
Sinar matahari tertutupi awan. Kepala ku dongakkan ke atas untuk memastikan kiriman hujan dari Atas bukit yang akan ku lintasi.
"Sebentar lagi turun hujan,"bathinku sembari mendorong kaca helem ke atas.
"Awan gelap gitu,tapi belum tentu sepagi gini kilat menyambar?"gumamku.
Udara dingin sangat terasa di sekujur tubuh sekarang ini. Dengan Jalanan yang masih lenggang karena kendaran belum banyak yang lalu lalang.
Boleh dong ku pacu cepat. "Nnnngggeeennngggeeennnggg," gitu bunyinya.
Beberapa kendaraan melaju dan menyusul motor bebek yang sedang ku pacu.
Motor bebek ku pacu lebih cepat di aspal yang terlihat landai.
Sedikit sekali orang-orang berjalan yang terlihat saat melintas sekarang ini.
Di ke dua ujung mata di suguhi belokan aspal yang berbelok tajam ke atas.
Karena ke ahlian dalam berkendara. Aku mengkombinasikan dengan rem belakang sehingga kecepatan tidak terhenti akibat mengerem.
Laju motor bebek terasa mulus dengan teknik yang sering ku lakukan.
Desiran angin menyentuh dingin celana panjang yang ku kenakan. Lutut kini terasa dingin menjalar.
Jalanan aspal terus menanjak lurus dan berbelok.
Dingin yang di rasakan hanya terasa selama dua jam ke depan - Semoga!
"Hhheehheehh,Ddddiiinnngggiiinnn." Minta ampun,"gumam ku lirih,sesekali ku lepas genggaman di telapak kiri untuk mengusap-usap wind protector yang di lekatkan pada dada. Ku putar-putarkan pergelangan kiri untuk menghilangkan rasa pegal.
Betul-betul terasa pegal. "Kalau perjalanan macet akan sering berhenti hanya untuk mengelus pergelangan tangan,"bathinku sembari tetap memutar-mutar pergelangan kiri.
Capeknya membawa kendaraan sendiri. Berbeda kalau menggunakan Travel atau Bus. Aku bisa duduk dan tertidur selama perjalanan.
Apalagi yang bisa ku rasakan pagi ini Selain kata,
K-E-S-E-P-I-A-N.
Lamunan ku di saat dalam perjalanan.
"Aku nnggak takut kesepian sebenernya,cuman kalau perjalanannya ke puncak gini nnggak ada yang di bonceng..."Bathin ku lagi.
Sesekali melihat kaca spion di kiri. Untuk mengetahui wajah perempuan muda yang ku lewati.
Perempuan di dataran tinggi kulitnya kuning langsat berbeda dengan perempuan di kota besar. Kulit mereka terlihat berminyak karena polusi udara.
Terlihat tetesan air dari atas,butiran-butiran air terjatuh di ke dua lengan jaket kulit. Butiran-butiran air itu semakin banyak dan deras keras terdengar di atas helem.
Hujan besar mengguyur lebat. Dengan segera ku hentikan motor bebek. Bagasi ku buka untuk mengambil Raincoat yang selalu berada di bawah jok motor.
Mengganti Celana di pinggir jalan bagi ku bukan masalah. "Buka celana dan segera menggganti dengan raincoat bawah berwarna hitam dove. Kaos kakipun segera di lepas dan di masukkan ke dalam bagasi.
Selesai!
Kembali melanjutkan perjalanan di bawah guyuran hujan yang dingin dan lebat. Laju motor di sesuaikan dengan kondisi iklim saat ini.
Ke dua Mata di suguhi pemandangan perbukitan yang menjulang tinggi ke langit yang di suguhi kabut tebal.
Warna hijau tua seperti dedaunan yang di resapi oleh retina di ke dua mata yang melihat.
NngGak ada yang terlihat. Cuaca buruk hujan lebat dan berkabut.
Apa yang di lihat...
Air hujan mengalir turun di bawah. Ban hitam motor terlihat mengkilap basah menerobos kencang.
terdengar cipratan...
Bisa kalian bayangkan jarak pandang di saat berkabut! Lampu jarak jauh,suara klakson dan kaca helem yang ku dorong ke atas agar tetap melaju pelan.
S-A-N-G-A-T B-E-R-B-A-H-A-Y-A.
Kucuran air hujan terasa seperti bongkahan kerikil es beku terasa
S-A-K-I-T menerpa wajah.
Selang beberapa waktu...
