I Love You, Ukhti

I Love You, Ukhti
Bab 19. Naluri seorang ibu



"Bagaimana keadaan teman saya Dok?," tanya Nurul begitu dokter selesai melakukan pemeriksaan pada Firda.


"Alhamdulilah, gak papa neng, sepertinya hanya kecapean saja, sepertinya daya tahan tubuhnya memang sangat rendah !" Jawab dokter yang sudah sangat mengenal keluarga Nurul dengan ramah.


"Alhamdulilah, terimakasih ya dokter!" Ucap Nurul sebelum sang dokter meninggalkan tempat Firda berbaring.


Nurul dan Melati bernafas lega setelah mendengar perkataan dokter yang bernama Dini itu. Keduanya segera mendekat ke arah dimana Firda berbaring lemas dengan selang infus ditangan nya. Begitupun dengan Ustadz yusuf yang masih mengintil dibelakang kedua sahabat Firda itu.


" Ustadz! Gak ada jam kah? Kalau ada, gak papa kalo balik dulu, lagian tadi saya juga gak izin sama abah dan umi karena sudah panik, sekalian nitip izin sama abah dan umi ya!," ujar Nurul melihat ustadz Yusuf berdiri di belakangnya.


"Trus nanti neng Nurul pulang nya gimana?," Tanya Yusuf.


"Saya sama Melati bisa naik angkot kalau Firda sudah baikan!" Jawab Nurul yang selalu dengan tutur kata yang lembut dan sopan.


Ustadz Yusuf sebenarnya berat meninggalkan 3 gadis yang masih menuju dewasa itu di klinik tanpa pendampingan.


Tapi apa yang dikatakan Nurul juga benar, dia punya tanggung jawab lain yang juga sama besarnya apalagi kepergiannya tanpa Izin dan sepengetahuan para ustadz. Takut akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan.


Β πŸ‰πŸ‡πŸ‰πŸ‡πŸ‰πŸ‡πŸ‰πŸ‡πŸ‰πŸ‡πŸ‰πŸ‡πŸ‰


β˜†Kota Sβ˜†


Pagi yang cerah secerah hati author eaak πŸ˜‚πŸ˜š.


Namun sepi sudah biasa di lalui sepasang suami istri yang tengah di tinggal anak-anaknya merantau, Rizky kerja di jerman sedangkan sang adik harus sekolah di ponpes. Seperti biasa, pagi ini di meja makan hanya ada suara sendok dan piring yang beradu. Anggara tengah siap untuk berangkat kerja, dan sebentar lagi Tiwi akan tinggal seorang diri dan kesepian dirumah besarnya itu.


Baru selangkah Tiwi hendak mengambil piring kotornya dan suami tiba-tiba suara pecahan kaca terdengar dari kamar Firda. Kedua orang yang kaget itu bergegas naik ke kamar putri tercintanya. Tak ada angin, tak ada hujan, pigura poto yang terpampang dikamar Firda tiba-tiba saja terjatuh.


"Pertanda apa ini pah?," Tiwi meraih poto cantik putrinya dari pecahan kaca tiba-tiba saja air mata nya menetes.


"Pah, kita menyusul Firda sekarang di Ponpes ya? Hati mamah gak enak, takut terjadi apa-apa ama Firda!" Pinta Tiwi tang kini tangisnya semakin menjadi.


"Papah ada rapat penting Mah, papah janji setelah rapat papah akan segera pulang!" Anggara tak ingin menolak ajakan istrinya tapi disisi lain ia juga harus rapat pagi ini.


"Kalau papah gak mau, biar mamah yang berangkat sendiri!" Ancam Tiwi pada suaminya.


Yang akhirnya membuat sang suami terpaksa mengalah dan membatalkan agenda rapat, harusnya terealisasi pagi ini. Tak membutuhkan waktu lama untuk bersiap, sepasang suami istri itu segera lepas landas ke tempat tujuan pondok pesantren putri tercintanya.


Kepergian yang harusnya 2 hari lagi terpaksa harus diajukan lebih cepat karena Firasat Tiwi yang khawatir sesuatu terjadi pada putri tercintanya, yang berada jauh dari jangkauannya. Keberangkatan yang mendadak ini juga membuat Tiwi lupa akan janjinya mengajak Feby dan Irma untuk bertemu sahabatnya.


Makasih yang udah suka karya aku dengan cara


Like, Komen, Fav5 N Vote


Makasih pake banget deh wkwk


love love😚😘