
...Tinggalkan jejak jika anda suka & selamat membaca💓🔥...
...*****...
...{Alur bisa saja berganti, namun karakter tetaplah karakter dan mereka harus mengikuti keinginan penulis}...
Sore ini Putri sedang bersantai di balkon kamarnya menikmati indahnya pemandangan gunung yang terlihat sangat dekat dari pandangannya sembari menunggu part selanjutnya dimulai.
Kali ini jarak episodenya lumayan lama tak seperti biasa, Putri mengira ini dikarnakan sang penulis memberi jeda yang lama saat melanjutkan bab berikutnya seperti novel fantasi yang pernah ia baca dan ia tak menyangka hal ini juga akan terjadi padanya.
Di tengah asyiknya bertatap muka dengan alam, Putri tiba-tiba dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari arah depan kamarnya.
“Mungkin tante Sera”.
Gumam Putri lalu meletakkan snack yang ada ditangannya ke atas meja bundar yang tersedia di balkon dan berjalan ke arah pintu.
Ceklek
Putri membuka pintu dan seketika wajahnya berubah datar.
“Gue lagi males di ganggu”.
Ujar Putri ketus lalu mengambil ancang-ancang untuk menutup kembali pintu kamarnya namun dengan sigap Bagas menahan pintu tersebut hingga Putri sedikit kewalahan.
“Alena dengarkan aku dulu...”
Bagas memohon.
“Lo budek ya? Gue bilang gue lagi males diganggu!”.
“Aku tidak akan menyerah! Len aku sama sekali tidak tau kenapa Salsa bisa ada di rumah ini, seingatku juga aku tidak pernah menjemput dia”. Ujar Bagas yakin.
“Emang gue perduli?”.
“Terus kenapa kamu marah?”.
Putri diam sejenak. Benar juga, kenapa dirinya marah? Bukankah seharusnya Putri tak perduli? Apa jangan-jangan... Ah sudahlah intinya saat ini Putri sangat kesal terlebih saat Bagas memberinya pertanyaan itu.
“Bukan urusan lo!” Ketus Putri lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Bagas menghela nafas lalu mendekati Alena yang sedang berdiri membelakanginya sambil bersidekap dada. Tak lupa ia mengunci pintu kamar itu terlebih dahulu agar bisa leluasa berbicara dengan Alena.
Putri yang sedang bertengkar dengan pikirannya tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang melingkar di perutnya dan refleks membuatnya menghadap ke bawah dan ternyata itu adalah tangan Bagas sepertinya Bagas sangat hobi melakukan itu.
Entah kenapa ada perasaan aneh yang menghampiri hati Putri hingga membuat jantungnya berdegup kencang.
“Maaf...” Ujar Bagas yang terdengar tulus sambil menelungkupkan kepalanya dibalik pundak kanan Alena.
“Bagas lo-
“Aku tau aku salah tapi aku benar-benar tidak sengaja... Aku udah putus sama Salsa Len tapi aku juga gk bisa menghindar untuk tidak terus bersama dia seolah ada sesuatu yang membatasi pergerakanku”. Bagas bingung sendiri dibuatnya. “Alena mohon percayalah.....”.
Putri diam sejenak sambil berfikir keras.
*Apa yang dirasakan Bagas sama kek gue?*
Putri pun melepas tangan Bagas lalu membalikkan badannya menatap Bagas dengan wajah serius.
“Apa pas tadi lo romantisan sama Salsa lo pengen berontak?”.
“Tadi.....” Bagas menggeleng polos.
“Terus maksud lo yang bilang pergerakan lo dibatasin tu apa?!”.
“Aku.. Aku cuma merasa ada yang aneh, seperti saat bersama Salsa tadi kenapa aku merasakan perasaan yang sama dengan yang sebelumnya namun setelah beberapa saat aku seperti orang yang linglung...”
Wajah Alena berubah cemberut.
“Len sebenarnya aku kenapaa? Aku ingin menjauhi Salsa tapi kenapa waktu bersama dia aku malah kembali membencimu..”
“Karna Salsa emang udah ditaqdirin sama lo! ”
Bagas terdiam sejenak meresapi kalimat yang diucapkan Putri tadi.
