
Kerjasama antara Javenir Hotel dengan Perusahaan Sigit berlangsung lancar.
Kedua CEO saling berjabat tangan dan sama-sama tersenyum bahagia.
Sigit yang notabene Kakak Sambung Kania Satu bapak beda Ibu, Hubungan mereka mulai membaik.
Sebelum terjadi kesepakatan antara Javenir dengan perusahaan Sigit, Jo menanyakan betul perasaan Kania. Karena bagaimanapun Juga Jo sangat memahami betul perasaan istrinya.
Terlebih saat itu ibunda Sigit sangat tidak menyukai Kania.
Namjn semua telah berlalu.
Lambat laun Sigit dan Ibundanya bisa menerima Kania sebagai anak dari Suami dan Ayah mereka.
Sigit didampingi istrinya menghampiri Kania yang saat ini bersama Jo.
"Apa kabar Kania?" Sigit menyapa adik sambungnya.
"Baik, Mas. Kania menyalami Sigit juga istrinya."
Sigit melanjutkan obrolan bisnis mereka sedangkan Kania bersama dengan Istri Sigit.
Kania canggung karena memang baru kenal istri kakak sambungnya itu saat Sigit hadir di resepsi pernikahan Kania.
"Bagaimana kabar ibu?" Kania basa basi menanyakan ibunda Sigit.
"Kabar ibu baik. Kapan-kapan mampir kerumah bersama Jo." Istri Sigit berbasa basi.
"Iya, lain waktu kami akan mampir Mbak." Kania menjawabnya.
"Bolehkah aku berteman denganmu Kania?" Istri Sigit tampak berusaha mendekati Kania.
"Kita bahkan lebih dari sekedar teman, kakak ipar." Kania kini mencoba mencairkan suasana.
"Hahahah,,,iya ya. Adik iparku." Istri Sigit menjadi malu dengan kata-katanya.
Keduanya pun akhirnya mengobrol dengan mengalir begitu saja.
Bertukar nomor WA dan saling follow instagram.
Sigit beserta keluarganya menetap di Solo.
"Kania, Jo ikutlah bersama Mas dan Mbak, kita sama-sama ziarah kemakam Ayah." Sigit mengajak Kania dan Jo berziarah ke makam ayah mereka sebelum Kania dan Jo kembali ke Jakarta.
Kani mengangguk setelah melirik Jo dan dengan anggukannya Jo menyetujuinya.
Sigit dan istrinya, Kania dan Jo kini berasa dipusara ayah mereka.
Mereka berdoa dan menaburkan bunga mawar diatas makam Ayahnya.
"Ayah Sigit dan Kania datang, Ayah semoga tenang di Surga. Kami juga membawa serta menantu Ayah." Sigit berkata dideoan makam Ayah nya sambil menyirami makam Ayah mereka dengan air mawar.
"Ayah, Kania datang bersama Mas, suami dan Kakak ioar Kania. Ayah yang tenang disana." Kania tak kuasa menitikkan airmata saat berbicara sambil mengusap nisan Ayahnya.
"Lain kali mampirlah kerumah Mas," Sigit saat melepas Kania dan Jo sebelum balik ke Jakarta.
Kania berpelukan dengan Istri Sigit dan keduanya tampak saling ingin mengabari satu sama lain.
"Mbak jangan bosen ya Kania bakal sering tanya-tanya soal promil." Kania meleosskan pelukan kakak iparnya.
"Iya Kania, jangan sungkan. Mbak akan bantu." Istri Sigit yang tersenyum sambil memegang lengan Kania.
Kani dan Jo dalam Jet Pribadi merehatkan sejenak tubub mereka yang lelah.
Sambil berbaring diranjang, Jo mengusap pucuk keoala istrinya yang begitu menikmati perlakuannya.
"Sayang, aku maupun ibu bahkan semua keluarha kita tak pernah memaksa soal kehamilan. Aku mau kamu nyaman tidak terbebani soal kehamilan." Jo sedang memahami perasaan Kania yang belakang sering ditanyakan soal kapan hamil.
"Gapapa By, aku memang sudah niat agar kita mulai promil. Tapi" Kania menggantung kata-katanya.
Seolah Jo mengetahui maksud Kania.
"Sayang, aku menikahimu bukan semata-mata ingin punya anak. Anak adalah titipan Allah, maka Allah lah yang lebih mengetahui kapan amanah tersebur diberikan kepada kita." Jo bijak sekali dalam setiap ucapan dan keputusan.
Sikap bijak itulah salah satu kekaguman Kania pada Jo.
...****************...