
Taeyong yang terduduk bergerak resah, ia cemas bukan main.
Kereta kencana yang membawa tubuhnya, si kembar dan dua orang yang tidak ia kenal.
Wajahnya berkeringan, ia mengulum bibirnya sendiri, memainkan jarinya, dan menunduk dalam. Semua itu tertangkap salah satu pengawal yang terduduk tepat didepannya.
Pengawal itu terkekeh. Taeyong menatapnya bingung.
Pengawal itu balik menatap taeyong dan tersenyum lembut. Dengan perlahan ia mengambil sesuatu dari balik jubahnya.
Sebuah permen.
Ia menyodorkannya pada taeyong. Taeyong menerimanya dengan baik.
"Makasih" gumamnya. Taeyong mengeryit melihat bungkus yang tidak seperti permen yang biasa ia temukan.
Sangat kuno.
Taeyong memakannya tanpa rasa curiga, pengawal itu seperti kaget melihat tingkah taeyong yang sedikit pun tidak menaruh curiga padanya.
"Sudah sedikit tenang pangeran?"
"Uhukk uhuk" taeyong terbatuk, pengawal itu dengan sigap memberi air kepadanya.
"Uhuk p-pangeran?" Pengawal itu mengangguk lalu menatap taeyong bingung.
"Iya pangeran"
"Aku bukan pangeran" pengawal itu awalnya ingin menyela lalu terkekeh.
"Haha iya aku lupa kamu putra mahkota kerajaan lee" taeyong menyipitkan matanya, pa maksud pengawal ini?.
"Sudah kubilang bukan!" Ucap taeyong kesal.
"Darimana bukannya? Apa pangeran menurunkan tahtanya pada sikembar?" Ucap pengawal itu sambil melirik jeno jaemin yang tertidur di samping kanan kiri bahu taeyong. Yah walaupun jaemin bukan tertidur tetapi pingsan.
"Hah? Maksudmu?" Taeyong tidak mengerti sekarang. Pangeran, putra mahkota?
"Kamu seperti mengenalku sekali ya" lanjut taeyong tanpa sadar, menunduk dan memainkan jarinya.
"Aku memang mengenalmu taeyong-aa" ia terkekeh. Taeyong mendongak apa tadi candaan sekarang ia malah memanggil namanya secara santai.
"Ah maaf maaf pangeran ku tanpa sada-"
"Kau beneran mengenalku?" Pengawal itu mengangguk.
"Pasti siapa yang tidak mengenalmu. lee taeyong,putra mangkota lee yang bersaing dengan putra mahkota jung" ia tersenyum. Sangat tampan pikir taeyong.
"Jung? Mark jung?" Tanya taeyong. Pengawal itu menggeleng.
"Kenapa pangeran mark? Apa kamu lupa? Kakaknya mark, jung jaehyun" taeyong mengernyit.
"Siapa?" Pengawal itu menatapnya kaget, terkejut sangat. Taeyong dan jaehyun sangat dekat ingatnya sebelum taeyong dikabarkan hilang 6 bulan yang lalu.
"Kamu lupa? Apa jangan jangan kamu lupa juga denganku?" Taeyong dengan ragu menggangguk.
"I-iya, kamu siapa?" Pengawal itu tersenyum sendu. Apa taeyong bertemu penyihir lalu ingatannya menghilang?.
"Pangeran sepertinya sakit parah, aku harus memanggil tabib" gumamnya. Lalu mendongak menatap taeyong lembut.
"Aku kim mingyu, pengawal pribadimu" ia tersenyum manis. Sangat sangat manis taeyong berpikir.
Permen yang ada di mulutnya kalah manis dengan senyuman itu.
...♤♡♡♤...
Taeyong, jeno dan jaemin yang berada di gendongan jeno. Memasuki pintu yang neomu neomu besar.
Rasanya taeyong ingin membuka sepatunya dulu karena tidak ingin mengotori ubin lantai.
"Taeyong hyung kita dimana" jeno berbisik ke taeyong. Taeyong menggeleng, mereka hanya mengikuti kemana mingyu pergi.
Mingyu membuka pintu itu, lelu menunduk mempersilahkan mereka bertiga masuk.
Taeyong terus terkagum melihat isi ruangan itu yang sangat indah dan mewah. Begitu jeno, ia rela menukar jaemin dengan isi ruangan itu yang serba emas.
"Woah... daebak" mereka menatap sekeliling hingga suara dubrakan pintu dengan serentak mereka menoleh.
"TAEYONG!" lelaki tua dengan tergesa gesa memeluk taeyong erat. Taeyong terdiam sesaat, namun ia tidak memberontak.
