IMAGINATION

IMAGINATION
Episode 11



...Tinggalkan jejak jika anda suka & selamat membaca💓🔥...


...*****...


Bagas dan Alena pulang sekolah bersama dan seperti biasa Bagas selalu mengoceh seolah tadi tidak terjadi apa-apa membuat perasaan Putri sedikit lega.


"Sayang temani aku ke supermarket sebentar ya". Ujar Bagas membuat wajah Alena jadi merah merona karna panggilan "sayang" yang diucapkan Bagas.


"Emang mau beli apa?". Tanya Putri berusaha tidak salting.


"Mama lagi sariawan minta dibelikan adem sari kaleng".


"Oh.." Jawab Putri sekenanya.


"Itu buku apa?". Tanya Bagas menunjuk Novel yang sedari tadi berada di pangkuan Alena.


"O-Oh ini?? Mm buku novel!". Putri gelagapan. "Sebenarnya ini punya Evline tapi gue pinjem, soalnya di rumah gk ada kerjaan hehe". Bohong Putri sambil memasukkan novel tersebut ke dalam tasnya.


"Oh". Jawab Bagas tak ingin memperpanjang urusan meski ia masih sangat penasaran.


*Kita lihat! sejauh mana permainan ini akan berlanjut*


Batin Bagas.


Sayup-Sayup Putri mendengar batinan Bagas membuat ia memasang telinga dengan seksama namun ada yang aneh... Biasanya Putri akan mendengar suara hati Bagas dengan jelas namun sekarang berbeda ia bahkan tak dapat menangkap satu kata pun dari kalimat yang diucapkan Bagas tadi.


*Bagas bilang apa ya?? kok gue gk bisa denger*


Putri beralih menatap Bagas.


"Kenapa?". Tanya Bagas yang merasa diperhatikan sambil fokus menyetir mobilnya.


"Gk ada.." Jawab Putri lalu kembali sibuk dengan pikirannya.


Hingga kini mereka sudah tiba didepan Supermarket dan Bagas pun segera membuka pintu mobilnya diikuti Alena.


"Ayo". Ajak Bagas lalu menarik tangan Alena ke dalam genggamannya.


Putri tersenyum manis lalu berjalan masuk ke dalam Supermarket sambil bergandengan tangan.


Setelah mendapat yang diinginkan, Bagas pun mengajak Alena menuju kasir untuk membayar minuman segar yang diinginkan mamanya.


"Kamu serius tidak ingin membeli sesuatu? susu tidak mau?". Tawar Bagas namun Putri menggeleng.


"Minuman??". Tawar Bagas lagi.


"Gk sayaaang...Bawel banget sii". Ujar Putri sambil mencubit kecil pipi tirus Bagas saking gemasnya karna sedari tadi Bagas terus memaksanya membeli sesuatu.


Bagas tersenyum manis diiringi wajah yang sudah memerah lalu mengalihkan pandangannya ke arah kasir agar tak terlihat oleh Putri.


"Hitung mbak". Pinta Bagas pada mbak kasir.


"Alena".


Suara seseorang mengalihkan atensi mereka.


"Altarel?". Bingung Putri. "Lo ngapain disini?".


"Emang kalo orang ke supermarket ngapain?". Tanya Altarel balik.


"Berapa mbak?". Tanya Bagas pada mbak kasir namun raut wajahnya terkesan dingin. Altarel mengalihkan atensinya ke arah Bagas, ia tau betul jika saat ini Bagas pasti sedang cemburu.


"2000".


Bagas menyerahkan uang lima ribuan ke arah kasir tersebut dan mengambil pesanannya.


"Kembaliannya ambil saja".


Ujar Bagas lalu pergi begitu saja tanpa melirik dua orang yang ada didekatnya.


"Eh...Bagas!!". Panggil Putri.


"Gue duluan ya Rel. Bye!". Pamit Putri dengan terburu-buru lalu mengejar langkah Bagas.


"Hadeh". Altarel geleng-geleng kepala lalu beralih menatap mbak kasir yang masih terbengong menyaksikan drama mereka.


"Pamit juga ya mbaak...Anyeong". Ujar Altarel sambil tersenyum garing lalu ikut pergi dari sana. Kasir tersebut hanya bisa geleng-geleng kepala dibuatnya.


____________


Alena mengejar Bagas sampai ke parkiran, lalu segera masuk ke dalam mobil mengikuti Bagas.


Tanpa bicara, Bagas langsung menancapkan gas mobilnya membuat Alena hanya bisa duduk kikuk sambil menatap ke arahnya.


"Bagas.. Kok lo ninggalin gue sii?". Protes Putri.


Bagas tak menjawab, tatapannya datar ke arah depan.


"Lo marah ya??".


"......"


"Kok lo diem aja siii???".


"Bagas...Ngomong dong". Suara Putri merendah.


"Gas..."


