I Love You, Ukhti

I Love You, Ukhti
Bab. 14 Debat dengan ustadz



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ngapain kamu di depan pintu! nunggu red karpet?"


"Ck... iya, aku kan artis yang terkenal dan cantik pastinya ustadz!" jawab firda


"maaf ya, karpet nya masih di cuci!" ujar Ustadz


"Ck... au ah gelap" kata Firda berdecak dan melangkahkan kakinya masuk kelas dengan horor menghentakan kaki.


Menarik memang melihat perdebatan antara Ustadz Candra dan Firda, karena hanya gadis kota itu yang berani menjawab setiap kali ustadz Candra berbicara. tak juga si biang kerok Alvin. yang hanya bisa patuh pada semua omongan ustadz yang satu ini. Dan itu menjadi hiburan tersendiri bagi para penonton yang menyaksikan perdebatan keduanya.


"jadi sudah merasa cantik?" tanya Ustadz Candra melirik gadis cantik yang berada disamping tempat duduknya.


"Baiklah sore ini tidak usah mandi, dan nanti ajak Melati kepasar belanja bahan makanan di ponpes ini!" imbuhnya dengan datar dan kembali membolak balik buku yang ada dihadapannya bersiap melanjutkan materi.


pernyataan itu membuat Firda melemparkan tatapan tajamnya kearah sang pemerintah sekaligus sukses mengundang tawa seisi kelas.


"sabar Firda, anggap aja ini ujian," Firda berlalu dari samping Ustadz Candra menuju ketempat duduknya dengan iringan tawa yang menggelegar.


Pelajaran fiqih yang bisanya paling ditakuti para santri karena sang Ustadz killer, mendadak menjadi pelajaran yang paling dirindukan kelas X bahasa ini. apalagi kalo bukan karena perdebatan konyol kedua orang itu. Ustadz Candra dengan keteguhanya., Firda dengan kepolosannya yang terkadang bisa membuat ekspresi ustadz Candra yang selalu datar dan tegas dihadapan para santri menjadi memerah karena malu.


bahkan tak jarang juga ikut tertawa bersama mereka dan itu menjadi kesenangan bagi anak kelas X bahasa.


...****************...


Hari-hari yang dilalui Firda di pesantren ini memang tidak lah mudah. beradaptasi dengan hal yang baru yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan sebelumnya. tapi menyerah bukan kata yang mudah bagi seorang Firda. Meski terkadang hati nya menjerit ingin menyerah, tapi kegigihanya melawan jeritan itu.


" Fir, hari jum'at ini kok masih serius aja," ujar Nurul yang baru saja mendaratkan tubuhnya di tikar tempat Firda bersemedi wkwk.


"iya, dari tadi malahan," sahut Melati yang baru saja kembali dari kamar mandi.


" gua kan kagak pinter kaya elo Rul, gua pengen cepet bisa nih baca tulisan, setidaknya sebelum ortu gua kesini seminggu lagi!," jawab Firda menunjukan buku belajar Al-Qur'an yang ada ditanganya.


jawaban yang membuat Nurul tersenyum bangga akan sahabatnya itu.


" semua butuh proses Fir, pasti kamu bisa kok," Nurul memeluk sahabatnya itu yang belum lama dikenalnya.


Melihat kedua sahabatnya saling berpelukan Melati tak mau ketinggalan, setelah meletakan handuk ke tempatnya dan Nimbrung memeluk kedua sahabatnya itu. Melati tak pernah menyangka akan sedekat ini dengan Nurul, ya mereka memang berteman dan selalu satu kelas sejak tsanawiyah tapi Melati tak pernah berani untuk mendekat karena memang


status mereka yang berbeda. Dan perbedaan status itu seakan menghilang karena kehadiran Firda. Mati banyak melihat sisi lain dari Nurul yang selama ini yang terlihat sangat lemah lembut dan anggun.


"Firda, ada yang jenguk!," Ujar salah seorang santri yang memanggil Firda dan membuyarkan ketiga sahabat yang fi selimuti rasa haru itu.


"Siapa? orang tua gua kan, kesini minggu depan deh?," tanya Firda heran.


"ngak tau, tadi aku liat cowo!," saut si santri yang bernama Arum.


Firda berfikir sejenak melihat kedua sahabatnya mengisyaratkan pertanyaan yang kemudian di angguki keduanya. setelah mendapat kedua anggukan dari kedua sahabatnya, Firda segera menemui tamu yang mengunjunginya yang diyakini bahwa itu bukan kedua orang tuanya melainkan seorang pria.


"Aaarrrgggghhhh...... Abaaanggggg..... Saranghaeeee!," pekik Firda begitu bahagia setelah mengetahui orang yang berada di gazebo pesantren adalah abang nya Irfan yang habis pulang dari Jerman.


Bersambung....