
...Tinggalkan jejak jika anda suka & selamat membaca💓🔥...
...*****...
Setibanya dikamar, Putri merasa sangat gerah hingga ia memilih membersihkan badannya terlebih dahulu sebelum mengganti seragamnya sekolahnya.
Tok Tok Tok
Bagas mengetuk pintu dari arah luar namun tidak ada yang menyahut karna Putri sedang berada di kamar mandi.
Hingga pada ketukan ketiga Bagas nekat untuk membuka pintu tersebut dengan amat pelan lalu berjalan mengendap-endap ke arah meja Alena untuk mengambil sesuatu yang ia inginkan lalu setelahnya keluar dari kamar Alena.
Dua puluh menit berlalu dan kini Putri sudah menyelesaikan ritual mandinya.
"Huh seger bangeet".
Ujar Putri lalu berjalan ke arah lemari pakaian dan memilih baju kaos dan rok sepaha milik Alena.
"Ini lumayan bagus, gue pasti cakep banget make ini". Putri menyanjung diri sendiri lalu segera mengenakan pakaiannya.
Saat tengah asyik merias dirinya di depan cermin tiba-tiba Putri mengingat sesuatu...
Lalu tanpa dipandu ia pun berjalan menuju meja belajarnya tempat ranselnya diletakkan.
"Loh kok resletingnya udah kebuka?? perasaan tadi masih ketutup deh". Heran Putri lalu beberapa saat setelahnya ia membulatkan mata. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal yaitu benda yang ada di dalam tasnya.
Tanpa ba bi bu lagi Putri pun segera mengecek tasnya dan mencari novel yang ia masukkan tadi dan ternyata dugaannya benar....
"Bagas!". Tebak Putri cepat lalu bergegas keluar dari kamarnya.
Disisi lain...
Bagas membalik lembar demi lembar halaman novel yang ia curi dari dalam tas Alena.
Ia terkejut bukan main melihat gambar tokoh yang sangat mirip dengannya yang penulis letakkan pada awal chapter..
Bahkan nama visual yang dituangkan penulis merupakan nama panjangnya sendiri membuat Bagas semakin penasaran dengan isi dari novel tersebut.
Bagas semakin dibuat syok kala chapter-chapter yang ia lihat adalah kejadian yang kemarin ia lakukan. Ini sungguh diluar nalar.
"Berarti aku sudah sampai pada episode 26, hanya tersisa lima episode lagi dan dunia ini akan berakhir namun aku perlu memastikan sesuatu...." Gumam Bagas lalu menutup novel tersebut.
"Aku sudah siap dengan episode selanjutnya". Ujar Bagas mantap.
Setelah mengatakan itu entah mengapa matanya terasa sangat berat dan ia pun menguap lalu dengan perlahan matanya mulai meredup dan....
Jleb😴
Putri yang sudah berada dekat dengan pintu kamar Bagas tiba-tiba berhenti, kakinya tak bisa digerakkan sama sekali..
"Ih! kok gue gk bisa gerak sii???".
Putri berusaha menggerakkan kakinya namun nihil ia sama sekali tak bisa bergerak.
Tiba-Tiba suasana disekitarnya mendadak berubah, langit yang semulanya terang benderang kini berputar menjadi malam lalu siang lagi. Waktu seolah berjalan cepat, sangat cepat membuat Putri kebingungan layaknya orang yang tersesat.
~Waktu berjalan cepat, mengikuti alur waktu menuju episode 27 yaitu dengan jarak dua minggu. Kini waktu yang seharusnya berjalan lambat itu terpaksa dipersingkat dalam satu hari karna permintaan sang tokoh utama~
Siang-Malam, siang-malam begitupun seterusnya hingga tanpa sadar baik tempat maupun pakaian yang putri kenakan kini sudah berganti. Dan.....
{Ctak🎬💥}
Suara itu kini muncul kembali setelah jeda yang lama, menandakan episode berikutnya akan segera dimulai.
