Improve | NCTOT23 | Bxb

Improve | NCTOT23 | Bxb
4 | kim doyoung



Happy reading


...Typo bertebaran...


...♤♡♡♤...


Sampai pada akhirnya mereka berdiam diri di bawah pohon.


Jisung sudah tidak menangis lagi ia sudah tertidur di bahu taeyong, begitu pula taeyong.


Doyoung masih saja memikirkan mengapa mereka bisa sampai disini.


Doyoung melirik mereka berempat yang bisa bisanya tertidur pulas didinginnya hutan di malam hari dan nyamuk yang berkeliaran.


Untungnya jisung memakai jaket, taeyong dengan sweater, yuta dengan hoodie putihnya dan jungwoo kaos tipis lengan panjang. Rasanya doyoung ingin sekali memberi jaket kepada jungwoo namun saat melirik pakaian yang ia pakai


Kaos oblong putih yang sudah sobek tepat di bagian perut.


Doyoung bukan merasa dingin namun


Merasa seperti gembel.


Mana penampilannya sudah banyak ternodai tanah liat.


Ia menghela napas kasar, ia tau pasti mereka lapar dan haus. Ia pun merasakan hal yang sama.


Entah ini penglihatannya yang salah atau apa. Doyoung melihat seperti


Gerombolan api? Yang seperti mendekat kearahnya.


Atau jangan jangan itu adalah kebakaran hutan yang akan menyebar kearahnya? Doyoung panik mana suara seperti langkah kaki dari beberapa orang nambah mendekat.


Doyoung dengan terburu buru membangunkan taeyong lalu jisung. Mereka pun ikutan panik.


Author pun panik


Jisung langsung menggendong yuta, doyoung membantu jungwoo berdiri dan taeyong berjaga dibelakang.


Mereka berjalan tergesa² maklum mereka juga kelelahan tidak ada tenaga untuk berlari.


"LIHAT MEREKA KABUR!!" Teriak seorang dari belakang mereka, membuat mereka yang mengira itu kobaran api dengan spitran cepat berlari.


Apa itu orang² kanibalisme?


"HUWAAAA HYUNG AYO LARI" pekik jisung yang sudah paling terdepan, karena memang dari mereka berlima jisung tidak mengalami luka apapun.


Bahkan yuta sudah tersentak sentak di gendongannya.


"d-doyoung hyung apa kita bakal mati?" Lirih jungwoo berusaha menggerakan kaki kanannya yang mulai kembali mengeluarkan darah.


BRUKK


Jungwoo ambruk doyoung yang membantunya pun ikutan ambruk.


Taeyong kaget ia langsung mengecek keduanya.


"Yakk!!! gwenchana?" Tanya taeyong membantu mendudukan tubuh jungwoo. Doyoung pun terduduk lalu mengecek jungwoo.


"Sakittt" lirihnya menunjuk kaki kanannya yang makin mengeluarkan banyak darah.


Taeyong dengan panik, ingin merobek sweaternya yang sangat sulit, doyoung yang melihat langsung menahannya.


Doyoung membuka kaosnya yang memang sudah sobek dibagian tengah lalu mengikatnya di kaki jungwoo menghambat keluarnya banyak darah.


Saat sedang mengikat kaosnya tiba tiba doyoung merasa kedua tanganya ditarik kebelakang saat melirik taeyong pun sama.


"AAAAAHH LEPASINN APA APAASIHH" teriak taeyong yang langsung dibekap. Doyoung tidak sempat berteriak sudah dibekap.


Pandangannya lama kelamaan menjadi kabur sebelum pandangannya menghilang.


Terakhir yang ia lihat adalah lelaki tampan yang menyebutkan namanya.


"Doyoung?"


...♤♡♡♤...


"Uhh sakit...."


"Akhh"


"Sshh ini d-dimana?"


"Ughh j-jaemin sadar"


"LEPASIN KAMI BAMSAT"


Teriakan johnny membuat beberapa dari mereka yang masih pingsan itu terbangun. Pengawal yang sedari tadi geram pun sudah ancang ancang ingin menusukan kembali satu pisau kecil ke perutnya.


