L/R

L/R
25.R



Yang kulakukan setelah jam pulang sekolah masih sama dan belum berubah sedikit pun. Aku harus berduaan dengan Sinta di kelas untuk belajar karena kami masih melakukan lomba cerdas cermat antar sekolah.


Kalau tidak salah ada dua atau tiga tahap lagi sebelum sampai final yang menentukan pemenang cerdas cermat antar SMA di seluruh Jakarta.


Walau tidak punya niat besar mengikutinya, tapi aku masih merasa bertanggung jawab karena menjadi salah satu perwakilan sekolah.


Jujur terasa sedikit aneh karena aku dan Sinta bisa lolos di berbagai macam tahap padahal kami masihlah anak kelas satu. Banyak kakak kelas dari sekolah lain yang sudah kami dikalahkan.


Kata Sinta sih itu salahnya karena memiliki keberuntungan yang cukup tinggi saat sedang berurusan dengan sesuatu. Awalnya aku tak percaya pada ucapan Sinta, tapi karena kami sudah sejauh ini, mau tidak mau aku jadi ingin menyalahkan keberuntungan yang Sinta miliki.


Gara-gara keberuntungan itu guru sekarang tidak tanggung-tanggung memberi materi pelajaran, apa yang seharusnya kami pelajari satu atau dua tahun lagi sudah diajarkan dari sekarang.


Sungguh menjengkelkan karena sekarang aku harus mengerjakan soal Ujian Nasional tingkat SMA. Ini memusingkan. Apalagi yang harus dikerjakan adalah matematika, kepalaku terasa semakin penat melihat soal-soalnya.


"Apa Rio ngerti?"


Aku menggeleng mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Sinta. Soal yang sudah kukerjakan tidak ada bedanya dengan yang sudah Sinta kerjakan, "Ini terlalu memusingkan. Aku benar-benar heran kita berhasil sampai tahap sejauh ini mengikuti cerdas cermatnya."


Sinta menghela napas, "Menjadi orang yang terlalu beruntung memang kadang nggak menyenangkan."


Hanya terkadang kan? Aku yakin Sinta pasti lebih sering merasa senang karena keberuntungan tinggi yang dimilikinya. Bikin iri saja.


Pandanganku beralih ke arah ponsel yang tiba-tiba berbunyi. Aku mengernyit bingung melihat yang menelepon adalah Papa. Tumben sekali.


Aku langsung mengangkat panggilan karena mungkin saja ada hal penting yang terjadi sampai Papa meneleponku saat masih jam kerja, "Iya, ada apa, Pa?"


"Rio, kamu sekarang berada di mana?"


Aku semakin bingung mendengar suara gelisah Papa yang berada di seberang telepon. Ini pertama kalinya aku mendengar suara Papa bisa segelisah ini, "Masih di sekolah."


"Leo baru saja mengalami kecelakaan di dekat sekolahmu, sekarang dia sudah dibawa ke rumah sakit Budiasih. Papa sedang dalam perjalanan ke sana. Karena posisimu lebih dekat, bisa ke sana duluan untuk mengecek kondisi Leo?"


Dengan panik aku membereskan barang-barang untuk dimasukkan ke ransel karena tidak mau membuang waktu lagi, "Aku akan ke sana, Pa. Kalau sudah sampai nanti kukabari."


Setelah mematikan panggilan, aku menatap Sinta yang terlihat kebingungan, "Leo mengalami kecelakaan, aku pulang duluan ya!"


Tapi saat baru berbalik pergi, pergelangan tangan kananku ditahan oleh Sinta. Saat aku menengok untuk memastikan mungkin ada yang sudah tertinggal, justru ekspresi khawatir yang kudapati dari wajah Sinta, "Boleh ikut?"


Karena tidak mau berlama-lama, aku mengangguk dan membiarkan Sinta mengikutiku berjalan keluar dari kelas.


Kenapa Leo harus mengalami kecelakaan lagi sih? Apa dia tidak bisa jauh lebih berhati-hati karena sudah pernah mengalami kecelakaan sebelumnya?


Tapi belum tentu ini merupakan kesalahan Leo. Mungkin dia sedang sial saja karena harus mengalami kecelakaan untuk yang ke dua kalinya.


Aku melirik Sinta sekilas, entah kenapa terbesit keinginan keberuntungan yang dia miliki bisa sedikit saja ditukar dengan kesialan yang dialami Leo.


