
Tio menatap indra sepertinya indra mengetes kemampuannya atau mengerjainya. "Baiklah,saya akan lihat,"jawab tio bergegas melangkahkan kakinya menuju kedepan layar komputer. "Sebatang rokok yang masih belum habis tergeletak diatas asbak.
Beberapa kaleng soda yang sudah habis berserakan diatas meja disamping keyboard berwarna hitam,"Bathinnya yang kadang tio sendiri melakukan hal yang sama.
Menyaring serial number pada MS excel. "Kelihaianmu dalam mengoperasikan komputer dan Kelakuanmu saat menunggu loading seperti karyawan call center,"ungkap indra yang terlihat oleh kedua matanya.
Kedua telapaknya menekan lembut kedua pundak tio saat indra menahan rasa kantuk karena kekenyangan. "Menu makan siang tadi,sayur asem lagi?"tanya tio sembari kedua ujung matanya terus mengamati angka-angka dibelakang / (Garis Miring).
"Kenapa,sih selalu memilih menu yang sama setiap aku makan, selama 6 hari ini aku makan sayur asem,kamu dan deni ikut makan sayur asem,aku makan tempe kamu ikut makan tempe,aku makan pete,kamu makan jengkol,"tanyanya lagi sembari mendengar indra menahan batuk yang tidak reda.
Batuk yang belum sembuh. "Belum reda batuknya,mau aku temani berobat kekelinik?"kata tio."Hari ini aku bisa menemanimu,kalau kamu mau ditemani?"kata tio lagi.
Punggungnya disandarkan pada kursi kerjanya,kepala yang didongakkan keatas menatap indra yang menahan batuk. "Setelah tujuh hari bekerja dengan lebih tabah,lebih keras,dan lebih banyak halangan,"kata tio "Datang bulan kali halangan,"potong indra.
"Apa kamu merencanakan untuk mengusirku,ndra?"tanya tio,setengah bergurau. "Mengusir?"jawab indra. "Kalimat tepatnya,lebih senang berada dizona nyaman dan kalau pulang kampung tidak sejauh Staf Senior yang di mutasi ke sumatera!"ungkap tio lagi.
Lalu,dari ujung meja,Manager Operasional mengangkat tangannya. "Tio,"kata Manager Operasional,acuh tak acuh sambil menghampirinya. Terdengar suara di depan indra dan tio. Manager Operasional terlihat berdiri di depan dan sepertinya menunggu kecemasan dari raut wajah indra dan tio.
Kecemasan yang akan dilalui hanya dengan berdiskusi lalu berdebat hingga sebuah konflik!muncul. "Tio,pertanyaan yang bagus,"terdengar oleh tio. "Kamu tahu,saya sudah dan sedang memikirkan bahwa banyak rumor dari ketiga karyawan yang akan dimutasi ke sumatera,"ungkapnya lagi.
Tio tertegun "Kandidat? Maksud bapak?"jawabnya datar. Tio tiba-tiba merasa gelisah,walaupun dia tidak lagi mengapa. Situasi tio adalah situasi yang biasa. Banyak kata-kata manis sering diberikan pada perencanaan mutasi untuk mengisi kekosongan Staf Senior di sumatera,terutama pada tingkat tertinggi dalam suatu divisi.
Tetapi sangat sering tidak ditanggapi dengan cukup serius untuk menjadikannya ke dalam suatu tindakan. Tio terbawa lamunannya. Walaupun Kepala Bagian Divisi tidak memperdulikan gagasan dari perencanaan mutasi,mereka juga tidak memberikan suatu keseriusan,karena semua hiruk-pikuk dan gangguan dalam operasional pekerjaan sehari-hari.
Bahkan ketika waktunya bisa diperoleh untuk menangani masalah tersebut,dengan makan siang bersama secara pribadi dengan pribadi atau mengambil waktu untuk pembicaraan yang lebih santai dengan karyawan baru.
Pembicaraan -pembicaraan seperti ini biasanya terbatas pada hal-hal yang paling tidak menyatakan : masalah-masalah dengan memenuhi angka-angka,masalah -masalah karyawan ini atau itu,olahraga,mungkin,atau beberapa kejadian terkini lainnya dalam review kinerja satu per satu yang khas,biasanya banyak terdapat pancingan untuk keputusan-keputusan tentang bonus,kenaikan gaji,promosi,atau berkaitan dengan disiplin,di mana suatu pembicaraan tentang kandidat,dan tumbuh sebagai seorang Staf Senior,sangat jarang terjadi.
Tio adalah orang yang memiliki pandangan hidup sendiri. Tio melewati beberapa bab,atau meminta orang-orang untuk mengerjakan bagian-bagian dari satu bab,kemudian yang lainnya,kemudian kembali ke bab sebelumnya. "Gaya kamu merasa membuat orang lain merasa terpinggirkan,"Ingat tio perkataan ayahnya. Pada kenyataan bahwa tio membuat orang lain marah---sangat marah.
