
Jungwoo keluar dari kereta kencana dengan bantuan pengawal. Dan akibat tarikan paksa dari wanita yang tak ia kenal.
"Cepat jungwoo-aa" entah ini hanya perasaannya atau tidak jungwoo merasa wanita itu sedang menahan tangis.
Namun langkahnya terhenti melihat seseorang yang ia kenal sedang ditarik oleh lelaki yang sangat familiar.
"Doyoung hyung?" Ia dan orang itu sama sama terkejut.
"Uwu?" Gumamnya. Jungwoo tersenyum, baru saja tangannya sudah melayang di udara ingin menyapa. Tarikan dari wanita didepannya semakin kuat. Ia hampir terjatuh.
"Ha- ehh doyoung hyung nanti ketemu lagi ya" teriak jungwoo yang sudah menghilang dibalik pintu masuk kerajaan kim.
Jungwoo tetap mengikuti wanita didepannya. Wanita yang didepannya ini memang lebih pendek darinya cenderung mungil dan err parasnya yang cantik (?). Jungwoo menggelengkan kepalanya kuat. Tanpa sadar langkahnya terhenti didepan pintu yang jungwoo tau terdapat suara bising di dalamnya.
"Kita dimana?" Tanya jungwoo. Ia celingak celinguk dan mengitari seisi lorong. Wanita itu terdiam sesaat.
"Kamu lupa?
Bertemu ayahmu jungwoo-ya" tepat saat wanita itu mengucapkan pintu itu terbuka dengan seorang pengawal yang membukanya dan membungkuk hormat kearahnya. Wanita itu memasuki ruangan dengan angkuhnya berbeda dengan jungwoo yang sempat membalas bungkukan pengawal dan masuk dengan sopannya.
Jungwoo membulatkan matanya bahkan mulutnya sudah menganga lebar. Suasana ruangan ini memang mewah tetapi akibat keributan dua orang yang membuat ruangan ini menjadi kacau balau.
"Persetan, aku sudah berapa kali ingin bercerai dengan mu sialan!"
"Kau itu ratu! Tidak bisa kau memintaku menceraikanmu begitu saja"
"Sialan banyak ratu diluar sana yang menceraikan suaminya walau sudah menjabat berpuluh puluh tahun! Masa aku tidak bisa?"
"Tentu tidak!! Hanya kau yang pantas menjabat menjadi ratu!"
"Kim jennie dari kerajaan kim datang" ucap pengawal itu membuat dua orang yang sedang ribut tak karuan terdiam.
Jungwoo menjadi sangat canggung sekarang. Entah perasaanya atau tidak, wanita yang sedang ribut itu menatap ia dan wanita didepannya dengan pandangan ingin membunuh.
"Selamat malam, ratu kristal" tunduk hormat wanita didepannya dengan sangat anggun dan elegan. Jungwoo jadi ikut membungkuk tanpa sadar. Namun tatapan wanita itu makin menjadi jadi. Jungwoo seakan ditelanjangi.
Hampir memakan beberapa menit untuk jungwoo dan wanita di depannya dalam posisi seperti itu sampai akhirnya wanita yang lebih tinggi kasta dan lain lain- jung kristal memilih pergi tanpa sepatah katapun dari ruangan tersebut.
Berjalan dengan hentakan kaki, ia seperti marah dan kesal. Jungwoo menegang sesaat.
"Ekhem"
Deheman lelaki dihadapannya membuat jungwoo dan ibu kandungnya- kim jennie berdiri kembali. Lalu duduk di sofa yang ada disana.
Jungwoo bisa melihat banyaknya emas yang menempel diruangan itu.
"Jadi ada apa kalian datang kemari?" Lelaki itu tidak ikut terduduk ia lebih memilih bersandar di jendela yang terbuka menampilkan indahnya cahaya rembulan di tengah malam.
"Aku ingin memberitahu, bahwa jungwoo sudah kembali" jennie tanpa sadar mengeratkan genggamannya pada jungwoo, jungwoo pun merasakan itu ia balik mengelus tangan putih jennie agar si empu merasa lebih tenang.
