Improve | NCTOT23 | Bxb

Improve | NCTOT23 | Bxb
13 | renjun pergi..



taeil tertegun akibat jawaban doyoung yang diluar perkiraannya.


Ia tersenyum, lalu berdiri dan mengusak rambut doyoung pelan. Dan menggeleng.


"tidak bisa pangeran"


"Saya hampir diluar batas" lanjutnya, taeil berdiri dan hendak pergi dari kamar doyoung.


"Kenapa? Bukankah kita sudah tunangan?" doyoung mendudukan dirinya walau selimut masih menutupi badannya.


Taeil membalik badannya, membungkuk dan menggeleng pelan lalu keluar begitu saja.


Doyoung mengernyit dan sedikit malu dengan pertanyaanya tadi seakan ia sangat ingin menginginkannya.


doyoung pun menarik selimut itu hingga menutupi seluruh badannya dan kembali rebahan di kasur besarnya.


Niatnya hanya ingin menutupi badannya siapa tahu taeil akan kembali datang seperti tadi, namun ia malah pergi ke alam bawah sadar.


...♤♡♡♤...


Doyoung terbangun akibat suara dari jendela yang terbuka dengan tiba tiba dan menimbulkan suara keras.


Benar saja saat bangun untuk menutup jendela tubuhnya mengigil seketika, ini dingin sekali.


dengan sedikit berlari, doyoung menutup jendela dan kembali menutupi badannya dengan selimut. Padahal tadi pagi hingga sore ia masih merasa hangat.


BRAk


Doyoung tersentak, ia pun menoleh tajam ke arah pintu yang dibuka dengan sekali gebrakan itu.


"BISA PELAN PELAN GAK SIH!?" pekiknya, doyoung kira suara pecahan akibat derasnya hujan salju ini.


Taeil dengan obor lilin ditangannya, berjalan mendekat dan menaruh lilin itu di atas nakas.


Lalu menoleh menatap doyoung khawatir. "Kamu gapapa?" taeil memeriksa rambut hingga kaki doyoung di balik selimut.


Doyoung berdecak, padahal ia baik baik saja, "iya, kenapa?"


taeil mengernyit. "Kau bilang iya?" Taeil menarik tangan doyoung yang menggigil. "Ini apa? Kau kedinginan"


doyoung pun mengangguk anggukan kepalanya ia kira maksud taeil adalah apakah ada luka memar atau semacam itu di tubuhnya.


Taeil menarik doyoung hingga berdiri, memakaikannya sepatu dan jubah tebal tak lupa dengan doublean selimut.


taeil berdiri didepannya dan berjongkok. Doyoung menatapnya bingung.


"naik"


"Oh, buat?"


"lantai sangat dingin, bahkan bisa menembus sepatu" doyoung pun menuruti dan membawa tubuhnya untuk memeluk leher taeil dari belakang.


taeil pun melingkarkan tangannya kebelakang mengangkat badan doyoung.


"kita mau kemana?"


doyoung makin merasa udara dingin menusuk kulit, tak mempan jaket tebalnya.


Ia makin mengeratkan pelukannya dileher taeil, "kau tidak kedinginan?" taeil terkekeh, lalu menggeleng. "Aku bahkan bisa berperang dalam cuaca seperti ini" doyoung terkaget dan memukul bahu taeil pelan.


"apa pernah?? Tidak, kau tidak boleh ini sangat dingin" Doyoung cemberut dan memperingati taeil.


taeil terkekeh, padahal dulu saat perang dengan keluarga qian di perbatasan korea dan china. Doyoung dengan semangat menyuruhnya pergi, tepat saat itu badai salju diramalkan akan terjadi ditempat mereka berperang.


sampai didepan pintu, taeil membukanya. Doyoung langsung melonggarkan pelukan merasa suhu hangat mengenai tubuhnya.


ruangan yang tak terlalu besaritu terdapat dua penghangat di masing masing sudut, bahkan dikamarnya hanya ada satu dan itu tidak dinyalakan.


Taeil menurunkan doyoung di kasur yang juga tak besar mungkin hanya badannya dan satu boneka di kasur itu.


taeil berjalan ke arah penghangat menambahkan banyak kayu agar api menguar lebih besar.


doyoung pun mengeratkan jaket, merebahkan dirinya dikasur itu dan menarik selimut.


Taeil kembali, "sudah cukup hangat?" Doyoung mengangguk, ini sudah cukup.


"Orang orang diwilayah kerajaan kim dan jung, hampir semua tahan dengan cuaca dingin tapi diluar wilayah itu mungkin ruangan suhu ini masih belum cukup" jelasnya, doyoung menganggukan kepalanya.


"taeil" taeil menoleh.