“Ini bukan salah lo Gas, ini salah gue... Gue tau sebesar apapun lo berjuang untuk ngejauhin Salsa itu gk akan berguna sama sekali tapi kenapa gue gk terima, gue marah, Gue cemburu! Gue gk suka liat lo mesra-mesraan sama Salsa, harusnya gue tetap ngebenci lo Bagas tapi kenapa gue malah jatuh cinta?!”.
Putri sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi, kepalanya tertunduk diiringgi air mata yang mengalir dengan begitu derasnya...
Bagas sempat mematung sejenak lalu menarik tengkuk Alena dan mendekapnya erat seolah tak mengizinkan gadis itu pergi, tangis Putri semakin pecah.
“Maaf....”
Rasa bersalah menghinggapi hatinya, Bagas merasa telah mempermainkan Alena meski itu bukanlah keinginannya.
Namun tak bisa dipungkiri Bagas sangat senang mendengar pengakuan Putri tadi, ia tak menyangka bisa mendapatkan Alena kembali hingga tanpa sadar senyum hangat terbit diwajah tampannya.
“Aku berjanji lain kali aku akan jauh-jauh dari Salsa bagaimanapun caranya”. Ucap Bagas yakin.
Alena menggeleng lalu melepas pelukannya.
“Gk, lo gk perlu ngelakuin itu. Percuma Bagas....”
“Aku tidak perduli, berhasil atau tidak aku akan terus mencoba. Ingatkan aku ya Len..”
Alena menganggukkan kepala meski ia sendiri ragu Bagas bisa melakukan itu.
“Oh ya... Kita belum meresmikan sesuatu”.
Putri mengernyitkan dahi.
“Alena..” Bagas meraih kedua tangan Alena lalu menggenggamnya erat lantas menatap Alena dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Aku tidak tau sejak kapan perasaan ini ada, tapi yang pasti aku belum pernah seobsesi ini pada gadis lain termasuk pada Salsa, aku benar-benar menginginkanmu Alena.... Apa, kamu bersedia untuk menjadi pacarku?”.
Jantung Alena berdebar kencang dan tanpa aba-aba ia kembali memeluk Bagas menyembunyikan semu merah yang kini mewarnai pipinya.
*Meski hubungan ini hanya sebatas luar panggung tapi gue cukup bahagia, gue gk perduli walaupun nanti bakal sakit hati lagi liat lo bareng Salsa*
Tanpa menjawab pun Bagas sudah tau jawaban Alena, belum pernah Bagas merasakan sebahagia ini saat bersama gadis lain termasuk Salsa, mantan kekasihnya.
“Len..”
Panggil Bagas pelan.
“Hmm?”.
“Mmm aku ngantuk, mungkin karna tadi aku tidak tidur siang”.
Ujar Bagas apa adanya... Entah mengapa kelopak matanya mendadak terasa sangat berat. Alena mengangkat kepalanya tanpa melepaskan kaitan tangannya.
“Kenapa gk tidur? lo kan gk bisa gk tidur siang”.
“Kok kamu tau?”. Tanya Bagas keheranan.
*Aduh begok, Putri begok.. Harus jawab apa nih gue sekarang, masa mau bilang tau dari novel*
“Alena?”.
“Mmm itu... Gue tau dari....”
“Mama?”.
“Ya itu! Tante Sera yang kasih tau hehe...”
*Haduh kenapa gue gk kepikiran sampai sana ya*
“Mmm”.
“Ya udah gih sana tidur”. Alena sedikit salting lalu melepas pelukannya.
“Aku malas balik kamar”.
“Terus?”.
“Tidur di kamar kamu ya?”.
“Eh”. Putri melototkan matanya.
Dengan senyum nakalnya Bagas menarik tangan Alena dan berjalan menuju ke tepian kasur lantas mendudukkan Alena disana. Putri semakin bingung dibuatnya.
Tanpa mendengar jawaban pasti ia pun langsung menidurkan kepalanya dipangkuan Alena sambil menatap wajah teduh Alena dari bawah.
Putri yang masih cengo seketika tersadar dari aksi mematungnya dan membalas tatapan Bagas...
“Len rambut aku di elusin ya biar cepet tidur..” Pinta Bagas manja sambil membawa tangan kanan Alena menuju kepalanya.
