
BRAK
BRUG
GDUBRAK
BRAK
mark membuka matanya dengan susah payah, lalu mengedip kedipkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk. Suara debuman besar itu sungguh mengganggu tidur nyenyaknya.
Mark berusaha menggerakan kaki dan tangannya namun nihil. Hanya jarinya yang bergerak sangat sakit rasanya saat tangan dan kakinya bergerak bahkan untuk duduk.
Ia melihat sesosok lelaki dengan pakaian sederhananya sedang merapihkan beberapa perabotan di kamar itu seperti memindahkan sofa dan membersihkan debu.
Hanya sendiri. Mark berdecak kagum.
Jika dilihat lelaki mungil berkulit tan itu sangatlah kecil.
Tidak bisakah lelaki itu meminta bantuan seseorang? Sampai ia terjatuh akibat memrapihkan jendela kamar yang tinggi diatas bahkan mark pun mungkin tidak akan sampai.
BRUKK
"Aww" ringisnya memegangi punggungnya yang sakit tepat mengenai lantai. Mark ingin berdiri dan membantunya namun tidak bisa.
"He-hei hei what's wrong with you?" Suara serak mark akibat tidak diisi dengan air selama beberapa hari membuat lelaki itu menoleh dan berdiri dengan cepat.
"E-eh nee? TUAN SUDAH SADAR" lelaki itu menghiraukan pertanyaan mark, ia malah berlari keluar dengan terburu buru.
Mark ingin mengumpat dalam hati rasanya.
Ia haus sekali untuk menggapai gelas diatas nakas rasanya sungguh tak berdaya.
Mark kembali terkejut akibat dubrakan pintu, munculnya lelaki manis itu dan dua pria didepannya lalu beberapa wanita.
"Mark? Kamu gapapa?" Mark mengernyit, siapa lelaki dihadapannya ini? Mengapa tahu namanya?.
"HEI JAWAB" bentaknya bukan hanya mark bahkan lelaki disampingnya dan semua yang berada di kamar itu terkejut.
"A-ah i'm okey, tapi sakit banget. Kaki dan tangan ku tak bisa digerakan" ucap mark yang masih terkejut.
"Hah baik" lelaki itu mengusap lembut rambut mark, ia tersenyum manis hingga menunjukkan dimplenya.
"Setidaknya kau sudar sadar" lanjutnya.
"Tapi
Kau siapa ya? Bentak bentak orang sembarangan" mark buka suara, membuat seisi ruangan menatapnya kaget bahkan lebih terkejut dibandingkan tadi.
"Dia tidak baik baik saja" ucap lelaki itu.
"Iya ku yakin" saut lelaki disampingnya.
"Panggil tabib sekarang wonwoo yaa" titahnya dengan suara berat dan sedih amarah menyatu. Lelaki disampingnya— wonwoo dengan terburu buru keluar dan disusul beberapa pelayan yang mengikutinya untuk mengikuti tabib.
Lelaki itu kembali mengitari seisi kamar mark yang menjadi semakin lebih baik. Tidak ada serpihan kaca, kursi dan perabotan yang tak terletak ditempatnya dan debu dimana mana.
"Makasih haechan-aa, kamar ini jauh lebih baik" senyumnya, lelaki yang dipanggil haechan itu tersenyum sangat manis bahkan membuat mark yang melihatnya terkagum sesaat.
"Very sweet" gumam mark, membuat lelaki disebelahnya menoleh.
"Apa? Kau ngomong apa?" Tanyanya ia tidak mendengar akibat kecilnya gumaman mark tadi. Mark menggeleng.
Lalau dengan tangannya seakan mengusir mereka mengarah pintu.
"Bisakah kalian keluar, kepalaku sakit" mark memejamkan matanya. Lelaki disampingnya menghela nafas kasar.
"Baiklah" ia berdiri sebelum itu ia mengusap kembali pucuk kepala mark.