Ck, pikiranku jadi ngelantur. Lebih baik tenang dulu karena aku harus mengendarai motor menuju rumah sakit Budiasih. Jangan sampai aku ikut mengalami kecelakaan juga karena tidak konsen atau merasa panik. Aku harus hati-hati. Papa dan Mama bisa semakin khawatir jika aku ikutan dirawat di rumah sakit. Dan lagi sekarang aku juga sedang membonceng orang lain.


Setelah beberapa menit mengendarai motor, akhirnya aku sampai juga. Meski rumah sakit Budiasih dekat dengan SMAN 18, tapi perjalanan terasa sangat lama karena motor yang kukendarai beberapa kali tertahan saat harus melewati lampu merah.


Tidak bisa apa keberuntungan Sinta juga bekerja saat mau lewat pertigaan dan perempatan yang ada lampu merahnya? Kan aku jadi merasa rugi telah membawa Sinta.


Dengan perasaan cemas bercampur sedikit kesal, aku berjalan menuju resepsionis, "Mba, tadi ada anak SMA yang baru mengalami kecelakaan kan? Sekarang dia berada di mana?"


Mba resepsionis terlihat sedang mengecek dulu sebelum kembali menatapku, "Dia sekarang masih berada di IGD."


Setelah mengucapkan terima kasih, aku langsung berlari menuju IGD. Walau sempat ditegur satpam karena berlarian di lorong rumah sakit, tapi akhirnya aku diizinkan masuk ruang IGD.


Badanku langsung terasa sangat lemas saat melihat Leo yang sedang berbaring disalah satu ranjang rumah sakit. Baju seragamnya terlihat sangat kotor, bahkan ada bercak darah di sana. Tak ada luka apa-apa di lengannya, tapi di balik celana seragam yang digulung sampai dengkul itu aku melihat beberapa luka lecet serta memar yang pastinya akan terasa menyakitkan kalau sampai terkena air. Dan yang paling membuatku begitu takut adalah, saat ini Leo dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Sambil mencoba menguatkan diri sendiri, aku berjalan ke arah dokter yang masih mengecek kondisi Leo, "Bagaimana keadaan saudara saya, dok?"


Dokter laki-laki itu berpaling melihatku, dia terlihat terkejut sesaat kemudian berdehem, "Walau mengalami tabrakan yang cukup keras, tapi dia beruntung karena tidak mengalami luka dalam yang serius."


Kenapa malah dibilang beruntung padahal Leo sampai mengalami luka seperti ini? Kan Leo dalam keadaan tidak sadarkan diri!


Aku mencoba menahan amarahku karena harus menanyakan pertanyaan krusial, "Dia... tidak mengalami koma kan?"


"Tidak, dia hanya syok saja."


Aku meringis pelan. Sebelumnya Leo sudah pernah mengalami hal yang nyaris sama, dan akibatnya dia harus mengalami koma selama tiga minggu.


Apa kali ini juga sama? Apa Leo akan tidak sadarkan diri lagi dalam kurun waktu yang lama? Aku cemas. Aku terlalu takut jika hal yang sama harus dialami lagi oleh Leo.


Aku mengerti sih, tapi tetap saja kejam karena aku tidak diperbolehkan terus menemani Leo. "Bagaimana keadaan Leo?"


Lupa sudah membawa orang lain ke sini, aku menatap Sinta yang tidak ikut masuk ruang IGD, "Mudah-mudahan nggak sampai mengalami koma lagi."


"Leo pernah mengalami koma?"


Aku mengabaikan pertanyaan Sinta saat melihat keberadaan Papa yang seperti sedang bicara dengan dua orang di ruang tunggu. Karena penasaran, aku pun berjalan mendekat di saat yang bicara dengan Papa sudah berjalan pergi ke arah lain, "Papa tadi bicara dengan siapa?"


Papa langsung beralih menatapku, "Rio sudah melihat keadaan Leo? Apa Leo baik-baik saja? Apa dokter sudah memeriksa kepalanya?"


"Dokter masih memeriksa Leo, aku disuruh menunggu sampai dokter selesai mengecek kondisi tubuh Leo."


Wajah Papa terlihat semakin cemas. Karena sudah pernah berada di posisi yang sama, aku mengerti Papa bisa terlihat cemas berlebihan begini, "Apa Mama sudah diberi tahu?"


Papa mengangguk, "Mama sedang diantar oleh Pak Rahmat ke sini."


Pasti Mama merasa jauh lebih sedih lagi ya? Aku sangat tahu Mama sangat menyayangi Leo, nanti aku harus membuatnya tenang. Walau aku sendiri juga belum bisa benar-benar merasa tenang sekarang.