Putri hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Gk disangka ya cowok jahat kayak Bagas bisa jadi kiyowo gini”.
Bagas terkekeh mendengar itu.
“Kalau sama kamu bakal gini terus..”
“Dihh”.
Putri tertawa salting dengan tangannya yang mulai mengelus lembut surai hitam milik Bagas membuat Bagas terbuai dan mulai memejamkan matanya.
Manik mata Putri tak lepas dari memandang wajah damai Bagas yang sudah tertidur pulas sambil berharap waktu ini bisa berjalan lebih lambat namun taqdir tak sesuai harapan...
Saat Putri tengah memperhatikan laki-laki yang kini sudah menjadi kekasihnya itu tiba-tiba...
{Ctak🎬💥}
Momen bahagia itu telah usai dengan begitu singkat dan kini Putri tengah berjalan di koridor sekolah, di depannya ada Bagas dan Salsa yang tengah berbincang, mereka tampak bahagia.
Raut wajah Putri berubah sendu ingin marah pun tak bisa. Sepasrah itukah dirinya saat ini? Mungkinkah sekarang ia sudah menjadi Alena sepenuhnya yang hanya diam saat dirinya terbakar api cemburu.
Akhirnya Putri menelan ludahnya sendiri dan sekarang ia mungkin akan lebih membenci dirinya sendiri dibandingkan Alena.
“Awasss!!!!”.
Teriak seseorang dari arah belakang koridor membuat Putri, Salsa, dan Bagas menoleh bersamaan.
Tiada lain suara itu berasal dari seorang siswa yang tengah berlari sambil membawa tumpukan buku paket dan nampak pula seorang siswi yang tengah mengejarnya.
Alena yang tak sempat minggir pun akhirnya tersenggol dan ia pun jatuh ke lantai.
“Maaf!”. Ujar siswa tersebut namun tak menghentikan aksi larinya hinggan Bagas dan Salsa pun ikut tersenggol kemudian jatuh bersamaan.
Buku-Buku yang tadinya tersusun rapi kini jatuh berserakan karna siswa yang tadi menyenggol mereka juga tersandung kakinya sendiri.
“Woy kembalikan bumi kelas kami!!”. Teriak siswi yang tadi mengejarnya lalu segera menghampiri siswa tersebut.
Fokus Bagas teralihkan lalu meoleh ke arah Salsa dan Alena.
*Lo harus sabar Put sampai panggungnya selesai, anggap aja cowok di depan lo ini bukan Bagas...*
Putri menenangkan dirinya sendiri, Putri tau bahwa di adegan kali ini Bagas akan lebih meililih membantu Salsa berdiri sedangkan ia harus mendengar cemo’ohan dari Bagas.
Lama saling tatap dengan Alena, Bagas akhirnya bangkit dan berjongkok di hadapan Alena..
*Hina aja gk papa sumpah..*
“Ayo bangun”.
Hal terduga justru dilakukan Bagas, seingat Putri kalimat ini seharusnya tertuju pada Salsa namun kenapa alurnya berubah?.
Dengan ragu-ragu Alena membalas uluran tangan dari Bagas lalu ikut bangkit. Baagas lalu menatap Salsa yang masih terduduk dilantai.
“Masih mampu berdiri kan?”.
Sinis Bagas pada Salsa lalu menarik tangan Alena untuk pergi dari hadapan Salsa. Putri terkejut bukan main, bagaimanaa tidak? Dialognya benar-benar terbalik.
Namun baru saja dirinya dan Bagas melangkah tiba-tiba Bagas yang ada di depannya berhenti dan melepaskan tautan tangannya dengan Alena lantas memegang kepalanya sambil mengerang..
“Argghh!”. Wajah Bagas berubah pucat membuat Putri panik seketika.
“Bagas kamu kenapa???”.
“ARGH..... Kepalaaku sakiit Len!”.
“Apa yang sebenarnya terjadi??”. Putri sungguh panik saat ini melihat wajah ketakutan Bagas.
Putri lalu melihat ke arah sekitar dan menemukan manusia yang ada di sekelilingnya bagaikan patung tak bergerak sedikitpun seolah waktu berhenti kala itu juga, membuat Putri semakin ketakutan.