Jennie awalnya kaget, tidak biasanya anaknya akan seperti ini. Namun kembali fokus.
"Oh yasudah, suruh ia istirahat di kerajaan kang" suruhnya- kai ayah kandung jungwoo. Ia menyalakan pematik dan menghisapnya kuat lalu menghembuskannya dengan kasar.
Jennie mengernyit tidak suka. "Tidak bisa! Pelayan disana mulai bersikap tidak senonoh kepadaku, dan apalagi banyak sisi sisi istana yang sudah mulai kotor dan usang, aku tidak bisa membiarkan jungwoo tinggal ditempat seperti itu!" Bentak jennie ia bahkan sudah berdiri.
Kai menghela napas lagi, tadi kristal sekarang jennie siapa lagi nanti?. "Tidak bisakah kau tinggal disana untuk sementara?! Aku akan mengganti semua yang berada di sana dengan yang baru! Kemarin kemarin kau bisa tinggal disana! Masa sekarang tidak?" Ia balik membentak jennie.
"Aku tidak masalah tinggal disana seribu bahkan selamanya di istana itu! Tapi jungwoo? Aku tidak mau ia diperlakukan semena mena oleh para pengawal dan pelayan!!" Satu tetesan air mata lolos. Ia tidak mau jungwoo di perlakukan seenaknya dan direndahkan sedangkan statusnya adalah 'pangeran'.
"Kau bisa membalas perbuatan meraka jennie-yaa!! Walaupun kau hanya selir, statusmu masih terbilang tinggi jadi tinggal lah disana sementara, aku tidak bisa menempatkanmu disini, akan menjadi masalah besar jika istana kim yang hancur akibat peperanganmu dan kristal" kai kembali menghisap pematiknya. Ia sedang sangat lelah ingin sendiri.
"Pergi lah, jungwoo kelihatan baik baik saja. Harusnya kau memperhatikan putra mahkota kim nanti! Doyoung sedang sakit parah ia bahkan tidak mengingat aku dan kristal adalah orang tuanya"
jennie merasa ia dan jungwoo tidak dipedulikan, hanya karena doyoung adalah putra mahkota kim ia menjadi pusat perhatian, bagaimana dengan jungwoo? Ia juga darah dagingmu. Jennie bahkan belum memberitahu bagaimana keadaan jungwoo namun ia sudah menebaknya.
Jennie kecewa sangat ia Mengusap air matanya kasar.
"Apa kau mau aku diperlakukan tidak senonoh oleh para pengawal hidup belang itu hah??! Ingat aku masih memiliki darah biru walau hanya menjadi selirmu kim jong in!!" Jennie terisak lalu keluar dari ruangan tersebut tidak lupa menarik lengan jungwoo. Jungwoo yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka, masih menebak nebak dan menyimpulkan hal yang sedang ia alami sekarang.
Ibunya adalah selir raja. Dan dia sudah pasti di nomor duakan
...♤♡♡♤...
"Makan ini jungwoo-yaa" lirih jennie, ia menyuapkan satu suap nasi dengan lauk daging diatasnya kearah jungwoo. Namun ia masih terdiam.
Lalu matanya mengelilingi sekitar. Temboknya yang sudah mengelupas, banyaknya benalu yang sudah masuk dari jendela kamar yang dekat dengan pohon, bahkan beberapa benda dari kayu sudah mengelupas.
Sangat beda dengan kerajaan yang sebelumnya ia datangi.
Walau bukan keemasan, istana ini lebih sangat anggun, dengan dominasi warna putih jika dirombak sedikit ini sudah bisa dibilang istana sungguhan.
Merasa jungwoo sedang mengomentari suasana istana dalam hati, jennie tersenyum sendu lalu memeluk pundaknya.
"Hanya sebentar jungwoo-ya hanya sebentar ibu janji. Seelah itu kita pindah ke istana kim nde?" Ucap jennie. Jungwoo hanya mengangguk saja toh sudah ada selimut dan guling saja ia bisa tidur dengan nyenyak.
