Improve | NCTOT23 | Bxb

Improve | NCTOT23 | Bxb
8 | jeno dan jaemin lee



jeno berdiam diri dengan kedua tangan bertumpu di jendela sambil menikmati terpaan angin malam yang mengenai dirinya.


semenjak hari dimana ia, jaemin dan taeyong dibawa ke istana yang tak bisa dibilang kecil ini.


hidupnya jadi sedikit istimewa.


dari ia yang dipanggil pangeran, semua yang diinginkan ada, kamar yang megah, baju yang dikelilingi emas, dan dipuji oleh semua pelayan di kediaman itu.


tak lupa lelaki yang selalu mengunjungi hyungnya-- jung jaehyun, lelaki tampan itu selalu menanyai kabarnya dan jaemin selalu mengkhawatirkan mereka seperti adik sendiri. Dan seakan mereka sudah dekat sejak lama.


ia tidak ingat siapa jaehyun bahkan jaejoong yang mengaku ayahnya, namun jeno merasa mereka semua bahkan tempat asing ini tidak asing baginya.


seakan ia memang sudah lama mengenal mereka dan lingkungan ini.


Jeno berbalik dan melihat wajah teduh jaemin yang masih belum sadar sejak beberapa hari yang lalu.


Wajah pucat yang masih terlihat tampan.


jeno meraih tangannya dan mengusap tangan itu dengan pipinya.


"jaemin-aa ayo bangun, aku tidak mau merasakan kemewahan ini sendiri" lirih jeno. Kembali mengitari sekeliling kamar dan melirik pakaian yang ia kenakan.


"Jika kau bangun aku akan memberikan pakaian ini, aku tau ini adalah stylemu sekali" ucapnya.


"bahkan banyak makanan manis nana, dan kopi haha mana disini kopi sangat pahit sekali


Seperti hidupku yang pahit jika kau tak sadar nana, tapi karena kau suka pahit, yak apa kau suka membuat hidupku ini menjadi pahit?" tanya jeno pada jaemin yang entah mendengar atau tidak gurauan jeno. Jeno terkekeh mengusap pelipisnya yang meneteskan air mata.


"cepatlah sadar ya?"


mungkin karena ikatan mereka adalah saudara kembar jeno merasa bahwa jaemin juga sama merindukannya.


...โ™คโ™กโ™กโ™ค...


cklek


pintu besar itu terbuka menampilkan lelaki tampan dengan pakaian yang simpel namun mewah karena-- pangeran dan jangan lupa senyuman eye smile itu.


"selamat Pagi nana" jeno lagi lagi selalu datang ke kamar kembarannya yang ada namun seperti tak ada orang.


Jeno membuka tirai kamar jaemin membukanya lebar mempersilahkan sinar matahari masuk menerangi setengah isi kamar yang pastinya sudah dapat menerangi wajah jaemin yang nambah bersinar.


jeno berdecak kagum pada cuaca saat ini. "Hei na , para pelayan bilang hari ini akan turun salju tapi mengapa masih terang benderang seperti ini" delik jeno.


"Padahal aku sudah menyiapakan penghangat baru dan selimut tebal untukmu ckck" jeno sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat keluar dari jendela. Tidak ada tanda tanda ingin turunnya salju tapi jeno bisa merasakan bahwa udara dan hawa hari ke hari semakin dingin.


Jeno lalu balik dan menghampiri jaemin, wajah tampan kembarannya itu tak pernah ia bosan memandanginya saat terlelap tanpa ada kepastian untuk bangun.


jeno menoleh saat pintu terbuka menampilkan sesosok yang sepertinya tak pernah absen untuk tak menghampiri istana ini


jaehyun.


"selamat pagi pangeran" sapa sopan jaehyun, jeno masih terdiam di tempatnya dan mengangguk sopan.


"nne jaehyun hyung" jeno kembali menatap kembarannya, jaehyun hanya tersenyum.


tidak sopan sebenarnya jika jeno yang hanya seorang pangeran tidak berdiri dan menyapanya dengan sopan, sedangkan jaehyun adalah putra mahkota.


'apa amnesia juga menghilangkan sopan santun?'


jaehyun hanya tersenyum lalu memanggil beberapa pelayan laki laki untuk masuk.


"bersihkan pangeran jaemin sekarang, jangan sampai ia terluka dan jangan lakukan hal tidak tidak kepadanya" perintah jaehyun, para pelayan itu mengangguk dan menghampiri jaemin tak lupa meminta sopan kepada jeno untuk mundur agar leluasa mengangkat jaemin ke tempat pemandian.