Doyoung menarik tangannya, dan memeluk badan taeil. Taeil terdiam dan mengangkat tubuhnya untuk rebahan disamping doyoung.


Menarik pinggangnya mendekat, dan juga menyelimuti dirinya.


doyoung bisa merasakan baju taeil dan celanannya yang dingin.


"Dingin" doyoung pun mengeratkan pelukannya. "Apa hangat?"


Taeil pun mengeratkan rengkuhannya dipinggang doyoung, menaruh kepalanya dibahu sempit tunangannya dan mengangguk.


"iya ini hangat"


doyoung tersenyum, makin mengeratkan pelukan, mengusap usap punggung taeil.


Sampai doyoung mendengar dengkuran pelan tepat disamping telingannya, ia pun tersenyum dan mulai memejamkan mata menyusul taeil ke alam mimpi.


...♤♡♡♤...


balik kekerajaan lee.


Jaemin sudah bisa berdiri dan berjalan walau harus dengan bantuan pelayan atau berpegangan dengan dinding dan barang sekitar.


jeno hanya membantu jaemin dan sisa waktunya dihabiskan dengan membaca buku di perpustakaan, ia ingin berkuda dan berpanah namun cuaca sedang dingin dan turun salju.


hany itu yang mereka lakukan jika renjun tak ada dikediaman lee.


Namun sekarang renjun dengan tanpa dosa menarik jeno yang berada di perpus menuju kamar jaemin.


"Nono-yaa liatt" renjun menunjuk jaemin yang sudah bisa berjalan dengan normal. Seperti anak kecil menunjuk balon kesukaanya.


jeno tersenyum baru saja ia ingin marah dengan renjun yang menariknya seenak jidat.


ia menghampiri jaemin dan menyuruhnya duduk kembali.


"istirahat" jaemin menatapnya kesal.


Jeno pun menggeplak kepala jaemin sekali. "Gausah keras kepala" renjun pun dengam cepat mengelus kepala jaemin.


"ehh ga boleh gitu sama saudara sendiri!" Jaemin pun menggangguk anggukan kepalanya biar jeno terus diomelin manusia mungil yang mengelusnya itu.


jeno melengos begitu saja pergi dari kamar jaemin. "Eoh? Nono mau kemana?"


"perpus" lagi lagi.


"yakk bentar lagi jam makan siang! Dan taeyong hyung pun akan pulang" pekiknya kesal, perpus mulu.


Jeno terdiam dan menoleh. "Taeyong hyung? Emang dia dari mana?"


Renjun ingin menggigitnya sekarang. Masa kakak sendiri tak tahu. "Nono lupa? Taeyong hyung pergi dua hari yang lalu ke kerajaan jung" jeno hanya mengangguk anggukan kepalanya. Dan pergi terlebih dahulu menuju ruang makan.


renjun mengambil jas jaemin, dan memakaikannya ke jaemin dengan telaten.


Jaemin hanya tersenyum, dari pada pelayan, hanya renjun yang memberi dia perhatian lebih secara langsung berbeda dengan jeno yang selalu memberikan perhatiannya secara diam diam.


contohnya, memberi semangat saat jaemin sedang tertidur atau mengecek jaemin apakah ia masih hidup atau tidak.


jaemin mengusak pucuk kepala renjun. Renjun meliriknya bingung. "Tidak, kau menggemaskan"


renjun terdiam, wajahnya memerah sesaat. "N-nee kau pun menggemaskan nana" renjun menyembunyikan saltingnya dengan mencubit kedua pipi jaemin.


jaemin pun terkekeh dan mengambil satu lagi jasnya yang berwarna putih dan memakaikannya ke tubuh mungil renjun.


Ia tersenyum gemas, bahkan jas itu dapat menutupi pahanya dan tangan, bahunya pun menjadi lebih lebar.


renjun melengkungkan bibirnya. "Apa apaan in-


"sstt sudah bantu aku berjalan, aku lapar" Jaemin dengan cepat melingkarkan tangan kirinya di pundak renjun. Dan berjalan seolah kakinya masih sakit.


renjun mengernyit. "Bukankah tadi sudah bisa jal-


jaemin dengan cepat memotong ucapan renjun dengan berpura pura akan terjatuh, menekukan sedikit kakinya. "Aduhh aouhh renjun tolong"


renjun gelagapan melingkarkan tangannya di pinggang jaemin dan satunya menggenggam tangan jaemin di pundaknya.


jaemin tersenyum dan mereka berjalan seperti itu hingga sampai di ruang makan.


♤♡♡♤


Renjun, jaemin dan jeno sudah berada diruang makan yang sungguh besar dan panjang. Padahal hanya mereka bertiga disitu.