Akhirnya sampai juga di Puncak pass...
Jalanan terlihat sepi.
"Pegel banget,telapak kanan rasanya pegel dan basah,"gumamku lirih sembari ke dua mata memandang lurus ke depan. Pandanganku tetap di manjakan pemandangan gelap berkabut.
"Setelah ini turun menuruni bukit,"bathinku tegar.
Benar saja,motor bebek di suguhi jalanan aspal licin menurun terjal.
Kemudi motor bebek menurun pelan dengan melakukan kombinasi rem depan dan rem belakang. Ku injak rem belakang dengan injakan kuat.
Guncangan keras pada Kemudi motor bebek,membuat ku lebih pelan lagi. Motor bebek melaju turun pelan di iringi rem yang terus ku injak di ujung pijakan kanan.
Sesekali suara kelakson dan lampu depan kendaraan yang menanjak belok membuatku terjaga dari rasa kantuk.
Dua jam berlalu...
Motor bebek,ku parkir di pinggir jalan di depan sebuah warung.
Sampai seketika,pemuda nanghung mengagetkanku. "Keringetan kang?" tanya gurau pemuda nanggung di samping tersenyum.
"Ke hujanan kang,basah,"jawabku sembari menahan bersin.
Hhhhaaahhhaaaccchhhiiihh.
"Hhhheeefff,hhheeefff,"maaf ucapku sembari pergelangan kanan mengelap hidung.
"Akang naik motor dari Jakarta?"tanyanya lagi.
"Bukan dari jakarta,saya dari bogor kota kang,tadi di puncak ke hujanan,"jawab ku lagi sembari melipat tangan di dada mendekap ke dinginan.
"Dari sini ke Bandung berapa jam lagi?"tanya ku balik ragu.
"Heemm,sekitar dua jaman kalau nnggak macet,"jawabnya.
"Dua jaman,berarti masih lama,"gumam ku lagi.sembari ke dua mata beralih menatap takjub kecantikan perempuan yang sedang berjalan ke arah ku.
Terlihat Perempuan cantik berkulit kuning langsat,wajah bak bidadari. Kaos putih lengan pendek dan celana di atas lutut yang di kenakannya mengingatkan ku akan Suci Apriyani di cerita novel fantasi yang sedang ku tulis.
Jiwa muda ku menyetrum raga di saat melihat perempuan dengan kulit kuning langsat.
Siap-siap pikir ku. Siap-siap kalau dia hanya akan melewati ku lagi.
Perempuan itu berjalan ke arah ku,maksud ku ke arahnya.
Sepertinya...
Cantik,hanya kalimat itu yang pantas ku ucapkan.
kalimat itu yang keluar dari mulut dingin ku...
"yuk,kang duluan,"ucapnya sembari menekan tombol starter nya. Motor Matiknya pun di mundurkan dan perempuan itu duduk menyamping.
Secuil senyuman ia layangkan untuk ku.
Ke dua orang itupun pergi.
Aku hanya bisa diam mematung melihat mereka meninggalkan ku sembari menahan dingin dan aroma asap mobil yang tercium melekat pada wajah dan jaket kulit.
Selang beberapa waktu...
Seorang ibu berpakaian kaos lengan pendek keluar dari belakang warung...
Ia menatapku ramah.
"Kedinginan pak,"tanyanya.
"Iya,bu hujan besar tadi di puncak,"jawabku tersentak kaget yang berdiri mematung.
"Berhenti dulu di sini,mantel hujannya bisa di gantung di pohon,"seru ibu itu ramah,jari telunjuknya menunjuk pohon di samping warungnya.
"Ya,bu sekalian numpang ngeringin mantel hujan,boleh?"tanyaku balik sembari memesan segelas kopi panas untuk menemani istirahat ku pagi ini.
Ibu itu mengangguk memberi ijin sembari mengambil rencengan kopi yang tergantung di kawat...
Aku bergegas jalan menuju pohon yang di maksud. Ku gantung raincoat atas. "Rembesan hujan terasa sekali di ************,gimana gantinyaya?"gumam ku pelan,sembari ujung mata menatap belakang warung.
"Aha,di sana bisa,nngak mungkin ada yang lihat,"gumam ku lagi.
Buru-buru kaki ku melangkah menuju motor bebek yang di parkir.
Ke lima jemari tangan,ku masukkan pada saku raincoat bawah.
"Dddduuukkk."
"Nnggak ada!"bathin ku panik.
Dasar Sakunya ku tarik muncul ke luar,tidak satupun kunci terlihat.