"Ah ya, yang tadi bicara dengan Papa adalah orang-orang yang membawa Leo ke rumah sakit, mereka menceritakan kronologis saat Leo mengalami kecelakaan."


Aku dan juga Sinta mendengarkan kronologis kecelakaan yang menimpa Leo yang dijelaskan oleh Papa. Mulai dari Leo yang menjadi korban tabrak lari, tempat kejadian itu berlangsung, sampai diberi tahu jika ada orang yang telah menolong Leo agar tidak mengalami kecelakaan yang semakin parah.


Ternyata ini ya yang dimaksud dokter kalau Leo beruntung? Dia bisa saja mengalami luka yang lebih parah jika tidak ditolong orang lain.


Setelah selesai memberi penjelasan, Papa masuk ke ruang IGD untuk mengecek sendiri kondisi Leo.


"Kuharap Leo baik-baik saja."


Aku yang saat ini duduk di samping Sinta hanya mampu mengangguk mendengar harapan itu. Mungkin sebelumnya Leo sudah mengalami yang lebih parah sampai mengalami koma, tapi sekarang aku jauh lebih merasa cemas dibanding sebelumnya karena dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.


Adik ceroboh yang kadang bisa bersikap kekanakan dan memerlukan sikap protektif dariku. Akan kupastikan Leo mendapatkan sosok kakak yang bisa menolong saat dibutuhkan setelah keluar dari rumah sakit nanti.


"Maaf, kutinggal dulu ya, Rio."


Dengan bingung aku menatap Sinta yang terburu-buru berjalan ke arah ruang IGD. Di sana ada seorang wanita paruh baya yang sepertinya mendapat halangan dari petugas penjaga untuk masuk ruangan karena membawa anak kecil.


Sepertinya Sinta sudah kenal sampai anak kecil itu berpindah ke gandengannya dan wanita paruh baya itu bisa memasuki ruang IGD.


Secara spontan aku melambaikan tangan mengikuti gerakan yang Sinta lakukan kemudian melihatnya yang keluar dari pintu utama rumah sakit. Dia pamit karena tidak bisa menemaniku lagi ya? Tidak masalah sih, sejak awal aku juga tidak mengharapkan ditemani.


"Rio... bagaimana keadaan Leo sekarang? Apa dia baik-baik saja?"


Dan saat Mama berlari masuk kemudian memelukku, aku hanya pasrah karena langsung didekap dengan sangat erat. Pasti sekarang Mama sedang menganggapku sebagai Leo.


Dibanding harus melihat kondisi Leo saat ini, lebih baik Mama melihatku dulu yang masih dalam keadaan baik-baik saja.


"Leo pasti baik-baik saja kok, Ma," aku memang belum tahu betul mengenai kondisi Leo, tapi aku tetap harus menenangkan Mama.


Mama semakin mengeratkan pelukannya, "Kenapa Leo suka sekali membuat Mama cemas? Mama tidak ingin kehilangan kamu."


Aku membalas pelukan Mama dengan penuh sayang, "Maaf, Ma. Maaf. Aku janji tidak akan membuat Mama cemas lagi."


Setelah merasa puas memelukku sambil menangis, Mama melepaskan pelukannya sambil menatap pintu masuk ruang IGD.


Aku ikut melihat ke arah yang sama, "Mama bersama denganku saja ya di sini? Aku tidak mau Mama semakin sedih jika melihat kondisi Leo."


Mama kembali melihatku dengan raut lebih khawatir, "Apa Leo mengalami kecelakaan yang parah? Apa tubuhnya mendapat banyak luka?"


Kalau melihat penampilan Leo yang kotor habis kecelakaan, Mama bisa kembali menangis. Aku tidak mau Mama terus-menerus merasa sedih begini, "Dokter mengatakan Leo tidak memiliki luka yang serius kok. Hanya saja aku tidak ingin Mama melihat seragam sekolah Leo yang kotor."


Wajah Mama terlihat memucat, "Apa seragam Leo dipenuhi darah?"


Aku menggeleng dengan tegas. Meski ada noda darah di seragam Leo, tapi tidak dalam jumlah yang banyak, "Leo tidak terlihat seperti sudah banyak mengeluarkan darah."


Mama memegang kedua pipiku sambil menatap dengan intens. Aku hanya bisa diam, mungkin Mama sedang mencoba menenangkan diri dengan cara memperhatikanku.


"Rio sekarang juga pasti cemas kan pada Leo? Maaf ya karena Mama justru merepotkanmu."


Aku tersenyum, "Tak apa kok, Ma. Aku justru senang jika bisa membuat Mama merasa sedikit tenang."


♚♕ ➡ ♕♚