L/R

L/R
14.R/L



✧R✧


Bisa diterima masuk di SMAN 18 seharusnya cukup membuatku sangat bersyukur karena awalnya Papa ingin memasukkanku ke SMA Tirta Bangsa.


Mana mau aku menjadi murid di sana jika sudah tahu biaya per-semesternya sangatlah mahal.


Lebih baik juga masuk sekolah negeri yang gratis.


Tapi karena tidak seratus persen digratiskan, aku tetap menuntut mendapatkan beasiswa, "Bu, saya mau mengajukan diri untuk mendapat beasiswa di semester depan, bisa?"


Wali kelasku yang sudah kuketahui bernama Nina terlihat kebingungan, "Beasiswa?"


Aku mengangguk, "SMAN 18 memiliki sistem beasiswa kan? Saya ingin mengajukan diri agar mendapatkannya di semester depan."


Bu Nina mengalihkan pandangan ke mejanya lalu mengambil sebuah kertas sebelum kembali melihatku lagi, "Nilai kelulusanmu ternyata sangat bagus, Ibu pikir kamu terlambat mendaftar karena tidak diterima saat seleksi."


Langsung saja katakan jika Ibu menduga aku menyogok agar bisa diterima di SMA negeri favorit. Beberapa murid juga ada yang memberi dugaan yang sama hanya karena melihat Papa yang datang dengan mengenakan setelan rapi ditambah mengendarai mobil mewah.


Bagusnya Leo tidak sadar, jadi terasa lebih mudah menyangkal rumor itu sendiri, "Kalau Ibu periksa daftar seleksi ujian masuk, namaku tercantum kok di sana, tapi aku nggak bisa langsung masuk karena saat itu memiliki kendala."


"Kendala?"


Ya, ada saja kendala yang membuatku tidak jadi diterima di tiga SMA negeri yang kupilih. Mencoba mendaftar di SMA swasta juga sama saja, mereka menolak memberiku beasiswa secara penuh sejak awal semester satu.


Aku menghela napas jika kembali ingat semua itu. Terasa begitu percuma nilai kelulusanku yang sebagian besar memiliki angka sempurna jika berujung sulit mendapat beasiswa, "Ya, ada saja berbagai alasan yang dibuat sekolah untuk menolakku yang ingin mendapat beasiswa di awal semester baru."


Bu Nina kembali terfokus memperhatikan kertas yang dipegangnya, "Jika kamu dapat mempertahankan nilaimu tetap seperti ini, tidak sulit mengajukan beasiswa di semester depan. Tapi terkadang proses yang sedikit ribet membuat siswa malas mencoba melakukannya."


Proses apalagi coba yang harus dilakukan? Sebisa mungkin kan aku tidak mau merepotkan Mama dan Papa, "Saya tak peduli jika prosesnya dibuat ribet selama tidak mustahil untuk mendapat beasiswa."


"Iya, Ibu mengerti, kamu sangat ingin mendapat beasiswa sampai repot-repot bicara langsung pada Ibu begini kan? Ibu akan membicarakannya pada kepala sekolah kok, tenang saja."


Aku sama sekali tidak merasa repot membuang waktu istirahat untuk bicara pada Bu Nina di ruang guru. Justru aku menyesal jika tidak membicarakan ini sejak awal.


"Ngomong-ngomong, Rio sudah banyak ikut berbagai macam lomba cerdas cermat ya?"


"Iya," jawabku yang sedikit bingung mendengar pertanyaan tiba-tiba yang Bu Nina ajukan. Sebenarnya kertas apa sih yang sedang dibaca sampai mengetahui informasi itu?


"Saat kenaikan kelas nanti Ibu sarankan kamu mencoba mengikutinya lagi."


Tanpa disuruh pasti juga akan kulakukan kok, dan lagi tadi aku sempat membaca sesuatu yang menarik di mading sekolah, "Kenapa harus menunggu kenaikan kelas dulu? Bukannya tidak lama lagi ada lomba cerdas cermat antar sekolah? Saya tidak keberatan kok mengikutinya."


"Kamu mau mengikutinya?" tanya Bu Nina dengan ekspresi terkejut yang membuatku langsung mengangguk mengiyakan.


"Tapi lomba itu hanya diikuti oleh siswa kelas 11 dan 12 saja."


"Iya, tahu. Tapi tidak salah kan ikut proses seleksinya? Siapa tahu jika saya terpilih dan bisa membawa nama sekolah cukup jauh membuat kepsek memudahkan saya mendapat beasiswa."


Bu Nina memberi anggukan setuju, "Benar sih, hanya saja lombanya dilakukan secara berpasangan."


Lagi-lagi aku menghela napas, pasti tidaklah mudah mencari pasangan yang mau dan bisa membantu mengikuti lomba cerdas cermat secara mendadak.


"Berhubung banyak pembicaraan tidak baik mengenaimu, Ibu bisa membantumu berpartisipasi dengan mengusulkan seseorang yang juga pintar dari kelasmu."