"Oiya haechan-aa" panggilnya, haechan langsung menghampirinya walau masih dalam keadaan menunduk.
"Iya putra mahkota" bungkuk haechan sopan.
"Awasi pangeran mark seharian penuh, hanya kau yang aku andalkan saat ini mengerti?" Lelaki itu menepuk pundak haechan pelan. Haechan mengangguk.
"Baik putra mahkota jung" lelaki itu tersenyum tepat saat ia ingin keluar wonwoo datang dengan seorang tabib.
"Oh wonwoo-ya tepat sekali, aku akan pergi sebentar kau bisa membantu haechan menjaga mark dan kabari aku setelah tabib mengeceknya" jelasnya menepuk lengan wonwoo, wonwoo mendelik.
"Baik tuan, tapi jika boleh tau anda ingin pergi kemana ya?" Wonwoo adalah asisten pribadinya sekaligus kepala pelayan. Jelas ia harus tau jika lelaki itu ada keperluan apa saja hari ini.
Lelaki itu tersenyum dan mendekatkan dirinya tepat ditelinga wonwoo. "Istana lee, menjumpai putra mahkota lee taeyong" lalu ia pergi begitu saja.
Wonwoo ingin menghancurkan istana ini rasanya. Bisa bisanya adik kandungnya sedang sekarat ia lebih memilih keistana lee yang letaknya cukup jauh dari istana jung. Hanya menemui lelaki cantik itu.
"Sialan jung jaehyun" gumamnya pelan ia tidak mau seorang mendengar umpatannya yang ia berikan pada putra mahkotanya.
...♤♡♡♤...
..." cheotnun oneun ireon ohue neoege...
...jeonhwareul geol suman itdamyeon gippeultende...
...beolsseo illyeoni jinatneunde nan ajik miryeon...
...gadeukhaeseo “sseulsseulhae” eoneusae honjatmal...
...ilnyeon jeoneuro gal su itdamyeon...
...yeah babo gateun soriji, geuraedo manyak...
...neoreul mannamyeon ...
...nunmul cha olla...
...babo gateun nan amu mal mothae...
...malhaejwo meri meri keuriseumaseu,...
...annyeong jal jinaeneungeoji...
...nuni naerimyeon ...
...meongdeun gaseumi...
...modu hayahge da deopyeojige doelkka...
...mianhae jalhaejuji mothae...
...huhoeman gadeuk gadeuk haetdeon,...
...geu keuriseumaseu "...
Mark terpejam, mendengar lantunan suara indah seseorang membuatnya enggan untuk terbangun bahkan hanya sekedar untuk membuka mata.
Suara itu benar benar lembut. Usapan di tangan kirinya, dan eratan selimut yang menghangatkan dirinya naik hingga ke leher. Mark merasa sudah memasuki musim dingin.
Sampai suara itu terhenti dan suara tertutupnya pintu membuat mark terbangun dan seakan mencari kemana larinya suara merdu nan indah itu. Ia ingin mendengarkanya lagi sungguh.
Mark berusaha mendudukan dirinya. Walaupun sangat sakit ia harus memaksakan diri untuk hanya sekedar duduk.
Melihat sekitar. Kamar dan cuaca diluar sama persis. Sama sama gelap. Bahkan hanya perapian yang membuat mark masih merasa hangat dan menyinari gelapnya malam itu.
Mark berdiri masih bertumpu dengan barang barang didekatnya agar tidak terjatuh.
Tujuannya menuju jendela sekarang. Melihat jatuhnya buliran buliran salju yang masih sedikit sedikit itu turun.
"First snow" gumamnya.
Mark tersenyum tanpa sadar. Ia melirik kebawah melihat salju salju itu terjatuh di permukaan tanah yang lalu diinjak seorang lelaki dengan pakaian yang sangat tebal.
Mark terkekeh.
Lelaki itu sudah seperti buntelan sangking tebalnya jaket dari bulu domba yang ia kenakan.