Lelaki itu melepaskan pelukannya lalu menatap jeno sendu. Menangkup wajahnya. "Jeno-aa" lirihnya. Matanya menangkap jaemin yang pucat pasi digendongan jeno.
Ia panik lalu memanggil pengawal itu membawa jaemin dan jeno ke kamarnya.
"Hiks.. taeyong kamu kemana aja" ia terus memeluk taeyong. Taeyong masih diam sejak tadi. Ia saja tidak tau dia dari mana.
Dengan perlahan taeyong mendorong lelaki tua itu. Lalu tersenyum kikuk. "tapi um anda siapa?" Tanyanya pelan.
Namun setelahnya taeyong panik.
Lelaki itu pingsan bahkan mingyu yang menunggu di luar ruangan pun masuk dengan terburu buru.
"Mingyu-aa dia kenapa?" Tanya taeyong panik. Mingyu menyuruh pengawal yang lain agar membawa lelaki tua itu ke kamarnya.
Mingyu sedikit kaget dengan kata 'dia' "yang mulia sepertinya terkejut akibat perkataan pangeran" iya yang mulia jaejoong, pemimpin kerajaan lee.
"Emang perkataanku ada yang salah?"
Mingyu diam. "Sepertinya, saya permisi pangeran ah dan lagi pangeran jung akan kemari sebentar lagi saya permisi" mingyu membungkuk lalu keluar dari ruangan tidak lupa menutup kembali.
Pangeran jung?
Yang diceritakan mingyu saat mereka berada dikereta kencana kah?
...♤♡♡♤...
Taeyong duduk diruangan itu, menunggu pangeran jung yang dikatakan mingyu tadi. Katanya sebentar namun
Taeyong hampir tertidur menunggunya
Kepalanya sudah berjatuh ke kanan kiri terus kembali tersentak menahan kantuk.
Saat tepat taeyong memasuki alam mimpinya.
BRAK
"EHH KAMPA– astaga" latah taeyong tanpa sadar, ia menoleh horror kearah pintu. Tatapannya seakan berucap 'who r u beach'
"Taeyong?" Ucap pria itu.
Taeyong menatapnya cengo, lelaki itu menghampirinya lalu merendahkan dirinya dengan tumpuan dengkul agar wajah mereka sejajar. Dan menangkup wajah taeyong.
"Ini taeyong kan? Sungguh ini taeyong?" Ia mencubit, mengunyel, menekan, menarik, menusuk berkali kali pipi taeyong.
Pipi taeyong sakit mungkin sekarang sudah memerah, ia melepas paksa tangan lelaki itu dari pipinya.
"Iya aku taeyong shh sakit" taeyong mengusap pipinya sendiri lembut lalu menatap tajam lelaki itu "waee?"
Lelaki itu memeluknya erat sekali. "Ini sungguh taeyong" lelaki itu mendekapnya erat. Wajah taeyong tepat depan dada bidang pria tersebut yang tercetak jelas akibat keringatnya.
"I-iya dan kamu siapa?" Lelaki itu memundurkan tubuhnya cepat. Menatap taeyong tidak bersahabat.
"Aku? Aku jaehyun taeyong-aa, kamu...
Gak kenapa kenapa kan?" Tanyanya lirih seperti mau menangis.
Taeyong mengangguk. "Aku enggak kenapa kenapa kok"
"Tapi.. aku jung jaehyun, sahabatmu taeyong, kau tidak melupakanku kan?" Lelaki itu—jung jaehyun menatapnya sendu, mengambil tangan taeyong lalu menempatkannya dipipinya.
"Ku harap kau tidak bercanda taeyong-aa" lanjutnya lagi.
"Kau sahabatku? Sejak kapan? Aku tidak ingat sungguh" taeyong beneran tidak mengingat apapun tentang jaehyun bahkan jaejoong— ayahnya.
Jaehyun menunduk, lalu mengusap ujung matanya yang sedikit mengeluarkan cairan bening. menatap taeyong dan tersenyum manis.
...♤♡♡♤...
Jaehyun menunduk dalam, dia terduduk dengan tangan yang saling bertautan.
"Yang mulia?" Panggil salah satu kepala dayang—jeon wonwoo, jaehyun mengusap air matanya. Lalu menatap wonwoo.
"Sudah kubilang jangan panggil aku 'yang mulia' " ia tersenyum.
"Mian, eum apa benar putra mahkota lee taeyong tidak mengingat apa apa termasuk dirimu tuan?"
"Jangan panggil aku tuan panggil aku jaehyun aja" jaehyun tidak masalah sebenarnya dengan panggilan untuknya ia hanya tidak ingin menjawan pertanyaan wonwoo. Wonwoo mendelik.