Sebenarnya aku tidak peduli dengan rumor itu karena bisa membuktikan diri jika aku memang layak masuk di SMA negeri, tapi aku tetap ingin mencoba ikut lomba cerdas cermat, "Siapa orangnya, Bu?"


Oke, dia tadi memang beberapa kali menjawab pertanyaan yang diajukan guru di kelas. Tapi karena alasan itu aku merasa tersaingi. Entah kenapa sejak dulu aku selalu tidak suka pada orang yang dapat menyamai nilai-nilaiku, aku jadi merasa masih kurang belajar jika mendapat rival dalam hal pelajaran.


Dan aku harus berpartisipasi ikut lomba cerdas cermat dengan perpasangan dengannya? Kok terasa agak menyebalkan ya? "Tidak ada yang lain, Bu?"


"Sinta juga memiliki nilai kelulusan yang mirip-mirip denganmu kok. Ibu yakin dia tidak akan menjadi penghambat."


Tuh kan Sinta memang saingan. Aku tidak mau kalah darinya untuk mendapat ranking satu di kelas.


✧L✧


Didekati oleh most wanted sekolah bukanlah hal yang kuinginkan. Saat zaman SMP kan aku sudah cukup mencolok karena berasal dari keluarga berada, masa sudah masuk SMA swasta elit masih juga mendapat perhatian khusus sih? Aku kan mau merasakan menjadi siswa biasa-biasa saja.


"Leo, mau nggak nanti kita jalan dulu habis pulang sekolah?"


"Nggak, aku dijemput supir dan diwajibkan langsung pulang ke rumah," jawabku dengan nada ogah-ogahan karena Dewi berhasil memaksaku datang ke kantin bersamanya.


Bisa tidak sih aku menyalahkan Rio gara-gara Dewi menaruh rasa tertarik padaku? Malas tahu sampai menarik perhatian beberapa siswa-siswi yang juga berada di kantin karena aku sedang bersama perempuan cantik.


Iya, cantik. Meski tahu mataku minus dan belum sempat minta ke dokter, tapi mataku tahu mana perempuan yang masuk kategori cantik.


Tapi karena Rio sudah memberi tahu ada kakak kelas yang sudah menjadi pacar Dewi, untuk apa aku mencari masalah dengan merebut pacar orang? Berasa tidak ada perempuan lain saja di dunia ini.


"Padahal kan Kak Rian udah mulai sibuk persiapan buat UN, mau ya jalan denganku mumpung dia lagi sibuk?"


Aku mengernyit, siapa Rian? Itu nama kakak kelas yang menjadi pacar Dewi dan telah melabrak Rio? Dan ternyata ini cewek bukan tipe setia ya? Sudah tahu punya pacar, tapi malah ajak cowok lain jalan bareng.


Meski nanti putus dari si Rian itu, aku terlanjur malas menjadikan Dewi sebagai pacarku.


Mana mau aku punya pacar yang sudah menunjukkan mudah berpaling menyukai cowok lain bahkan saat melakukan pendekatan.


"Dew, aku bukan tipe cowok yang bisa dengan mudahnya jalan sama pacar orang. Mending kamu dukung pacarmu aja biar semangat belajar buat menghadapi ujian," tolakku yang ingin sekali membuat gadis ini sadar dengan statusnya sebagai pacar orang lain.


Tapi wajah cemberut yang justru ditunjukkan oleh Dewi yang sedang duduk di hadapanku, "Kan udah bilang aku berniat putus darinya."


Tahu, lalu kenapa tidak cepat dilakukan? Ah, walau sudah dilakukan juga tidak akan mengubah apapun, aku tetap menunjukkan reaksi penolakan pada Dewi, "Pokoknya aku lagi nggak boleh jalan dulu karena suatu alasan."


"Tapi lain kali pasti bisa kan? Nanti aku akan mengajakmu lagi kok."


Tidak perlu repot-repot, aku pasti menolak ajakanmu lagi kok, "Harus ya?"


Dewi memberi anggukan, "Bukannya Leo emang sering jalan sama cewek? Masa aku nggak bisa jadi salah satu cewek itu?"


Aku punya alasan saat mau jalan sama semua perempuan itu, tapi sekarang aku tidak memiliki alasan yang jelas untuk asal jalan bareng Dewi.


Apalagi ceweknya sudah punya pacar. Aku berprinsip tidak mau merebut pacar orang lain, ditambah pacarnya Dewi juga punya sifat mengesalkan. Dewi sudah ter-blacklish dari orang yang mau kuajak jalan, "Iya, nggak bisa."


"Tapi masih bisa kan PDKT buat jadi pacarmu? Aku serius loh suka sama Leo."


Dia ini... Aku hanya dapat menghela napas dengan lelah menghadapi sikap egois Dewi.


Terserahlah. Selama belum merugikan, biarkan saja Dewi terus mendekat. Jika dia sudah mengajak pacaran, baru aku mau menolaknya dengan serius. Dan semoga dia dapat menerima penolakan tanpa menambah masalah lain.


♚♕ ➡ ♕♚