"Jangan"


"t-tapi tuan moon"


"Ku bilang jangan" titah seseorang yang satu satunya dari mereka terduduk dengan pakaian rapi sepertinya ketua dari mereka semua.


...


...


Doyoung meringis, kepalanya sedikit sakit. Ia melihat sekelilingnya.


Ada taeyong, jungwoo, mark, kun, hendery, johnny, dan si kembar.


Dan... yang baru saja didorong salah satu pengawal.


"awhh santai dong" ringis jisung. Ia didorong begitu saja, ingin kembali rasanya menangis.


Suasana kembali hening, hanya ringisan dari mereka yang terbaring lemah di atas tanah.


Doyoung kedinginan sekarang. Bagian atas tubuhnya tidak mengenakan apapun. Doyoung merasa ada yang menatap tubuhnya lekat lekat. Ia merinding.


"Berikan ia selimut" ucapan dari ketua itu kepada salah satu pengawalnya. Membuat mereka menoleh menatapnya bingung.


Siapa memberi siapa?


Keasikan melihat si ketua doyoung tanpa sadar merasa sedikit hangat menutupi bagian atas tubuhnya, ia menoleh. Mendapatkan satu pengawal tampan yang menutupi tubuhnya dengan selimut.


"T-terima kasih" pengawal itu merona sesaat seakan mendapat pujian dan juga sedikit terkejut.


Bahkan ketua itu pun terkejut.


Doyoung bingung apa ia salah mengucapkan terima kasih?


"A-apa? Kenapa?" Tanyanya.


Ketua itu menggeleng pelan. Lalu menghela napasnya kasar.


"Coba jelaskan" ucapnya. Membuat mereka yang tersadar bingung.


"Jelasin apa?" Tanya jeno bingung.


"Jelasin mengapa kalian..


para anak bangsawan seperti kalian bisa berada di tengah hutan belantara ini?" Ucapnya menekan setiap ucapan yang keluar menahan emosi.


Jeno terkejut, mereka semua terkejut


Author terkejut.


...♤♡♡♤...


Tok tok tok


"Masuk"


Seorang pemuda masuk lalu membungkuk singkat kepada seseorang yang terduduk didepannya.


"Pemimpin pasukan, tuan moon. datang dengan membawa berita penting yang mulia" ucapnya formal menunduk lalu membungkuk sopan.


"Biarkan ia masuk" ucapnya lalu mematikan pematik yang di apit di jarinya.


Pemuda tadi membungkuk lalu mempersilahkan lelaki yang lebih tua darinya untuk masuk lalu ia keluar membiarkan mereka berdua berada di dalam ruangan.


"Berita penting apa taeil?" Tanyanya, taeil pun membungkuk singkat kembali berdiri tegak.


"Penting bahwa putra mahkota telah ditemukan, keadaanya tidak begitu buruk namun salah satu pengawal menusukan satu bilah pisau di perutnya akibat terus memberontak" lelaki itu hanya mengangguk, pasti sudah ditemukan jelas yang menghilang adalah putra mahkota yang harusnya sudah naik tahta menjadi raja namun tertunda akibat menghilangnya tanpa jejak sedikit pun.


"Terus ada lagi?"


"Ketiga anak dari kerajaan lee pun sudah ditemukan dalam keadaan sedikit mengenaskan namun salah satu dari si kembar tidak sadarkan diri" lelaki itu hanya mengangguk. Pasti jaejoong bergerak cepat mencari ketiga anaknya yang menghilang secara tiba tiba.


"Anak kedua kerajaan jung juga sudah ditemukan dalam keadaan mengenaskan namun anak bungsunha belum juga ditemukan" ia lagi lagi mengangguk lalu menatap taeil datar.


"Siapa yang sangat hebat itu bisa menemukan anak anak bangsawan yang kita cari selama 6 bulan terakhir ini?" Tanyanya. Taeil terdiam.


"Pfftt.. kamu?" Ia menahan tawa. Taeil hanya menatapnya datar.


