Improve | NCTOT23 | Bxb

Improve | NCTOT23 | Bxb
9 | Jaemin sadar?



Sungguh jeno tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya, sama dengannya renjun yang berdiri disampingnya sedari tadi.


jaemin sudah sadar bahkan taeyong dan jaehyun pun dengan terburu buru menghampiri kamarnya.


"jaemin?" Panggil taeyong, ia mengusap surai halus jaemin dengan lembut lalu memberinya air.


"taeyong hyung" suara serak jaemin membuat mereka yang berada di kamar itu tersenyum.


Jaemin terkenal akan pangeran yang lembut, memiliki senyum yang manis, sopan kepada siapapun bahkan pelayan dan rakyat jelata dan jeno adalah sebaliknya.


jeno baru saja ingin menghampirinya namun sudah kebalap renjun.


Ranjun tanpa aba aba langsung memeluk kepala jaemin membawanya kedekapan mungil renjun.


"Nana-yaa pas sekali aku datang dan kau sadar, apakah ini kejutan? jika iya aku senang sekali"


jaemin yang mendengar celotehan renjun terdiam, masih belum ada tenaga untuk melepas pelukan erat yang hampir membuatnya sesak jika taeyong dengan lembut memaksa renjun melepaskannya.


"tapi taeyong hyung, injun rindu nana ingin memeluknya sekarang" renjun yang sudah ancang ancang ingin kembali memeluk nana langsung dicegat taeyong.


"Jangan ia baru sadar, injun bisa meluk nana besok ya" injun yang mau menolak akhirnya mengangguk. Taeyong tersenyum gemas perasaanya hanya renjun manusia asing yang memanggilnya dengan 'hyung' alih alih 'putra mahkota'


Taeyong tanpa sadar membuat jaehyun pun gemas melihat tingkahnya. Niatnya ingin melihat  jaemin namun atensinya tetap pada taeyong.


"Kamu siapa?" Jaemin berusaha bertanya sambil menunjuk renjun.


renjun sudah menebak bahwa jaemin akan seperti jeno dan kakaknya yang datang tanpa mengingat dirinya.


ia tertunduk dan tersenyum sendu lalu kembali mendongak dengan senyum yang lebih ceria.


Renjun memposisikan dirinya berdiri tegak dan membuat gestur tangan memperkenalkan diri.


"Hallo jaemin-iee , aku huang renjun biasa dipanggil huang tampan dari shanghai, sahabat terbaikmu" renjun memiringkan kepalanya dan tersenyum sangat lebar bahkan menunjukkan deretan giginya dan kedua mata yang tertutup.


Taeyong sudah tidak bisa menahan gemasnya langsung mencubit kedua pipi gempil renjun, sedangkan jeno hanya terdiam sesaat melihat tingkah renjun tadi


Jaemin terkekeh ia menampilkan senyum yang sangat tampan.


"kau.. manis"


renjun lagi lagi tersenyum. "Manis iya seperti nana manis macam kelinci kediaman lee"


"Haha kamu sungguh menggemaskan apa kamu kekasih jaemin?" renjun mengernyit, apa taeyong hyung sama melupakan ingatan mereka?.


renjun menggeleng. taeyong sedikit mempoutkan bibirnya.


"kenapa tidak? Bukankah jeno dan jaemin menyukai lelaki imut seperti ini?" taeyong masih tetap menangkup wajah mungil renjun. Pandangannya melirik jeno dan jaemin bergantian.


Renjun berkacak pinggang daa menggeleng cepat. "Tidak mungkin.


jeno dan jaemin kan sepasang kekasih aku tidak boleh begitu" ucapnya tajam kepada taeyong seakan 'jangan buat kesalah pahaman diantara pertemanan kami'.


Taeyong menutup mulutnya terkejut lalu melirik jeno jaemin yang sama terkejutnya akibat perkataan renjun. "Kalian.."


"t-tidak hyung/TIDAK HYUNG" ucap mereka bersamaan.


