IMAGINATION

IMAGINATION
PART 1



Alia berjalan menuju koridor pintu untuk keluar menuju kamar mandi. Hari ini adalah hari pertamanya masuk SMA. Orang tuanya telah meninggal karena kecelakaan waktu dirinya masih kecil. Sekarang dia hanya anak angkat. Dia anak yang pendiam, pintar, dan selalu mengerjakan pekerjaan sendiri. Dulu teman SMP nya sering mengejeknya karena sifatnya yang pendiam itu tidak mau terbuka ke semua orang. Namun dia cuek saja terhadap perlakuan temannya itu.


Usai mandi, Alia langsung siap-siap ganti baju sekolah dan setelah itu makan. Bukunya sudah tertata rapi di tasnya, sebab setiap malam dia selalu belajar dan setelah selesai langsung menata bukunya ke dalam tas.


"Ma, Alia berangkat" seru Alia pada ibunya.


" Iya Al, hati-hati " sahut ibunya.


" Ya, Ma"


Sesampainya di sekolah, Alia langsung menuju ke kelasnya. Ia masuk ke kelas X F. Hanya sedikit anak yang sudah di kelasnya karena masih terlalu pagi. Alia mencari tempat duduknya. Kebetulan yang di sebelahnya itu adalah laki-laki.


" Hai.. " sapa laki-laki itu.


Alia hanya tersenyum tipis lalu lelaki itu kembali bertanya kepada Alia.


" Namamu siapa? " tanya lelaki itu.


" Alia " jawab Alia namun tidak menatap wajah lelaki itu.


" Oh. kau tidak bertanya namaku? " tanya lelaki itu lagi.


" Eh.. Na. namamu siapa? " tanya Alia tersendat-sendat.


" Aku Zarco" jawab lelaki itu tersenyum. Alia hanya tersenyum tipis lalu kembali menatap ke depan.


Bel masuk pun berbunyi, semua siswa masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Disusul dengan guru yang masuk ke dalam kelas. Semuanya terdiam karena belum saling mengenal.


"Selamat pagi anak-anak " sapa guru tersebut.


" Pagi, Bu!! " jawab mereka tersentak.


" Selamat datang di sekolah ini, saya akan menjadi wali kelas kalian. Perkenalkan nama ibu adalah Ibu Laraswati Qaina Sari, panggil ibu Bu Laras aja. Sekarang ibu minta kalian untuk saling mengenalkan diri. Dimulai sesuai urut absen ya.. "


Kebetulan Alia adalah nomer absen pertama karena awal abjadnya 'A'.


" Ya, pertama adalah Alia Sidwira Givara.. Silakan Alia.. " panggil guru itu kepada Alia.


" Hai.. Nama saya Alia Sidwira Givara, panggil saja Alia"


"Bagus, Alia silakan kembali ke tempat dudukmu.. "


Alia pun kembali ke tempat duduknya. Setelah semuanya selesai mengenalkan diri mereka masing-masing, baru dilanjut dengan pelajaran.


Bel istirahat pun berbunyi, seluruh kelas riuh berbondong-bondong pergi ke kantin. Karena mereka sudah saling mengenal, mereka pun langsung mengajak teman-teman yang lainnya, bahkan Alia pun diajak, namun Alia menolak dan memilih untuk pergi ke kantin sendirian.


"Al, kantin bareng yuk.. " Zarco mengajak Alia pergi ke kantin, namun Alia menolaknya. Zarco mengernyitkan alisnya saking bingungnya terhadap teman sebangkunya yang selalu sendirian sejak pagi. Akhirnya Zarco pergi dengan teman laki-laki yang lain dan meninggalkan Alia.


Di tengah perjalanan menuju ke kantin tepatnya di depan X A, Alia dihadang oleh saudara angkatnya yang merupakan anak kandung dari ibu angkatnya.