"Jaehyun-aa jawab aku" wonwoo menarik tangan jaehyun. Jaehyun tidak marah pada wonwoo yang statusnya hanya bangsawan biasa melakukan hal tidak sopan padanya.
wonwoo sudah ia anggap seperti adiknya yang menggemaskan.
Jaehyun mengangguk, lalu tersenyum sendu, menahan air mata untuk keluar dari kedua matanya. Wonwoo terkejut. Taeyong juga adalah sahabatnya walaupun err
Ia menganggapnya rival akibat mingyu yang secara terang terangan memberitahunya bahwa ia menyukai taeyong. Namun mendengar bahwa rivalnya tidak mengingat apapun membuatnya kasihan.
"Wonwoo-aa apa yang harus ku lakukan sekarang?" Tanya jaehyun menutup wajahnya dengan kedua tangan, tidak ingin menunjukan wajah menyedihkannya.
Wonwoo menggeplak kepala jaehyun pelan seakan lupa bahwa yang ia pukul adalah putra mahkota yang sebentar lagi akan menjadi raja.
"Yah kau harus ke kerajaan lee sana, buat taeyong kembali mengingatmu dan lagi pasti yang mulia lee menyuruhmu kesana membantu taeyong. Ingat bahwa ia juga akan menjadi raja sebentar lagi sama sepertimu" jelas wonwoo panjang lebar.
"Aku tidak bisa terus ke kerajaannya sekarang"
"WAEE?? Bahkan saat ia menghilang kau menginap disana hampir berbulan bulan heol" wonwoo melipat tangannya didepan dada, memutar matanya malas.
"Hanya kau yang berani meneriakiku wonwoo" jaehyun terkekeh, bahkan kedua adiknya tidak pernah seperti itu.
"Jadi kau ingin memecatku huh?" Wonwoo mendekat dan menatapnya seperti kucing yang tidak ingin kehilangan induknya.
Jaehyun tertawa. "Haha aku tidak mengerti mengapa mingyu lebih tertarik pada taeyong dari padamu" padahal jaehyun mengakui bahwa wonwoo sangat menggemaskan namun jika taeyong.
Diam saja jaehyun sudah ingin menerkamnya.
"Akhirnya kau tertawa juga" wonwoo kembali berdiri di posisinya.
"Yah kau tau kan
Yang kehilangan ingatannya bukan cuman taeyong, namun adikku mark" ia juga merindukan adiknya itu. Wonwoo mengangguk.
"Pangeran Sungchan masih belum ketemu?" Jaehyun menggeleng.
"Belum" jaehyun tersenyum sendu walaupun sungchan anak yang nakal dan jahat pada siapapun ia tetap menyayanginya.
"Apa mark sudah sadar?" Tanya wonwoo penasaran. Jaehyun menoleh dan menatapnya malas.
"Kau kepala dayang disini, harusnya kau yang lebih tau" ucapnya malas.
"Kepala dayang untuk mengurusi dan memperhatikan pekerjaan dayang yang lain selain itu aku pengawal pribadimu putra mahkota jung jaehyun" jaehyun tertawa jika wonwoo sudah memanggil nama lengkapnya.
"Haha iya iya, jadi siapa dayang yang sekarang menjaga mark? Sudah diganti?"
Wonwoo menggeleng. "Tidak, tidak ada yang ingin menjadi dayang mark jadi
Haechan akan tetap menjadi dayangnya untuk saat ini" wonwoo menatap lantai, jaehyun menghela nafas kasar.
"Apa kau mau istananya ancur akibat mark murka?" Tanya jaehyun mengusap wajahnya.
Ia tau seberapa tak sukanya mark pada haechan hanya karena ia rakyat jelata.
"Tapi.. hanya dia yang mau jaehyun, aku bahkan sudah mengumumkan akan memberikan imbalan yang besar namun tidak ada yang minat jaehyun-aa" wonwoo menghela nafas.
"Kalau begitu kau saja yang menjadi dayangnya untuk semen—"
"TIDAK..... TIDAK ITU TIDAK BOLEH" jaehyun tersentak akibat teriakan mendadak wonwoo.
"Aku tidak mau kepalaku dilempar semangka olehnya" jaehyun tertawa. "Kamu bisa memukulnya kembali wonwoo-aa"
"G dl"
"Hahaha iya iya setidaknya aku ingin membalikan ingatan mark dan membuatnya sembuh totak" wonwoo mengangguk anggukan kepalanya.
jaehyun berdiri dari duduknya dan berjalan keluar.
"Kau mau kemana?"
"Kekerajaan lee"
"Buat?" Wonwoo mengernyitkan dahinya bukankah ia bilang tidak bisa karena ingin merawat mark dahulu hingga siuman.
"Ingin membalikkan ingatan taeyong" ia tersenyum lalu keluar dengan damai.
"Untung aku bukan adiknya"
tbc...