Bagas masih teguh pada pendiriannya, ia sama sekali tak melirik ke arah Alena. Namun tiba-tiba ia mendengar suara isakan tangis dari arah sampingnya siapa lagi kalau bukan Putri. Entah mengapa hatinya sangat sedih dengan situasi ini hingga mau tak mau Putri harus berusaha menahan suara tangisnya agar tak meledak dan terkesan cengeng namun sialnya ia gagal, Bagas tetap dapat mendengarnya.


Bagas berusaha tak perduli, ia tetap menjaga posisi kepalanya agar tak menengok ke arah samping.


Bagas tak fokus, ia ingin menoleh namun ia juga tak bisa meruntuhkan prinsipnya hingga sebuah bola menggelinding di tengah jalan yang akan ia lewati membuat Bagas mengerem mobilnya dengan mendadak.


"Aaawws". Ringis Putri.


Putri mengangkat kepalanya, bertepatan dengan itu Bagas menoleh ke arahnya memastikan jika ia baik-baik saja. Bodo amat dengan prinsip!


Darah segar mengalir dari hidung Alena membuat Bagas membulatkan matanya.


Alena meraba hidungnya.


"Darah???". Heran Putri melihat darah yang ada dijari telunjuknya.


"Gue mimisan?". Putri masih tak percaya, fasalnya ia tak pernah mimisan selama hidupnya bahkan pingsan sekalipun mungkin karna saat terbentur tadi, batang hidungnya juga kena. Apalagi fisik Alena juga mendukung tak seperti dirinya yang memiliki fisik kuat.


"Alena??!". Panik Bagas lalu mengambil tisu yang ada didepannya kemudian mengelap darah yang masih mengalir lamban itu.


Putri sama sekali tak merasakan sakit, ia hanya diam memperhatikan wajah Bagas yang berada sangat dekat darinya, wajahnya terlihat sangat khawatir.


"Kamu tidak apa-apa???". Tanya Bagas sambil menangkup wajah Alena dengan kedua tangannya.


Alena menggeleng polos.


Bagas lalu menarik tubuh Alena kedalam pelukannya sambil mengecup pucuk kepala gadis itu berkali-kali. Ia merasa sangat bersalah.


"Maaf..." Ucap Bagas dengan tulus.


Putri hanya diam, ia dapat mendengar suara jantung Bagas yang berdebar.


"Gue gk papa". Ujar Putri menenangkan.


Bagas memejamkan matanya sambil mengelus surai hitam Alena dengan penuh kasih sayang. Bagaimanapun kuatnya benteng yang ia buat namun tetap saja Alena adalah kelemahannya dan sekarang rasa bersalah memenuhi hati Bagas.


*Gk sia-sia si Alena punya fisik lemah*


Batin Putri, ia sungguh menikmati moment ini.


"Kamu tau kenapa aku meninggalkanmu tadi?".


Tanya Bagas dan mendapat gelengan kepala dari Putri.


"Aku tidak suka kamu dekat dengan laki-laki lain sekalipun hanya teman.. Kamu ingat kan pernah berjanji apa sebelum aku memutuskan hubunganku dengan Salsa?".


Putri tersenyum kecil, ia baru faham jika kini Bagas sedang cemburu.


"Maaf, gue gk pernah pacaran sama siapapun sebelumnya, jadi gue gk tau kalo lo lagi cemburu".


"Kenapa?". Tanya Bagas singkat.


"Kenapa apa???". Bingung Putri.


"Kenapa gk pacaran??".


"Yang mau sama gue cuma lo".


"Benarkah?? Apa tidak ada alasan lain? menurutku tidak begitu".


"Emang menurut lo apa??".


"Alena kecil pernah mengatakan bahwa cinta pertamanya adalah Bagas... Mungkin saja Alena setia menjomblo karna belum moveon, bagaimana? setuju tidak?". Tanya Bagas sambil terkekeh geli.


Senyum diwajah Alena memudar. Entahlah seperti ada yang menjanggal dihatinya.


*Bukan hanya Alena.... Lo juga cinta pertama gue Bagas*


Putri membatin.


"Alena?". Tanya Bagas lagi.


"Eh.. Setuju!". Jawab Putri cepat.


Bagas tersenyum senang.


Tiba-Tiba Putri melepas pelukannya membuat Bagas mengernyitkan dahi.


"Mm kita udah lama di tengah jalan, mungkin mama lagi nunggu kita sekarang".


Putri menjawab kebingungan Bagas.


"Oh iya.." Ucap Bagas pengertian lalu kembali ke posisi semula namun sebelum itu ia kembali menoleh ke arah Alena.


"Tapi hidung kamu sudah tidak apa-apa kan??".


Putri meraba hidungnya dan tidak ada lagi darah yang keluar.


"Gk papa kok". Balas Putri sambil tersenyum kecil.


"Baguslah". Lega Bagas lalu mulai menjalankan mobilnya.


*Gue gk yakin bakal nemuin cowok kayak lo didunia nyata Gas, gue belum siap kehilangan lo..*


...🕊*****🕊...