
"Sayang, subuhan yuk bangun" Jo mengusap pipi Kania membangunkan shalat subuh.
Kania mengerjapkan matanya.
Melirik enggan kearah jam dinding diatas nakas.
"Aku siap-siap dulu ya By, jangan ditinggal." Kania bangkit menuju kamar mandi.
Berkah menjadi suami dan istri ketika shalat sudah ada yang mengimami.
Kania mencium punggung tangan Jo selesai shalat.
Dengan kedua tangannya Jo mengecup kening Kania.
Betapa indah rasanya beribadah bersama dengan pasangan yang halal.
6 Bulan sudah Kania dan Jo berumah tangga.
Keseharian kedua juga masih bekerja dikantor masing-masing.
Bedanya Kini Jo tidak lagi menjadi sekretaris Abimanyu karena Jo mengembangkan Javenir dibeberapa Daerah salah satunya di Jakarta.
Selain itu Javenir juga sejak di pimpin Jo melebarkan sayap usahanya kedalam bisnis perhotelan.
Kania sendiri kini memimpin salah satu perusahaan Daddy Satria, di Jakarta dan menjadi mitra kakaknya Abimanyu.
Daddy Satria sudah ingin beristirahat dan hanya ingin bermain dengan Triplet cucu-cucu tampan yang kini sudah berusia 1 tahun.
Bu Lastri kini sudah tinggal di Jakarta. Karena Jo, Kania, Keysha dan Abimanyu khawatir jika Bu Lastri masih di Solo mereka jauh untuk menjaga Bu Lastri.
Bu Lastri Juga kini hanya ingin beristirahat karena Javenir sudah di tangani oleh Jo.
Begitupun Mommy yang mempercayakan semua butiknya pada Keysha untuk mengelola.
Opa, Oma dan Uti kini lebih senang bermain dengan ketiga cucu mereka yang ganteng dan menggemaskan.
"Sayang, hari ini bisa temani aku ke Solo?" Jo yang sedang memakai kemeja kerjanya dihampiri Kania yang selalu sigap melayani suaminya.
Kania membantu Jo memakaikan dasi dan selalu Jo mencari-cari kesempatan untuk mesum pada istrinya.
"Sayang, Lipstik aku berantakan nanti." Kania selaku bawel dengan ulah Jo setiap hari yang membuat Liostil Kania belepotan.
"Habis bibir Kamu bikin aku gemes Sayang." Jo tak mengindahkan protes Kania kembali membuat si Mpunya bibir kembali belepotan.
Kania tak mampu menolak meski ia harus touch up ulang namun Kania tak sanggup menolak karena bibir Jo sudah menjadi candu bagi Kania.
"Sebenarnya aku ada merting sih, tapi bisa aku limpahkan saja, minta Lila Sekretaris Kania yang menghandlenya."
"Makasi ya Honey, aku butiran debu tanpamu Honey."
Jo tak pernah bosan mengecup Kania meski berkali-kali.
"Yang penting, gairah cinta aku selalu hangat Honey." Jo melepaskan pagutannya dan mengedipkan sebelah matanya pada Kania.
"Dassr suami mesum!" Kania meledek Jo.
Jo dan Kania begitulah keduanya.
Rumah tangga yang selalu diisi dengan canda tawa meski kadang ego keduanya masih sulit untuk diturunkan namun berujung Jo yang selalu mengalah untuk kebaikan bersama.
Kania pun sedikit demi sedikit banyak berubah.
Kania yang kini bisa memasak karena sering belajar dengan ibu mertuanya, Keysha dan Mom.
Kania juga kini tak gengsi lagi untuk mengutarakan rasa cintanya pada Jo.
Jo tentu semakin bucin dan Omes pada Kania.
Seakan saat dekat Kania No selalu mampu ON tanpa kenal gejala 5L Lemah, Letih, Lesu, Lemas, Lelah.
Kania ikut ke kantor Jo, menemani Jo ke Solo karena ada urusan kantor.
"Terima kasih Pak Aditya, Saya akan sampaikan mengenai kesepakatan Baoak dengan Kami kepada Bu Kania." Lila Sekretaris Kania berjabat tangan Aditya.
"Apakah Bu Kania sakit?" Aditya menanyakan ketidak jadiran Kania pada meeting kali ini.
"Bu Kania sedang menemani Tn Jo Pak." Jawab Lila singkat
Lila adalah sekretaris Kania.
Pribadinya yang tegas, tak pencicilan, irit ngomong dan terkesan jutek membuat Kania kadang sering aneh sendiri dengan Sekretarisnya.
Naum Kania suka dengan cara kerja Lila. yang mampu bekerja dengan baik dan bisa memberikan masukan positif.
Meski pegawai diperusahaan Kania banyak yang menggoda Lila namun Lila yang oembawaannya dingin dan jutek tak jarang hanya membuat para oegawai pria di kantor Kania memilih mundur.
Perusahaan Aditya memang saat ini memiliki kerjasama yanv cukup intens.
Awalnya Kania sempat ragu menjadikan Aditya sebagai rekan bisnis, mengingat masa lalu mereka yang tak baik.
Namun dukungan dari Jo sebagai suami yang selalu mengingatkan Kania harus bersikap profesional membuat Kania menjadi yakin menerima tawaran kerjasama Aditya.
Selain itu sikap Aditya juga tak lagi seperti dulu dan Aditya bisa membuktikan bahwa mereka berhubungan profesional tak lebih.
"Sudah selesai pak Aditya, mohon maaf saya tinggal karena masih bangak pekerjaan yang harus Saya kerjakan. Permisi." Lila pamit pada Aditya tanpa merasa sungkan san bergegas meninggalkan Aditya yang erada di ruangan meeting kantor Kania.
"Sumpah, Sekretarisnya Kania Jutek banget!"
Aditya keluar dengan wajah kesal.
...****************...