IMAGINATION

IMAGINATION
PART 5



Tepat bel pulang sekolah berbunyi, Zarco langsung merapikan bukunya dan memasukkannya kedalam tas, kemudian ikut membatu alia meletakan bukunya kedalam tas.


Alia menatap zarco kemudian tersenyum, “terima kasih, zarco”


Zarco mengedipkan salah satu matanya, “tidak masalah”


Setelah semuanya selesai, mereka pun berjalan keluar, namun lengan alia dicegat oleh temannya, Deri. Alia langsung menoleh menatap Deri, Zarco pun berhenti.


“ada apa Deri?” tanya alia bigung.


“tentang keputusan waktu kita dikantin tolong jawab lewat pesan ya, ini nomerku” ucap deri sembari menunjukan hp nya ke Alia.


Alia mengangguk, “ba..baiklah” kemudian mulai mencatat satu persatu nomer deri.


“sudah” ucap Alia setelah selesai mencatat nomer hp Deri.


Deri tersenyum manis, “ terima kasih, Alia..duluan ya..Zarco, aku duluan yaa” lalu berlalu meninggalkan Alia dan Zarco.


Zarco menatap Alia bingung, “ keputusan apa?” tanya Zarco kemudian.


Alia menatap Zarco gugup, kemudian memainkan jarinya, berusaha menghilangkan rasa gugupnya, “anu..itu..si deri pengin ngajak aku nonton boskop, tapi aku ngasih keputusannya nanti, hehe” bohong Alia kepada Zarco sembari  tertawa hambar.


Zarco menyipitkan matanya agak sedikit curiga sehingga membuat Alia meneguk salivanya kasar, namun kemudian Zarco mengangguk mengerti,  “baiklah, kalau kamu tidak suka jangan dipaksakan, nanti kau malah bingung sendiri disana” ucap Zarco tersenyum.


Alia mengangguk tersenyum, “ makasih"


Zarco mengibas-ibaskan telapak tangannya, “ sudah..sudah, lagi-lagi kau mengucapkan terima kasih, aku hanya mengingatkan saja” kemudian tangan Zarco terulur mengacak-acak rambut Alia gemas.


Alia tertawa kecil, “ haha..iya deh iya”


Zarco merangkul Alia, “ke halte sekarang?”


Alia mengangguk, “ayo!”


Mereka pun berjalan menuju halte, sesampainya, Zarco melepas rangkulannya kemudian duduk menatap Alia, Alia pun ikut duduk lalu menatap Zarco.


“apa yang akan kau bicarakan? Sepertinya serius?” tanya Zarco membuka suara terlebih dahulu.


Alia menggaruk rambutnya yang tidak gatal, “em..iya sepertinya..aku mau tanya..”


Zarco kembali mengacak-acak rambut Alia, bermaksud menghilangkan rasa gugup yang kni menyelimuti tubuh Alia, “ jangan gugup, kayak sama kepala sekolah aja, tinggal tanya aja” ucap Zarco tersenyum.


“itu Zarco...tadi saat kita masih diluar kelas kau tidak merasakan apa-apa?” tanya Alia yang mencoba memberanikan diri menatap Zarco yang kini alisnya mulai menkerut.


“oohh..kejadian tadi siang, kalau kau menanyakan aku merasakan atau tidak ya, tentu saja aku merasakan hal yang aneh”


“ hal aneh seperti apa?” potong Alia cepat menatap Zarco intens.


“hal aneh sperti bukan diriku yang sebenarnya, entah tiba-tiba aku melakukan hal yang aneh”


“iya benar !kau tadi melakukan hal yang aneh sekali, seperti.. menjebak Cessi di toilet...” ucapan Alia terhenti seketika.


Seketika Alia membelalakan matanya kaget, “oh astaga! Cessi dan temannya masih di toilet! Zarco kita harus mengeluarkan mereka dari toilet  sekarang!” Alia menggoyang-goyangkan lengan Zarco panik.


Sementara di toilet wanita , Cessi dan teman-temannya masih berteriak minta tolong. George yang dari tadi duduk di depan toilet wanita terkejut sendiri dan tidak menyadari bahwa dirinya sedang menjaga kawanan geng itu terjebak di toilet wanita.