Jeno mundur melihat tubuh jaemin diangkat dan sudah tak lagi berada dikamar jeno memutuskan untuk duduk di kasur itu menatap jendela.


Pandangannya kosong.


jaehyun tak tega melihatnya, jeno dan jaemin sudah ia anggap adik sendiri. Walaupun niatnya hanya ingin melihat taeyong dan membantu taeyong untuk mengingatnya tapi melihat jeno membuatnya tak tega.


jaehyun ikut mendudukan dirinya di samping jeno.


"Mau berkuda?" jeno hanya terdiam dan menggeleng.


"mau pergi ke istanaku? kebetulan mark sudah sadar" jeno menoleh.


"mark?" tanyanya, jaehyun mengangguk.


"iya mark, kau mengingatnya? Aku yang putra mahkota saja kau tidak mengingatnya, apa mungkin karena kalian sudah dekat dari kecil" gumam jaehyun.


"Aku ingat dia berada di tempat disana para pengawal menangkapku saat itu" jeno mengingat saat dirinya dan jaemin dipunggungnya dibawa para pengawal dan berakhir disini.


Jaehyun mengangguk anggukan kepalanya.


"apa kalian kabur bersama dari istana? sengaja tidak ingin menjadi pangeran?" tanya jaehyun. Sebenarnya itu pertanyaan asal ia hanya ingin mengetahui dimana mereka selama menghilang. Siapa sih yang tidak ingin menjadi pangeran seperti mereka.


"Aku


tidak tau, aku sudah berada di balik pohon dengan jaemin yang pingsan disebelahku" jeno masih menatap kosong ke arah jendela dan mengingat bagaimana bisa ia terbangun di hutan itu.


"sungguh kau tak ingat?" tanya jaehyun lagi, jeno mengangguk.


Jaehyun menghela nafasnya kasar, melihat jeno dalam keadaan stress akibat kembarannya yang tak kunjung sadar, jaehyun memberikannya tepukan pelan di bahu agar tak terlalu memikirkannya karena jaehyun rasa jaemin pasti akan sadar walau entah kapan.


"jangan terlalu dipikirkan, ingat kau pangeran tidak boleh seperti itu" ucap jaehyun, jeno hanya diam mendengarnya.


"Lebih baik kau keluar dan berjalan jalan di taman karena malam ini atau besok salju akan turun, bahkan aku sudah kedinginan" jaehyun mengeratkan jasnya, dia saja kedingingan apa lagi taeyong jaehyun rasa ia harus pengganti penghangat buat taeyong sebelum salju turun.


Jeno sudah menyadarinya dari tadi dan hanya mengangguk.


"dan ๐‘‘๐‘–๐‘Ž akan datang kemari hari ini jeno jadi bersiaplah


ku harap kedatangannya membuat hati mu sedikit tenang" jeno mengernyit siapa 'dia' yang dimaksud jaehyun.


"Dia? siapa?" jaehyun yang berjalan keluar pun menoleh ke arah jeno yang juga menoleh ke arahnya.


"kau juga melupakan kekasih imutmu itu? Padahal dia sudah datang jauh jauh dari negri china" jeno terdiam, kekasihnya.


"kekasihku? Aku punya kekasih?" tanyanya lagi siapa kekasihnya itu?.


pernyataan jaehyun berhasil membuat jeno mengalihkan pikirannya dari jaemin ke dia yang dimaksud jaehyun.


siapa?


...โ™คโ™กโ™กโ™ค ...


Jeno seperti biasa berdiam di kamar jaemin sambil melakukan apapun seperti membaca, dan lain lain.


sampai suara kegaduhan di bawah membuat ia mengalihkan perhatiannya, jeno turun untuk melihat apa kegaduhan di bawah.


Ia mengernyit saat menuruni tangga, hampir semua pelayannya membungkuk bukan untukya mungkin karena mereka tidak menyadari kedatangan jeno dari belakang.


untuk lelaki Mungil yang hanya sedadanya dan berdiri hadapannya yang mengenakan pakaian khas negri tiongkok itu mengedarkan penglihatannya ke seluruh penjuru istana ini.


"woah tidak ada yang berubah" gumamnya. Apa ia tidak sadar jeno sudah turun dihadapannya?.


Jeno diam tidak mengucapkan apapun hingga lelaki itu menyadari kehadirannya.


Jeno kira ia akan sama seperti siapapun yang datang ke istana itu. Membungkuk sopan sangat sangat menghormatinya.


