Improve | NCTOT23 | Bxb

Improve | NCTOT23 | Bxb
14 | kerajaan huang



Membutuhkan waktu tiga hari untuk sampai di kerajaan huang. Jeno dan jaemin sungguh lelah, padahal mereka hanya duduk dikereta kencana dan sudah banyak tertidur.


mereka memasuki kediaman huang, mereka capek dan lelah, tidak dengan renjun ia sudah biasa pergi pulang jauh seperti itu.


Langkah mereka terhenti, mendengar suara bising dari dalam.


"SUDAH KUBILANG AKU TAK MAU, KALIAN SIAPA SIH, AKU TAK KENAL KALIAN SEMUA" teriakan itu semakin mendengar, diiringi suara pecahan barang, renjun berlari keasal suara, jeno dan jaemin pun ikut menyusulnya.


tepat saat berlari lemparan guci hampir mengenai renjun jika jeno tak menariknya kebelakang.


"bisakah kau berlari pelan pelan?" Bentak jeno, ia khawatir jika renjun terkena guci tadi dan pingsan, apalagi saat renjun berlari terburu buru.


"bagaiamana jika kau terjatuh apalagi terkena itu semua" marah jeno sampai terdengar, jaemin pun terkejut dan mendorong jeno menjauh dari renjun, mata renjun berkaca kaca.


ia tidak pernah dibentak seperti itu, apalagi dengan jeno.


jaemin menangkup wajah renjun agar menatapnya, "hei jangan menangis, dia hanya khawatir" jaemin selembut mungkin membuat renjun yang sudah memerah agar tidak menangis.


suara mereka terdengar ke dalam, mereka yang didalam pun keluar dan terkejut akibat kedatangan kedua pangeran lee ke kerajaannya. Pelayan itu pun membungkuk, jaemin tersenyum.


dan keluar lah seorang laki laki yang tampan daa tinggi, tangannya mengeluarkan darah akibat pecahan beling dan lain lain.


Jaemin dan jeno mengernyit begitu pun lelaki itu, mereka seperti pernah bertemu


"hendery hyung?


...♤♡♡♤...


renjun tengah berada di kamar gegenya, menenangkan gegenya itu agar tidak seperti tadi.


"gege? Sudah tenang" gegenya- huang hendery hanya diam, ia juga kaget melihat darah mengalir dari tangannya.


"Gege?" Panggilnya lagi, hendery masih terdiam.


renjun menghela nafas, duduk berjongkok, memegang tangan hendery. "Gege kenapa? Kenapa gak mau mewarisi kerajaan?" Hendery menoleh menatapnya datar.


"Engga, aku gak kenal kalian, ini dimana, aku gaktau" hendery tidak menangis ataupun semacamnya, renjun bisa yakin gegenya itu bingung.


Renjun pun memeluknya, namun hendery langsung mendorongnya pelan dan itu berefek lebih pada badan mungil renjun.


renjun hampir terjatuh, jeno dan jaemin yang diam diam menguping dibelakang sedikit terkejut, jeno sudah siap ingin masuk dengan tangan mengepal, jaemin dengan terburu buru menahannya.


renjun masih tersenyum dan memeluk hendery cepat, mengecup pipinya. "Aku tau gege pasti takut, tapi itu tidak perlu lagi, ada injun disini" renjun membungkuk sopan lalu keluar.


jeno dan jaemin yang berada tepat dibalik pintu pun dengan cepat berlari pergi. Telat karena renjun sudah membukanya dan mengernyit melihat mereka berlari.


"kalian sedang apa?" Tanyanya, menutup pintu kamar hendery.


Jeno dan jaemin diam ditempat, tidak menoleh, hanya jaemin ia menoleh dan tersenyum kearah renjun. Jeno pun tak lama ikut berbalik menggaruk tengkuknya canggung. "Hah? Kami haha tidak, kami hanya bermain tadi, iya kan jen" jaemin merangkul jeno dan menepuk pundaknya. Jeno hanya berdehem.


renjun tertawa, mereka seperti anak kecil, renjun belari kecil dan menarik mereka berdua. "Kenapa kalian berlari? Kenapa tidak istirahat? Sekarang pergi ke kekamar pasti pelayan sudah menyiapkan kamar kalian" jeno dan jaemin menghela nafas, renjun dan mulut mungilnya sangat ingin disumpal.


