
Tio yang sejak pagi tadi memulai sarapan dengan nasi goreng pete.Mengajak keenam rekannya untuk memilih nasi goreng sebagai santap malamnya. "Nasi goreng,dengan sambal yang pedas,boleh juga,"seru indra sembari beranjak bangun dari ranjangnya.
Seketika raut wajah deni berubah tajam saat mendengar nasi goreng. Terlihat dari wajah deni yang tidak menyukai minyak dari nasi goreng dan raut wajah keenam rekannya saat mendengar kata biji pete. "Ada pete,tapi kita enggak makan itu,"sergah dalah satu dari keempat rekan dengan segera menolak menu yang disebut tio.
"Ya,terserah,nasi goreng yang ada petenya,"tegas tio sembari beranjak diri dan melangkahkan kakinya keluar kamar tidur. "Dia,suka pete!"ucap deny pada indra keempat rekan yang lain tertawa melihat reaksi deny mengenai menu yang disebutnya tadi.
"Iya den,tio suka pete,sekarang kita susul tio dan makan nasi goreng pete,"seru indra sembari mendorong tubuh besar deny pelan. Terlihat keempat rekan yang lain dengan cepat melangkah menyusul,mengira-ngira gerobak yang dipilih tio untuk makan. Indra menyukai rekan-rekan barunya.
Tio yang lebih dulu mengusulkan mengenai apapun yang perlu orang tahu. Dan deny selalu bersikap canggung dalam bereaksi pada usulan tio. Dipikirannya indra,tio dan deny akan menjadi sahabat dalam profesinya.
Tapi,kesedihan yang didalam hati indra,dan kelamnya masa lalu,belum diketahui keenam rekan barunya.
Suara spatula dan wajan bergerincing seiring suara nasi yang dimasukkan. Banyak rempah-rempah yang dimasukkan saat pemerosesan. Rasa kantuk dan lelah terasa mengaburkan pandangan. Penciuman tio mengendus aroma pekat saat rempah kemiri diteteskan kedalam wajan.
Nasi goreng telah tersaji diatas piring dengan tambahan kerupuk.
Teh panas manis terasa dirongga mulut dan pegangan pada sendok terasa mantap mengunyah. Berbeda dengan indra,kedua ujung matanya selalu melirik rekan-rekan yang lain.
Seperti mengamati dan mempelajari dengan detail mengenai profile rekannya. Tio mengacuhkan pikiran yang terbesit tadi,tio hanya mengetahui protokol ada pada manager operasional dan mengabaikan perasaan curiganya.
Kelima jemari tangan terasa berminyak saat selesai makan. Minyak yang terasa dirongga mulut sangat sulit diserap tubuh. Tio sering kali menggaruk karena rasa gatal tersebut. Salah satu dari keenam rekannya memberi tahukan bahwa bongkar muat akan segera dimulai.
Tio dan keenam rekannya bergegas berjalan menuju komplek pergudangan. "Thinker bell,jangan banyak diam. Angkut dan pindahkan doos besar didepan kalian!"perintah staf senior pada kami bertujuh. "Seandainya aku bisa minta ijin sebentar,"celetuk deni pada staf senior. Kedua telapak tangannya menyentuh perut.
Keringat dingin terasa disekujur tubuhnya diikuti suara kentut yang baunya terendus staf senior. "Ini bau apa? Makan apa sampai kentutmu!,"celoteh staf senior pergelangan kirinya menutup mulut serta hidungnya menahan nafas. "Kamu boleh pergi ke toilet,"seru staf senior telapak tangannya yang masih menutup hidung.
"Terimakasih,pak,"jawab deni cepat. Bergegas langkah kakinya menuju toilet yang tidak jauh dari pandangan staf senior pengawas. Terdengar suara lenguhan berat,tio tahu betul rasanya saat mendengar suara rintihan deni ditoilet. Deni tidak sedang bernyanyi,ia terdengar menderita.
Suara sahutan dari nama modul sparepart terdengar jelas. Tio menghapal nama-nama sparepart yang terdengar asing ditelinganya. Sparepart sebesar lemari pendingin sampai kabel optik berada didalam gudang. Indra menghampiri tio untuk menemaninya mengecek sparepart yang datang dari pergudangan diseluruh indonesia.
Sparepart rusak yang terdapat patahan dan berdebu. Debu yang dilihat tio berbeda,debu ini berasal dari bts selular. Indra mengajarkan cara menulis dan membaca serial number dan path number yang tertulis pada sparepart. Kertas seperti formulir pengisian untuk mendata dengan kolom khusus.