Jennie tersenyum lalu mengusap lembut surai jungwoo dan mengecup keningnya. "Terima kasih jungwoo-yaa" jennie kembali menangis membuat jungwoo kelimpungan.
"Eh buat?"
"Makasih sudah kembali dan menenami ibu disini" jennie menunduk dalam, menggenggam jari jemarinya dan mengusapnya lembut sekali.
Jungwoo sebenarnya tidak yakin apakah ia sungguh sungguh ibunya atau bukan, penjelasan jennie di kereta kencana saat menuju kerajaan kim bahwa ia adalah ibunya sungguh jungwoo tidak ingat.
Namun ia merasa bahwa jennie benarlah ibunya.
"Tidak kok, aku janji tidak akan meninggalkan ibu lagi" jungwoo membawa tangan mulus jennie agar tepat disamping pipinya.
...♤♡♡♤...
Jungwoo terbangun dipagi hari tepat saat matahari sudah menunjukan dirinya.
Jungwoo benar benar malas ingin membersihkan diri sejak semalam bahkan pakaiannya tak ia ganti manjadi baju tidur.
Benar benar muka bantal.
Jungwoo kembali berguling kesana kemari di atas kasur yang tak bisa dibilang kecil. Namun iya spreinya sudah lumayan bau dan kotor. Jungwoo kesal jadinya.
GDUBRAK
jungwoo menoleh kaget ke arah jendela terdapat pohon dengan daunnya yang banyak berjatuhan kebawah seperti ada makhluk yang terjatuh dari atas sana.
Damn it
Ia kaget melihat lelaki yang terjatuh tepat di hamparan rerumputan dibawah pohon, jungwoo tidak khawatir karena melihat masih ada pergerakan dari lelaki disana.
Tapi bukankah sakit? Seingatnya kamarnya berada di lantai tiga.
Jungwoo turun tak menghiraukan beberapa pelayan yang menunduk dan ada pula yang acuh atas kehadirannya.
"Tidak berubah ya,
Tetap arogant" gumam seorang pelayan yang tidak hormat sama sekali saat jungwoo lewat tepat di hadapannya.
Jungwoo mendengar namun ia merasa bahwa itu bukanlah untuknya jungwoo pun pergi ketujuan awalnya.
Ia sedikit berlari keluar istana dan berjalan masuk ke kebun dengan banyaknya pepohonan dan ranting, jungwoo juga kesal akibat rerumputan yang sudah tinggi hampir menyamai dirinya tidak digunting.
Sampai menuju tepat disamping kamarnya.
Disamping satu satunya Pohon besar nan tinggi menunjukan tanda bahwa itu adalah kamarnya.
Jungwoo menghampiri seseorang yang terduduk bersantai di pohon itu dengan pelan tidak ingin diketahui.
"Lagi lagi terjatuh sial" umpatnya.
Lelaki itu dengan kemeja dan tali yang terhubung di celananya.
...
...
Berbanding kebalik dengan jungwoo yang masih mengenakan pakaian semalam, sweater dan celana jeans hanya tambahan jas merah dengan hiasan keemasan di depan dan lengan.
"Ah sial aku malas memanjat lagi" mendengar ocehan orang itu jungwoo menepuk pelan pundaknya dari belakang.
Lelaki itu tersentak jungwoo jadi merasa tak enak sudah mengagetkannya.
Anehnya lelaki itu nambah terkejut melihat kedatangan jungwoo lalu bersiap menutupi kepalanya seolah melindungi dari sesuatu.
"K-kenapa?" Tanya jungwoo gugup. Lelaki itu membuka matanya dan merapihkan dirinya.
"Kamu tidak memukulku?" Tanyanya membuat jungwoo mengernyit bingung.
"Buat apa?" Balas jungwoo sengit, ia saja tidak kenal dengannya masa mau ia pukul.
"Heol, tumben sekali, biasanya kau akan menamparku atau tidak memukul dan menendang" ia terkekeh. Jungwoo menatapnya bingung, apa ia seperti itu?.
