuk menggantikan posisi Leo meski belum tahu masalah yang terjadi, "Apa lo belum puas dapat pelajaran dari Leon? Gue bisa kasih lebih dari itu kok, silakan temui gue jika masih belum puas."
"Lo saudara kembar Leo?"
Aku menyeringai sadis, "Kami sangat mirip kan? Jadi jangan coba-coba cari masalah sama Leo karena lo nggak pernah tahu jika seandainya gue bertukar identitas dengannya."
♚♕ ➡ ♕♚