' Astaga!!ini sudah jam pulang!!’ batin george sembari membelalakan matanya kaget.


“aku harus pergi dari sini sekarang sebelum ada yang melihatku disini", gumam george celingak-celinguk melihat keadaan diluar toilet, saat dirasa sepi, ia memanfaatkan kesempatannya untuk beranjak dari toilet wanita.


“ Tolong aku! Siapapun yang ada di luar keluarkan aku!!!” teriak cessi yang masih berada di dalam toilet bersama kedua temannya yang sudah lemas.


Mereka sudah disana selama tiga jam!


Sementara dari tadi George tertidur di kursi!


“ sudahlah Cess, kita menunggu seseorang yang kesini, baru kita teriak minta tolong, lo ngga capek apa teriak-teriak mulu semenjak kita terkurung disini?” Jessica salah satu teman Cessi menenangkan Cessi.


“iya Cess, ngga ada gunanya juga kan kita teriak-teriak saat ngga ada orang yang diluar, hemat suara dikit dong..Besok kan praktek nyanyi, lo mau suara lo jadi serak, trus diketawain sesekelas?” sambung  Xyla, anggota geng Cessi juga.


Cessi menghembskan nafas berat kemudian ikut duduk bersama teman-temannya, “ oke lah”


“nah gitu dong” sahut kedua temannya bersamaan.


“ini semua tuh gara-gara kecubung taiwan tau ngga! Gue benci banget sama dia! Dia mulai berani lancang sama gue! Awas saja kalau gue udah bebas dari penjara ini, gue bakal potong jarinya!” ucap Cessi dengan nada dingin dan tajam.


Kedua temennya bergidik ngeri, meneguk saliva mereka kasar, mereka berpikir mungkin kalau mereka berada di posisi Alia, jari mereka sudah habis ditebas satu persatu oleh teman mereka yang satu ini.


Tangan Jessica terulur kemudian mengusap punggung Cessi, “ sudahlah, tentu kita akan balas perbuatan alia setelah kita keluar nanti! “


Xyla ikut mengangguk mengiyakan perkataan jessi barusan. Cessi memegang tangan jessi yang tengah menguusap punggungungnya dan tangan Xyla menatap keduanya bergantian sembari tersenyum manis, “terima kasih teman-teman, kalian memag sahabat terbaikku”


'''


“ oh ya? Mereka terkunci di toilet?! Siapa yang mengunci?!” tanya Zarco terkejut dengan pernyataan Alia barusan.


“ kau sendiri lah, Cuma kamu aja yang ngga nyadar, mungkin George masih disana menjaga mereka, jangan-jangan dia juga tidak tau mengapa dia berada disana"


“ ayo cepat ke toilet!” ajak Alia menarik tangan Zarco membawanya lari dari hallte menuju toilet.


“ i..iya” Zarco masih menatap Alia yag tengah menariknya, sesaat kedua sudut bibirya terangkat, tersenyum melihat keteguhan wanita itu walau saudaranya itu sudah jahat padanya.


Tepat di depan gerbang sekolah, Alia dan Zarco berhenti saat melihat George yang tengah berjalan keluar dari gerbang sekolah Alia langsung merentangkan kedua tangannya bermaksud mencegat George, George langsung terkejut membuat langkahnya terhenti.


“Al..Alia A..ada apa?”


“kunci toilet” Alia mengulurkan salah satu tangannya suapay George memberikan kunci toiletnya padanya.


“ kunci toilet? Aku tidak tau dimana” jawab George kebingungan.


“ di saku celanamu” balas Alia sinis dan terdengar dngin, sehingga George bergidik ngeri melihat raut wajah Alia yang berubah tiba-tiba”


George pun akhirnya merogoh saku celannya, dan benar apa yang Alia katakan, ada sebuah kunci di saku celananya, George pun terekjut.


“tuh kan benar!sini kuncinya! Aku tidak tau apa yang terjadi padaa kalian berdua hari ini, tetapi aku harus menyelamatkan Cessi dan teman-temannya dulu sebelum mereka pingsan di dalam, aku mau kalian ikut denganku dan meminta maaf kepada mereka” ucap Alia masih dingin.