Namun.


"NONO!!" Lelaki itu langsung berlari dan memeluk leher jeno erat, jeno sedikit tercekik akibat lelaki itu yang memeluknya erat dan menjinjit membuatnya setengah menunduk.


jeno mendorong laki laki itu pelan, dan mengusap singkat lehernya.


siapa lelaki itu datang dan langsung memeluknya erat?.


"Siap-


ucapannya terpotong setelah mengingat ucapan jaehyun tadi pagi.


"๐‘‘๐‘–๐‘Ž akan datang kemari hari ini jeno jadi bersiaplah"


oh kekasihnya.


jeno mengangguk anggukan kepalanya, lalu menatap si mungil itu dari atas sampai bawah lalu menyeringai.


"jadi kau yang dimaksud kekasihku?" tanya jeno, bahkan ia merasa para pelayan semua terkejut walau masih dalam keadaan membungkuk.


bahkan lelaki mungil itu merah padam dan tetkejut. Wajahnya menjadi sangat imut dihadapan jeno.


"YAK SEJAK KAPAN INJUN MENJADI KEKASIHMU!" pekiknya tidak main main suaranya yang cempreng itu, pelayan kediaman lee ingin sekali membawa lelaki manis itu keluar dari istana karena berteriak di depan pangeran


tapi apa bisa ia juga pangeran.


"jadi? bukankah kata jaehyun hyung kau adalah kekasihku?" tanyanya lagi, lelaki itu menunduk dan mengumpati jaehyun dalam hati.


"TAK MUNGKIN AKU MENGHIANATI SAHABAT TERBAIKU" pekiknya lagi ia memasuki istana lee menuju kamar jaemin.


Jeno terdiam ditempatnya. Apa maksud lelaki mungil itu?.


jeno dengan terburu buru mengikuti lelaki itu dari terdiamnya ia beberapa menit. Seakan tau apa yang akan lelaki itu temui.


saudara kembarnya.


benar dugaannya, pintu jaemin terbuka lebar ia memasukinya terburu buru. mendapati lelaki mungil yang berdiri dan menatap jaemin sendu.


Lelaki itu menjulurkan tangannya untuk mengusap lembut wajah jaemin.


Jeno menyandarkan dirinya di pintu besar yang sudah ia tutup dan tangan yang ia lipat.


"Singkirkan tanganmu darinya, dan siapa dirimu" lelaki itu menoleh, lalu berkacak pinggang, dan menatapnya kesal.


terlihat menggemaskan.


"jadi benar rumornya, para pangeran yang hilang selama 6 bulan dan datang dengan hilang ingatan" jeno terdiam.


"Apa aku harus mengenalkan diriku seperti saat kita masih kecil dulu?" tanyanya dengan mencebikan mulutnya lalu menghampiri jeno dan menjulurkan tangannya.


"Aku huang renjun sahabat nono dan nana" ia memiringkan kepalanya dan tersenyum manis.


jeno mebalas jabatan tangan itu.


"jeno bukan nono"


renjun menatapnya kesal, balik menghampiri jeamin yang masih terlelap di Kasur.


"Nana-yaa ayo bangun" renjun merendahkan dirinya dengan dengkul sebagai tumpuan.


"oh iya, injunie bawa sesuatu dari


China, oho injun yang buat sendiri tau" renjun membuka bingkisan yang jeno baru menyadari itu.


Renjun menaruh wadah itu di nakas samping tempat tidur jaemin.


Lalu menautkan kedua tangannya, berdoa semoga sahabatnya cepat terbangun dari tidur yang lumayan lama bagi mereka.


"Hahh.... injun rindu kalian" gumamnya. Ia merindukan jeno dan jaemin yang sudah menjadi teman sepermainannya sejak dulu.


"oh iya nono, injun dibolehin baba buat tinggal disini beberapa saat mungkin 2 sampai 3 bulan hehe injun senang sekali" ucapnya girang tanpa menoleh ke arah jeno yang tak peduli.


Renjun balik mengarah jendela dan terkagum tepat saat salju pertama turun.


senyumnya tak pernah turun terpantri diwajahnya sampai ia menoleh ke arah jeno dan menunjukan senyum itu.


"lihat nono, salju pertama turun"


jeno melirik salju pertama turun namun kembali menatap renjun.


sungguh pemuda itu manis sekali.


tanpa mereka sadari ada pergerakan dari seseorang yang tertidur dibelakang mereka


...โ™คโ™กโ™กโ™ค...


tbc