Sampai taeyong datang.


Renjun pun berdiri dan membungkuk hormat kearahnya. jeno dan jaemin menatapnya bingung.


renjun pun menyadari dan dengan gestur tangannya menyuruh jeno dan jaemin juga berdiri. Jeno awalnya tak mau namun tetap berdiri dan membungkuk hormat.


Lupa jika hyungnya adalah putra mahkota.


jaemin yang tak tahu pun hanya ikut membungkukan dirinya.


"selamat makan" ucap taeyong setelah menyuruh mereka duduk seperti semula.


Acara makan siang mereka berjalan lancar, awalnya hening tidak ada yang mau memulai obrolan atau apapun itu.


"hyung, dimana pangeran jaehyun?" Tanya jeno memecahkan keheningan. Taeyong menggeleng.


"dikerajaan jung, mark sudah bisa berdiri dan berbicara dengan lancar, tadinya ia mau kesini tapi kepala pelayan melarangnya" jelas taeyong mengelap sudut bibirnya yang terkena sisa makanan.


jeno hanya menganggukan kepala, memang sedikit tak tahu diri pangeran jaehyun, punya kerajaan mewah mampirnya hanya kekerajaan lee.


taeyong pun melirik renjun. "Bagaimana renjun apa enak berada disini?" Tanya taeyong diselingi senyuman manisnya.


renjun sedikit menggigit kuat sendok digenggamannya, taeyong berkata seolah ia baru pertama kali menginap disini. Renjun mengangguk. "Iya enak sekali" .


"waah senangnya, kau masihama kan balik kechina?"


Renjun terdiam, padahal ia sudah bilang akan disini selama sebulanan, namun pengawal terdekatnya- guanlin berkata bahwa gegenya tidak mau mewarisi kerajaan huang, alias tidak mau menjadi raja.


Jadi mau tak mau renjun harus pulang dan mengurusi masalah itu dan membujuk gegenya.


taeyong melihat raut sedih dan sendu renjun menatap piring, ia tersenyum. Ia tau renjun masih mau menghabiskan waktunya dissni, pengawalnya pun sudah memberitahunya.


"Sayang sekali, aku kira kau bisa lebih lama disini" renjun mendongak dan tersenyum.


"tidak apa taeyong hyung, injun bisa datang lagi kapan kapan" renjun tersenyum manis.


jeno dan jaemin saling bertatapan, renju mau pulang?.


jeno dan jaemin masih tidak terlalu mengingat siapa renjun dikehidupan mereka dulu. Namun kehadirannya membuat dinginnya salju diluar jendela menghangatkan tubuhnya walau tanpa adanya penghangat sekalipun.


"Kamu mau pulang?" Tanya jaemin. Renjun mengangguk.


"iya, nana jangan lupa makan ya kalo susah jalannya minta bantuan nono tapi kalo dia tetep mentingin buku, bakar aja perpusnya oke"


jeno pun mendelik, bakar saja ia bisa ke perpustakan umum kok.


Taeyong terkekeh, seakan ada ide taeyong berdiri dan menghampiri mereka. "Bagaimana jeno, jaemin ikut pergi ke china sekalian menyapa masyarakat dan raja huang?" Taeyong ingat jika ikatan keluarganya dan keluarga huang saagatlah dekat, dan sudah lama tak berkomunikasi semenjak kedua pangeran kembar ini menghilang.


jeno dan jaemin masih memikirkan. Renjun melihat mereka, mengulum bibirnya sendiri. Namun jawaban dari keduanya membuat renjun mendongak dan tersenyum.


"boleh saja" - nomin.


"Oke, tepat renjun akan pergi besok kalian bersiap malam ini" taeyong mengusap bahu renjun dan jaemin sebelum pergi ke ruangan lain.


renjun pun tak lama ikut berdiri dan menjulurkan tangannya ke arah jaemin. "Ayo jaemin, kita bersiap bersama" jaemin pun menerima uluran tangannya dengan senang hati dan itu membuat jeno yang duduk diseberangnya menatap garang.


"padahal aku juga ikut, apa aku harus bersiap sendiri?" Tanyanya tajam.


Renjun berkidik ngeri melihat tatapan jeno dan aura mengerikan darinya, ia pun menarik jeno dan kembali ke tempat jaemin untuk merangkulnya.


namun saat ingin membantu jaemin, jaemin dengan santai merapihkan jasnya dan berdiri selayaknya orang normal lainnya, renjun pun menatapnya kaget.


"Jadi kau-


"sstt ayo kita bersiap" jaemin dengan cengirannya menarik renjun, renjun terkejut daa tanpa sadar masih menarik jeno di sebelah kananya.


tbc..