
Happy reading ....
Yang ga happy mari bergalau bersama
...♤♡♡♤...
"Ughh.... s - sakit sshh" taeyong memegang kepalanya yang terus berdenyut dengan sebelah tangan bertumpu di atas tanah berusaha berdiri, ia meringis pandangannya pun menjadi buram, sedikit jeda sebelum ia benar benar terbangun menunggu pandangannya kembali normal.
Taeyong berdiri dengan bertumpu pohon ia mendongak melihat cahaya matahari yang menyilaukan mata, ia pun kembali menatap depan, pandangannya menyitari sekitar.
Wajahnya yang meringis berubah menjadi terkejut. Kembali menyitari tempat ini membuatnya sedikit ketakutan.
Hutan
Dengan pohon tinggi menjulang, tanah liat yang ia pijak dan beberapa ranting berjatuhan dan juga akar yang timbul dibawahnya membuat siapapun harus berhati hati agar tidak terjatuh.
Taeyong gemetar akibat merasa bahwa hanya ia sendiri di situ, jika masih ada orang lain mungkin ia akan sedikit lebih baik.
Menyusuri jalan ke depan, sambil berwaspada jaga jaga apabila ada hewan buas.
Akibat terlalu mengawasi sekitar tanpa melihat kebawah
DUGG
"Awhh.." taeyong kembali meringis hoodienya yang sudah kotor kembali terkena noda, lebih kesal lagi karena ia terjatuh kedepan dengan wajahnya yang terkena tanah duluan.
"Iihh sakitt !! Apaan sih itu" pekiknya dengan posisi yang masih tengkurap dengan kaki yang ia gerak²kan seperti menendang otomatis terkena hal yang membuatnya terjatuh.
Taeyong berdiri, menepuk nepuk kedua tangannya berusaha menghilangkan sisa sisa tanah liat, tanpa sadar melirik ke belakang
"AAAAKKHH" taeyong sedikit mundur masih dalam posisi duduknya, ia kaget sungguh.
Melihat sesosok laki laki yang tengkurap dengan wajah yang tenggelam di tanah membuat taeyong kesulitan melihat wajahnya.
Taeyong memberanikan diri mendekati laki laki dengan kulit putih namun dengan tanah liat yang mengotorinya. Taeyong mendekat masih dalam posisi duduk, menyenggol kepala lelaki itu dengan ujung sepatunya, melihat tidak ada pergerakan.
"DOYOUNG !!" Taeyong tersenyum lebar menampilkan jejeran giginya, dia menarik kepala doyoung agar tiduran dengan paha taeyong sebagai tumpuannya.
"Doyoungg doyoungg !! Bangun young ini yongiee !!" Taeyong menampar pipi doyoung berulang kali dan meneriakinya beberapa kali, mata taeyong berkaca kaca saat doyoung tidak membuka matanya.
"D - doyoung ? ... hiks" taeyong menggerak gerakkan bahu doyoung brutal semoga saja sang empu terbangun namun nihil.
Taeyong berdiri, ia pun berusaha mendirikan doyoung namun nihil jadi ia menggendong doyoung dengan banyak kesulitan akibat doyoung yang sangat berat.
"Hiks... doyoungaaa ini dimana sihh" taeyong menghentak hentakkan kakinya ke tanah, ia kesal mau merengek pun ia tau itu tidak ada hasilnya
"Hiks... ughh... huhu hiks" taeyong tertegun, langkahnya terhenti seketika. Itu bukannlah suaranya. Kaki taeyong gemetar.
"Hiks.. sakiittt" manusia? Itu pikir nya, taeyong mencari asal suara tangis itu, ia gemetar memang.
"Eung ? Taeyong hyung ?" Taeyong menoleh mendapatkan jungwoo yang terduduk dan tengah menangis tersedu sedu. Taeyong menghampirinya, menempatkan doyoung disamping jungwoo sedangkan ia menghampiri jungwoo.
"Jungwoo !? K , kamu kenapa ?" Tanyanya tergesa gesa, jungwoo tidak menjawab pertanyaannya malah semakin menangis.
Taeyong panik, ia mengecek seluruh badan jungwoo dari atas sampai bawah yang terakhir adalah kaki.
Kaki kanan jungwoo berdarah.
"Jungwooaa i - ini gimana bisa ?" Taeyong memperhatikan terus kaki jungwoo yang terus mengeluarkan darah. Ia berpikir cara untuk menghentikan darah itu.