Ku bergegas berjalan balik sembari membungkukkan punggung menyapu lurus ke arah depan.
"Aaahhaahh,gotit!"lirih ku rendah.
Segera ku buka bagasi jok. Celana panjang dan underware. Bergegas ke belakang warung untuk mengganti raincoat bawah yang basah.
"Sedikit hangat dengan celana panjang kering,"bathin ku sembari kembali menggantung raincoat bawah.
Segelas kopi panas yang sudah tersaji di atas meja. Aku beranjak duduk sembari melepas sepatu yang tergenang basah. Ke dua Ujung depan sepatu di dirikan agar air di dalamnya ngalir ke luar.
Ke sepuluh ujung jemari kaki terlihat mengkerut. Ke dua Telapak tangan bergantian menggosok-gosok telapak kaki.
Ke sepuluh jemari kaki mengkerut kedinginan.
Benar-benar mengkerut.
Dengan segera ku seruput segelas kopi yang sudah tidak panas lagi. Ku sobek pelastik yang membungkus kacang kulit yang berada di atas meja.
"Karbohidrat pada kacang bisa menghilangkan rasa lapar dan dingin untuk sebentar,"bathin ku sembari terus mengupas kulit kacang yang garing.
Tttrraakk... Ku kupas kembali kacang kulit.
"Gurih dan garing rasa kacang kulit ini,"bathinku lirih sembari mengunyah pelan di rongga-ringga mulut.
Selang beberapa waktu...
Terdengar seorang lelaki paruh baya memanggil. Rupanya lelaki itu memanggil ibu pemilik warung.
Ibu itu menepuk pergelangan kiri Bapak yang mengenakan kemeja.
"Pak,Kang Ari di seberang tuh,manggil!"seru ibu pemilik warung.
"Kang ari, ngopi dulu,"ucapnya lagi.
"Heh,iya kopi satu sama rokok filter tiga batang,"sahutnya sembari menyiapkan pemantik api. Ia berjalan menghampiri meja di depannya.
Ia duduk di samping seorang bapak berkemeja dan bercelana panjang yang telah duduk lebih dulu.
Lelaki paruh baya itu datang membawa map berisikan kartu keluarga dan surat untuk melamar pengantin di KUA.
Ibu pemilik warung datang meletakkan gelas kopi dan tiga batang rokok filter di atas meja.
"Terimakasih,"ucap kang Ari.
Ibu pemilik warung beranjak duduk untuk menghisap pelan rokok filternya.
Ke dua lelaki ini berbicara mengenai lamaran untuk seorang perawan muda yang akan di jadikan istri ke dua.
"Sudah selesai ambil berkasnya?"tanya bapak yang berpakaian kemeja.
"Sudah,surat pengantar RT dan RW sudah terlampir,selanjutnya tinggal mengurus ke Kantor Urusan Agama,"jawab lelaki paruh baya sembari meletakkan dan membuka berkas file yang akan di serahkan.
"Ngopi dulu ya kang,saya buatin,"tukas ibu pemilik warung.
Bapak yang mengenakan kemeja dan pemuda paruh baya terus mengobrol mengenai lamaran calon mempelai.
Pihak lelakinya terdengar dari jakarta.Tidak sengaja aku melihat photo calon mempelai perempuannya dari KTP.
Perawan muda,cantik di lamar lelaki yang sudah beristri. "Seberapa kayanya lelaki itu sampai bisa merayunya?"bathin ku penasaran yang masih mengunyah kacang di mulut. Kok mauya?Bathin ku melanjutkan. secuil senyuman tergores di wajahku.
Banyaknya anak perempuan yang lahir dari pernikahan yang membuat persaingan terlihat jelas atau doktrin masa lalu yang masih di pegang.
Perawan dan Randa saling bersaing melirik lelaki mapan.
Aku mencoba menarik nafas panjang. Perempuan yang melewatiku hanya lewat begitu saja ketika melihat.
Sungguh nasib...
Kesepian...kesepian.
Segelas kopi dan segelas besar teh panas manis,ku minum pagi ini dan tiga bungkus kacang kulit,ku makan.
"Jumlah total pengeluaran ku,di pagi ini Rp.6.000,-,"pikir ku.
Dompet hitam ada di dalam bagasi motor. "Akan ku ambil dompet hitam sekalian kaos kaki kering di bagasi,"bathin ku.
Aku beranjak bangkit dan berjalan menuju motor bebek yang bersandar miring di parkiran.