Sampai di depan dua pintu besar, "jja, sebelah kiri kamar nana sebelahnya kamar nono, kalian istirahatlah besok kita bakal pergi, injun mau kebawah dulu" renjun baru saja berjalan berbalik, lengannya kembali ditarik jaemin.


"kau mau kemana?" Tanyanya seduktif, entah renjun menjadi gugup.


"eum m-mau ketemu guanlin kenapa?" Jeno dan jaemin menatapnya tak suka.


"pengawal pria itu?" jeno menatapnya tajam, Renjun mengangguk.


"Ngapain ketemu dia?" Lanjut jeno.


"Mau bantuin dia bawa barang?" Sebenarnya renjun tau pasti guanlin akan menolak bantuannya. Jeno menatapnya tajam seakan ada laser merah dari matanya.


"Engga gak usah, injun disini aja" jawab jaemin, renjun mendelik dan berusaha melepas pegangan jaemin.


"Iih engga, kalian harus istirahat yaudaa injun gak bakal bantuin injun mau ke kamar" jaemin masih menahannya, ditambah lengan kekar jaemin ikut menahannya.


"kau bisa istirahat disini" jeno angkat bicara, mereka menarik renjun dan mendorongnya ke ranjang.


"wah jeno kamarnya besar ya, lihat kasurnya pun begitu" jaemin melepas jasnya, begitu jeno. Renjun gugup sekarang.


"y-ya apa yang kalian lakukan" renjun tersenyum kikuk.


Jeno menyeringai, lalu mematikan lampu. Mendekati ranjang, tiduran disamping kiri renjun dan jaemin mengikuti disebelah kanan.


mereka memeluk renjun dari samping, renjun terdiam, ia gugup 'kenapa aku gugup? Padahal kami biasa melakukan ini saat masih kecil'


"pejamkan matamu renjun"


"tidurlah, atau aku akan memakanmu" ucapan jeno dan jaemin yang bergantian membuat renjun dengan cepat memejamkan matanya dan berusaha tertidur.


...♤♡♡♤...


Sinar matahari menusuk mata renjun, ia mengernyit, berusaha membuka mata dan menyesuaikan cahaya masuk. Bisa ia lihat senyum manis jaemin dihadapannya.


ia terkejut namun ikut tersenyum. "Pagi injunie"


"pagi nana" suara serak khas bangun tidur renjun. Ia pun duduk dan meregangkan otot". Menoleh ke kirinya, sudah tidak ada jeno dan menoleh ke arah jaemin yang sudah memakai baju rapi.


Ia melotot kaget, "kalian sudah siap siap?" Jaemin masih setia tersenyum manis.


renjun pun dengan cepat berlari keluar, mana ia tertidur dengan baju perginya. Tepat saat ia membuka pintu ada jeno dengan tiga porsi sarapan. "kenapa kalian tidak membangunkanku?" tanya renjun tajam menatap jeno dan jaemin bergantian.


"kau sudah dibangunkan namun tidak bangun" jeno mendorong badan renjun agar kembali masuk, dengan nampan sarapan.


"tidakk mungkin, bagaimana kalian membangunkanku?"


USAPAN? ELUSAN? bukannya terbangun renjun makin nyenyak. Ia pun menggeleng pelan lalu kembali berjalan.


jeno menahannya cukup kuat. "Sarapan baru siap siap"


...♤♡♡♤...


"kita mau kemana sebenarnya?" Tanya jaemin, memecahkan keheningan.


Sebenarnya renjun sedikit gugup dan sempit duduk diantara jeno dan jaemin, mereka memaksa akibat renjun yang duduk di samping guanlin.


"Ke kerajaan qian, disana ada teman hendery gege, siapa tau jika kita membawa dia, hendery gege bisa sedikkt tenang" jeno dan jaemin hanya menganggukan kepalanya.


