
Beradaptasi dengan lingkungan dan suasana baru memang tak mudah bagi seorang gadis yang bernama Firda. Apalagi backgraoudnya berbeda dengan teman-teman yang lain yang telah mendapat bekal agama dari orang tuanya. sedangkan Firda benar-benar harus memulai semua dari Nol. Firda memulai mengenal huruf hijaiyyah, belajar sholat dan belajar tentang hukum-hukum yang ada didalam agama islam.
Abah kiyai memberi waktu khusus untuk Firda diluar jam MADIN dan jam sekolah untuk memperdalam ilmu agamanya. untuk tata cara sholat pak kiyai mempercayakan Nurul Ulfa atau biasa dipanggil neng Nurul.Nurul sendiri adalah anak bungsu dari pak Kiyai Nurul disuruh untuk mendampingi Firda. sedangkan untuk membaca Al-Qur'an Firda akan langsung belajar dengan beliau langsung.mengingat Firda yang belum mengetahui apapun tentang agama akan sulit jika diikutkan materi pelajaran di pesantren yang langsung dihadapkan dengan kitab-kitab kosong tanpa harakat.
"cepet banget kamu, sampai nya Fir, kamu tadi gak istirahat dulu?," tanya Nurul melihat jam MADIN yang harusnya baru berakhir tapi Firda sudah ada di rumahnya.
"Nanggung juga, biar nanti aja gua istirahtanya!" jawab Firda mengeluarkan buku tuntunan sholat dari dalam tasnya.
Nurul benar-benar mengagumi semangat belajar Firda walau harus dengan candaan dan nyanyian dari suara cempreng nya. Dia terus memperhatikan sahabatnya itu yang ketika belajar belajar bersamanya sangat antusias. Dalam waktu yng belum genap satu minggu Firda telah mampu menghafal banyak do'a yang di ajarkan Nurul.
"Istirahat dulu Fir! ini minum" Ucap Nurul menyodorkan se gelas es jeruk yang diambilnya dari dalam lemari es. mengingat sahabatnya itu yang belum sama sekali istirahat.
"Ntar dulu Rul, udah mau selesai juga ini qunutnya tinggal akhirnya doang yang lom hafal!" Sahut Firda dan mulutnya kembali komat kamit melanjutkan Hafalannya.
...----------------...
Di lain tempat, sahabat Firda yang berada di kota Irma dan Feby hari ini pulang sekolah dan ingin menginap di rumah Firda.
"Hai mah, sedang masak apa?" tanya Feby pada Tiwi yang tengah memasak di dapur.
kedua gadis itu memang terbiasa masuk rumah Firda dan sudah menganggap orang tua Firda seperti orang tua mereka sendiri. mengingat kedua orang tua gadis ini memang sama-sama sibuk, dan tentunya tak heran bila mereka lebih dekat dengan orang tua nya Firda dibanding orang tuanya sendiri.
"kalian langsung kesini? udah bilang belum sama mama, papa?" Tiwi balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Feby sambil kelayakan mangkok yang berisi sayur asem di atas meja.
"mereka sudah pasti tau lah mah, kalo kamu nginep disini emang dimana lagi kami nginep masa iya di hutan" jawab Irma
""Setidaknya kalian ngasih kabar kalo nginep disini" nasihat Tiwul eh salah deng maksudnya Tiwi😂
" mamah gak suka kah kami kesini?," Feby menaikan satu alisnya yang didukung Irma
"Ya, bukan begitu sayang. mamah mah seneng kalian kesini neminin mamah. tau setidaknya kalian ngasih tau dulu sama orangtua kalian!" Tiwi yang telah menyelesaikan pekerjaannya segera duduk di antara kedua gadis itu.
Tiwi memang tidak pernah membedakan antara Firda dan sahabatnya itu. Baginya Feby dan Irma buat seperti anak nya sendiri. Apalagi saat ini dia hanya sendirian di rumah yang sangat luas dan besar ini saat menunggu suaminya pulang kerja.
"Mamah kapan jenguk Firda,?" tanya Irma yang saat ini sudah berpindah kerynag TV menonton drama kesukaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
kembali ketokoh utama. Selesai belajar dengan Nurul , Firda kembali menuju Asrama untuk berbersih diri dan bersiap untuk sholat dzuhur berjamaah dan langsung menyiapkan peralatan sekolah. Senyum manis itu selalu mengembang dibibie manis Firda. Dasar Firda memang anak yang mudah akrab dengan siapapun tak sungkan dia menyapa setiap orang yang ditemuinya. Tak heran memang banyak yang menggemari sifat gadis kota cantik itu.
Di balik banyaknya penggemar Firda, Namanya juga hidup yak pastilah ada yang kurang berkenan dengan sikap kita. entah itu karma iri atau bagaimana, Tapi yang jelas manusia juga tak kan pernah lepas dari orang yang tidak menyukai kita.
" Sok cantik, sok pintar!"celetukan sinis dari kamar sebelah membuat Firda yang baru saja berniat masuk dalam kamar segera menoleh ke asal suara.
" Heem idola aku aja di ambil sama dia Vi," Reva ikut-ikutan berkata sinis.
Novia Rianti namanya biasa dipanggil Via Atau Vivi. merupakan santri lama, yang sejak awal kedatangan Firda memang membuat Via merasa tidak nyaman. Karna Firda memiliki banyak teman karena mudah bergaul dnegan siapapun ditambah lagi Alvin, santri putra yang disukai temanya Reva juga menyukai Firda. membuat perasaan tidak suka Via semakin menjadi-jadi.
♡♡♡♡♡♡
Siang ini Nurul menjemput Firda dan melati ke kamarnya untuk berangkat sekolah bersama. Meskipun mereka bertiga tidak satu kelas karena ketiganya memilih jurusan yang berbeda namun persahabatan mereka tetap berjalan seperti semula. Firda memilih jurusan bahasa karena sejak kecil Firda ingin menjadi penulis. Nurul yang sejak kecil bercita-cita sebagai footer memilih jurusan IPA. sedangkan Melati memilih jurusan IPS karena keinginan ortunya.
" Ada yang bisa aku bantu For,?" tanya Nurul
"LKS fiqiqh gak ada, bisa mati gua kena ocehan ustadz oleng itu" Ucap Firda Frustasi.
"pinjem punya aku aja Fir. "Sahut Melati yang sudah siap didepan pintu kamar.
"masalahnya ada PR Mel, semalam dah gua kerjain tuh" laura semakin frustasi.
"punya ku aja gak ku kerjain, udah sana ambil in!" perintah Melati yang di turuti Firda.
Ketiga gadis itu segera berangkat setelah Firda mendapatkan LKS Melati. langkah jalan mereka di percepat mengingat sjtu yang sudah sangat sedikit dengan bel masuk. Fikiran Firda sudah tidak karuan dari tadi karena jam pertamanya jari ini adalah ustadz candra. jika terlambat maka habislah dia ditangan Ustadz idolanya itu.
Dan benar saja, saat tiba di depan pintu kelas, sang ustadz telah duduk manis didalam. ingin mundur sudah ketahuan, mah masuk pasti malu.
Bersambung....♡.