IMAGINATION

IMAGINATION
Episode 10



...Tinggalkan jejak jika anda suka & selamat membaca💓🔥...


...*****...


Kini Alena tengah berada di rootof sekolahnya. Alih-Alih menuju kelas ia malah naik ke lantai atas untuk menghirup udara segar dan bolos dari kelas lagipula tidak ada gunanya dia absen. Tapi mungkin ketiga sahabatnya akan sibuk mencari keberadaannya nanti.


Putri menarik nafas dalam-dalam membiarkan angin yan sejuk itu masuk ke dalam pernafasannya yang masih sesak. Kepalanya sangat pening memikirkan segala hal yang kini tengah menimpanya.


“Gue harus apa sekarang? Gue udah terlanjur cinta sama Bagas dan gue gk mungkin minta dia buat menjauh...” Gumam Putri sambil menjambak rambutnya frustasi. “Tapi gue gk mau liat dia kesakitan kayak tadi argh!”.


Tiba-Tiba sebuah tangan menyapa pundaknya membuat Putri terkejut dan spontan bangun dari duduknya.


“Bagas!”. Refleks Putri yang mengira orang tersebut adalah Bagas namun ternyata bukan.


“Lo siapa?”.


Bingung Putri melihat seorang laki-laki tampan tengah tersenyum ke arahnya. Putri menyipitkan matanya melihat wajah asing dihadapannya ini.


“Kenalin, gue Altarel”.


Laki-Laki yang bernama Altarel itu mengulurkan tangannya. Putri sempat terbengong mendengar gaya bahasa Altarel lalu membalas jabatan tangan Altarel dengan agak kaku.


“Gu-Gue...Alena”.


“Nama asli lo?”.


“H-Ha??”.


“Haha gk perlu kaget gitu kalik. Gue juga sama kayak lo pindahan dari dunia nyata wkwk”.


Altarel terkekeh garing sambil mendudukkan dirinya di kursi panjang rootof yang ditempati Putri tadi.


“Lo tau darimana?”. Putri mulai penasaran lalu ikut duduk di samping Altarel.


“Tau darimana itu gk penting, tapi yang pasti gue tau semua tentang lo”. Altarel tersenyum penuh arti.


“Kok gue gk tau lo?”.


“Karna gue gk berperan disini”.


“Maksudnya jadi tokoh figuran gitu?”.


“Gk juga”.


“Terus?”.


“Gue gk bisa bilang. Dahlah lupain aja, ngomong-ngomong lu lagi ada masalah kan?”. Altarel langsung ke inti.


“Bukan urusan lo”. Jawab Putri agak judes.


“Padahal gue kesini mau bantuin lo cari solusi tapi kayaknya...Lo gk butuh". Altarel memancing.


“Ngomong aja”. Sahut Putri sambil menatap ke arah lain.


Altarel lalu memusatkan perhatiannya ke arah depan dan memulai pembicaraan serius ini.


“Di dunia fiksi ini ada dua aturan yang gk boleh dilanggar oleh manusia dari dunia nyata kayak kita". Putri menoleh ke arah Altarel.


"Aturan yang pertama, kita gk boleh gegabah ngasih tau karakter di novel ini tentang siapa mereka sebenarnya”.


“Kenapa?”.


“Karna pada saat mereka mengetahui siapa diri mereka sebenarnya, cerita akan sulit berjalan dan mereka akan mampu mengubah alur yang semestinya hingga membuat penulis kesulitan untuk membuat ending cerita”.


“Maksud lo ceritanya belum selesai?”. Bingung Putri, setaunya alur cerita dari novel yang ia baca memang menggantung, bagaimana bisa penulis meneruskan ceritanya setelah di publish?.


Altarel tak menjawab, ia justru menyodorkan sebuah novel yang berjudul “B & A” ke hadapan Putri.


“Gue penasaran darimana lo dapet novel ini”.


Putri melebarkan matanya lalu mengambil Novel tersebut, novel yang sedang ia tempati sekarang.


“Lo punya juga? tapi kok lo bisa bawa novelnya kesini?”.


“Jawab pertanyaan gue dulu”.


Putri menghela nafas lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya. Putri bercerita panjang lebar dari sejak ia ngedumel dikamar sampai ke tahap dirinya masuk ke dalam novel tersebut membuat Altarel hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala.


"Terus lo dapet novelnya darimana?".


Tanya Altarel memperjelas karna pertanyaannya yang tadi belum dijawab.


Putri menghela nafas panjang.


"Sebenarnya novel ini tu gue dapet dari adek kelas gue..."


"Gue gk faham".


“Huh! Jadi, waktu gue lagi anteng duduk dikelas tiba-tiba ada adik kelas yang dateng promosiin banyak novel namanya Siska. Karna gue orangnya hobi baca jadi ya gue yang paling semangat dong tapi eh malah kehabisan, sisa yang ini aja. Gue mana tau kalo endingnya bakal nge-gantung gini huh! mana mahal lagi aish!”.


Putri menggerutu.