Keduanya mengangguk, “i..iya baiklah” balas mereka bersamaan.


Alia dan kedua teman laki-lakinya itu pun berjalan menuju toilet, sesampainya di depan pintu toilet tempt Cessi dan kawanannya terkurung, Alia langsung mengambil kunci dari sakunya, menghembuska nafas sejenak menghilangkan rasa gugup. Kemudian tangannya mulai bergerak membuka pintu toilet tersebut.


Setelah pintu terbuka, Cessi dan temannya bersorak gembira sambil berjingkrak-jingkrak keluar dari toilet, namun raut wajah gembira mereka seketika lenyap begitu melihat sesosok perempuan yang paling mereka benci berada di hadapan mereka. Tatapan mereka seketika menjadi dingin namun menjadi ketakutan begitu melihat sosok dua pria yang berada di belakang Alia .


“ Cessi a..aku minta maaf..” ucap Alia tertunduk dengan raut wajah merasa bersalah.


Cessi masih terdiam, ia tidak mau melancangi alia disini karena kedua pria yang dai takuti sedang menatapnya tajam. Cessi meneguk salivanya kasar, begitu juga dengan teman-temannya.


“pergi” ucap salah satu pria yang berada di belakang Alia.


Itu Zarco!


Alia terkejut mendengar ucapan Zarco barusan menjadi dingin kembali. Kenapa berubah lagi sih, Alia tak habis pikir apa yang kedua pria ini lakukan sebenarnya, ia butuh penjelasan yang pasti!


Cessi dan kedua temannya maish mematung kaku mendengar perintah Zarco barusan, brenar-benar dingin yang menakutkan.


“ kubilang pergi!” bentak Zarco dengan nada dingin.


“ah..i..iya ba..baik!” balas Cessi dengan terbata-bata kemudian beranjak pergi dari toilet, menatap Alia sebentar sambil melotot dibalas pelototan oleh George membuat Cessi menguk salivanya kasar kemudian lari dengan Jessica dan Xyla.


Alia menoleh ke arah Zarco, memberi tatapan dingin, raut wajah Zarco seketika merasa bersalah walaupun raut wajahnya juga masih agak dingin setelah marah tadi.


"Kalian berdua, ikut aku" ucap Alia sinis menatap kedua pria yang ada dihadapannya bergantian.


Kedua pria itu langsung meneguk salivanya kasar, kemudian mengangguk pelan. Alia langsung berjalan mendahului Zarco dan George.


Tujuan Alia sekarang adalah ke ruang lab komputer, Zarco dan George saling bertatapan bingung dengan Alia yang lakukan saat ini.


" Al.. ngapain ke lab komputer? " tanya Zarco dengan alis yang mengkerut.


" Jangan protes, ikut aku saja" jawab Alia terdengar dingin.


Setelah masuk ke dalam lab, Alia duduk dihadapan kedua teman laki-lakinya itu, melipatkan tangannya di dadanya menatap keduanya dengan tajam. Membuat suasana menjadi seram.


" Sekarang, aku tanya kepada kalian berdua, kalian itu siapa? kepribadian kalian ada berapa sih? kok sifatnya bisa berubah-ubah hanya dalam beberapa menit, aku bingung dengan sikap kalian " ucap Alia dengan nada-nada orang marah.


Zarco memegang tangan Alia, membuat Alia terkejut," George, tutup pintunya terlebih dahulu "


George menganggur berjalan menuju koridor pintu kamu menutupnya, tatapan Zarco beralih kepada Alia.


" Jangan marah Alia, kau membuat suasana sekitar menjadi dingin karena kau marah" ucap Zarco lembut menghembuskan nafas kemudian.


Alia masih ternganga dengan sikap Zarco saat ini, " K.. kau Carless kan?" tanya Alia gugup.


Zarco mengangguk, "Jujur, kalau iya kenapa?" ungkap Zarco tersenyum.


Mata Alia terbelalak sangat lebar, " Jelaskan!" tegas Alia.


Zarco menghembuskan nafasnya lagi, "Oke.. Akan kujelaskan.."


" Jadi.... "