Ada dua laki laki disana mereka sama sama menggemaskan yang satu buntelan yang satu badannya lebih kecil namun akibat bajunya yang sangat tebal dan lebih err mewah (?) Karena dijaketnya bukan hanya bulu halus bahkan ada beberapa emas yang menempel.
Walaupun mark sambil memegangi dadanya yang masih terlilit perban dan menahan sakit ia tetap ingin melihat kedua lelaki itu bermain. Mereka seakan bebas.
"Haechaniee terima inii haha" teriak lelaki yang lebih mungil smabil melemparkan bola salju karahnya.
"Yakk kalo lempar itu bilang bilang" lelaki itu makin melemparkan dua buah bola salju sekaligus.
"Yak kok dua" ucapnya tak terima.
"Bodo wle" jawab haechan sambil menjulurkan lidahnya. "Karena yangyang nakal sekali terima ini lagi" haechan kembali melemparkan bola salju itu sekaligus tiga kepada teman dihadapannya— xiu yangyang.
Mark tertawa gemas melihatnya sungguh walaupun tubuhnya nyeri disekujur tubuh akibat berdiri terlalu lama namun tingkah dua makhluk dibawah sana mengalihkan semuanya.
Sampai tanpa ia sadari satu dari mereka berdua masuk kembali keistana berbeda dengan temannya yang sudah dijemput kereta kencana.
"Pangeran?" Mark menoleh dan terjatuh akibat pegangan pada tembok terlepas dengan terburu buru lelaki yang memanggilnya menghampiri dan menangkup tubuh mark yang tidak bisa dibilang kecil.
Mark dengan reflek memeluk bahu haechan, kaki dan perutbya kembali merasakan sakit yang teramat. Ia menyembunyikan kepalanya di leher haechan.
Haechan terdiam sesaat. Ia terkaget dengan posisi ini. Dengan sekuat tenaga membopong mark menuju kasur.
Saat mark sudah berhasil ia dudukan dan menutupi tubuh mark dengan selimut yang lebih tebal dari yang tadi. Baru saja haechan ingin pergi memanggil pelayan dan tabib lengannya ditahan oleh mark.
Dengan sekali gerakan mark menarik lengan haechan lalu memeluk pinggang mungil itu yang sangat pas dilengannya lalu menyenderkan kepalanya tepat di perut haechan.
Entah karena haechan yang memberi kehangatan padanya atau akibat jaket tebal berbulu yanv haechan kenakan?
Mark merasa sangat hangat dengan posisi seperti ini.
"P-pangeran" gugup haechan. Ini pertama kalinya semenjak haechan bekerja dikerajaan jung ia mendapat diperlakukan seperti itu oleh mark dan sejak kapan mark mempunyai sifat lembut seperti ini.
"Dingin" ucap mark singkat.
"Ah aku akan menambahkan kayu agar ruangan ini tetap hangat" baru saja haechan mau melepaskan diri dari mark. Rengkuhan itu kembali mengerat.
Bahkan karena kesal dengan pergerakan haechan. Mark menarik pinggangnya agar terduduk di atas pangkuannya. Lalu bersandar di bahu haechan.
Haechan terdiam bohong jika ia bilang tidak terhangatkan oleh posisi ini. Haechan merasa sangat hangat namun ia tidak tau harus bertingkah seperti apa.
Tangannya menarik selimut tebal di pundak mark agar semakin mengerat padanya dan mark. Ia tidak mau pangeran dihadapannya menjadi kedinginan.
"Hangat" gumam mark. Ia malah mengeratkan pelukannya pada pinggang haechan membuat tubuhnya dan haechan semakin mendekat.
Haechan dengan reflek memeluk leher mark.
Salju pertama sudah sangat membuat haechan bahagia ditambah kedatangan kawannya dari negara sebelah.
Dan dekapan seorang pangeran yang sejak dulu memperlakukannya buruk namun dengan tiba tiba memeluknya untuk saling membagi kehangatan.