Taeyong mencoba menyobekan hoodie yang ia kenakan, ia tak tau ini permasalahan antara hoodienya yang memang tak bisa disobek atau tenaganya yang kurang kuat?
Sambil terus berpikir ia melihat jungwoo yang menggunakan sweater ah pasti akan sama saja, tapi ia melirik kesamping mengingat bahwa doyoung memakai kemeja putih tipis.
Taeyong dengan tergesa menyobekkan kemeja doyoung hampir sampai ke dada, setelah melakukannya taeyong pun baru ragu.
"Doyoung minjem bentar yah, nanti yongie ganti yang baru" taeyong langsung mengikat sobekan kemeja itu ke kaki jungwoo. Mengikatnya dengan kencang agar tidak terlepas.
"Nahh sudah, sekarang ayo berdiri" taeyong menepuk kedua tangannya sesaat lalu memegang kedua tangan jungwoo dan membantunya untuk berdiri.
Jungwoo mengulum bibirnya kuat saat mencoba berdiri, tangannya bertumpu di pohon, kakinya kembali merasakan sakit.
Taeyong kembali berpikir, melihat keadaan jungwoo yang tidak bisa berjalan dengan baik. Dan doyoung yang tidak sadarkan diri sejak tadi.
Ia kembali menyitari sekitar, pandangannya berhenti mendapatkan sesuatu yang ia cari, taeyong menghampiri benda itu dan langsung membawanya ke jungwoo.
"Jungwoo pake ini, yongie ga bakal bisa gendong doyoung sama jungwo barengan maap" taeyong nunduk, jungwoo yang masih meringis tiba tiba terkekeh mendengar perkataan taeyong.
"Hiks hehe gapapa hyung" jungwoo mengambil dua batang pohon itu, dan mencoba berjalan satu langkah. Merasa sudah bisa berjalan dengan perlahan.
"Ayo hyung, uwu udah bisa jalan ini !!" Ungkapnya antusias, taeyong yang melihat ikut tersenyum, kembali menggendong doyoung di punggungnya.
"Yaudah ayo jalan" namun langkah mereka tiba tiba terhenti.
"T-tapi
Kita harus kemana?" Jungwoo menunduk lesu, ia sudah semangat tadi merasa masih ada harapan saat bisa berdiri namun semuanya kandas sesaat.
Taeyong berusaha menguatkan diri. "Kita jalana aja dulu siapa tau ada desa atau semacamnya" jungwoo mengangguk. Mereka berdua pun berjalan ke depan tanpa tau arah.
...♤♡♡♤...
"tolongg.... tolongg"
Hendery mengerjap ngerjapkan matanya, mengernyit kesal akibat tidurnya keganggu.
"Masih pagi astagaa" hendery malah menyamankan dirinya di atas tanah yang ia kira adalah kasur.
"Tolonggg... tolongggg" Makin lama suara itu makin jelas membuat hendery terpaksa bangun.
"Ish ckck" hendery terduduk masih dalam mata tertutup, tangannya berusaha menarik narik selimut namun tak tergapai, matanya pun terbuka.
"YAAHHH eh mimpi ya?" Hendery tersenyum bodoh.
"Iya ini mimpi haha, tapi masa mimpi ke hutan sih ga elit banget" hendery pun mencoba tidur kembali.
"WOII TOLONGGG TOLONGGG" hendery kembali terduduk, suaranya seperti tepat disampingnya, ia menoleh ke kanan kiri yang ia lihat hanyalah hutan belantara.
Mimpi yang sangat tidak mengenakan bagi hendery sekarang ke hutan
Hendery berdiri mencoba mencari suara itu, seperti suara lelaki yang sudah berumur.
Jangan jangan itu om² pedo lagi, kalo gua diculik terus perkaos terus ko apa kata tetangga?. Hendery bengong beberapa saat saat suara yang ia dengar tadi sudah sangat dekat.
Namun kebaikan adalah nomor 1 bagi hendery yang penting nolongin dulu, selamat engga itu urusan terakhir.
Situasi yang menegangkan bagi hendery saat melihat gundukan tanaman yang bergerak gerak sedangkan tidak ada angin.
Dengan sekali hempasan hendery menggerakan tangannya seperti menampar seseorang ke gundukan itu.
Plak
"Awh" ringis seseorang
"Eoh?
KUN GE?!"
...♤♡♡♤...
Next or unpud?
...my first book story anjayani...