Suara-suara staf yang tengah bongkar muat terdengar akrab ditelinga tio. Berbeda dengan indra,kedua ujung matanya menatap tio seperti meniru keterampilannya dalam mengisi data sparepart rusak. Lembaran data yang tertulis diselipkan pada sparepart dan lembaran lainnya ditumpuk menjadi file.
Tio tidur beralaskan matras. Jam kerja yang berbeda,membuatnya terbaring lelah. Rasa dingin terasa ditubuhnya disaat kedua kelopak matanya terbuka. Samar-samar telinganya mendengar sahutan rekan-rekannya meletakkan sparepart yang baru masuk kegudang. "Thinker bell,"sahut staf senior pada tio kedua matanya masih menatap kosong kearah tumpukan sparepart.
"Selamat pagi,pak,"sapa tio pada staf senior yang selalu mengatakan thinker bell seperti artian suara bel saat pelajaran kelas dimulai atau pesan masuk yang sering terdengar akrab sebagai notif pada facebook.
Staf senior berlalu setelah mendengar respon dari tio. "Tidur digudang?"tanya salah satu dari keempat rekan,ia terlihat menatap kosong kearah tio. "Dingin tidur dibawah,"jawab tio "Angin sepoi-sepoi,"lanjutnya sembari duduk dipinggir ranjang tidur.
"Kecapean,sampai ketiduran dilantai,ini pertama kalinya kerja sampai malam,"jelasnya sembari mengatupkan kedua bibirnya menahan nguap.
Bukan hanya tio yang tubuhnya menggigil kedinginan. Rekan yang dihadapannyapun merasakan hal yang sama. "Bukan kecapean lagi,kemarin langsung masuk kekamar tidur,capek saat wawancara kemarin,hari ini ada kiriman sparepart keluar.
Beberapa gudang di sumatera akan menerima kiriman sparepart baru,"terangnya sembari membuka lemari pakaian yang letaknya terlihat dari pandangan tio. Kaos lengan pendek dan perlengkapan mandi sudah ditangannya. Rekan-rekan tio terbiasa dengan jam kerja dipergudangan.
Tio harus cepat membiasakan diri. Satu hari tio berada digudang sparepart. Evaluasi dihari pertama tidak begitu baik. Fisik yang harus terbiasa mengangkat dan jam kerja yang tidak menentu. Deni melihat tio yang tidak bisa menyembunyikan rasa lelahnya.
Deni menghampiri tio dan memberikan sekaleng minuman bersoda. "Sekaleng soda,dipagi hari,"ucap tio pada deni. Tio segera meminum soda pada kaleng yang sudah dibuka. Deni dan tio tengah duduk diatas palet sambil menunggu jam kerja.
"Aku bawa laptop dan akan kuterbitkan cerpen yang kutulis diaplikasi online,"seru tio sembari menceritakan deskripsi cerpennya ringkas.
Kalimat klise dan awalan yang mendobrak agar alur ceritanya tidak monoton sudah ditulisnya dalam satu jam sambil menunggu antrian mandi. Tio menyempatkan menulis cerpen setiap harinya,jam kerja yang tidak menentu mengubah jam menulisnya.
Terdengar Indra terbatuk-batuk dikamar mandi sembari membuka pintu mencari deni yang tadinya berada didepan kamar mandi. "Dimana deni?"gumam indra langkah kakinya berjalan menuju jemuran untuk mengaitkan handuk yang basah.
"Mandi sudah,tinggal sarapan pagi,deni dan tio pasti ada di depan,"gumamnya langkah indra terhenti didepan kantor operator dan melihat banyak lembaran kertas faximile berjatuhan dilantai.
Orderan enginer operator selular disetiap daerah diseluruh indonesia diterima call center. Terlihat salah satu staf keluar dan menyerahkan kepada staf gudang untuk mengambil orderan yang harus dikirimkan. Pencarian modul sparepart dicari melalui komputer dan disesuaikan kode serial number dan path number.
Indra pernah mendengar dari salah satu staf. Kesibukan digudang disumatera tidak seberat disini. Khabarnya ada staf gudang disumatera akan berhenti dan akan ada salah satu staf yang akan menggantikan. "Semoga bukan aku,"bathinnya cemas. Deni dan tio terlihat asik berbicara mengenai cerpen dan tokoh karakter yang tengah ditulisnya.
"Ada yang ingin menjadi penulis?"tanya indra suaranya terdengar dibelakang tio. "Hei,lama banget dikamar mandinya. Deni tadi bilang kamu batuk-batuk di kamar mandi,jangan-jangan TBC?"canda tio sembari merentangkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.