"Ttttrrreeekkk." begitu bunyi saat ku buka.
Segera ku ambil dompet hitam dan kaos kaki kering. Dengan terus berjinjit balik ke tempat duduk untuk memakai kaos kaki yang baru saja di ambil.
Ku gosok-gosokkan ke dua telapak kaki bersentuhan sembari memakai kaos kaki kering dengan sepatu yang sedikit kering.
"Nnggak papa,sedikit basah,"bathin ku menghibur.
Raincoat basah ku angkat dari gantungan dan ku lipat rapih agar muat di bagasi. "Kantung hitam besar bisa ku minta pada ibu pemilik warung?"bathin ku sembari beranjak ke Ibu pemilik warung.
"Bu?kopi satu,teh panas manis satu sama kacang kulit tiga bungkus,"tandas ku sembari meminta kantung pelastik besar.
Ibu pemilik warung mengikuti jumlah yang di sebutkan.
"Jumlahnya Rp 6.000,-,"jawabnya sembari ia memberikan dua kantung hitam besar yang dengan segera ku masukkan raincoat basah.
Ku berikan uang logam Rp1.000,- enam keping.
Selang beberapa lama aku melanjutkan perjalanan.
Motor ku dorong dan di starter bunyi. Ku pacu motor dengan kecepatan 60 Km/hour.
Dua jam berlalu...
Motor bebek sudah tiba di pintu samping gedung dan berhenti di samping pos satpam. "Selamat siang pak,mau tanya Gedung A di sebelah mana ya?"tanyaku pada pak satpam.
"Gedung A di sebelah kanan pojok jalan ke arah sana,"ucapnya sembari pergelangan kanannya menunjuk gedung yang di maksud.
"Terimakasih pak,saya parkirkan motor dulu,"ucapku sembari kembali menggas motor bebek masuk ke lahan parkiran motor.
Jaket kulit di masukkan ke dalam bagasi. Dengan segera ku masukkan ke dalam tas bersamaan langkah kaki ku keluar berjalan menuju gedung A yang sudah di tunjukkan tempatnya oleh Pak Satpam tadi.
Tiba-tiba...
Perempuan cantik berhijab mengklakson ke arahku. "Aa,Parkiran kosong sebelah mana?"ucapnya lirih.
"Ntuh,di sana,"ucapku balik sembari menunjukkan beberapa yang kosong.
Perempuan berhijab itu melewatiku.
Cewe-cewe di kota ini cantiknya bukan main. Aku harus sabar,di Keping-keping berikutnya.
Langkah kaki mengantarkanku di depan pintu gedung. "Selamat pagi ada yang bisa kami bantu?"sapanya ramah.
Dua perempuan receptionis menyambut. "Selamat pagi bu,saya mau menghadiri interview siang ini jam 10.00,"terangku sembari menanyakan toilet untuk mengganti pakaian.
"wawancara jam 10.00,Salah satu perempuan itu menelpon dan memberitahukan peserta interview sudah tiba,baik-baik,terimakasih"ucapnya di telepon.
"Bapak bisa naik lift ke lantai empat,"jelasnya sembari menunjukkan arah lift.
Aku bergegas jalan menuju toilet dan menggantinya dengan kemeja. Sabun pencuci wajah dan minyak rambut serta parfum ku keluarkan dari dalam tas.
Ku lap kulit sepatu dengan telapak kanan agar bersih mengkilap.
Selesai!
Tombol lift ku tekan,selang beberapa waktu...
Tiiinnnggg
Lift mengantarkan ku terbang ke atas. Pintu lift kembali terbuka.
Banyak karyawan dengan kemeja putih berlalu lalang di hadapan.
Bergegas aku mencari masuk ke ruang dan bersiap untuk wawancara siang ini.
Aku sangat menyukai Budaya Perusahaan yang akan menjadi tempatku bekerja. Tidak sabar untuk melanjutkan kenyataan selanjutnya.
Aku bersalaman dengan beberapa peserta interview. Mereka orang asli Bandung. Wajah khas yang akan ku lihat selama di kota ini.
Kami mengobrol sampai akhirnya nama ku terdengar di panggil. "Saya duluan kang!"seru ku sembari beranjak masuk ke dalam ruangan.
Ku buka pintu ruangan...
Selamat pagi.
Terdengar suara di depan. Tiga orang berpakaian kemeja putih lengan panjang duduk menanti di ruangan ini.
"Selamat pagi,"jawab ku sembari tersenyum.