
"Ekhem...
Suara deheman khas yang dengan seketika bisa menutup mulut para santri yang masih ramai dengan tawa. Dengan segera semua santri membuka kitab dan menyiapkan bolpoin untuk memaknai kitab yang masih gundul. Firda yang belum bisa, bisanya hanya mengikuti sekaligus mendengarkan saja tanpa menyoret-nyoret kitab mulus miliknya.
Ustadz Candra mengartikan satu persatu kata dan menjelaskan apa yang terdapat dalam kitab itu kebetulan bab yang diterangkan malam ini adalah bab kehidupan setelah menikah membuat para santri yang memang menuju dewasa itu menjadi sangat antusias mendengarkannya. Apalagi dengan bawaan Ustadz Candra yang terkadang membuat lelucon di tengah penjelasan nya.
"Dari tadi ustadz ngomong segitu banyaknya, emang ustadz udah pernah nikah?,"tanya Firda polos usai penjelasan berakhir.
Pertanyaan yang membuat para santri yang mulai riuh menjadi diam menatapFirda heran.
Astaqfirullah hal aziim, ini anak polos atau bagaimana ya allah? Batin ustadz Candra menghela nafas panjang.
"Sekarang saya balik bertanya, kalau saya menerangkan tentang kehidupan setelah kematian apa saya perlu mati dulu?," ustadz Candra membuka suara dan lagi-lagi disambut tawa oleh para santri.
Firda berfikir mencerna pertanyaan yang barusan dilontarkan ustadz Candra dan akhirnya mengangguk mengerti membuat ustadz Candra bernafas lega karena tidak perlu lagi panjang lebar menjawab pertanyaan konyol itu.
"Ustadz lagi!" kembali Firda mengangkat tangan membuka suara.
Suara yang membuat ustadz Candra ingin sekali berteriak TIDAK tapi tidak mungkin dilakukan karena memang sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang guru memberikan penjelasan kepada yang memang belum tahu. Dan cukup satu anggukan membuat mata Firda berbinar.
" Dalam islam kan gak ada pacaran ustadz, Tapi bagaimana bila jatuh cinta bagaimana cara mengenal orang yang kita cinta dan dekat dengannya kalo tanpa pacaran?,"
Pertanyaan yang sukses membuat sorakan semakin riuh tertuju pada Firda. dan satu lagi pertanyaan ini membuat wajah sang Ustadz merah, hampir saja kejang dengan pertanyaan yang bahkan dia sendiri belum pernah merasakan nya.
"Ya.. gua tanya lah, kan gua emang penasaran dengan itu!" jawab Firda yang memang polos dan lugu.
"Baiklah, mau dijawab sekarang didepan teman-teman apa secara pribadi?," lagi-lagi bukan jawaban yang diberikan ustadz Candra melainkan pertanyaan ulang.
"Lah.. bukan nya gak boleh ustadz, berduankali belum nikah? kok ada jawaban pribadi segala?,"
Astaqfirullah hal aziim! sabar ndra sabar!
lagi-lagi ustadz Candra beristiqfhar dengan pertanyaan Firda yang begitu polos nya.
"Firda Diandra, jatuh cinta itu Fitrah yang memang dihadirkan Allah dalam diri manusia jadi sah-sah saja. terus bagaimana kita mengenal orang yang kita cintai sementara dalam islam tidak boleh berpacaran? bukankah kita punya Allah yang maha menghadirkan cinta? lalu apa yang perlu kita lakukan? ya mendekatkan diri pada yang menghadirkan cinta, untuk menjaga cinta kita mendekatkan dengan orang yang kita cinta kalau dia memang ditakdirkan untuk kita, kalau tidak? berarti Allah punya rencana yang lebih indah dari pada itu!" Terang ustadz Candra panjang kali lebar yang hanya ditanggapi anggukan oleh si penanya.
"dan satu lagi, Cinta kepada ciptaan Allah jangan sampai melebihi rasa cinta pada penciptanya!"pungkas nya kemudian.
Firda telah bersiap mengangkat tangan kesekian kalinya setelah mendapat jawaban dari pertanyaannya, Tapi segera ditahan oleh Melati mengingat waktu yang sudah kelewat batas karena pertanyaan-pertanyaan yang terus saja dilontarkan Firda, sedangkan santri lain hanya mendengar kedua orang itu.
"Sudah Fir, besok lagi!,"
Firda hanya mengeluarkan dengusan pasrah saat harus menahan rasa penasaran yang masih menumpuk dalam benaknya.
Like, Komen n Vote!!