
...Tinggalkan jejak jika anda suka & selamat membaca💓🔥...
...*****...
"Gk ada jalan lain, kita ke rumah sakit sekarang!!".
Putri lalu memapah Bagas menuju pintu keluar tanpa memperdulikan tatapan keheranan dari orang-orang yang ada disekitarnya.
Salsa yang baru tersadar berusaha melepaskan tangan Alena yang tersampir dipundak milik Bagas meski ia sendiri tak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi.
"Lepaskan!! Dia calon tunanganku!".
Alena tak perduli, ia justru mempererat cengkramannya dan berusaha mencapai pintu keluar.
"Heyy!!! Apa kau tidak dengar?!!".
Salsa masih tetap kekeh hingga ia pun berhasil menjauhkan Alena dari Bagas.
"Salsa please, biarin gue bawa Bagas.. Dia harus dibawa ke rumah sakit". Putri memohon.
Salsa menoleh ke arah Bagas dan benar saja raut wajah Bagas nampak seperti orang yang tengah kesakitan, Bagas bahkan sampai berjongkok karna tak kuat menopang rasa sakit dikepalanya, darah dihidungnya sampai menetes ke lantai.
"Biar aku saja!".
Tolak Salsa dan hendak mengambil Alih Bagas.
"No!! gue yang akan bawa dia".
"Arrrgh sakitt!".
Suara jeritan Bagas di tengah-tengah perdebatan mereka.
Alena mengambil ancang-ancang untuk memapah kembali Bagas namun Salsa lebih dulu mendorong tubuhnya menjauh.
"Kamu bukan siapa-siapa lagi dalam hidup Bagas, Bagas tidak mencintaimu Alena! jadi berhenti mengejarnya, faham?!".
Kilatan amarah terpancar dari mata bulat Salsa. Ia lalu menyampirkan lengan Bagas ke pundaknya dan memapah Bagas keluar dari kelas dengan tergesa-gesa meninggalkan Alena yang mematung ditempat, kalimat yang dilontarkan Salsa membuatnya langsung terpekur.
*Kamu bukan siapa-siapa*
*Bagas tidak mencintaimu*
Entah mengapa sekarang kata-kata itu sangat sensitivie ditelinganya. Salsa benar "dia" siapa?.
Bagas bahkan tak pernah menyatakan cinta untuknya sekalipun tengah berpacaran namun Bagas menganggap ia telah menjalin hubungan dengan Alena yang ia kenal bukan dirinya...
Lama terdiam akhirnya Putri kembali tersadar lalu menghapus kasar air matanya.. Ia harus segera menyusul Bagas ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit Putri langsung bertanya pada perawat yang ada disana lalu pergi ke ruangan yang ditunjukkan.
Terlihat Salsa sedang menunggu di depan sana dengan wajah khawatir. Putri pun segera menghampirinya.
"Gimana keadaan Bagas??".
Salsa menoleh ke arah Putri lantas menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Tiba-Tiba...
Plak!
"Kamu apakan Bagas ha?? Kenapa dia tiba-tiba begitu?!".
Putri meraba pipinya yang terasa perih sambil meringis kecil.. Ia hanya diam, tak berniat melawan Salsa sedikitpun, entah kenapa ia jadi begitu lemah sekarang.
Kemana Putri yang bar-bar kemarinn??
"Awas saja jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan mengampunimu!". Ancam Salsa.
Ceklek
Tiba-Tiba dan selalu tiba-tiba:) Pintu ruangan itu terbuka.
"Gimana keadaan pacar saya Dok?!".
Serbu Salsa dan juga Alena bersamaan... Salsa menatap heran ke arah Putri.
"Pacar??".
Ujar Dokter apa adanya.
Salsa yang mendengar itu segera menyerobot masuk untuk melihat keadaan Bagas disusul Alena.
Di atas brangkar nampak Bagas yang sudah berbaring tak berdaya dengan mata terpejam. Darah dihidungnya sudah kering namun wajahnya masih pucat pasi seperti mayat.
"Bagas..." Salsa memeluk Bagas sambil menangis tersedu-sedu.
Alena hanya bisa berdiri kikuk dengan jarak dua meter dari belakang Salsa. Air mata mengalir pelan dari pelupuk matanya..
"Ini semua salah gue, hiks".
"Seandainya gue gk ngikutin keinginan Bagas tadi mungkin dia gk bakal kayak gini".
Putri menangis sampai sesenggukan.
"Gue mohoon hentikan hukuman ini! Ini salah gue, harusnya gue yang lo hukum hiks. Siapapun lo please hentikan....Please hikss".
Putri menundukkan kepala dalam-dalam sambil menangis hebat. Dadanya sungguh terasa sangat sesak.
Salsa yang mendengar itu membalikan badannya lantas menatap Alena dengan wajah kebingungan.
"Hukuman apa yang kamu maksud??". Bingung Salsa namun Putri tak menjawab. Ia masih terus menangis.
Namun tiba-tiba suara ringisan seseorang mengalihkan atensi Salsa lalu ia pun kembali menoleh ke arah brangkar Bagas.
"Argh..."
Bagas sudah sadar namun kepalanya masih terasa sedikit pusing.
"Bagas!". Antusias Salsa lalu membantu Bagas mencapai posisi duduk.
Putri meredakan tangisnya lalu mengusap kasar air matanya. Hati yang tadinya kacau kini sudah sedikit lega, Putri pun dengan antusias ingin menghampiri Bagas namun...
"Jangan mendekat!".
Suara Bagas terdengar ketus membuat Putri kembali mematung.
"Bagas.." Panggil Putri dengan sedikit gemetar.
"Sayang kenapa aku tiba-tiba ada disini???". Tanya Bagas pada Salsa tanpa menghiraukan Alena.
Alena melebarkan mata.
*Sayang?*
Apa yang sebenarnya terjadi??? Apakah sekarang ia sedang berada di atas panggung? Ataukah Bagas memang sudah lupa ingatan?.
"Aku yang membawamu, tadi kamu mimisan disekolah". Jawab Salsa tak ingin memperpanjang masalah.
Dia memang tak diciptakan untuk menjadi tokoh antagonis, jika tidak mungkin Salsa sudah menghasut Bagas dan menyalahkan Alena atas kejadian ini.
"Hm.." Bagas mengangguk mengerti.
"Sayang, aku ingin pulang.."
Pinta Bagas pada Salsa.
"Tapi kamu belum sembuh".
Salsa nampak khawatir namun Bagas menggeleng.
"Aku ingin pulang".
Kekeh Bagas. Salsa tak bisa menolak, ia lalu membantu Bagas bangun dari duduknya dan merangkul Bagas keluar dari ruangan tersebut.
Putri merasa seperti orang asing diantara mereka, peran awalnya kembali lagi...
Bagaimana Bagas yang dulunya dingin, Alena yang dikucilkan. Semuanya telah kembali seperti semula..
~Awalnya aku ingin membuat dia menjauh, namun ternyata ia menjauh dengan sendirinya..~
...🕊*****🕊...
Apakah ini adalah bagian dari rencana sang penulis?? atau........ Coba tebak!