"Eh, Alia.. Lo masuk kesini juga? Hebat yah, tapi lo ngga usah sok-sokan disini. Apalagi sama cowok.. Inget, lo itu cuma anak angkat ya! " ucap saudara angkat Alia yang bernama Cessi itu sambil mendorong Alia hingga Alia menabrak tembok.


" Cess, dia anak angkat? sayang yah.. Padahal cantik, lebih cantik dari lo" sahut teman Cessi yang lain.


"Apa lo bilang? dia lebih cantik dari gue? " tanya Cessi menatap tajam pada temannya yang lain, mereka itu satu geng.


" Eng.. Nggak kok, Cess.. Sorry, gue canda doang " balas teman Cessi terbata-bata karena takut.


" Awas aja ya, kalo lo ngomong dia lebih cantik dari gue.. Dan lo, lo ngga usah sok tebar pesona di depan pria. Kalo lo ngga patuh sama omongan gue, gue ngga segan-segan lenyapin lo! Inget Itu! " ancam Cessi kepada Alia sambil menunjuk telunjuknya ke wajah Alia.


Alia hanya mengangguk lalu pergi dari pandangan Cessi dan teman-temannya. Sebenarnya Alia ketakutan saat Cessi mengancamnya tadi. Dia takut kalau itu benar-benar terjadi, bagaimana dengan ibu angkatnya nanti karena Alia sangat menyayanginya layaknya ibu kandungnya sendiri.


"Cess, dia itu kenapa si, pendiam banget punya mulut ngga sih? " ucap teman Cessi agak keras saat Alia telah pergi namun belum jauh dari mereka.


" Dia itu emang pendiam dari dulu, mungkin dari dulu udah ngga pengen punya mulut! " sahut Cessi keras.


Alia hanya bisa menahan air matanya dan memegang dadanya yang seketika sakit setelah mendengar ocehan dari saudaranya dan temannya. Walaupun terkesan cuek, namun sebenarnya Alia sangat terbawa perasaan saat mendengar ejekan dari orang lain yang dikenal maupun tidak. Dia hanya bisa mempercayai ibu angkatnya itu, teman-temannya tidak ada yang mau berteman dengannya meski ada beberapa yang masih mau berteman dengannya, tetapi kadang mereka menjadi bermuka dua. Di depan Alia baik sedangkan di belakang mereka berbicara buruk tentang Alia, sehingga membuat Alia tidak mempercayai mereka.


Bel masuk kembali berbunyi, semua anak yang masih di kantin langsung berlari-lari menuju ke kelas takut guru datang sebelum mereka tiba di kelas. Alia yang dari tadi sudah di kelas hanya menatap mereka lalu tidak memperdulikannya lagi.


Sampai akhirnya bel pulang terdengar, seluruh siswa langsung bersorak gembira. Yang tadinya ngantuk langsung seger, yang tadinya bosan mengerjakan tugas langsung menutup buku mereka saat bel itu terdengar. Alia hanya terdiam lalu keluar dari sekolah menunggu angkutan datang. Tiba-tiba Zarco menghampiri Alia menawarkan pulang bareng.


"Al, pulbar yukkk.. " tawar Zarco.


" Ngga.. Makasih " jawab Alia tersenyum tipis.


" Trus kamu mau pulang naik apa? " tanya Zarco.


" Angkutan " jawab Alia lagi.


" Angkutan masih lama, kira kira setengah jam baru dateng. Udah ikut aku aja.. Nih helmnya" ucap Zarco menyodorkan helm.


"Ng.. Ngga usah. Setengah jam ngga papa kok" tolak Alia.


"Ini pake" Zarco tetap teguh pendirian. Karena terus didesak oleh Zarco, akhirnya Alia hanya bisa menerima helm itu karena tatapan Zarco yang tajam. Sebenarnya Alia agak risi namun mau bagaimana lagi selain menerima tawaran teman sebangkunya itu.


Sesampainya di rumah Alias, Zarco langsung pamit kepada Alia.


"Al, gue pamit ya" pamit Zarco.