"bagaimana bisa aku bersama manusia merepotkan yang tidur berhari hari" nyinyir jeno sambil menatap ejek jaemin yang masih posisi tertidur. Padahal jeno lah yang senantiasa menunggu jaemin terbangun semingguan ini.


jaemin tersenyum menahan emosi. "tidak mungkin aku bersama lelaki yang tak pedulian sepertinya"


"jangan bercanda aku yang menunggumu terbangun setiap saat disini yak!"


"Jika aku merepotkan kenapa masih mau menunggu sialan"


"Bisakah kalian diam" bukan taeyong, ia dan renjun hanya menatap tak mencoba melerai jeno dan jaemin yang sedang bercencok.


Namun jaehyun yang melerai. ia menyuruh agar jaemin istirahat dan langsung menarik tangan taeyong keluar, namun ditahan.


"Sebentar jaehyun-aa aku masih mau memegang pipi gempil itu" rengek taeyong berusaha menggapai renjun yang bersembunyi dibelakang jeno menyelamatkan pipinya.


"tidak ayo kembali"


"jaehyun-aaa ayolah"


"lee taeyong" suara deep voice jaehyun membuat taeyong terdiam sesaat lalu mengikutinya dengan cepat.


renjun mengernyit melihatnya. Tidak biasa kedua putra mahkota bertemu dan bertingkah seperti itu.


...♤♡♡♤...


Jaemin melihat sekitaran kamarnya, ia terbangun dan melihat sudah berada di kamar yang sangat mewah, bertanya pada jeno mengapa ia berada disini jawabannya pun sama ia pun tak tahu.


apa jaemin bermimpi?


mungkin saja.


apa ia harus tertidur kembali.


jaemin yang baru saja ingin tertidur kembali terjaga akibat renjun masuk kekamarnya dengan banyaknya kayu.


Cuaca memang sudah memasuki musim dingin tetapi jaemin tidak merasakan hawa dingin sekalipun akibat selimut tebal yang menutupinya.


kamar sudah gelap karena hari sudah malam dan jaemin yang sengaja meminta jeno untuk mematikan lampunya.


ia memperhatikan renjun yang kesusahan menaruh bongkahan kayu sedang yang mana masih lebih besar dari tubuhnya. Dimana renjun menaruh kayu itu di atas api agar semakin membesar dan asapnya yang mengeluar ke atas ke cerobong asap.


dan dimana renjun mencebik kesal akibat tangannya terkena percikan api.


Membuat jaemin terkekeh tanpa sadar. Membuat renjun menoleh kaget.


"Eoh? kamu terbangun?" renjun menghampirinya dan mengecek suhu badan jaemin dengan telapak tangannya.


dingin.


Itu membuat renjun menatapnya horor. Renjun langsung menutup tirai jendela yang satu satunya menerangi kamar gelap jaemin.


dengan hati hati renjun keluar kamar dan balik dengan satu lampu minyak tanah.


"sudah mulai hangat?"


"Aku tidak mengatakan dingin sejak tadi"


renjun menatapnya tak suka, "badanmu dingin nana!"


Walaupun badannya dingin ia sudah merasa sangat hangat sekarang, jaemin hanya mengangguk sebagai jawaban.


Cklek


mereka berdua menoleh kearah pintu yang terbuka- jeno sebagai pelakunya menatap mereka curiga.


"ah nono-yaa sini!" Ajak renjun dengam gestur tangan menyuruhnya mendekat mereka.


"apa yang kalian lakukan gelap gelap seperti ini" tanya jeno niatnya ingin duduk tak jadi akibat kursi yang sudah terkena hawa dingin. Ia beralih ke kasur dan mendudukan dirinya disamping jaemin.


"Aku habis menghangatkan kamar nana, dan nono ngapain kesini?" Tanya renjun sambil memiringkan kepalanya dan mencondongkan badanya dengan tangan sebagai tumpuan di kasur jaemin.


"Penghangat kamarku mati sejak 2 jam yang lalu" ucapnya acuh seolah hal biasa, renjun sudah berdiri.