"KENAPA MENEMUKAN ANAK MEREKA KENAPA TIDAK MENEMUKAN TUNANGANMU SENDIRI?" teriaknya emosi. Sudah 6 bulan ia menunggu kehadiran anaknya yang tidak menampakan dirinya. Nafasnya terengah engah.


"Hahh doyoungaa kamu dimana" gumamnya frustasi namun masih dapat didengar taeil.


Taeil terdiam, lalu melanjutkan kata katanya.


"Kim doyoung dan kim jungwoo dari kerajaan kim sudah ditemukan yang mulia" lelaki itu mendongakkan kepalanya terkejut. Lalu berdiri menghampiri taeil.


"Sungguh?" Ucapnya tak percaya, senyumnya sudah tidak bisa ia tahan lagi.


Taeil mengangguk. Ia sedikit tersentak akibat lelaki di depannya 'kim jongin' dengan tiba tiba memeluknya erat. Taeil mau tak mau membalas pelukannya.


"Sekarang diman—"


DUBRAK


Pintu di belakang taeil didobrak begitu saja. Padahal sudah ancang ancang ingin membasmi pelaku namun ia urungkan niat tersebut.


"Yang mulia kristal" taeil membungkuk sopan, lalu meminggirkan dirinya.


Kristal membalas bungkukan sopan taeil lalu menatap tajam suaminya.


"LIHAT" pekiknya, kristal memeluk doyoung dari samping.


"Anak kita kai hiks, kamu kemana aja doyoung-aa" kristal menangkup wajah doyoung, lalu memeluk nya erat. Kai pun ikut memeluknya erat.


Doyoung kebingungan terbaca dari ekspresinya sekarang dan itu tertangkap taeil yang mana sejak tadi memperhatikannya.


Lalu doyoung mendorong mereka berdua sekuat tenaga. Ia bingung dengan situasinya sekarang.


"Iya doyoung-aa? Kamu mau apa? Mau makan apa nanti buna masakin" ucap kristal yang tidak bisa disembunyikan lagi bahwa ia senang sekarang.


Doyoung mengernyit.


"Buna?


Kalian siapa?" Seakan disambar petir, satu lelehan air mata mengalir dari pelipis kristal. Ia lalu menoleh ke arah suaminya yang sama terkejut bahkan taeil sendiri yang dikenal akan wajah datarnya.


"H-hah? Doyoung-aa kamu" kristal lalu menunduk dan menghadap kai.


Plak


Satu pukulan didapat oleh kai di kepalanya.


"Kamu sih ! Lihat doyoung dia jadi ga inget sama aku ! Ini pasti gara gara kamu yang bawa cewek itu kesini kan !!" Amuk kristal, kai meringis.


Taeil yang melihat bahwa mereka akan bertengkar pun menarik doyoung membawanya keluar dari ruangan ayahnya.


Doyoung yang ditarik pun menjadi semakin bingung dan berakhir membiarkan taeil membawanya entah kemana.


Langkahnya terhenti di tepat depan kediaman kerajaan kim, yang tepatnya lagi akibat kereta kencana milik siapa entah membuat taeil yang terpaksa menghentikan langkahnya.


Saat seorang wanita cantik turun membuat taeil mengeratkan genggamannya pada tangan doyoung, doyoung dapat merasakan itu.


Wanita itu menatap doyoung meremehkan dan disusul seorang lelaki yang dibantu berdiri oleh pengawal.


"Uwu?" Gumam doyoung, taeil menoleh seakan 'siapa uwu'


Jungwoo pun menatap doyoung, senyumnya pun mengembang. "Doyoung hyung?" Wanita itu berbalik menatap jungwoo tajam.


Lalu menarik tangan jungwoo untuk masuk kedalam. "E-ehh doyoungg hyungg tunggu" teriak jungwoo yang lama kelamaan menghilang masuk kedalam kediaman kim.


Doyoung tadinya mau menyusul namun naas ia sudah kembali ditarik taeil.


"Hei kita mau kemana?" Tanya doyoung mereka sudah berjalan sedari tadi namun tak kunjung sampai.


Tepat saat bertanya langkah mereka berhenti di depan pintu besar tanpa ia sadar mereka sudah berada di sekeliling pohon bukan hutan karena ini lebih seperti terawat.