"Iya, makasih.. " sahut Alia yang tetap tersenyum tipis. Jujur, Alia tidak ahli dalam hal mengungkapkan ekspresi, yang sering dilakukannya hanyalah tersenyum tipis.


" Oke sama-sama, gue cabut.. Bye" balas Zarco yang sudah berlalu perlahan.


Alia hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Ia tetap melihat Zarco sampai Zarco benar-benar sudah berlalu dan tak tampak.


"Siapa tadi? " tanya Cessi sinis.


" Teman" jawab Alia singkat.


"Oh, oke lagi-lagi lo bohong sama gue.. Gue tanya itu tadi Zarco kan, ngaku lo! " tukas Cessi sambil mendorong pundak Alia.


"Iya" jawab Alia singkat lagi.


"Oh, lo sudah berani sama gue hah! Zarco itu calon pacar gue, lo tau? dia itu tampan, pasti udah terkenal. Dan lo udah sok tebar pesona dihadapannya. Berarti lo udah siap buat mati hah!!! " bentak Cessi menekak leher Alia.


"A.. A.. Sa.. Sakit Cess, lepas" ucap Alia mengerang sesak.


"Rasain lo!! Ngga segan-segan gue nglenyapin lo, lo tuh cuma numpang! tapi lo udah curi perhatian ibu gue ke lo, gue cemburu! gue juga pengen diperhatiin ibu gue, tapi dia cuma merhatiin lo! beruntung sekarang ibu gue ngga ada gue bisa leluasa buat lenyapin lo, parasit! " bentak Cessi lagi.


Alia semakin sesak untuk bernapas," I.. Itu.. Ng.. nggak seperti yang..L..Lo.. B.. Bayangin, Cess" suara Alia makin lirih.


Tiba-tiba waktu berhenti, Cessi yang tadi menekak leher Alia langsung terhenti. Semut yang berjalan, orang yang berjalan diluar, air yang mengalir, semuanya berhenti. Kecuali Alia yang dari tadi kebingungan melihat keadaan di sekitarnya berhenti bergerak. Perlahan, Alia melepas tekakan yang membelenggu di lehernya. Setelah itu dia memanggil Cessi lirih.


"Cess, Cessi.. Kamu kenapa? " tanya Alia sambil menggoyang-goyangkan badan Cessi namun Cessi tetap tak bergeming.


" T.. Ti..Tidak mungkin " Alia terduduk lemah di sofa. Lalu dia mengucek-ucek matanya siapa tau ini hanya mimpi. Namun pandangannya tetap sama. Setelah itu, dia mencoba mencubit jarinya, jika terasa sakit maka itu benar-benar kenyataan. Ternyata beneran sakit yang dirasakannya. Alia menangis menutup wajahnya.


"Ibu.. Ibu dimana, Alia takut, Bu.. Alia tidak tau apa yang terjadi, hikss.. " tangis Alia pecah dan semakin keras, hingga akhirnya ada sesosok laki-laki datang menghampirinya namun laki-laki itu memakai masker, sehingga tidak terlihat kenampakan wajahnya.


Perlahan, pria itu mengelus punggung Alia yang terduduk lemas dan sedang menutup wajahnya.


"Alia" panggil pria itu lembut.


Alia menoleh, ia langsung terkejut melihat apa yang ada dihadapannya. Dia sangat ketakutan.


"K.. Kau.. S..Siapa? mana ibu saya? " tanya Alia ketakutan.


" Tenang saja, ibumu sedang diluar mengobrol dengan para teta-" belum selesai apa yang pria itu katakan, Alia langsung beranjak ke luar rumah. Namun tangannya dicegat oleh pria bermasker itu.


"Tapi ibumu juga sedang tidak bergerak seperti yang lainnya, hanya kau yang dapat bergerak saat ini.. Waktu aku hentikan karena saudaramu benar-benar akan melenyapkanmu " tambah pria itu.