Ada beberapa hal yang sangat dilarang untuk para tokoh termasuk anda, dan ini adalah salah satu hukuman sekaligus peringatan untuk para tokoh karna sudah berani merubah alur cerita merekađź””
Putri menghadap atas mencari sang sumber suara...
“Gimana bisa lo nyalahin dia?! Dia gk mungkin ngelakuin sesuatu atas kemauan sendiri di atas panggung”.
Ini adalah hukuman dari penulis, nikmatilah!đź””
Putri frustasi sendiri melihat keadaan Bagas yang semakin terlihat kacau. Namun tiba-tiba ia menyadari sesuatu.
*Tunggu! Kenapa suara sistemnya berubah jadi cowok??*
Putri lalu menghadap atas tempat dimana suara peringatan itu muncul...
“Gue gk tau siapa lo tapi please hentikan ini semua. Gue janji gue gk bakal biarin Bagas ngubah pangggungnya lagi gimanapun caranya tapi gue mohon hentikan! Gue mohon hikss”.
Putri sudah pasrah, ia terus menangis tersedu-sedu hingga sesuatu yang ajaib terjadi..
“Alena...” Panggil Bagas.
Putri menghentikan sejenak aktifitas menangisnya lalu menoleh ke arah sekitar. Nampaknya semua sudah kembali normal.
“Bagas hiks”.
Putri menenggelamkan wajahnya didada bidang milik Bagas membuat tangisnya semakin pecah.
“Kamu kenapa??”. Tanya Bagas keheranan.
Putri tak menjawab, rasanya menangis saja sudah cukup untuk menenangkan hatinya saat ini.
Salsa yanng masih terduduk segera bangkit lalu memisahkan mereka berdua dan menarik Bagas untuk menjauh dari Alena.
“Kurang ajar!”.
Plakk
Sebuah tamparan mendarat ke pipi mulus Alena membuat gadis itu meringis merasakan perih disatu sisi wajahnya.
“Berani-Beraninya kamu memeluk pacarku ha?!”. Emosi Salsa menggebu-gebu.
Bagas yang melihat itu tak tinggal diam, ia pun maju lalu menarik Alena ke sisinya dan menatap tajam ke arah Salsa.
“Pacar?? Apa perlu aku ingatkan lagi kalau kita. Sudah. Putus!”. Bagas menekan setiap kalimat, Salsa mengernyitkan dahi.
“Semuanya dengarkan aku! Mulai sekarang aku sudah resmi berpacaran dengan Alena, tidak boleh ada yang mengganggu dia ataupun berani mendekatinya. Faham??!!.
Teriak Bagas di koridor membuat semua murid yang mendengarnya saling bertanya-tanya... Fashalnya Bagas dan Salsa merupakan pasangan gold di sekolah mereka sedangkan Alena adalah parasit di hubungan mereka bagaimana bisa parasit itu berubah tahta?.
“Bagas?! Apa yang kamu katakan? Sejak kapan kita putus?...” Salsa benar-benar terlihat bingung.
“Jangan pura-pura lupa, yang jelas aku sudah tidak mencintaimu lagi Salsa”.
Putri hanya diam, ia sudah mengerti kebingungan Salsa sama halnya dengan Bagas waktu lalu.
Sebelum menyadari keanehan ini Bagas juga pernah lupa pada hal yang ia lalui diluar panggung namun sekarang keadaannya berbalik justru Bagas mengingat hal-hal yang ia lakukan bersama Alena di luar panggung dan melupakan Salsa.
“Gas, gue ke kelas dulu ya..” Ujar Putri sambil menundukkan kepalanya.
“Aku temani”. Tawar Bagas.
“Gk usah”. Putri menolak secara halus lalu pergi dari hadapan mereka berdua.
Bagas yang melihat itu hanya bisa menghela nafas panjang lalu kembali ke kelasnya tanpa mengajak Salsa.
“Eh.. Bagas tunggu!”.
...🕊*****🕊...
Alena sama Putri sama ges ya, jadi walaupun aku kadang nulis dua-duanya di cerita tapi mereka satu kok.
Jangan lupa Like, Vote and Coment!!!