"YAK KAU BISA MEMINTA PELAYAN UNTUK MENGHANGATKAN KEMBALI RUANGANMU" geram renjun, bisa bisa jeno mati kedinginan jika seperti itu.


"aku malas memintanya" acuh jeno untungnya ia membawa selimut tebalnya sendiri dengan cepat membungkus dirinya agar tidak kedinginan.


renjun masih menatapnya kesal jangan lupakan dirinya yang masih mendudukan dirinya di ubin lantai yang dinginnya bukan main.


"renjun kenapa kau dilantai? Itu dingin sekali" ucap jaemin membuat jeno yang membelakangi mereka menoleh dan mengganti posisi.


"tidak ap-


"tidak apa gimana, wajahmu saja sudah memerah dan pucat kedinginan seperti itu" ucap jeno ia kesal dengan renjun yang memarahinya sedangkan ia lebih parah.


"tidak apa aku hanya menunggu jaemin tidur lalu aku akan kembali ke kamar" jaemin yang merasa dirinya menjadi alasan pun menarik renjun agar jatuh ke kasur disampingnya.


"setindaknya menunggu ditempat yang lebih hangat disini, bukan dilantai" renjun terkejut karena tarikan cepat dari jaemin, yang membuatnya hampir menindih badan jaemin yang masih lemas itu.


"Taruh ia di tengah, ia akan jatuh jika dipinggir sana na" balas jeno yang menatap datar renjun.


Jaemin pun meremat kedua pinggang renjun pelan dan manaruhnya ditengah diantara mereka.


sedikit terkejut akibat tubuh renjun yang kelewat ringan disaat tubuhnya masih sangat lemas.


Jaemin dengan telaten menyelimuti kaki renjun dengan selimutnya, renjun menyenderkan kepalanya di headboard dan membiarkan jaemin menyelimutinya. Renjun merasa hangat.


renjun kembali tersenyum cerah, ia seakan merasakan flashback dalam posisi seperti ini.


"Aku jadi ingat dulu tidur seperti ini bersama kalian, saat aku harus pergi ke chin besok harinya" renjun tertawa kecil mengingat jaemin dan jeno yang memohon kepada babanya untuk mengizinkan renjun sehari saja.


"apakah dulu pernah seperti itu?" pertanyaan jeno sama halnya yang ingin ditanyakan jaemin.


Renjun mengangguk, dan tersenyum lalu mengusap usap kepala jaemin pelan.


"Jja nana-yaa ayo bobo apa mau injun nyanyikan sesuatu?" tawar renjun jaemin hanya mengangguk boleh saja.


..."Chagawotdeon biga gaein...


...Pureun haneul jeo kkeute geollin...


...Yunanhi deo seonmyeonghan mujigae bicheul bwa...


...Meomchwo itdeon sigandeul sai...


...Donggeurake unneun ilgop bit...


...Nae mamsoge kkoja dun...


...Chaekgalpi gata nan...


...Yeogiseo tto eodiro...


...Gaya halji moreudeon...


...Biwodun nae huin yeobaek wiro...


...Neon useumyeo son heundeureo...


...Sum gappatdeon oneurui kkeute...


...Hamkkein seoroe gidae...


...Urin nuneul gamgo...


...Pyeonhi jami deulgo...


...Dasi kkumeul kkugo...


...Sueopsi dasi sijakdoel...


...Jogeumeun natseon naeildo...


...Gwaenchaneul geot gata nunbusil geot gata...


...Neowa nae mameul ieojuneun Rainbow"...


Suara merdu dari seorang huang renjun lebih hangat dari pada penghangat dari perapian disudut kamar itu, jaemin mendengarnya hingga terlelap begitu jeno yang bisa tertidur akibat suara merdu nan indah renjun.


Niatnya ingin balik kekamar tapi rasa kantuk melanda dirinya, renjun memejamkan matanya namun dirinya kelabasan tertidur dalam posisi terduduk.


Dengan jeno dan jaemin yang memeluk kedua kakinya erat


...♤♡♡♤...


tbc