" S.. Siapa kau! Cessi tidak seperti itu, bagaimana kau tau.. Kau ini jin atau apa, hikss " lagi-lagi Alia tangis Alia pecah, membuat pria yang dihadapannya itu tak tega melihatnya.


" Aku manusia dalam imajinasi, namun aku hanya manusia sama sepertimu hanya dunia kita yang berbeda.. Maafkan aku sudah membuatmu takut, aku hanya menyelamatkanmu dari terkaman saudaramu tadi, aku tidak mau kau mati karena kau yang nanti akan menyelamatkan duniaku, dunia imajinasi.. Tapi aku akan selalu mengawasimu, aku pergi.. Jaga dirimu baik-baik, ibumu sudah aku pindahkan di depan pintu agar dia bisa langsung masuk ke dalam dan ikut mengawasimu juga.. Sekali lagi maafkan aku, sampai jumpa.. " jelas pria itu sambil mengusap air mata Alia lalu pergi berlalu dari pandangan Alia.


Alia berhenti menangis, dia hanya menatap kosong keadaan disekitarnya. Namun dia merasa nyaman setelah pria itu mengusap air matanya. Perlahan keadaan berjalan seperti semula. Cessi mulai bergerak, ia bingung karena posisinya yang sudah berubah, namun setelah menatap Alia Cessi kembali ingat akan tujuannya dan bersiap-siap untuk menekak leher Alia kembali. Namun ibunya berjalan masuk ke dalam dan melihat mereka berdua sedang berdiri dan saling menatap.


"Alia, Cessi sedang apa kalian? kenapa saling tatap-tatapan begitu? " tanya ibu mereka yang menatap mereka bingung. Cessi langsung menjawab dengan terbata-bata.


"Ah, m..mama..s..sudah pulang? I.. Ini Cessi hanya melihat wajah Alia yang agak berbeda, Ma.. Sepertinya dia kurang tidur" jawab Cessi bohong.


Lalu pandangan ibunya beralih ke Alia yang sedang menatap Cessi bingung.


"Alia, kamu sakit? apa kurang tidur? " tanya ibu angkatnya khawatir.


" Eh, ng.. ngga.. ngga kok Ma, Alia hanya kurang tidur saja.. Alia tidur dulu ya Ma.. " jawab Alia tersenyum tipis.


" Oh.. Iya sana sayang tidur dulu,, " balas ibu angkatnya tersenyum.


" Baik, Ma.. " balas Alia sambil berjalan menuju kamarnya.


Cessi hanya menatap Alia geram karena ibunya hanya memperhatikan Alia sedangkan dirinya tidak diperhatikan.


" Ma, Cessi lapar.. " ucap Cessi sambil menggoyang-goyangkan tangan ibunya.


" Ya sudah sana makan.. " balas ibunya tersenyum lalu meninggalkan Cessi. Cessi hanya mendengus mendengar ucapan ibunya barusan. Dia berpikir mengapa yang dipanggil sayang itu cuma Alia, sedangkan dirinya tidak dipanggil sayang. Sehingga rasa dengki Cessi semakin besar kepada Alia.


Alia yang sudah tiba di balkon kamarnya langsung merebahkan tubuhnya ke kasur. Dia masih terngiang-ngiang dengan kejadian barusan. Yang masih membuat pikirannya bertanya-tanya adalah tentang pria yang barusan muncul dihadapannya lalu lenyap begitu saja.


Siapa pria itu dan dari manakah dia tau namaku? jika memang dia itu manusia sama sepertiku kenapa lagaknya misterius sekali bisa muncul dan menghilang dalam sekejap dan dia juga tau namaku, tapi kenapa aku nyaman saat dia mengusap air mataku?


Dan....


Dunia Imajinasi?


^^^^^^^^^


Cast of this part :


°Alia Sidwira Givara


° Cessiendra Valda


°George Zarco Zanvana




Maaf kalau banyak yang typo^^



Vomment ya ;\)



tbc~