Putri membuka mata dan melihat ke arah sekelilingnya seperti orang linglung. Semua sudah kembali normal dan kini ia tengah berada disekolah dan duduk rapi dimejanya.
"Tanggal berapa sekarang???". Putri bertanya pada Zahra dengan antusias.
"17". Jawab Zahra.
"Bulan???".
"Maret".
Putri membulatkan matanya, ia ingat betul jika hari ini adalah hari yang dibenci olah Alena seumur hidupnya, karna pada tanggal ini Alena menuliskan perasaan kecewa yang teramat dalam karna Bagas mengumumkan pertunangannya dengan Salsa.
Itu berarti sebentar lagi ia akan mencapai episode 30 yaitu akhir dari kehidupannya di dunia ini.
"Kenapa Len?". Tanya Maya melihat perubahan wajah Alena.
*Hari ini adalah awal dari akhir gue berperan sebagai Alena... Setelah itu gue tinggal nunggu ending. Ini kesempatan terakhir buat gue nemenin Bagas sebelum ngebuat dia benar-benar menjauh*.
Dan benar saja, sesuai perkiraan Bagas masuk ke dalam kelas Alena untuk mengumumkan pertunangannya dengan Salsa.
Namun saat melihat Alena, Bagas seperti tersadar akan sesuatu namun ia tak bertindak apa-apa kecuali mengikuti dialog yang terucap begitu saja dari mulutnya.
"Semuanya dengar..." Semua atensi langsung tertuju pada Bagas termasuk Alena.
"Aku dan Salsa akan segera bertunangan, jadi aku mengundang kalian semua untuk ikut menghadiri pesta pertunangan kami yang akan berlangsung pada hari selasa, tanggal 19. Jangan lupa datang okey".
Ucap Bagas diiringi senyum yang dibuat-buat.
Sontak semua murid yang ada dikelas itu bersorak ria, ya jelas! karna mereka akan makan gratis uhuy.
Sesuai alur, Alena maju berhadapan dengan Bagas dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Plak
"Apa ini tidak keterlaluan? Bagas, aku pikir kamu masih mencintaiku, aku bahkan mengira kamu akan kembali namun ternyata tidak... Kamu benar-benar melupakanku. Kenapa kamu tega melakukan ini Bagas kenapaa???". Ucap Alena dengan suara yang sudah parau.
Bagas diam sejenak lantas menatap Alena dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aku yang harusnya bertanya, kenapa kamu tega melakukan ini kepadaku?? kenapa kamu membohongiku dan seolah menjadikan ku mainan dalam dunia fantasi yang kalian ciptakan?! apa kamu pikir ini tidak keterlaluan??".
Tanya Bagas membuat Putri terkejut bukan main.
*Dialognya gk kayak gini....*
Mendadak keadaan menjadi sunyi, seolah waktu berhenti saat itu juga.
Putri melihat ke arah sekelilingnya, semua benda bahkan manusia yang ada sekitarnya tidak ada satupun yang bergerak.
Kejadian itu terulang lagi...
"Katakan! siapa kamu sebenarnya?!". Tanya Bagas sembari menatap tajam ke arah Alena.
Putri semakin mati kutu dibuatnya.
"Bagas L-Lo...".
"Ya! Aku tau kamu bukan Alena, katakan! Siapa kamu?? arrghh... ".
Kepala Bagas mulai terasa pusing, tentu saja, karna Bagas telah melakukan adegan yang tidak sesuai dengan alur cerita.
Jleb!
Darah Alena terasa membeku seketika itu. Ia tak tahu harus berkata apa sekarang, apa Bagas masih akan tetap menerima Putri setelah ia tahu bahwa orang yang sekarang berada di hadapannya bukanlah Alena yang asli melainkan manusia yang berasal dari dimensi yang berbeda....?
Jantung Alena berdebar kencang.
"ARGGHH!!". Bagas merasakan sakit di kepalanya yang makin menjadi.