"Dan lagi tumben kau menghampiri ku disini jungwoo?" Tanyanya lalu kembali mendudukan dirinya di samping pohon menikmati udara di pagi hari.
Jungwoo ikut mendudukan dirinya disamping. "Aku mendengar suara terjatuh dari jendela jadi ku menghampirinya" jungwoo tidak tau siapa yang sebenarnya ia ajak bicara. Mungkin saja salah satu pengawal yang sudah mengenalnya sejak lama mangkanya bersikap tidak formal seperti yang lain.
"Haha bukannya sudah biasa kalau aku terjatuh, tapi tumben kau malah turun dan bukannya mengusirku dari sini" ia terkekeh mengingat bahwa jungwoo dulu sangat tidak suka akan kehadirannya disini.
"Ngapain aku mengusirmu? Bukankah kau pengawal disini" tanya jungwoo tanpa sadar, lelaki itu menoleh kaget.
"Hei sejak kapan aku bekerja disini" ia tertawa, jungwoo sangat aneh hari ini. Di mulai dari jungwoo yang bersikap biasa saja disampingnya sudah sangat aneh.
"Lho terus? Kamu siapa?" Jungwoo menoleh tepat saat lelaki itu juga sedang menatapnya sedari tadi. Ia baru tersadar bahwa jaraknya dan lelaki itu hanya bertaut beberapa senti.
Ia tidak bergerak sama halnya lelaki itu, terdiam dan menatap dalam manik satu sama lain.
Sampai jungwoo harus mundur dengan tanganya akibat lelaki itu dengan perlahan mendekatkan dirinya dan merangkak tepat di antara kaki jungwoo.
Jungwoo tidak tertidur di rumput ia menahan tubuhnya dengan kedua tangan. Ia gugup sekarang. Entah ia tidak bisa berbuat apa apa bahkan saat lelaki itu mendorongnya.
Ia akui lelaki itu sangat tampan.
"Kamu melupakanku jungwoo-ya?" Ucapannya tepat menyapu telinga jungwoo. Jungwoo menggeleng cepat.
"A-aku tidak ingat
Kamu siapa?" Lelaki itu menjauhkan dirinya dari jungwoo, lalu mengusap rambutnya kebelakang kasar.
"Segitu bencinya kau padaku hingga melupakanku jungwoo-yaa" jungwoo merasa orang dihadapannya ini sedang menahan amarah. Jungwoo terduduk.
"Aku tidak ingat sungguh" jungwoo menatap sendu rerumputan.
"Kau bukan jungwoo" lelaki itu memegang kedua bahunya sangat keras membuat jungwoo meringis.
"Kamu bukan jungwoo kan ngaku!" Ia menggerakan bahu jungwoo kedepan dan belakang secara brutal. Jungwoo memberontak.
"A-aku jungwoo! Kim jungwoo" jungwoo mengusap bahunya yang sakit akibat ulah lelaki dihadapannya.
"Wah, benar benar
Kau bukan jungwoo" lelaki itu berdiri, tangannya mengepal menahan emosi.
"Ma-maksudmu?" Jungwoo mengernyit ia ikut berdiri dan membersihkan belakang celananya.
"Jungwoo yang ku kenal tidak pernah menggunakan marga 'kim'" lelaki itu melangkahkan pergi. Jungwoo menahannya.
"Kau siapa sebenarnya"
"Aku? Serius kah? Kau benar benar melupakanku" tidak seperti tadi suaranya melirih seakan sedih tidak mendapat kepastian bertahun tahun.
"Aku-
"YAK LUCAS CEPAT KEMBALI KAU DIPANGGIL TUAN MUDA
YAK CEPAT SIALAN" teriakan seseorang yang sangat jauh dari mereka berdua membuat lucas dengan cepat menghempaskan tangan jungwoo dari lengannya.
Jungwoo terdiam ditempatnya.
Lucas?
Ia merasa pernah mendengar nama itu tapi dimana?.
...♤♡♡♤...