Altarel berfiki keras seolah mengingat-ingat sesuatu lalu setelahnya mengangguk faham.


“Oh ya! Lo tau gk kenapa judulnya “B & A”, ini kepanjangannya Bagas dan Alena kan?. Bukannya tokoh utamanya Bagas sama Salsa ya?”.


“Mungkin karna Alena pernah ada hubungan sama Bagas atau penulis emang sengaja ngabadiin kenangan mereka lewat judulnya karna mereka gk bisa bersama dicerita”. Ujar Altarel seolah-olah paling tau.


“Gue gk minta lo buat faham”.


“Aish nyebelin banget sih lo!”.


“Haha poin intinya lo gk boleh sembarangan ngomong kalo lo gk mau Bagas kenapa-napa, dia belum tau aja hukumannya kayak gitu apalagi kalo dah tau. Emang lo sanggup liat cowok yang lo suka kek orang sakaratul maut?”. Altarel terkekeh geli.


“Yaa ya gue faham!, tapi mulut loo ihhh... Bisa lebih sopan gk si ngomongnya”. Kesal Putri yang sudah geregetan sejak tadi sambil menjewer kuping Altarel.


“Aww sakit haha ampun”.


“Ih!”. Putri pun menghentikan aktifitasnya.


“Terus Peraturan yang kedua apa?”. Tanya Putri dengan nada datar.


“Lo gk boleh suka sama karakter yang bukan taqdir lo”.


Putri melototkan matanya.


“Maksud lo gue gk boleh suka sama Bagass gitu?”.


“Iya, lagian lo kenapa si bisa tertarik gitu sama cowok yang di gambar manusia”.


“Eh asal lo tau ya! Bagas juga manusia sama kek kita, tapi dalam dunia yang berbeda. Emang lo pernah nyangka gitu kalau seandainya karakter yang digambar manusia itu hidup tapi di dunia lain ha?!”.


Putri terlihat sangat marah membuat Altarel menelan salivanya dengan susah payah.


“Lagian Bagas juga perfect gitu, bakal sulit buat gk terpesona”. Suara Putri merendah.


“Dih!”. Altarel berwajah julid.


“Apa lo?!”.


“Hehe sorry sorry”. Altarel cengar-cengir tidak jelas lalu setelahnya melihat jam yang melingkar di tangannya.


“Udah waktunya gue pergi”. Ujar Altarel lalu bangkit dari duduknya.


“Eh tunguu!”. Putri menahan tangan Altarel.


“Lo tau gk siapa yang nulis novel ini?”.


Altarel melirik novel yang ada di genggaman Putri lalu berfikir sejenak.


“Gk”.


 Jawab Altarel singkat lalu berbalik hendak pergi namun....


“Bagas!”. Putri terkejut bukan main.


“Tugas lo”. Altarel menepuk dua kali pundak Alena lalu pergi begitu saja


melewati Bagas.


*Duh gue harus apa nihh... Apa Bagas denger ya omongin gue sama Altarel tadi*


Putri sangat panik sekarang.


“Ba-Bagas sejak kapan lo di si-sini?”.


Bagas mendekat ke arah Putri membuat Putri semakin gugup.


“Ada hubungan apa kamu sama laki-laki tadi?”. Tanya Bagas sambil bersidekap dada.


*Hah? Apa Bagas bener-bener gk denger obrolan gue?*


“Alena jawab!”. Bagas setengah membentak membuat Putri gelagapan.


“I-itu...Temen gu! Ya temen... Hehe”.


“Teman?”. Intograsi Bagas sambil menaikkan sebelah alisnya seolah ragu dengan alasan yang dikatakan Putri.


“Iya temen.. Emang kenapa si?”.


“Apa teman memang sedekat itu?”.


“Jangan bilang lo cemburu...”


Bagas hanya diam sambil menatap tajam ke arahnya.. Melihat tatapan itu membuat Putri cukup mengerti.


"Mm dia tu temen baru, gue awalnya gk kenal dia tapi karna sefrekuensi jadi langsung akrab..." Jawab Putri dengan agak kaku.


Bagas menaikkan sebelah alisnya lalu tersenyum smrik, entahlah apa arti dibalik senyuman itu Putri pun tak tau.


Bagas lalu mendekatkan wajahnya ke arah kuping kanan milik Putri sembari berbisik...


"Seorang pepatah mengatakan ; Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya pasti akan tetap tercium juga. Kamu bisa mengatakannya lain kali jika belum siap, aku tunggu kejujuranmu....Sayang".


Suara Bagas merendah membuah bulu tengkuk Putri seketika merinding. Bagas lalu kembali ke posisi awal dan menatap Putri sekilas lalu pergi dari hadapan gadis itu.


"Maksud Bagas apa? apa dia udah tau?? atau... Aaiish tau ah pusing!".


Pasrah Putri lalu pergi turun dari rotoof menuju kelas, mungkin bercanda bersama ketiga sahabatnya akan membuatnya sedikit lebih baik.


...🕊*****🕊...


Apa sebenarnya arti dibalik kalimat yang diucapkan Bagas???