Putri yang melihat itu merasa tak tega, ia ingin membantu namun tak bisa bahkan saat ini ia tak bisa membantu dirinya sendiri. Putri dilanda kebingungan.
"Jawab!!! Argghh!". Paksa Bagas sembari mengerang kesakitan.
Putri menggeleng cepat, bagaimana mungkin ia akan tega menyakiti Bagas dengan mengatakan yang sebenarnya, itu sama saja ia melanggar peraturan pertama.
"Maaf Bagas, gue gk bisaaa".
"Kenapa??!".
"Gue gk bisa nyakitin loo Bagas!!".
Manik mata coklat milik Alena sudah dipenuhi cairan bening, hanya sekali kerjapan mungkin cairan itu akan tumpah membasahi pipinya.
"Kamu bahkan sudah menyakitiku lebih dari ini!". Sentak Bagas sekali lagi.
Putri menundukkan kepalanya dalam-dalam lantas mengeluarkan isakan yang kini tengah memenuhi dadanya.
"Okey kalo ini yang lo mau, gue bakal jujur.." Putri menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar.
"Lo bener, gue bukan Alena. Gue bukan Alena yang lo kenal, Gue bukan cinta masa kecil lo yang udah lo bunuh dimasa lalu, Yang sedang berdiri dihadapan lo ini adalah Putri, Putri Olivia!".
Bagas terkejut, rasa sakit dikepalanya makin menjadi yang awalnya hanya denyutan kini seperti dihantam oleh sesuatu yang tak bisa ia kendalikan. Namun Bagas masih bisa menahannya lantas menatap Putri dengan pandangan sayu sembari memegang kepalanya dengan kedua tangan.
"Ke-Kenapa kamu menyembunyikannya dariku??? aku tidak yakin jika alasan satu-satunya adalah karna kamu tidak ingin melihatku seperti ini bahkan dengan mencintaiku pun kamu akan tetap menyakitiku namun kenapa kamu melanggar opsi itu?".
Rupanya Bagas mendengar pembicaraan antara dirinya dan juga Altarel waktu itu.
"Itu karna gue gk mau lo ngejauhin gue setelah lo tau kalau gue bukan Alena!". Tangis Putri pecah detik itu juga. "Lo emang fiksi, lo cuma hasil imajinasi manusia tapi gue juga gk tau kenapa gue bisa jatuh cinta sama lo... Gue gk mau lo ninggalin guee! hikksss".
"Fi-Fiksi??? Arrgh!!".
"Iya, lo hidup dalam novel. Lo hidup sebagai lukisan yang dibaca manusia kayak gue!".
Air mata Putri mengalir dengan begitu derasnya... Kalimat itu lolos begitu saja membuat Putri diselimuti rasa bersalah yang terima dalam.
Bagaiamanapun juga, Bagas harus tau tentang ini. Apa gunanya saling mencintai namun pada hakikatnya yang ada dihatinya adalah orang lain.
~Aku hanyalah cinta yang yang dinafikan. Cinta yang hadir dalam wujud orang lain~
"ARRGHH!!!".
Tiba-Tiba suara Bagas yang tadinya hanya erangan kini sudah berubah menjadi jeritan kesakitan.
Darah mengucur deras dari hidung Bagas, wajahnya nampak sangat pucat membuat Putri menelan salivanya dengan susah payah.
Apa yang ditakutkannya kini terjadi...
"Bagas...."
"SAA-KIIT ARRGHH!!!".
"Hiks gue harus gimanaa???!!". Putri mulai panik.
Meminta pengampunan pun sudah tak bisa, karna ini adalah resiko yang harus ditanggung.
Waktu kembali berjalan normal namun Bagas masih tetap sama. Entah mengapa pikiran Putri langsung tertuju pada suatu tempat...
"Gk ada jalan lain, kita ke rumah sakit sekarang!!".
...🕊*****🕊...
Apa yang akan terjadi dengan Bagas???😲