Taeil pun membuka pagar nan besar itu lalu menarik doyoung kembali.


...♤♡♡♤...


"Sshh ahh .. pelan pelan"


lirih doyoung akibat taeil tidak sengaja menekan bagian lukanya.


Doyoung tidak bisa membayang bagaimana sakitnya jungwoo bahkan ia hanya memiliki luka sayatan yang tidak terlalu besar.


"Maaf" taeil mencoba mengobatinya sepelan mungkin.


"Nah sudah" dengan telaten taeil memakai kan doyoung baju tidur.


"Boleh aku bertanya?" Tanya doyoung hati hati. Taeil mengernyit bingung.


"Tentu" taeil kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


"Ini dimana?" Doyoung menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ini? Kau lupa? Menghilang 6 bulan membuatmu tidak ingat apa apa kah?" Taeil terkekeh.


"Apa jangan jangan kau juga melupakanku?" Lanjutnya.


"Apa


Kita pernah bertemu?" Ucapan doyoung membuat taeil menoleh kaget. Namun ia kembali berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


"Kau beneran lupa rupanya" ia tersenyum sendu.


"Jika diijinkan apa aku boleh bertanya?" Ucap taeil sopan, doyoung mengangguk.


"Tentu kenapa pake ijin segala" ucap doyoung sambil mengembungkan kedua pipinya.


"Harus, tidak sopan bagiku yang hanya pemimpin pasukan tidak meminta ijin padamu pangeran" taeil kembali duduk di pinggir ranjang bersampingan dengan doyoung.


"Aku? Pangeran" tanya doyoung menunjuk ke arah dirinya sendiri.


Taeil menatapnya datar.


"Aku harus membawamu ke tabib besok" taeil beranjak berdiri niat ingin pergi namun doyoung menahan tangannya.


"Buat apa?" Tanya doyoung


"Sepertinya kamu sakit parah" taeil mendekatkan wajah mereka lalu memegang dahi doyoung dengan punggung tangannya. Wajah doyoung memerah ini benar benar dekat


"Eumm.. terus kamu mau kemana?" Tanyanya lagi.


"Saya harus pulang pangeran" taeil membungkuk sopan lalu bergegas keluar.


"Tunggu! Kenapa kamu selalu memanggilku pangeran? Bahkan kedua manusia yang memelukku erat tadi saja tidak memanggilku begitu" tanya doyoung panjang lebar.


Taeil berbalik. "Karena memang kau sendiri yang memintaku untuk memanggilmu seperti itu"


Doyoung bingung.


Kapan ia memintanya?.


"Hari sudah malam pangeran silahkan tidur dengan nyenyak, panggil saya jika membutuhkan penghangat ruangan"


"Tunggu!" Taeil berbalik menatap doyoung bingung. Sebenarnya ia kesal doyoung yang terus memanggilnya.


"Kamu mau kemana?" Doyoung tidak mau ditinggal sendiri disini. Bukankah taeil sudah bilang tadi?


"Saya mau pulang pangeran, ada apa?"


"Dimana rumahmu? Bolehkan aku menginap disana semalam" taeil tersenyum mengusak pucuk rambut doyoung. Entah ia merasa sudah setahun lebih tidak melihat kelinci nakal kesayangannya ini.


"Tidurlah jika mau menginap" doyoung menatapnya bingung.


"Bukannya kamu bilang tadi ini rumah aku?" Taeil mengangguk.


"Dan ini juga rumah saya" doyoung berpikir sejenak sebelum wajahnya memerah.


"M-maksudmu? Kita serumah?" Gumamnya ia menunduk memainkan jari.


Taeil mengangguk lalu menarik dagu doyoung agar mendongak menatapnya.


"Aku kira kau bercanda" ia tersenyum sendu.


"Apa kau mengingatku?" Doyoung menggeleng.


"Sungguh?" Doyoung kembali menggeleng dengan cepat.


"Saya jadi sedih padahal


Saya suamimu doyoung-aa" taeil tersenyum manis kearah doyoung yang dibuat terkejut.


...♤♡♡♤...


...Tbc 💅...