"eum anu, bolehkah aku duduk disitu guanlin" guanlin mengangguk. "Disitu memang tempat dudukmu yang mulia".


baru renjun mau berdiri, jeno kembali menariknya, duduk dipangkuannya dan jaemin.


"kau merasa sempit? Kenapa tak bilang".


Renjun bahkan terkejut begitu guanlin. Ia ingin marah namun mereka sesama pangeran dan ia tahu bagaimana hubungan mereka.


Jaemin tersenyum ke arah jeno dan menarik pinggang renjun lebih mendekat.


"Y-ya t-tapi"


"ssst diam" bisik jaemin tepat ditelinga renjun, renjun pun diam.


...♤♡♡♤...


Sudah kurang lebih tiga jam mereka menghabiskan waktu diperjalanan, hingga gerbang besar mempersilahkan mereka masuk. Baru saja kereta kencana itu berhenti. Renjun dengan terburu buru turun.


jeno dan jaemin yang takut ia terjatuh pun dengan cepat menyusulnya.


Renjun bertanya pada pelayan yang membungkuk sopan kearahnya. "Dia mana pangeran yangyang?"


"pangeran yangyang ada dikamar pangeran kun"


renjun tersenyum dan berlari ke lantai atas tanpa menyadari kedua dominan dibelakangnya menatapnya tajam.


tepat saat ia melihat yangyang dan sebaliknya baru saja merentangkan tangan ingin memeluk yangyang, lengannya ditarik dan alhasil memeluk jeno.


"E-ehh" ia kaget yangyang pun jadi tersenyum kikuk, membungkuk pada jaemin.


"Lepaskan nono-ya" bisik renjun, jeno pun masih membaliknya namun memeluknya dibelakang. Jaemin pun yang melihat mendelik tak suka, mendorong jeno pelan. "Pergi sana" jaemin ingin juga memeluk renjun.


"yangyang" mereka baru saja mau berpelukan lagi, ditahan oleh jaemin.


"tidak boleh pelukan" renjun mengernyit.


"lho kenapa??"


"Kudengar tadi ada penyakit yang menular dan tak boleh dekat dekat siapapun" renjun pun mendelik sedikit percaya.


"jadi maksudmu yangyang adalah penyakit?"


Jaemin menggeleng, "bukan begitu" yangyang yang melihat keributan kecil mereka pun masih setia tersenyum.


"Kalian sudah jauh jauh kesini, ada apa?" Tanyanya lembut.


renjun menoleh, mengalihkan atensinya kepada yangyang.


"maaf yangyang, bisakah aku bertemu pangeran qian?" Yangyang awalnya ragu namun mengangguk.


"tentu, lewat sini" jeno dan jaemin mengikuti yangyang dari belakang, sampai didepan pintu besar, yangyang membukanya mereka dapat melihat kun yang berusaha duduk sendiri. Yangyang panik dan langsung menghampirinya.


"gege!" Kun terkejut dan menoleh.


"sudah kubilang kau masih belum boleh untuk bergerak sendiri" kun tersenyum, ia mengacak surai yangyang.


"Aku bosan berada dikamar yangyang" yangyang mendelik, tetap menatapnya tak suka.


"Tidak ya tetap tidak" kun pun hanya bisa mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan adiknya.


jeno dan jaemin pun masuk, sedikit terkejut, 'kun hyung?'


Renjun duduk di ujung ranjang, dan menepuk pundak yangyang. "Yangyang bisakah kau tinggalkan aku dan pangeran qian berdua?"


Yangyang awalnya mau menolak tapi karena sepertinya sangat penting ia pun mengangguk, dan membawa jeno dan jaemin keluar dengan susah payah.


"yakk kenapa renjun hanya berdia dengannya"


"lepaskan aku bocah"


yangyang menulikan kedua telinganya, menutup pintu besar itu, lalu berjalan.


"pangeran lee, jangan menguping atau apapun yang berusaha mengganggu pembicaraan mereka, ikut aku"


Jeno dan jaemin hanya diam, 'apa apaan ia menyuruh kami seenaknya'.


yangyang berbalik dan menatap mereka tajam, jeno dan jaemin entah kenapa dengan cepat mengikutinya.


...♤♡♡♤...


tbc..