"Apa,karena usia saya masih harus melewati jenjang karir,maksud saya banyak tahapan-tahapan yang harus saya lalui?"kata tio pada Manager Operasional.
Penyebutan yang benar terhadap karyawan-karyawan hebat tidak ada hubungannya dengan usia,tetapi kepada hidup yang seimbang,hati yang selalu merasa muda,dan kemauan untuk menerima perubahan.
Manager Operasional kembali menuju ruangannya dan firasat indra,tio dan salah satu dari mereka bertiga akan menjadi nakhoda yang memimpin brandnya sendiri.
Tio berjalan menuju rak penyimpanan sparepart baru. Seperti biasanya kedua ujung matanya selalu melihat type-type sparepart yang tersusun rapih pada rak penyimpanan modul sparepart.
"Tidak ada kekeliruan pada sparepart rusak,"terdengar suara staf gudang yang tengah berargumentasi disalah satu rak sparepart yang bentuknya kotak seperti kubus.
Tio menghampiri sumber suara yang dikenalnya. Terlihat deni tengah berbicara dengan staf senior. Deni terlihat tidak siap untuk dimutasi ke sumatera.
Pokok permasalahannya adalah mengapa deni tidak siap di mutasi ke sumatera karena ketakutannya jauh dari kampung halaman,pacarnya yang tidak mengijinkan atau pemikiran klise untuk apa mencari uang sampai ke negeri orang.
Menjadi perantau bekerja di luar kota terlebih lagi di luar pulau merupakan perkara yang berbeda. Sesuatu yang diperlukan dari memperoleh sesuatu yang besar dalam konteks bisnis,jasa,kemasyarakatan,atau organisasi informal. jelas saja deni harus menyesuaikan diri di lingkungan yang baru.
Merantau sangat membutuhkan kemandirian,rasa bertanggung jawab. Dan deni tidak menyukai kata merantau. Bagaimana dengan indra? Indra selalu mengamati,meniru dan memodifikasi kebiasaan tio.
Indra selalu mendekatinya dan mengamati dari saat bangun tidur,pemilihan menu makan,cara berpakaian dan etos kerjanya. Bahkan beberapa terakhir ini indra sering meminta bantuannya untuk mendata sparepart rusak.
Kedua rekannya baik deni dan indra berupaya untuk menyingkirkan tio,alih-alih kandidat yang pantas untuk dimutasi ke sumatera. Tio merasa dirinya memiliki Ambisi,kompensasi,dan kejiwaan (kombinasi fisik dan mental) yang dominan,yang dimilikinya secara efektif.
Setelah selesai memeriksa kesalahan pada catatan Staf Senior. Tio berdiri diam mematung. Perasaan kagum pada deni dan Staf Senior karena mereka lebih mudah memaafkan perilaku aneh dan perbuatan-perbuatan yang keterlaluan karena itu mempengaruhi suasana hati seseorang dalam situasi tertentu,dan lebih merisaukan apakah keanehan-keanehan ini mengurangi kredibilitas tio,perdebatan atau merupakan hasil dari mengompensasikan tingkah laku yang benar-benar mencairkan atau mengurangi efektifitas deni sebagai karyawan baru.
Bahkan keanehannya,selama itu tidak membahayakan yang lain. Deni tidak mungkin lebih mudah memaafkan,tensi darah rendah,atau bahkan ketidakkonsistennya dalam perilaku.
Pertanyaannya bukanlah bagaimana mengubah suatu kepribadian dalam pekerjaan sehingga karyawan lebih persuasif dan bekerja dengan cara yang lebih dapat diterima.
Manager Operasional dan Staf Senior dengan kata lain,menginginkan ketiga karyawan baru,salah satunya menjadi pengganti posisi Staf Senior di sumatera. untuk mengerti hasrat calon kandidat.
Manager Operasional dan Staf Senior,mengamati sumber daya mereka bertiga. Deni,indra dan tio memiliki Karakteristik,pengaruh,dan apa yang dirasakan ketika akan mewujudkan energi semacam ini.
Kami bertiga tidak perlu menghilangkan atau mengubah tingkah laku tertentu,tetapi ingin memahami dorongan di balik perilaku tersebut,keuntungan apa yang didapat oleh seseorang dari tingkah lakunya,mengapa tingkah laku tersebut dilihat sebagai sesuatu yang perlu "Apakah ini merupakan satu-satunya cara? atau "Bukankah semua orang melakukannya?" Inilah yang didengar dari ketiga kandidat.
Deni,indra dan tio. Mereka menggunakan energi dan hasrat mereka yang melimpah,bekerja tujuh hari seminggu selama berbulan-bulan yang akhirnya mendorong dan membujuk orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Sering karyawan-karyawan seperti ini mendengar kritik bahwa mereka bukan pendengar yang baik,atau bahkan mereka berkelakuan yang aneh.
Staf Senior melihat ketiga Staf Gudang yang suka bekerja keras ini menjadi kecil hati tentang apa yang mereka rasakan sebagai perubahan sangat lambat yang menyakitkan,atau kehilangan fokus yang mengakibatkan kerusakan dan kemunduran.